
Rasanya kesabaran Eldrey mulai menipis. Membantai pemuda ini jelas bukan hal sulit baginya, tapi itu hanya akan membuat tempat persembunyiannya terbongkar.
Dia jelas tak ingin bertemu Betrand ataupun Alice. Batinnya terlalu menolak jika di hadapkan pada mereka. Seakan bisikan untuk menyiksa keduanya menyeruak seperti perintah di kesadarannya.
Gadis itu mendekat dan tidur di ranjang. Membelakangi Kevin sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.
Kevin tersenyum melihatnya. Berdekatan dengan Eldrey yang tenang jelas bukan hal buruk baginya.
“Apa kamu mengantuk?”
“Jangan ajak aku bicara,” ketus Eldrey.
“Aku mencemaskanmu.”
“Persetan dengan itu. Kembali ke rumahmu.”
Kevin merebahkan tubuhnya di samping Eldrey. Menatap padanya yang membelakanginya.
“Eldrey.”
Tak ada jawaban.
“Kupikir aku bersimpati padamu,” sambil menyentuh sedikit rambut gadis itu yang terlihat.
“Gadis kaya sepertiku tak butuh simpatimu.”
“Bagiku kamu miskin Eldrey.”
“Aku akan merobek mulutmu.”
“Kamu hanya tidak menyadari perhatian yang mengelilingi dirimu.”
“Tutup mulutmu.”
“Kamu tidak peka Eldrey.”
“Sekali lagi kau berbicara, akan kuseret kau dari sini.” Tangan Kevin kian menyentuh rambut Eldrey sehingga gadis itu makin terganggu. “Apa yang kau lakukan?! Lepaskan tanganmu dari rambutku,” hardiknya berbalik menatapnya.
Sekarang wajah tidur keduanya saling bertemu namun berekspresi berbeda.
Kevin tersenyum menatapnya. “Semuanya memang butuh waktu, tapi aku yakin kamu akan bisa melupakan luka di hatimu.”
Seketika raut wajah Eldrey berubah. Dingin dan menusuk sosok di depannya. Tak ada suara terlukis di bibirnya, kecuali ketegangan yang tampil di sana.
“Aku akan menunggu.”
“Tutup mulutmu Kevin.”
“Menunggu mendengar semua darimu.”
“Jangan bicara lagi.”
Tangan kanan Kevin terangkat dan menyentuh rambut lembab Eldrey. “Jika sesak, menangislah, karena aku akan mendengarkanmu.”
DEG!
Sontak, Eldrey bangkit yang membuat Kevin tersentak kaget. Napasnya mulai memburu, detak jantung tenangnya seakan berpacu.
“Eldrey?”
Gadis itu menyentuh kepalanya. Tanpa disadari Kevin, kalimat itu baru saja menyentuh ingatan kelam pemiliknya.
“Eldrey?” sambil menyentuh bahunya.
“Jangan menyentuhku!” bentak gadis itu dengan wajah ketakutan. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, suara hembusan napas yang tak beraturan menghiasi muka pucatnya.
“Eldrey, ada apa?!” Kevin panik karena sikap perempuan di depannya.
Akan tetapi, di tengah suasana pelik itu Eldrey justru lari ke kamar mandi lalu membanting pintu dan menguncinya.
“Eldrey!“ teriak Kevin karena gagal menghentikannya. “Apa yang terjadi?! Aku mohon Eldrey, buka pintunya!” pinta Kevin sambil menggedor-gedornya.
Akan tetapi, semua sia-sia. Gadis itu tetap tak mengacuhkan suasana sekitarnya. Kecuali ingatan yang tidak-tidak mulai merambat ke pikirannya.
Tawa bercampur teriakan menari di kesadarannya. Mulai melukiskan bayang-bayang menyakitkan yang membunuh mentalnya. Tubuh indahnya gemetar, dengan sesak napas yang seakan mencekik lehernya.
Tanpa disadari, Kevin telah menginjak ranjau di dalam ingatan Eldrey yang paling melukai dirinya.
Mata merahnya, melukiskan ketakutan dirinya. Suara yang terputus-putus, menyiratkan putus asa miliknya.
Tangan yang memegang kasar kepala itu, membisikkan ketidak berdayaan sosoknya. Gedoran dan panggilan keras yang memanggil namanya, tak bisa lagi menembus kesadarannya.
Gadis yang kehilangan pegangan itu, menatap cermin refleksi raganya.
Dia tersenyum dan perlahan mulai gila. Semuanya pun menggelap seketika.
“Eldrey!” pekik Kevin begitu berhasil mendobrak pintu. “Rey! Rey! Apa yang terjadi?! Bangun Rey!” sambil menggoyang tubuh itu untuk kembali sadar.
__ADS_1
Tapi semua sia-sia. Tak ada respons apa pun darinya. Walau napasnya masih ada, tapi kepanikan tak bisa dihentikan Kevin begitu saja.
Tanpa berpikir panjang dirinya segera menggendong Eldrey keluar dari sana. Disambut tatapan kaget orang-orang, terlebih resepsionis tadinya ikut terpekik karena Kevin menghampirinya.
“Di mana rumah sakit? Cepat siapkan mobil hotel! Aku harus mengantarnya ke sana!”
“I-itu—”
“Cepat! Aku akan bayar berapa pun nantinya!” teriaknya keras.
Salah seorang pegawai, segera menuntun Kevin dan meminta supir yang membawa mobil sebagai fasilitas hotel untuk pelanggan, mengantarnya ke rumah sakit.
Panik, tentu saja. Perasaan sang pemuda jelas campur aduk dalam menggendong Eldrey yang tak memiliki kejelasan kondisinya.
Sekarang ini, dirinya terpaksa terdiam cemas di ruang tunggu untuk menantikan kepastian gadis itu. Jujur dirinya senang saat sampai di sana Eldrey sudah sadar, namun kehendaknya tetap memaksakan agar dia diperiksa.
Setelahnya, Kevin pun segera menemui dokter yang sudah selesai melakukan pemeriksaan pada Eldrey.
“Bagaimana keadaan Eldrey?!” tanyanya tergesa-gesa.
Dokter itu menatapnya tenang. “Silakan ikut ke ruangan saya.”
Kevin menyetujuinya, sesampainya di sana.
“Apa yang sebenarnya terjadi padanya?"
“Nona itu tadinya hanya pingsan. Akan tetapi,” kalimatnya tampak tertahan dengan jeda beberapa detik. “Kondisinya mengindikasikan ada jejak obat-obatan di dalam tubuhnya. Terlebih, dia terlihat sedang menderita depresi atau sesuatu. Dan lagi, pemakaian obat tidur dan penenangnya sudah melewati batas normal jika perkataannya benar.”
Kevin terkesiap mendengarnya. Kalimat itu, jelas mengundang rasa tak percaya di dirinya.
“Jika diteruskan, maka tubuhnya takkan bisa bertahan lama. Bahkan bila masih muda dan memiliki sistem imun yang kuat, tapi pemakaian obat ini jelas di luar batas kewajaran. Cepat atau lambat dia akan resistensi atau lebih buruknya over dosis,” jelas dokter itu panjang lebar.
“Apa yang harus saya lakukan dokter?“
“Tolong jangan terlalu membebaninya. Fisiknya mungkin terlihat baik-baik saja, tapi dirinya jelas kelelahan dan tertekan. Akan lebih baik sering-sering membawanya ke psikiater demi kebaikannya.”
Rasanya, kalimat itu seperti air panas yang menyirami wajah Kevin.
“Dan ada jejak luka kekerasan di telapak tangan, perut serta dahinya. Walau sudah memudar, tapi akan tidak baik untuk seorang perempuan memiliki bekas luka seperti itu,” ucap sang dokter panjang lebar.
Kevin terdiam. Sedikit banyaknya ia tahu penyebab salah satu luka. Setelah pembahasan panjang lebar dengan dokter itu, langkah kaki mengantarnya ke depan pintu kamar Eldrey.
Sang gadis, terdiam dalam tidur tak nyenyaknya. Satu pesan terakhir dokter pun kembali terngiang di kepala Kevin.
“Jika sesuai kata anda, maka bisa dipastikan pingsan ini merupakan bentuk perlindungan dari alam bawah sadarnya. Tolong jangan terlalu membebaninya, dan pastikan ada seseorang yang menemaninya.”
Sekarang, Kevin terdiam dengan sorot mata melirik sepenuhnya pada Eldrey. Tak disangka, kondisi gadis itu jauh lebih buruk dari bayangannya.
Sungguh ia tak tahu lagi bagaimana perasaannya, saat di hadapkan pada sosok cantik yang menatap kosong di sisinya.
Hiruk-pikuk di kediaman presdir Betrand telah bersahutan. Tanpa diduga, informasi Kevin tentang keberadaan Eldrey, membuat beberapa orang di sana bersiap untuk menjemputnya. Ya, dia telah mengkhianati gadis itu karena memberi tahukan keberadaannya.
Sorot mata kosong di wajahnya, membuat laki-laki itu tak tega membiarkannya tersiksa. Entah benar atau tidak pilihannya, tapi kondisi Eldrey tetap harus diketahui oleh keluarganya.
Esok malamnya, tiga mobil sudah sampai di depan hotel yang ditempati Eldrey. Di bawah pengawasan Kevin tanpa diketahui orang tuanya, diam-diam ia menjaga gadis itu dengan alasan berkeliaran jalan-jalan. Tak ada yang curiga, mengingat kota itu merupakan salah satu tempat wisata terbaik di dunia.
Sosok-sosok elegan turun dari mobil memasuki hotel dan membuat orang-orang di sana tak mampu berbicara. Dengan kemampuannya, Daniel Bonapart telah mengambil alih hotel di bawah namanya sendiri.
Sungguh kuasa uang benar-benar berbicara saat ini. Tak bisa dibayangkan, berapa banyak uang yang dimiliki keluarga Dempster jika CEO sekelas Daniel Bonapart saja merupakan kaki tangannya.
Mereka tiba di depan pintu kamar yang diperkirakan milik putri keluarga Dempster. Tanpa basa-basi, pintu dibuka dengan kunci duplikat yang diminta Daniel pada pihak hotel.
Akan tetapi, semua benar-benar di luar bayangan. Sang penghuni, tak merasakan firasat apa pun kecuali menatap kosong keluar kamar.
“Eldrey!” pekik bu Anna berlari menghampiri. Tanpa penolakan, dibiarkan wanita itu memeluknya. Terisak jelas di dekat telinga, gemuruh khawatir luar biasa mewakili pelukannya pada putri tercinta yang selalu menolaknya.
“I-ibu sangat mencemaskanmu,” sambil mengelus lembut kepalanya.
Perlahan, presdir Betrand memasuki kamar dan menatap mantan istri sekaligus putrinya.
Suasana penuh haru di antara mereka, mungkin akan benar-benar mengundang air mata bagi yang mengetahui kisahnya.
Presdir Betrand pun berjalan mendekatinya. Ditatapnya gadis kecil yang menjadi sumber kekhawatirannya.
“Maafkan Ayah,” sebuah kalimat namun bermakna. Dipeluknya gadis itu setelah Anna melepaskan rangkulan.
Erat.
Tak bersuara lagi, tak menanyakan apa pun alasan kaburnya atau bagaimana kondisinya, hanya sebuah pelukan dari sosok seorang ayah mewakilkan perhatian dan kasih sayangnya.
Eldrey tetap diam tak bersuara.
Beberapa saat kemudian, seluruh penghuni keluarga Dempster dan pengikutnya, bersiap-siap untuk pergi dari sana. Tujuan mereka hanya fokus menjemput sang tuan putri dengan selamat begitu saja.
Kevin, dirinya benar-benar membantu mereka. Memberi tahukan apa saja yang terjadi, sampai membuat presdir Betrand dan Bu Anna tak bisa berkata-kata.
Melupakan masa lalu dan menata masa kini demi kondisi putri mereka. Hanya itu cara terbaik demi kesembuhan dirinya.
__ADS_1
Sesaat sebelum pergi, Eldrey menatap tenang Kevin. Kosong, dan tak ada tanda-tanda kehidupan. Akan tetapi, lirikan terakhirnya menyiratkan ketajaman.
Mata kucing yang terkubur dalam keheningan, dengan ekspresi tak bisa diartikan. Namun satu hal yang pasti, gadis itu tak mengeluarkan suara apa pun sejak keluar dari rumah sakit bersama dengan dirinya.
Dua hari kemudian, Kevin dan keluarganya akhirnya kembali ke kota tempat tinggalnya. Akhirnya, semua itu bisa terjadi berkat kehadiran pamannya menggantikan Tuan Kendal menemani orang tuanya.
Dalam hari-hari itu, Kevin tak bisa melenyapkan sosok yang menghabiskan hari sendu dengannya.
Eldrey, gadis tersebut telah menorehkan kisah tersendiri untuk dicampurinya. Meninggalkan bayang untuk tetap dikenang sang pemuda yang mulai menabur rasa di dalam pertemuan mereka.
*******
Kediaman Dempster, tempat Eldrey tinggal dan diawasi para penjaga mulai bisa dimasuki dengan bebas oleh ibu dan kakaknya.
Tentang penyerangan di rumah kosong yang menimpa Eldrey, sudah sampai ke telinga presdir Betrand.
Bahkan, hasil dari ulah putrinya akhirnya mengkambing hitamkan Naomi sehingga dirinya dan keluarganya hancur tak bersisa. Semua karena Lily, dia yang termakan hasutan Eldrey terpaksa menjebak temannya sehingga gadis itu harus mendekam di penjara.
Sementara ayahnya, bunuh diri dan ibunya gila sampai harus terkurung di rumah sakit jiwa. Jejak keluarga Naomi, benar-benar dilenyapkan dalam peredaran oleh orang-orang licik yang ingin aman.
“Nona?” Charlie membuka pintu kamar. Dirinya yang sudah pulang dari luar negeri karena mengurus bisnis, menatap tenang sosok majikan mudanya.
Tak bersuara kecuali duduk di sofa memandang keluar balkon tanpa jelas apa yang dipikirkan. Itulah lukisan Eldrey yang tak lagi bersuara setelah kejadian dirinya pingsan itu.
“Bagaimana?“ tanya Daniel Bonapart memandang Charlie yang keluar dari sana.
“Daripada mengurusi Nona, bukankah lebih baik kau kembali ke asalmu? Bagaimana bisa pemimpin tak becus sepertimu cuti terlalu lama?”
“Tentu saja karena aku pemimpinnya,” Daniel mengumbar senyum padanya. Pesona karismatiknya benar-benar menyombongkan gelar di bahunya.
“Kuharap bos cepat memecatmu.”
“Sayang sekali, sepertinya itu takkan terjadi,” kekehnya sambil menyerahkan sebuah laporan pada Charlie.
“Apa ini?“
“Bacalah, kau pasti suka,” lalu pergi meninggalkannya.
Dalam ketenangan itu, Charlie pun membuka laporan yang diserahkan Daniel, akan tetapi ekspresinya jelas menyiratkan emosi terpendam. Dicengkeramnya pinggiran map itu dengan geram dan mata tajam.
“Dasar keluarga gila!” umpatnya kesal.
Entah sudah berapa hari Eldrey tak kuliah. Begitu pula dengan Lily. Dua sepupu itu terkurung di rumah karena masalah masing-masing.
Dan Eldrey, masih saja menatap kosong keluar balkon. Langkah Presdir Betrand dengan setelan rapi di badan menghampirinya.
“Eldrey.”
Tak ada jawaban.
“Ayah, akan ke luar negeri selama beberapa hari. Apa ada yang kamu inginkan sebagai oleh-oleh?”
Suara tak terdengar, tatapan balasan pun tak terlihat di wajah cantiknya.
Sang ayah, hanya bisa menatapnya dengan pandangan penuh arti. Perlahan, presdir Betrand mengelus kepalanya.
“Apa yang harus ayah lakukan? Tolong katakan sesuatu, apa pun itu tak masalah. Bahkan jika itu amarah, setidaknya bersuaralah,” pinta presdir Betrand dengan nada memohon.
Akan tetapi, wajah tak bergairah dengan sorot mata seperti ikan mati masih saja terukir di wajah putrinya.
Presdir Betrand, benar-benar tak tahu lagi harus bagaimana untuk membuat putrinya berbicara.
Diraihnya kepala Eldrey untuk disandarkan ke dadanya. Sebuah perlakuan sayang dari orang tua yang tak pernah ia berikan sejak perceraiannya dengan Anna bertahun-tahun lalu.
Dan di balik pintu dengan celah sedikit terbuka, bu Anna hanya bisa menatap sendu itu semua. Rasanya menyesakkan, lebih baik putrinya marah-marah membentaknya daripada diam tanpa kata.
“Eldrey.”
Masih keheningan yang diberikan putrinya.
“Ayah harap, kita bisa mulai dari awal lagi. Mungkin sakit ini takkan hilang sepenuhnya. Tapi setidaknya sebagai ayahmu, aku ingin kamu tersenyum lagi seperti dulu,” presdir Betrand pun mengecup lembut kepala putrinya sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkannya.
Dalam langkah keluar, presdir Betrand terdiam saat melihat keberadaan sosok yang menangis di depannya. Perlahan, pintu kamar putrinya ditutup tangannya.
“Anna.”
Wanita yang disebut hanya bisa menutup wajahnya dengan telapak tangan karena beruraian air mata.
“Pastikan Eldrey tak makan obat apa pun lagi. Karena itu, gantikan aku untuk menjaganya,” sambil meraih kepala mantan istrinya dan mengecup lembut keningnya.
“Aku pergi,” pamitnya meninggalkan wanita yang diam membisu atas perlakuan mantan suaminya. Walau waktu sedang bergulir untuk menyatukan mereka, tapi sebuah kewajaran jika canggung masih terasa.
Perubahan sikap presdir Betrand, mulai mematahkan tekanan-tekanan berat dari retakan yang dulu pernah ada di sana.
__ADS_1
Mencoba memperbaikinya, demi kebahagiaan keluarga kecil samarnya, agar nyata dan penuh canda tawa.