
“Apakah ini karma?” batinnya.
Karena merasa sia-sia, presdir Betrand melanjutkan laju mobilnya. Di tengah-tengah keramaian toko yang mengelilingi jalanan, mobilnya pun kembali berhenti.
Berhenti di sebuah toko perhiasan ternama. Dengan langkah pasti ia memasuki toko itu.
“Selamat datang tuan, ada yang bisa dibantu?” tanya salah satu pegawai yang cantik.
“Perlihatkan aku kalung terbaik di toko ini.”
“Baik tuan, silakan ikuti saya ke ruangan VIP.”
Pegawai tersebut memandu presdir Betrand ke sebuah ruangan yang ketat penjagaannya.
Di dalam sana terdapat berbagai perhiasan mewah yang terpajang menarik mata.
Langkah presdir Betrand pun terhenti saat menatap sebuah kalung berdesain simpel namun elegan. Sebuah kalung bertahtakan red diamond sebagai mainannya.
“Aku ingin ini,” ucap presdir Betrand.
“Baik tuan, kami akan menyiapkannya,” sahut pegawai itu.
Setelah selesai melakukan pembayaran, presdir Betrand kembali melanjutkan perjalanannya ke rumah.
Sekitar 10 menit menempuh perjalanan, sampai juga ia di kediaman mewah yang sudah menjadi teman hidupnya.
“Selamat datang tuan,” sambut pelayannya.
“Mmm.”
“Apa ada sesuatu yang anda butuhkan tuan?”
“Tidak ada,” lanjut presdir Betrand berlalu begitu saja.
Ia tetap menyusuri jalanan yang akan mengantarnya ke sebuah kamar. Kamar yang selalu dipakai tuan putrinya.
“Tok ... Tok ... Tok ...” suara pintu kamar yang diketuk.
“Eldrey kamu di dalam?” tanya presdir Betrand. Karena tak ada jawaban, ia memilih untuk memasuki kamar begitu saja.
Tak ada siapa pun di dalam, langkah presdir Betrand berlanjut menuju balkon yang besar di mana putrinya berada.
Sesosok gadis yang ingin ia temui tampak tertidur dalam keadaan duduk di lantai dan bersandar pada sofa.
Presdir Betrand menghampirinya, sekilas matanya melirik pada sebuah buku yang ada di dekat putrinya. Ia ambil buku itu dan membalik beberapa lembar kertas penuh cerita yang ditatap dingin olehnya.
Ia pun menatap Eldrey, tangannya menyentuh rambut gadis itu dan menggesernya ke belakang telinga.
“Sedang apa ayah di sini?” lirih putrinya tiba-tiba. Sepertinya ia tersadar dari tidurnya karena sentuhan presdir Betrand.
“Eldrey,” presdir Betrand melepaskan sentuhannya. “Aku membawakan sesuatu untukmu,” ucap presdir Betrand.
Ia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berdesain unik dan cantik berwarna hitam.
Begitu membukanya, tampaklah sebuah kalung dengan mainan red diamond yang menyilaukan mata karena pesonanya.
“Untuk apa ini?” tanya Eldrey datar.
“Ini hadiah untukmu.”
“Hadiah?”
“Ya.”
“Kenapa?” Eldrey tampaknya tak suka dengan hadiah yang diberikan presdir Betrand.
“Apakah seorang ayah butuh alasan untuk memberikan hadiah pada putrinya?”
“Apakah seorang anak butuh alasan menerima barang berharga yang tak ada maknanya?” sergah Eldrey.
__ADS_1
Ucapannya membuat presdir Betrand terdiam. Ia menghela napas pelan, “apa kamu tidak menyukainya?”
“Tidak, karena aku tak butuh.”
Presdir Betrand pun mengalihkan pandangannya. “Baiklah kalau begitu, jika kamu tak menyukainya ayah akan membuangnya,” lirih presdir Betrand pergi meninggalkannya sambil membawa kotak perhiasan itu.
Sesampainya di ruang tamu bangunan utama ....
“Tuan? Anda mau ke mana?” Rondolf menghampiri.
“Aku keluar dulu, tolong awasi Eldrey.”
“Baik tuan,” angguk Rondolf. Tapi baru beberapa langkah, Rondolf kembali menghentikan langkahnya.
“Tuan!” panggilnya.
Presdir Betrand hanya menoleh, “anda tak memakai supir?” tanya Rondolf lagi.
“Reynald bersama Charlie,” jelas bos besar tersebut.
“Kalau begitu aku akan meminta pengawal yang lain untuk jadi supir anda.”
“Tidak perlu, aku sendiri saja. Sudah lama aku tak membawa mobil sendiri, ini cukup menyenangkan rupanya.”
“Tapi tuan,” sanggah Rondolf.
“Aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu dicemaskan,” jelas presdir Betrand.
“Baik tuan.”
Dengan langkah pasti dan terkesan angkuh, presdir Betrand pun pergi meninggalkan kediaman mewah itu. Padahal ia baru saja kembali. Tetapi, penolakan Eldrey atas hadiah yang diberikannya sepertinya membuat ia enggan berlama-lama menghabiskan waktu di rumah.
Memiliki bawahan elit terpercaya yang akan menyelesaikan pekerjaan membuat presdir Betrand memiliki waktu walau tak bisa disebut luang.
Entah ke mana ia sekarang pergi, hadiah yang ditolak putrinya sekarang tergeletak di sampingnya.
Alice baru saja pulang dari kediaman bu Anna. Ia kembali menjenguk wanita itu ke rumahnya sambil membawa buah. Dengan hari ini, itu berarti sudah dua hari toko ditutup.
Langkahnya terhenti di depan toko roti yang menjadi tempatnya bekerja. Kediaman bu Anna tak jauh dari toko roti tersebut, jaraknya bisa ditempuh sekitar 7 menit berjalan kaki. Rumah sederhana dengan tamannya yang asri menjadi tempat beristirahat bagi bu Anna dan Evan.
Sebuah mobil kembali berhenti di depan toko roti yang mengundang tatapan dari Alice.
“Eh, tuan. Kita bertemu lagi,” jelas Alice.
“Tokonya tutup?”
“Iya tuan, bu Anna sepertinya masih sakit,” jelas Alice.
“Begitu ....”
“Tuan? Jika mau aku bisa mengantar anda ke rumah bu Anna, rumahnya dekat dari sini.”
“Tidak perlu.”
“Baiklah,” Alice menatap pria itu dengan lekat.
“Ada apa?”
“Ti-tidak ada apa-apa tuan,” jelas Alice.
Presdir Betrand yang meliriknya sekilas pun kembali ke dalam mobil. Sementara Alice masih menatap lekat punggungnya.
“Ada apa? Apa kamu butuh tumpangan?”
“Tidak tuan! Tidak perlu,” tukas Alice gelagapan.
Presdir Betrand pun tersadar dengan keberadaan perhiasan yang ia belikan untuk Eldrey.
“Kamu.”
__ADS_1
“Iya tuan?” Alice tampak kaget karena dipanggil tiba-tiba.
Presdir Betrand kembali turun dari mobil dan menghampiri Alice sambil memegang kotak perhiasan tersebut.
“Ambillah,” presdir Betrand menyodorkan kotak itu pada Alice.
“Ma-maaf tuan?”
“Aku tidak butuh, jadi kamu ambil saja.”
“Tapi tuan!”
“Jika tidak maka aku hanya perlu membuangnya.”
“Jangan! A-aku akan menerimanya,” Alice lalu mengambil kotak yang disodorkan presdir Betrand itu.
“I-ini cantik sekali!” puji Alice begitu membuka isi kotaknya.
Red diamond yang memantulkan cahaya secara sempurna memang sangat mempesona. “A-apa ini boleh untukku?”
“Ya.”
“Terima kasih tuan, terima kasih banyak,” sahut Alice dengan sangat senang.
“Mmm! Kalau begitu aku pergi dulu,” presdir Betrand membalik tubuhnya. Saat akan membuka pintu mobil, tiba-tiba ....
“Dor! Prangg! Craaak! Craak!” suara peluru yang ditembakkan mengenai kaca toko dan pecah.
“Kyaaaa!” pekik Alice ketakutan.
“Menunduk!” teriak presdir Betrand. Tetapi semuanya sudah terlambat.
“Dor! Dor!”
Suara peluru yang kembali ditembakkan tepat mengenai tubuh presdir Betrand karena mencoba melindungi Alice.
“Kyaaaa! Tu-tuan! Tuan! Tuan!” pekik Alice ketakutan.
Suara keributan mulai memanas memenuhi jalanan. Orang-orang di sekitar sana berteriak untuk segera memanggil ambulance.
Presdir Betrand tak bicara, pupilnya bergetar, namun ia mencoba untuk mengatur pernapasannya dengan menekan dua buah luka tembak di tubuhnya.
“Tu-tuan!” Alice pun menangis.
“A-aku baik-baik saja,” gumam presdir Betrand berjeda. Ia tampak kesakitan dengan keringat dingin mulai mengucur di wajah. Presdir Betrand pun akhirnya pingsan di sana.
Satu jam setelahnya ....
“Tenang saja Liz, orang itu pasti akan baik-baik saja,” Ramses mencoba menenangkan Alice yang menangis.
Tak lama setelah presdir Betrand dibawa ke rumah sakit, Ramses menghubungi Alice untuk mengajak bertemu. Namun begitu mendengar kondisi Alice yang tidak baik-baik saja, Ramses pun mendatanginya di mana presdir Betrand sedang ditangani sekarang.
Derap langkah tegas mengarah jelas ke tempat mereka berada. Sesosok gadis muda sambil ditemani Rondolf dan juga seorang pengawal sekarang berjalan tepat ke arah semuanya.
“Nona,” Reynald membungkuk hormat padanya.
“Apa yang terjadi?!” tanya Rondolf pada Charlie yang juga berada di sana.
“Tuan, dia tertembak saat sedang bepergian. Sekarang dokter sedang menanganinya,” jelas Charlie pada mereka yang baru datang.
Ketegangan mulai terasa, terlebih lagi sorot mata Eldrey yang menatap sosok asing di sekitar mereka.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Eldrey.
“Rey!” teriak Alice memeluknya. Gadis itu hanya berekspresi heran, karena tak mengerti bagaimana bisa Alice ada di sana. Alice pun melepas pelukannya dan menatap Eldrey dengan sendu.
“Kenapa kamu ada di sini?” Eldrey sangat penasaran.
“Orang itu menyelamatkanku, karena itulah paman itu terluka! Dia terluka karenaku Rey! Apa yang harus kulakukan?!” sahut Alice. Tampaknya ia masih belum tahu siapa sosok yang sudah menyelamatkannya.
__ADS_1