
Dean tak bisa berkata-kata. Apa yang bisa ia tawarkan? Uang? Kehormatan? Pengabdian? Atau cinta? Itu sudah jelas tidak mungkin dan tak akan pernah terjadi. Apa yang diinginkannya? Perasaan berkecamuk menyelimuti batin Dean.
Ia benar-benar tak tahu lagi apa yang bisa ditawarkan pada gadis itu. Ekspresi Dean tampak sedikit kecewa, namun sorot matanya masih belum memperlihatkan tanda-tanda menyerah.
Eldrey, gadis itu memegang wajahnya. Menyentuh lembut dengan tangan yang dibalut perban. Dean merasa aneh dengan perlakuan Eldrey yang tak biasa itu. Semakin lama ia menatapnya, semakin Dean sadar kalau wajah Eldrey semakin mendekat.
Rasa gugup mulai menusuk Dean. Napasnya tertahan, ia benar-benar terbungkam saat menyadari kalau gadis itu akan menciumnya.
“Eldrey?” gumam Dean tiba-tiba mengira kalau gadis itu akan melakukannya. Kevin dan Charlie yang tak jauh dari keduanya pun membelalakkan mata dengan pemandangan yang takkan pernah mereka kira.
“Kenapa gugup begitu? Apa kamu benar-benar ingin bersandiwara denganku?” bisik Eldrey pelan di telinganya. Sentuhan pun di lepas, ia menatap Dean yang kaget tak percaya. Tangan yang sempat memegang wajah Dean pun menyisir rambut gadis itu ke belakang, memperlihatkan visualnya yang angkuh.
“Sayang sekali, hargaku sangatlah mahal Dean,” lirih Eldrey sambil tersenyum meledek. Kursi roda pun ia gerakan untuk menjauh dari Dean yang masih diam membeku. Mencoba menyadari apa yang baru saja terjadi.
“Nona?”
“Ayo pergi!” ajak Eldrey pada Charlie. Ia menatap Kevin, “benar-benar kakak adik yang menarik,” ucapnya dengan raut senang. Bulu kuduk Kevin langsung berdiri mendengar dan melihatnya, merasa ada sensasi dingin yang menusuk tulang saat melihat ekspresi gadis itu .
Charlie pun mendorong kursi roda Eldrey menjauhi mereka. Sementara Kevin yang penasaran pun perlahan mendekati Dean.
“Kakak?” panggilnya.
Dean tak menjawab, ia tertegun di posisi yang sama saat Eldrey meninggalkannya. Seolah-olah ada sesuatu yang benar-benar ia pikirkan.
“Buakk!” suara pukulan yang dilayangkan Kevin ke perutnya.
“Aaakh! Apa yang kamu lakukan?!” pekik Dean.
“Menghentikan lamunanmu kak,” jawabnya tanpa dosa.
Dean mengelus perutnya yang terasa sedikit sakit. “Hah!” hela napasnya kasar. “Apa yang sudah kulakukan?”
Kevin memandang heran saat mendengarnya, “apa maksud kakak? Apa yang kalian bicarakan sampai seperti itu?”
“Bukan hal yang penting, ayo kita pulang,” ajak Dean lalu berdiri dari duduknya.
Wajah Kevin memancarkan ketidak puasan saat menatap punggung kakaknya. Rasa penasaran akan keduanya adalah penyebab utamanya. Kenapa Eldrey melakukan itu? Apa yang mereka bicarakan? Kenapa ekspresi kakaknya seperti itu? Pemikiran akan hal itu benar-benar tak bisa ia tepis menjauh, sampai akhirnya Kevin pun pergi mengikuti langkah Dean.
*******
Kicauan burung-burung menemani Dean yang terdiam di balkon. Kemarin adalah hari terburuk untuknya. Mendapat penolakan dan sindiran keras dari Eldrey, dan begitu pulang ke rumah, muka riang Diana sudah menyambut kedatangannya dengan sikap seperti sedang mencari perhatian.
Bahkan ia juga sampai harus membawa Diana jalan-jalan atas perintah tuan Kendal. Apalagi yang lebih buruk dari itu? Tak ada yang lebih buruk dari hari kemarin menurutnya. Panggilan Erin sekarang benar-benar ia abaikan. Seolah gadis itu sudah tak ada artinya lagi sekarang, padahal Erin masih menyandang status sebagai pacarnya.
Di sisi lain, keluarga Ramses berencana untuk pergi ke kediaman Eldrey demi menjenguknya yang sudah menyelamatkan Ramses.
Tampak beberapa bingkisan yang dibeli nyonya Nera menghiasi bawaan mereka, berharap kalau gadis itu akan suka nantinya.
“Kakak ikut juga? Buat apa?”
__ADS_1
“Ya aku penasaran! Kenapa? Memangnya gak boleh?” gerutu Fiona. Ramses hanya membalas ucapan kakaknya dengan ekspresi tak suka. Ia merasa risih karena harus ke rumah Eldrey beramai-ramai. Bagaimana jika orang-orang di rumah Eldrey tak suka? Menurutnya, ia dan kedua orang tuanya saja sudah cukup untuk pergi ke sana.
“Kenapa dia sudah di rumah? Apa lukanya sudah sembuh?” tanya nyonya Nera heran.
“Entahlah, sepertinya belum Ma,” jawab Ramses.
“Mungkin dia benar-benar gak terluka,” sambung Fiona.
“Jangan bicara asal-asalan!” tukas Ramses emosi.
“Kamu kenapa sih! Aku kan cuma bercanda!” gerutu Fiona yang kesal dengan nada bicara adiknya.
“Sudah-sudah, bisa tidak sehari saja kalian itu gak bertengkar? Mama pusing dengar perdebatan kalian!”
“Aku juga pusing! Punya adik tapi emosian kayak perempuan!” ledek Fiona.
“Fiona!” nyonya Nera geleng-geleng kepala dengan sikap anaknya. Ramses hanya memandang kesal dan memilih mengalihkan perhatian sambil memainkan ponsel.
Laju mobil tuan Harel pun terhenti saat memasuki halaman rumah mewah itu. Sekali lagi Fiona dibuat terpana dengan pemandangan di depannya.
“Eh! Tuan Muda! Anda datang lagi?” sapa si penjaga sopan.
“Iya tuan, aku mau lihat keadaan Eldrey.”
“Eh! Kok panggil tuan! Saya cuma penjaga, tuan muda panggil saja saya Alfred.”
“Anda lebih tua dariku,” sahut Ramses.
“Anda sopan sekali, tapi saya lebih nyaman dipanggil dengan nama saya saja tuan.”
Silakan masuk tuan,” ucap si penjaga. Ia juga menunduk hormat pada anggota keluarga Ramses yang hanya mendengar pembicaraan mereka.
“Kenapa aku merasa merinding ya?” kelakar Fiona.
Sesampainya di pintu masuk, keluarga Ramses sudah disambut baik oleh pelayan. “Selamat datang tuan dan nyonya,” sambutnya hangat pada tuan Harel dan nyonya Nera. Pelayan itu juga tersenyum pada Ramses dan Fiona. “Selamat datang tuan muda dan nona. “Saya Emily, pelayan di sini, ada yang bisa saya bantu?”
“Kami ingin menjenguk putri tuan Betrand,” ucap tuan Harel. Pelayan itu terdiam, ekspresinya jelas memperlihatkan kalau ia ragu harus menjawab apa pada mereka.
Langkah yang cukup jelas mulai menghampiri, membuat keluarga tuan Harel berpaling ke arah sumbernya. “Selamat datang, suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda lagi tuan,” lirihnya begitu mendekat.
“Mmm, begitu juga denganku. Sudah lama kita tak bertemu,” balas tuan Harel. Tampaknya mereka sudah saling mengenal, membuat Fiona sedikit penasaran dengan sosok pria di depannya.
“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda nyonya, saya Charlie, salah satu bawahan tuan Betrand,” Charlie pun memperkenalkan diri.
“Nera. Aku pernah mendengar tentangmu dari suamiku,” lirih nyonya Nera membalas perkenalan diri itu.
“Benarkah? Suatu kehormatan bagi saya nyonya,” Charlie sedikit tertawa.” Jadi, apa ada yang bisa saya bantu?”
“Aku dan keluargaku ingin menjenguk putri tuan Betrand.”
“Baiklah tuan, mari saya antar,” angguk Charlie pada tuan Harel. Ia memainkan matanya pada Emily, sebagai tanda akan sesuatu di mana pelayan itu pun meninggalkan mereka.
Perjalanan ke tempat Eldrey pun menimbulkan kekaguman tersendiri bagi Fiona. Begitu ia menyadari kalau kediaman itu tak hanya terdiri dari tiga, melainkan empat bangunan utama.
__ADS_1
“Apakah masing-masing rumah ini dihuni?” tanya Fiona tiba-tiba saat mereka menapaki jembatan lorong.
“Ya, kecuali bangunan kanan,” jelas Charlie.
“Kenapa?”
“Tak ada alasan khusus, mungkin karena rumah ini terlalu besar,” Charlie pun memandang Fiona yang penuh dengan rasa keingin tahuan.
“Silakan tunggu di sini, saya akan memanggilkan nona,” pungkas Charlie. Keluarga Ramses pun menunggu sambil duduk di ruang tamu lantai dua.
“Rumah ini benar-benar unik, bahkan untuk menemui sang tuan putri saja perjalanan kita cukup melelahkan,” ujar Fiona. Entah sekarang ia bermaksud menyindir atau memuji. Bagaimana tidak, untuk menemui Eldrey saja mereka harus ke lantai dua bangunan utama, berjalan menuju jembatan lorong memasuki lantai dua rumah kiri di mana Eldrey berada.
Saking luasnya, ia benar-benar merasa aneh dengan arsitektur rumah itu. Benar-benar tak biasa, seolah keluarganya berada di level yang berbeda.
Dua orang pelayan pun datang membawakan sajian untuk menemani penantian keluarga Ramses. Minuman dan cemilan yang menggoda pun mempercantik meja tamu.
Tak lama, laju pelan kursi roda pun mendekati mereka. Sosok gadis dengan rahang tegas, mata yang tajam, alis tebal yang indah membentuk struktur visual cantik namun angkuh membuat mereka tertegun menyaksikannya. Fiona memperhatikan tanpa berkedip, apalagi saat menyadari kalau wajah pucat dan bibir merah menghiasi gadis yang datang itu.
“Selamat siang,” sapa Eldrey. Senyum manis tak lupa ia tampilkan untuk dipamerkan pada mereka. “Senang bertemu dengan anda tuan, nyonya, aku Eldrey, maaf kita bertemu dalam keadaanku yang seperti ini.” Diiringi dengan senyum saat menatap Ramses dan kakaknya.
“Tidak apa-apa, kamilah yang seharusnya meminta maaf karena telah mengganggu istirahatmu,” sahut tuan Harel.
“Tidak, ini sama sekali tidak menggangguku tuan.”
“Jadi bagaimana keadaanmu?” tanya nyonya Nera memotong pembicaraan.
“Seperti yang anda lihat nyonya.”
“Sepertinya kamu masih belum sembuh, kenapa tidak dirawat di rumah sakit?” nyonya Nera pun memperhatikan Eldrey dari atas ke bawah. Matanya terpaku pada kaki dan tangan Eldrey yang di perban. “Kata Ramses perutmu yang ditusuk, kenapa kaki dan tanganmu bisa terluka?” tanyanya penuh selidik.
“Nera,” sela tuan Harel.
“Aku hanya bertanya,” seolah tak peduli dengan selaan suaminya.
“Tidak apa-apa tuan.” Eldrey pun mengalihkan pandangan pada nyonya Nera. “Kaki dan tanganku terluka akibat kejadian yang tak terduga nyonya,” lirih Eldrey. Charlie yang masih berdiri di belakangnya menatap gadis itu dengan raut wajah yang berubah.
“Kejadian tak terduga?” ucapan Ramses mengundang lirikan dari Eldrey.
“Ya, hari itu saat kamu sudah pulang, ada orang yang tiba-tiba datang dan menyerangku. Untung saja ada pengawal, tapi semua tetap tidak bisa dihindari, sampai aku harus melindungi diriku sendiri dan terluka lagi,” jelas Eldrey seadanya.
“Menyerang? Siapa?!” tanya tuan Harel yang kaget mendengarnya.
“Sepertinya musuh-musuh presdir Betrand tuan, maklum saja, mengingat tuanku sedang tidak di tempat dan kami juga sibuk melakukan pekerjaan yang lainnya. Mereka pasti sudah mengintai dan menyerang di saat kami lengah,” timpal Charlie.
“Maafkan aku Rey, jika seandainya aku tetap di rumah sakit saat itu, mungkin saja ini tidak akan terjadi. Aku sudah pasti akan berusaha melindungimu,” sambung Ramses dengan nada bersalah. “Padahal kamu sudah terluka karena melindungiku, aku ....”
“Jangan begitu, ini bukan salahmu. Ini bukan salah siapa pun. Bahkan jika situasinya berbeda, mungkin saja kamu juga akan melakukan hal yang sama,” Eldrey menenangkannya. “Dan penyeranganku, itu tak ada hubungannya denganmu, ini hanya masalah pribadi keluargaku, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah Rams.”
Perkataan Eldrey benar-benar mendominasi suasana. Perbincangan saat itu berlanjut dengan ucapan terima kasih yang diberikan keluarga Ramses secara tulus padanya. Tuan Harel tampaknya benar-benar bersimpati pada gadis itu, terlebih lagi perlakuannya sebelum pulang yang mengundang tanda tanya besar saat melihat ekspresi Eldrey.
Gadis itu terdiam saat tuan Harel mengusap lembut kepalanya, mengucapkan beberapa kata untuk kesembuhannya. Ekspresi Eldrey yang menerima perlakuan itulah yang menjadi tanda tanya besar keluarga Ramses. Seolah-olah ia tak pernah diperlakukan seperti itu oleh orang tuanya.
__ADS_1