FORGIVE ME

FORGIVE ME
Harta, tahta dan kehormatan


__ADS_3

Sekarang, hanya isakan yang berkumandang di dalam sana. Charlie tak mampu bersuara, kecuali mendengarkan setiap untaian kata atasannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan sebagai bawahan sekaligus kepercayaan Presdir Betrand.


“Lebih baik kamu pulang sekarang. Kondisimu tidak baik-baik saja kan?” sahut Evan pada Alice di depan ruang rawat Eldrey.  


Hati gadis itu menjadi kecut karena orang-orang dari pihak Dempster menyuruhnya pulang.


“Nak, Evan tak bermaksud mengusirmu sayang. Tapi, kamu juga butuh istirahat. Biar kami yang menjaga Eldrey di sini. Kamu pulang ya? Besok kamu bisa kemari lagi,” bujuk Bu Anna dengan mata sembabnya.


Sejujurnya Alice agak kecewa. Katakanlah jika orang-orang menganggapnya berlebihan. Tapi nyatanya, perasaannya pada Eldrey bukanlah suatu kebohongan. Dia menyayanginya, di titik di mana seorang teman adalah belahan di hidupnya.


Ini bukan cinta, tapi kasih di antara sesama dan diukir dengan nama persahabatan digaris takdir keduanya. Walau nyatanya, mungkin saja putri Dempster tak menganggapnya seperti itu.


“Ayo Kak. Memang lebih baik Kakak pulang sekarang. Kalau seandainya terjadi apa-apa, bagaimana? Bu Ann pasti juga cemas memikirkan kondisi Kakak.”


Kalimat Kevin sontak saja menyadarkan diri Alice. Kalau ada ibunya yang harus ia temui sekarang.


“Baiklah kalau begitu. Bu Anna, Kak Evan, aku dan Kevin balik dulu ya? Kalau seandainya ada apa-apa, aku mohon tolong kabari aku.”


“Pasti sayang. Ibu pasti akan mengabarimu,” pelukan pun dipersembahkan Bu Anna kepada dirinya.


“Hati-hati di jalan,” ucap Evan sebelum Kevin dan Alice benar-benar meninggalkan Rumah Sakit.


Di kediaman Gates, sebuah pemandangan mengejutkan telah terjadi. Lily beruraian air mata. Fakta menyedihkan menyentak dirinya. Tentang kenyataan, kalau ibunya sudah diusir dari rumah itu oleh penghuninya.


“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Jika kamu tidak suka, kamu bisa angkat kaki seperti ibumu itu!” hardik Nyonya Camila kepadanya.


Dirinya yang baru pulang dalam keadaan tidak baik-baik saja, dihujam cacian oleh ibu dari ayahnya. Bukannya menanyakan bagaimana keadaannya, ia menerima umpatan seolah noda yang mencoreng nama keluarga.


Bukankah dirinya adalah cucu wanita di depannya?


Perlahan namun pasti, langkah kaki seorang pria tua dengan pakaian santai dari karya seni desainer ternama, menghampiri mereka. Di tangannya ada buku, filosofi kehidupan berbisnis dan merupakan bacaan kelas tinggi untuk para pengusaha.


Rambut yang hampir memutih seluruhnya, kacamata tebal menggantung di lekukan hidung dan mata, menampilkan sorotan tajam ke arah gadis kecil di depannya. Sesosok perempuan muda, beruraian air mata sambil menggigit bibir bawahnya.


Dia mengumpati dua tua bangka di hadapannya.


“Jika kamu ingin pergi ke tempat ibumu, tidak masalah. Fasilitas keluarga ini takkan dicabut dari dirimu, hanya saja perceraian Amelia dan Bill tetap akan terjadi.”

__ADS_1


Kepalan erat langsung terpampang di kedua tangan Lily, bagai siraman asam ke luka di hati. Ucapan Tuan Gates, merupakan kata mati di telinganya. Menjadi cambukan kasar, kalau hidupnya seperti daun rontok di pepohonan besar keluarga ini.


“Apa aku boleh menanyakan sesuatu?”


“Apa?” Nyonya Camila menatap santai cucu perempuannya.


“Bagi Nenek dan Kakek, apa arti aku dan ibuku?”


Hening berkumandang. Beberapa detik mengalun tenang untuk menghiasi ekspresi masing-masingnya. Dan akhirnya, sampailah pada titik terang.


“Kamu adalah cucu di sini. Dan ibumu, dia menantu keluarga ini.”


Tawa pun pecah dari bibir Lily. Ditatap tak percayanya sang kakek, sosok yang menorehkan kata konyol tadi.


“Cucu? Menantu? Dan kalian mengusir ibuku?”


“Ibumu pantas mendapatkan itu karena sudah kurang ajar padaku. Seharusnya dia berterima kasih pada keluarga ini, karena bisa menikah dan memiliki anak dari putraku! Tapi kalian memang kacang yang lupa kulitnya. Diberi kemewahan hanya bisa merusak nama baik keluarga saja! Dan kau pun juga sama! Pantas saja keluarga ibumu jatuh miskin, karena isinya orang-orang tak berguna semua!”


“Kau!”


“Berani kau meninggikan suara dan menunjukku?! Pengawal! Pengawal!” teriak Nyonya Camila yang murka. Seketika muncullah tiga pria, dengan setelan hitam khas penjaga keluarga ini di hadapan penyandang nama Gates. “Usir dia! Aku tak sudi lagi melihat cucu sampah sepertinya berada di sini, cepat!”


“Ya! Kau punya masalah dengan itu?!”


Seketika deru napas Lily menjadi memburu. “Nona, maafkan kami.”


“Lepaskan aku brengsek! Aku bisa jalan sendiri!” hardik Lily sambil menyentak lengannya yang dipegang. Ditatap tajamnya dua manula itu, rasanya geram benar-benar memakan perasaan marahnya.


Tanpa banyak kata, ia pergi dari sana. Menuju mobil miliknya yang kuncinya memang sudah ada di dalam sejak awal. Sungguh dirinya kecewa, sakit hati atau apa pun pada suami-istri tua itu.


Bagi mereka yang ada hanyalah harta, tahta, dan kehormatan.


Lily benar-benar membencinya. Sampai ia mati, dirinya bersumpah akan membalas mereka. Laju mobil pun akhirnya dijalankan menuju kediaman ibunya.


Rumah keluarga Amelia, tempat baru bagi mereka yang sudah jatuh dari singgasananya.


Malam yang dingin menerpa kulit. Mencoba menemani sosok anaknya di pembaringan. Sekarang Raelianna Jin, sedang menatap putrinya. Masih belum sadar dan diiringi sahutan suara detakan mesin di sebelah putrinya.

__ADS_1


“Cepat sadar, sayang. Ibu mohon,” ucapnya sambil menyentuh lengan tak bergerak Eldrey.


 Dua hari kemudian, langkah kaki suami-istri Gates datang ke Rumah Sakit St.Hopetears.


“I-ibu,” kaget Bu Anna melihat kedatangan mantan mertuanya di sini.


“Kau—”


“Kita di rumah sakit,” lirih Tuan Gates pada istrinya. Bagaimanapun, dirinya tahu kalau istrinya akan mencerca mantan menantu yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarganya. “Mana Betrand?”


“Betrand di kantornya, Pa.”


“Pa? Apa kau baru saja memanggil suamiku Papa?!”


Raelianna terkesiap. Raut wajah Nyonya Camila, seperti hendak memakan dirinya. Tentu saja Afro yang berada di sana atas perintah Charlie langsung mengambil alih situasi.


“Selamat datang Nyonya, Tuan. Maaf sebelumnya, karena kata Dokter dilarang membuat keributan di sini demi kebaikan Nona.”


“Apa kau baru saja mengguruiku?!”


“Camila,” cegat Tuan Gates tiba-tiba. Dia menggeleng, sebagai tanda agar istrinya tak lagi berbicara lebih lanjut. “Aku ingin bertemu, Eldrey. Dia dirawat di sini bukan?” sambil menoleh ke pintu ruangan di seberang mereka.


“Maaf, Tuan. Seperti kata Dokter, tak ada satu pun yang boleh menjenguk Nona karena dia masih dalam keadaan kritis.”


Sontak saja ketiga orang itu menatap Afro dengan beragam ekspresi. Jujur Bu Anna tersentak hatinya, karena tak menyangka jika bawahan Charlie akan mengumbar kebohongan di hadapan orang tua Betrand.


“Dokter tidak mengizinkan?” Nyonya Camila bertanya dengan nada yang menekan.


“Benar Nyonya. Demi kebaikan, Nona, tolong dimaklumi situasinya.”


“Cih, sudahlah. Lebih baik kita pulang daripada berlama-lama di sini.” Dan ibu dari Presdir Betrand pun mendekati mantan menantunya. “Aku masih tidak menyukaimu. Jangan harap kau bisa masuk ke dalam keluargaku.”


Serasa menghujam pendengaran dengan tajam. Bu Anna, tertunduk setelah mendengar lirihan mantan ibu mertuanya itu. Sampai beberapa saat kemudian, suara Afro menembus telinganya bersamaan dengan lenyapnya sosok suami-istri Gates yang bisa ditangkap oleh mata.


“Afro. Kenapa kamu berbohong? Dokter sudah mengizinkan siapa pun untuk menjenguk Eldrey walau tidak semuanya.”


“Maaf, Nyonya. Tapi ini adalah perintah dari Tuan Charlie. Nona memang kritis, tapi bukan berarti dia tidak akan sadar. Jangan sampai bukan anda dan tuan besar yang dilihatnya pertama kali begitu membuka matanya. Hanya itu perintah Tuan Charlie kepada saya. Sekali lagi maafkan saya, Nyonya.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2