FORGIVE ME

FORGIVE ME
Ikatan bersaudara di dunia malam


__ADS_3

Dalam waktu yang terus berlanjut, langit berbintang pun telah menghiasi penampakan malam. Tapi, itu takkan sampai di depan mata sosok-sosok dalam ruangan besar. Alunan keras memekakan telinga menyelimutinya, dari DJ yang memainkan musiknya dengan penuh semangat berkobarnya.


Dan semua pecandu, menari dengan bebasnya. Beberapa memilih melakukan transaksi sebagaimana mestinya. Semua aroma menggoda dari mereka yang mengenakan wewangian pun merangsang penghirupnya.


Ada yang terpesona, saling bertukar pandangan ataupun menunggu sajian dari bartender dalam memainkan aksinya. 


Tentu saja lukisan dari asap yang mengepul mengudara menggerogoti sekitar mereka. Bahkan lantunan obat-obatan dengan kuasa tak biasa memulai senandungnya dalam minuman beberapa manusia. Mencoba menjadi Raja, dalam memuaskan hasrat mereka yang bertujuan tak biasa sesuai keinginan nafsunya.


Akan tetapi, di tempat berbeda di mana ruang tunggu bagi para karyawan dihuni oleh beberapa gadis muda. Begitu cantik kilauannya, keindahan tubuh yang tercetak jelas dari kostum hampir menyerupai bikini membalut tubuh mereka.


Semua sibuk dalam aktivitas masing-masingnya. Memperbaiki riasan, menatap lekat apakah sang dandanan sudah melekat maksimal di badan.


Dan salah seorang di antaranya, menatap cermin meja rias dalam keadaan murung tak bahagia. Ini akan menjadi hari pertama baginya, menjadi bunga untuk sosok tempat kerjanya. Namun bagi beberapa mata, dia adalah bengal di sosok-sosok yang memperhatikannya.


Bahkan jika bekerja dengan tujuan baik ataupun mulia, kesalahan tempat dan lokasinya akan menjadi keburukan di mata mereka. Sosok-sosok yang melabeli Club malam seperti cerita beredar di luar sana.


Tapi, tak ada satu pun yang tahu jika para pekerja memiliki latar beragam dalam memilih melakukannya. Terkadang, juga jarang untuk mendengarkan kisah sebenarnya. Karena manusia, kebanyakan lebih peduli dengan apa yang mereka lihat dari luarnya.


Salah satunya yang terjadi pada seorang gadis muda.


Patricia Lascrea.


Begitu cantik namanya, sesuai rupa pemiliknya. Terpaksa mendatangi tempat ini sebagai sumber mata pencaharian dirinya. Dan dua teman yang ia panggil sahabat, langsung memasangkan label gadis murahan begitu sosoknya menceritakan keadaan ini.


Kenapa mereka begitu?


Padahal teman-temannya tahu bagaimana kondisinya.


Apakah salah ia memilih bekerja di sini?


Karena Nightclub adalah salah satu ladang tercepat dalam menghasilkan uang banyak. Dan tak ada satu pun temannya yang mendukungnya. Mereka membencinya, karena memilih menjadi murahan. Tapi tak satu pun dari dua orang itu mampu menolong keterpurukan dirinya.


Jadi, siapa yang bisa disalahkan Patricia?


Ponselnya ia silent karena rasa kecewa. Perlahan, sentuhan tangan di bahu kana seperti ingin menenangkannya.

__ADS_1


“Tenang saja. Menjadi penari striptis memang tidak mudah. Tapi, bayaran yang di dapatkan sebanding dengan pengorbanan. Aku tahu kamu masih takut melakukannya, tapi percayalah. Jika ingin mendapatkan uang banyak, ini salah satu jalan terbaiknya.”


Begitulah kalimat yang dilontarkan Alexa. Wanita cantik dengan rambut pendek sebahunya. Dikuncir tak rapi namun sangat mempesona. Di tambah kemahirannya dalam merias penampilan justru kian menggoda mata.


Sosoknya merupakan orang yang tadi mengantarkan Patricia untuk menemui bos mereka pertama kalinya.


Sang gadis muda mengangguk. Tubuh moleknya pun dibalut coat hitam selutut. Sebagai penutup rahasia, sebelum menampilkan pembuka di jam-jam tertentu. Kecantikan tubuhnya dan kelihaian tarian penggodanya.


Dalam langkah menuruni tangga, seorang bar waiter mendatanginya dan memberi tahukan sosok tamu yang tiba-tiba ingin menemuinya.


Patricia terkesiap dan langsung mengikutinya. Tersentak saat tahu siapa yang mendatanginya.


“P-Paul?”


“Kakak!” pekik adiknya dalam suara yang ditelan alunan musik sang DJ. Dihampirinya dan langsung dicengkeramnya lengannya. “Apa-apaan ini?! Kakak gila?! Kenapa memilih bekerja di sini?!” geramnya.


Dan akhirnya, Patricia pun menarik tangan sang adik untuk mengikuti dirinya. Menaiki tangga ke lantai dua, memilih area tersepi di mana hanya para pegawai yang sering mendatanginya. Walau ada beberapa pelanggan berlalu lalang untuk menikmati pelayanan di area tersebut.


“Kenapa kamu kemari?!”


“Seharusnya aku yang tanya! Kenapa kakak di sini?! Kakak gila?! Memilih di tempat seperti ini?! Kakak ingin jual diri?!”


“Bekerja? Pekerjaan apa yang kamu lakukan sampai datang ke Club ini?!”


Sungguh Patricia mulai merasa menyesal. Tadinya adiknya bertanya di mana keberadaannya. Dan ia dengan bodohnya memberi tahukan dengan jujur semuanya. Sekarang lihatlah. Sang saudara tersayang datang seperti ingin melabraknya.


Setelah beberapa saat diselimuti keraguan sambil menggigit bibir bawahnya, Patricia pun jujur juga. “Aku bekerja sebagai penari striptis.”


“Apa!”


“Jangan teriak,” paniknya karena sang adik tampak syok menatapnya.


“Kakak gila?!”


“Hanya itu jalan kita agar bisa mendapatkan uang banyak.”

__ADS_1


“Tapi itu sama saja dengan menjajakan tubuhmu Kak! Kamu akan celaka!”


“Aku akan baik-baik saja! Kau lihat seberapa banyak penjaga yang berkeliaran di sini? Lagi pula, aku hanya menari. Bukan langsung melayani para bajingan itu. Percayalah padaku, Paul. Aku akan baik-baik saja. Demi keluarga kita tolong izinkan aku seperti ini. Aku mohon,” pintanya sambil menggenggam kedua tangan adiknya.


“Tidak.”


“Paul! Jangan lupa kalau kondisi ayah dan ibu sedang tidak baik-baik saja! Kita butuh uang, sayang. Dan Kakak bisa mendapatkannya dengan cepat jika seperti ini. Demi keluarga, tolong mengertilah.”


“Tapi jika terjadi sesuatu padamu bagaimana?”


“Aku akan baik-baik saja,” Patricia pun mengelus lembut kepala adiknya. Dan perlahan, mereka pun berpelukan.


“Maafkan aku karena pekerjaanku tidak begitu banyak membantumu,” sang adik pun terisak-isak.


Di balik kasih sayang dan perhatian Patricia pada adiknya, matanya pun mulai berkaca-kaca. Rasanya sesak membayangkan kehidupan keluarganya yang seperti jatuh ditimpa tangga. Karena bagaimanapun juga, demi kondisi ayah dan ibu mereka, keduanya harus bekerja dan mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.


Hanya itu cara untuk melepaskan dari kejaran hutang yang bahkan tidak pernah mereka lakukan. Kenapa dunia sekejam ini? Sang paman, adik dari ayahnya sendiri sebagai sumber kehancuran keluarganya.


Patricia dan Paul, begitu membenci sosok itu dan tidak akan pernah memaafkannya.


Akan tetapi, di balik pemandangan haru kakak beradik dalam kilauan lampu yang tak begitu mencapai lokasi keduanya, seorang gadis muda menatap mereka.


Tetap diam dan mendengarkan lantunan Paul dan Patricia dalam berbicara tadinya. Kasih sayang antara seorang kakak dan adik memamerkan senyum remehnya.


Gadis itu tertawa pelan akan pemandangan yang takkan pernah lagi ia dapatkan di rumahnya. Bahkan dalam suasana hiruk-pikuk Club ini, ternyata dan tak disangka ikatan bersaudara yang begitu erat masih bisa ditemuinya.


Jadi, akan seperti apa kisah mereka selanjutnya?


Sekarang di sinilah Paul. Di depan bartender. Meminta minuman bersoda atas saran kakaknya. Dirinya bersikukuh untuk tetap di sana sekaligus menjaga kakaknya. Walau ia sangat kecewa, karena sang saudara memilih pekerjaan yang sangat berbahaya dan mengekspos tubuhnya.


Akhirnya, sorakan keras berkumandang di mulut-mulut para penanti sajian lanjutan. Para lady dengan langkah bak model memasuki arena pertarungan. Memulai kebolehan dalam memperlihatkan keahlian.


Tapi, di saat Patricia memulai aksinya sambil melepaskan coat ke sembarang arah, hati Paul serasa remuk menatapnya. Merasa tak rela, tubuh sang kakak yang masih muda dinikmati para kaum bengal dari jenis dirinya.


Laki-laki yang tergoda, terkadang meneguk ludah kasar dan memainkan lidah untuk menjilati bibirnya. Merasa kering karena dehidrasi tiba-tiba setelah dijamu tontonan para gadis muda.

__ADS_1


Dan tentu saja, mata mereka ada yang tak lepas dari Patricia. Sorot penglihatan buas namun mencoba elegan, dalam menguliti dan membayangkan keindahan tubuh sang penggoda.


 


__ADS_2