
Kevin pun perlahan melepas pegangannya yang menahan tangan Eldrey, di mana gadis itu menutup matanya dengan salah satu punggung tangannya disertai ekspresi tak terduga.
“Eldrey?”
Gadis itu tak menjawab dan masih diam di posisinya. Kevin menatap Eldrey dengan perasaan risau, apalagi melihat gadis itu yang memegang perutnya.
“Eldrey?”
“Aku lelah,” lirihnya pelan. Ia pun bangun dari rebahnya, “uugh!” erang pelan Eldrey.
“Eldrey! Kamu baik-baik saja?!”
“Hah ... Hah ... Hah ...” napas Eldrey yang berbunyi. Rasa sakit akibat tusukan itu menyakitinya. Dia masih belum diizinkan untuk banyak bergerak. Tapi serangan yang ia lakukan pada Kevin sudah membebani lukanya. “Aku baik-baik saja.”
Kevin merasa iba padanya, ia pun mengulurkan tangannya menggendong Eldrey ke ranjang.
“Aku akan panggilkan seseorang!”
“Tidak! Tutup mulutmu!” hardik Eldrey. “Tolong tinggalkan aku, aku hanya ingin istirahat.”
Kevin pun mengangguk, “baiklah, maafkan aku Eldrey.” Ia pergi meninggalkannya, walaupun rasa khawatir masih menemaninya. Ini pertama kalinya ia dibanting seperti itu. Apalagi oleh seorang perempuan yang terluka. Tapi ekspresi Eldrey saat memegang pisau itu langsung menghantui Kevin.
“Eldrey, apa mungkin kamu?” gumamnya.
Malam pun datang, tapi gadis itu masih belum memakan apa pun dari siang. Kecuali menghabiskan hari dengan menonton film-film menguras emosi untuk yang merasakannya.
Faktanya, Eldrey menonton itu sambil memegang sebuah cermin. Menatap lekat raut wajah yang ditampilkan salah satu pemain, menirukannya sambil memandang cermin di tangannya. Entah sudah berapa kali ia menonton film itu, entah sudah berapa kali pula ia meniru ekspresi itu, sekarang bibi pembantu yang mengantarkan makanan ke kamarnya hanya bisa beruraian air mata melihat tingkahnya.
Setiap melihat putri bosnya yang seperti itu, hanya rasa sakit karena kasihan tak tertahan yang dirasakan. Benar-benar menyakitkan untuk melihat Eldrey yang begitu.
“Bibi?” panggil Eldrey yang menyadari keberadaannya.
“Nona,” mengusap air mata dan menghampirinya.
“Kenapa bibi menangis?” menanyakan itu dengan muka datar.
“Tidak, tidak ada apa-apa nona.”
“Aku sedang tidak ingin diganggu.”
“Baik nona, bibi akan meninggalkannya di sini.”
“Mmm.”
Tapi tak sedikit pun ia menyentuh makanan itu, sampai akhirnya dirinya terlelap dengan tangan yang masing menggenggam cermin.
Matahari pagi datang menyapa mereka yang dilaluinya, membuat Alice terbangun dari lelapnya. Ia menggeliat, menandakan diri mencoba sadar dengan benar. Dengan mengambil ponsel, ia pun menghubungi seseorang, tapi hasilnya sudah tertulis dari raut wajahnya yang kecut.
“Apa yang harus kulakukan?” sambil menatap lekat layar ponsel. Daftar panggilan dan pesan dari Dean dan Kevin yang tak diacuhkan memenuhi matanya.
Sakit hati akan hinaan tuan Kendal membuatnya tak ingin menerima sedikit kehadiran dari kakak beradik itu saat ini. Sampai ia mengecek sebuah pesan dari Erin yang menanyakan keberadaan Dean padanya.
Perasaannya semakin berkecamuk setelah mengetahui kalau Erin juga memintanya bertemu. “Apa yang harus kulakukan?” Alice mendesah. Kebohongan yang ditutupi pada Erin membuatnya sakit kepala.
“Alice? Kamu sudah bangun nak?” tanya ibunya.
“Sudah bu, tunggu sebentar!” ia pun beranjak ke kamar mandi terlebih dahulu.
__ADS_1
Sesampainya di dapur di mana ibunya berada, “Lis, Eldrey gimana kabarnya? Sudah lama ibu gak bertemu dengannya.”
Alice terdiam, ia merasa bingung harus menjawab apa. Tak ada kabar dari sahabatnya, terlebih lagi pihak rumah sakit tidak mau memberi tahukan di mana Eldrey tinggal.
“Lis?”
“Dia baik-baik saja bu,” dusta Alice.
“Benarkah? Kenapa ia jarang ke sini?”
“Mungkin dia lagi sibuk, nanti pasti kuajak untuk bertemu ibu.” Ingin rasanya ia jujur, tapi apa yang akan dikatakan ibunya? Pasti ibunya berpikir yang tidak-tidak padanya, apalagi Erin juga tidak lagi datang ke rumah semenjak berpacaran dengan Dean, di mana hal itu menjadi tanda tanya bagi ibunya. Pemikiran kalau dirinya bermasalah dengan teman-temannya cukup membebani bu Ann. Walaupun sebenarnya ibunya tak perlu ikut campur dalam urusan itu.
Pagi berganti siang, langkah kaki dari perawakan yang tenang terpancar dari diri pria yang memasuki sebuah rumah mewah. Ia menyerahkan jasnya pada bawahan yang menyambut, menatap wajah mereka tanpa ada senyum di bibir.
“Selamat datang tuan. Apakah semuanya berjalan lancar?” tanya Rondolf padanya.
“Ya, walau tidak semuanya. Bagaimana situasinya? Tidak ada masalah selama aku pergi bukan?”
“Tidak tuan, semua baik-baik saja.”
“Mana Eldrey?”
“Nona di kamarnya tuan.”
“Panggilkan dia.”
“Biar aku saja,” sahut Charlie pada Rondolf. Padahal ia juga baru datang bersama presdir Betrand.
“Baik tuan.”
“Nona? Tuan sudah pulang dan ingin bertemu denganmu,” begitu pintu terbuka.
“Baiklah.”
Charlie pun menghampirinya, menggendong Eldrey mengingat luka di kakinya masih belum sembuh. Mereka tak saling bicara, terlebih lagi Charlie sadar jika wajah gadis itu seperti sedang malas untuk meladeninya.
Sesampainya di anak tangga terakhir ia menurunkan Eldrey ke kursi roda yang ada di sana. Untung saja di rumah itu ada tiga kursi roda, satu di kamar Eldrey, satu yang sedang dipakainya sekarang, dan satu lagi di lantai dua bangunan utama.
Charlie mendorong kursi roda mengantarnya ke depan presdir Betrand. Di ruang tamu itu tampak presdir Betrand dan sekretaris Roma yang sedang duduk bersama. Juga ada Rondolf dan Emily yang sedang berdiri di dekat mereka.
“Ayah,” ucapnya begitu kursi roda terhenti di seberang ayahnya.
“Eldrey, bagaimana keadaanmu?” tanya presdir Betrand sambil menatap putrinya dari atas ke bawah.
“Seperti yang ayah lihat.”
“Aku sudah dengar apa yang terjadi.” Ia pun terdiam sejenak, “yang terjadi di rumah sakit, apa harus kamu melakukannya?”
“Maksud ayah?”
“Kamu bisa saja berteriak, kenapa harus mengotori tanganmu seperti itu? Apa yang akan terjadi jika media sampai tahu kalau kamu yang membunuh mereka?”
“Tapi mereka tidak tahu, jadi tidak ada masalah bukan?” jawab Eldrey.
“Sekarang kita bisa menutupinya, tapi bagaimana jika nanti terulang lagi? Belum tentu hal yang sama akan terjadi. Kamu putriku, jika ada yang tahu perbuatanmu, kamu akan susah mendapatkan pasangan nantinya,” tukas presdir Betrand.
“Pasangan? Apa itu penting untuk sekarang?”
__ADS_1
“Itu hanya perumpamaan Eldrey. Kekuasaanku tak bisa selalu menutupi ulahmu, apalagi sekarang ada orang yang mengetahui tindakanmu.”
“Kevin? Kalau begitu bunuh dia.”
“Bukankah dia sudah menyelamatkanmu? Dengar Eldrey, ayah akan lupakan ini. Karena itu, cobalah untuk bersikap seperti anak-anak normal lainnya. Ayah hanya minta itu,” presdir Betrand pun melonggarkan dasinya.
“Normal? Yang seperti apa? Bukankah ayah selalu membatasiku?”
“Itu semua demi kebaikanmu!”
“Dengan mengekangku?” Eldrey tampaknya tak mau mengalah dari ayahnya.
“Aku tak pernah mengekangmu! Semua kulakukan demi kebahagiaanmu! Seharusnya kamu sadar akan itu!” tampak presdir Betrand mulai emosi pada putrinya.
“Kebahagiaan? Omong kosong apa yang ayah bicarakan?” lawan putrinya dengan raut wajah datar.
“Eldrey! Sekali lagi kamu berbicara seperti itu!” bentak presdir Betrand tak melanjutkan ucapannya. Ia bahkan sampai berdiri dari duduknya, membungkam orang-orang yang berada di sana. “Kembali ke kamarmu!”
“Ayo nona,” ajak Charlie. Belum sempat ia menyentuh kursi roda, gadis itu sudah berdiri. Ia menatap ayahnya yang masih terlihat emosi. Perlahan ia mendekat dan berdiri tepat di samping presdir Betrand.
“Kenapa? Bukankah semua yang terjadi adalah salahmu? Jika ayah mengekangku karena takut bertemu ibu, maka salahkan dirimu yang pernah memilihnya sebagai istrimu.”
“Eldrey!” presdir Betrand tampak benar-benar marah pada perkataan kurang ajar putrinya. Ia sampai mengangkat tangan yang hampir dilayangkan untuk menamparnya.
“Tuan!” Rondolf pun menghampiri presdir Betrand untuk menenangkannya. Hanya dia yang berani bersuara di tengah pertengkaran yang tak ingin dimasuki itu.
“Akhirnya, setelah sekian lama. Ini pertama kalinya kita berbicara selama ini. Dan ini juga pertama kalinya, ayah mengangkat tangan ke arah wajahku.” Perkataan Eldrey membuat presdir Betrand terkesiap, ia pun perlahan menurunkan tangannya itu.
Namun gejolak di dadanya mulai terasa aneh, saat ia menyadari ekspresi putrinya yang mengatakan itu dengan tatapan kosong. Tatapan yang sama, dengan tatapan di masa lalu mereka. Tatapan di mana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat putrinya kehilangan emosi dan melayangkan pisau untuk menusuk jantungnya.
“Eldrey,” presdir Betrand mencoba menyentuh wajahnya. Namun gadis itu langsung mundur beberapa langkah.
Ia memalingkan wajah, dan berjalan keluar meninggalkan mereka yang terdiam dengan pemandangan yang mengunci rapat mulut itu. Presdir Betrand terdiam saat menyadari apa yang sudah terjadi, pupilnya bergetar saat menyadari kesalahan yang sudah dilakukannya.
“Eldrey,” gumam presdir Betrand. “Roma! Perintahkan pengawal untuk mengikutinya!”
“Baik tuan.”
Tak ada satu pun yang bicara, kecuali menatap bos besar yang sedang merenungi kesalahan tak seharusnya ia lakukan.
Tak peduli dengan keadaan kakinya yang masih sakit, Eldrey berjalan keluar dari kawasan di mana rumahnya berada. Menuju jalanan besar untuk mengantarkannya entah ke mana. Entah sadar atau tidak, ada dua pengawal yang sedang mengikutinya. Begitu pula sebuah mobil berisi dua pengawal lain yang ikut mengintainya, memastikan takkan ada hal aneh yang akan terjadi pada sang putri.
“Tuan, silakan minum dulu air ini tuan,” sodor bibi pembantu meletakkannya di atas meja. Presdir Betrand yang masih duduk dengan ditemani bawahannya itu hanya bisa mengangguk dan tak menyentuhnya. Sepertinya ia benar-benar tertekan dengan apa yang sudah terjadi.
“Apa yang sudah kulakukan? Apa ini karma karena sudah memisahkan Eldrey dari ibunya?” lirih presdir Betrand.
“Tuan,” sahut Rondolf yang berdiri di dekatnya. Sementara sekretaris Roma, Emily dan bibi pembantu hanya menunduk mendengarkan. Berbeda dengan Charlie yang memandang bosnya jengkel.
“Sebagai pebisnis anda memang luar biasa, tapi sebagai ayah anda benar-benar gagal,” Charlie memecah suasana yang mengagetkan semua. Mereka menatap Charlie dengan pandangan tak percaya atas apa yang baru saja ia lontarkan pada bosnya. “Kenapa memandangku seperti itu? Apa anda akan menghukumku?”
Presdir Betrand hanya menatap tajam, sampai akhirnya ia memalingkan wajah, enggan menjawab perkataan anak buahnya. “Lima belas tahun aku bersamamu, namun ini ketiga kalinya aku melihat anda seperti ini,” lanjutnya.
“Sekarang aku mengerti apa yang terjadi, jika orang tua tak mengenal baik anaknya, bagaimana bisa mereka mengerti apa yang diinginkannya? Ini benar-benar mengingatkanku pada orang tuaku.”
“Mungkin lebih anda biarkan dulu nona sendiri tuan, itu akan lebih baik untuknya.” Selesai mengatakan itu, Charlie pun pamit pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1