FORGIVE ME

FORGIVE ME
Menantu yang direndahkan


__ADS_3

Nenek Eldrey terdiam mendengar permintaan cucunya. “Judith! Judith!” teriaknya keras. Charlie dan Eldrey sama-sama menatap diam pada wanita tua itu.


Derap langkah kaki yang terburu-buru pun menghampiri ruang tamu. Tampak seorang pelayan mendekati mereka. Nyonya Amelia yang merupakan menantu di rumah itu menuruni tangga karena kaget mendengar teriakan wanita tua tersebut.


“Apa saja kerjamu?! Apa kamu tidak lihat cucuku ada di sini?! Seharusnya kamu sudah menyiapkan makanan dan minuman sejak tadi!” bentak nenek Eldrey.


“Ma-maaf nyonya, saya benar-benar minta maaf. Saya tadi sedang memasak di dapur jadi saya ...” kalimatnya tidak dilanjutkan karena nenek itu mengangkat tangannya.


“Aku tak butuh alasanmu! Cepat siapkan!”


“Ba-baik nyonya,” dengan ekspresi gugup dan ketakutan pelayan itu segera menuju ke dapur.


“I-ibu, jangan emosi begitu. Ibu tahukan kalau ibu tidak boleh marah-marah? Nanti penyakit ibu bisa kambuh,” tukas nyonya Amelia menenangkannya.


“Kamu habis dari mana?!”


“Dari kamar Lily, aku memberi tahu dia kalau Eldrey datang.”


“Apa kamu tidak bisa menemui pelayan dulu untuk menyiapkan sesuatu sebelum memanggil anakmu? Kamu benar-benar tidak berguna!” ujar wanita tua itu emosi.


Ekspresi nyonya Amelia langsung berubah saat mendengar perkataan mertuanya. Walau ditutupi, tapi Eldrey dan Charlie bisa mengira seperti apa perasaan nyonya Amelia yang sebenarnya sekarang.


“Ma-maafkan aku ibu, Eldrey, maaf bibi tak menyambut kedatanganmu dengan benar,” ucapnya dengan ekspresi bersalah.


“Makanya kamu belajar! Sampai kapan kamu akan bersikap tak tahu diri begitu?! Bahkan di dekat tamuku yang lain kamu juga tidak berguna!” hardiknya emosi. Tak ada rasa hormat, nyonya Amelia yang merupakan menantunya benar-benar diperlakukan seperti seseorang yang menyedihkan sekarang.


“Ibu? Nenek?! Ada apa ini?!” seseorang pun muncul tiba-tiba dengan ekspresi kaget. Dialah Lily, putri nyonya Amelia dan tuan Bill yang merupakan kakak presdir Betrand. Gadis itu memandang Eldrey dengan wajah tak suka.


“Tanya ibumu! Bagaimana bisa dia membiarkan cucuku yang sudah menunggu tanpa sajian apa pun?! Apa kalian ingin mempermalukan keluarga kita?!” teriak wanita tua itu masih emosi. Wajahnya yang ditutupi make up tebal pun memerah, membuat wajah keriputnya jadi tambah aneh.


“Nenek! Lagi pula itukan tugas pelayan! Jadi jangan salahkan ibu seperti itu! Eldrey cucu nenek, bukan tamu! Jika ingin diperlakukan seperti raja bukan di sini tempatnya!” ucap Lily emosi. Tatapan amarah pun tertulis jelas di mukanya, membuat reuni keluarga itu terasa makin buruk suasananya.


“Maafkan aku,” ucap Eldrey pelan. Dengan tampang sedih ia pun menatap neneknya.


“Maaf nenek kalau begitu aku pulang dulu,” pamit Eldrey. “Ayo Charlie,” ajaknya yang membuat pria itu menunduk sopan lalu mendorong kursi roda Eldrey.


“Eldrey! Eldrey! Kamu mau ke mana sayang?!” tanya neneknya sambil berdiri. Tapi cucu dan pengawalnya itu tetap melangkah pergi keluar dari rumah yang tak menyenangkan hati mereka.

__ADS_1


“Dasar tak tahu diri! Anak dan ibu sama saja!” bentak wanita tua itu pada menantu dan cucunya yang terbungkam oleh amarahnya.


Sementara di dalam mobil, senyum tipis terpancar dari wajah Eldrey. Seolah-olah ia merasa puas akan sesuatu yang tak jelas artinya.


“Apa ini? Apa kau sangat senang dengan pertengkaran yang terjadi?!”


“Bukankah sudah jelas? Kapan lagi kita akan mendapat tontonan yang seperti itu, sayang sekali Bill tak ada di sana untuk menyaksikan istrinya dipermalukan ibunya,” balas Eldrey pada Charlie.


“Jadi memang ini yang kau harapkan?”


“Tentu saja! Apa lagi?!”


“Yaah, yang tadi itu memang menarik. Tetapi aku masih tidak menyangka, jika madam akan memperlakukan menantu yang ia banggakan seperti itu.”


“Status adalah segala-galanya, jika lahir dari keluarga terkemuka kau akan diperlakukan seperti ratu, tapi jika semuanya lenyap kau hanya akan berakhir seperti sampah baginya. Bukankah kau sudah tahu seperti apa sikap wanita tua itu?” sindir Eldrey.


Charlie tak menjawab, sebuah ingatan di mana nyonya Camila sangat membanggakan nyonya Amelia yang merupakan menantunya di kediaman presdir Betrand masih membekas jelas baginya. Menantu yang berasal dari keluarga terpandang, namun jatuh miskin karena keluarganya bangkrut saat penjualan saham mereka anjlok yang menyebabkan hutang besar pada perusahaan keluarga nyonya Camila.


Di saat itu pula, perlakuannya pada menantu terhormat berubah drastis. Ia bahkan tak ragu membuat menantunya seperti pembantu jika anaknya tak di rumah. Seperti itulah sikap nyonya Camila, ia juga memperlakukan ibu kandung Eldrey dengan cara yang sama. Cara di mana Eldrey akan selalu mengingatnya dan membencinya.


Mencoba memainkan ponsel untuk menghubungi Alice, namun masih tetap tak diacuhkan. Mencoba ke rumahnya, namun suruhan ayahnya berhasil menghentikan usahanya dan mengancamnya. Apalagi yang harus ia lakukan?


Kenapa semuanya tak berjalan sesuai keinginannya? Bahkan ponselnya penuh dengan panggilan dan pesan dari Erin yang sedang tak ia harapkan. Suasana kalut benar-benar menyelimuti dirinya saat ini. Kepada siapa lagi ia harus bercerita? Teman baiknya bahkan belum tentu akan mengangkat panggilannya mengingat kejadian terakhir di Sextoria Nightclub.


Dean benar-benar kacau sekarang. Sebuah panggilan yang menakutkan diri menghubunginya. Tuan Kendal, itulah sosok yang menghubunginya sekarang. Dean merasa enggan mengangkat panggilan papanya, namun ia benar-benar tak punya pilihan lain.


“Halo? Iya Pa?”


“Di mana kamu?! Cepat pulang dan bersiap! Diana ingin makan siang bersamamu!” perintah tuan Kendal. Kevin yang sedang bersama kakaknya di lapangan basket kota menyadari arti ekspresi kakaknya.


“Kakak?” panggilnya sambil menghentikan permainan basket.


“Kevin, ayo kita pulang,” ajak Dean yang sudah selesai dengan panggilan ayahnya.


Kevin mengangguk, ia tidak banyak tanya karena tak ingin memperkeruh suasana. Bersama Dean mereka berjalan pulang ke rumah yang jaraknya bisa di tempuh 15 menit dari tempat mereka sekarang.


Keduanya sama-sama tak bicara, Dean dan Kevin sama-sama sibuk dalam pemikiran masing-masing. Dean sibuk memikirkan tentang Alice sementara Kevin sibuk memikirkan sosok yang tak terduga.

__ADS_1


“Eldrey?!” pekik Kevin tiba-tiba membuat Dean yang mendengarnya tersadar dari pemikirannya. Siapa yang mengira? Jika sosok yang tak diduga sedang dipikirkan Kevin ada di depan mereka.


Tampak Eldrey sedang duduk di kursi roda sambil ditemani Charlie yang akan menyeberangi jalan menoleh ke arah kakak beradik tersebut.


“Ah, Dean dan Kevin, tak kusangka akan bertemu dengan kalian di sini,” tukas Eldrey santai. Berbeda dengan Kevin yang membeku dengan tatapan Charlie padanya, tapi Dean memandang gadis itu dengan ekspresi yang tak terduga.


“Eldrey?” Dean mendekat, memandang gadis itu dari atas ke bawah. “Apa yang terjadi padamu?! Alice sangat mengkhawatirkanmu!”


Tapi, langkah kaki Dean pun terhenti saat Charlie mengangkat tangannya menahan Dean agar tak terlalu mendekati Eldrey. Kevin hanya bisa terdiam memandang apa yang sedang terjadi di depannya.


“Apa?” ucap Dean dengan tatapan jengkel pada Charlie.


“Kau tak diizinkan mendekati nona.”


“Apa? Aku temannya! Eldrey, apa maksudnya ini?” Dean memandang dingin pada pria yang lebih tua darinya.


Eldrey tak menjawab, ekspresinya yang datar itu tak memberikan respon yang diharapkan.


“Ayo kita pergi nona,” ajak Charlie mendorong kursi roda itu.


“Tunggu!” Dean pun menghalangi mereka.


“Minggir kau bocah! Kau menghalangi kami!” hardik Charlie dingin. Tapi Dean tak gentar dengan pria itu, melainkan ia tetap nekat berdiri di depan Eldrey yang memutar bola mata menatapnya.


“Aku ingin bicara padamu! Aku mohon!” pinta Dean penuh harap.


“Baiklah,” Eldrey menyetujuinya tanpa basa-basi. “Biarkan dia bicara, kau bisa menungguku bersama anak ini,” sahut Eldrey pada Charlie sambil melirik Kevin.


Akhirnya Eldrey dan Dean pun pergi ke taman di mana mata Charlie masih mengawasi langkah mereka. “Kakakku takkan melakukan sesuatu yang jahat,” ujar Kevin tiba-tiba.


“Bernyali juga kau bicara seperti itu,” sindir Charlie tak menatapnya.


Sementara Eldrey dan Dean ....


“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Eldrey.


“Eldrey, tolong bantu aku agar bisa menemui Alice,” perkataan Dean itu membuat ekspresi tenang Eldrey berubah menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2