FORGIVE ME

FORGIVE ME
Pertemuannya?!


__ADS_3

Keluarga Kendal, keluarga di mana Dean dan Kevin dibesarkan adalah sebuah keluarga kaya yang memegang prinsip dengan istilah hanya pengaruhlah yang bisa membuatmu berbicara dan dipandang.


Keluarga itu berencana menjalin kerja sama yang erat dengan keluarga Adam melalui pertunangan antara Dean dan Diana. Tentu saja keluarga tuan Adam sangat senang dengan hal itu, dikarenakan akan bisa mendapat keuntungan dari pertunangan itu.


Terlebih lagi Diana sang putri satu-satunya, sangat senang dengan pertunangan yang akan dilakukannya. Ia secara terang-terangan mengakui ketertarikannya pada Dean di depan kedua orang tuanya.


Pertemuan sekaligus makan siang yang akan dilakukan Dean dan mamanya tak lebih dari sekedar formalitas, karena tujuan sebenarnya adalah ajang pendekatan antara Dean dan Diana.


Di kediaman Diana yang bergaya modern itu tampak dia sedang memandang panjang ke arah cermin. Ia menatap setiap lekuk tubuhnya untuk memastikan kesempurnaan dirinya. Ia tidak ingin ada kesalahan sedikit pun pada dandanannya.


“Sayang, sampai kapan kamu akan berdiri di depan cermin? Kamu sudah sangat cantik sampai siapa pun tak sebanding denganmu,” tukas nyonya Meldi membanggakan putrinya.


“Ma, kitakan mau makan siang dengan Dean dan mamanya, aku tidak mau mempermalukan mama dan papa dengan dandananku yang tidak sempurna,” balas Diana sambil sedikit cemberut.


“Iya sayang, mama paham, kamu begini pasti karena Dean ya,” sambung nyonya Meldi sambil mencolek putrinya.


Diana hanya tersipu malu mendengar perkataan mamanya, ia pun menyentuh ujung rambut dan mempermainkannya.


“Oh ya ma, apa bajuku sudah cocok?” tanya Diana sambil memutar tubuhnya agar dress pink selututnya terlihat mempesona di tubuhnya.


“Cocok sekali sayang, kamu benar-benar sangat cantik,” sahut nyonya Meldi sambil mengacungkan jempolnya, “kalau begitu mama bersiap-siap dulu, kamu tunggu di bawah ya,” tukasnya berjalan meninggalkan Diana.


“Iya ma,” pungkas Diana, ia lalu mengambil tas serta ponselnya dan keluar kamar karena sudah tak sabar lagi untuk pergi ke pertemuan itu.


Dalam sebuah mobil hitam mengkilat yang dikemudikan nyonya Julia bersama putranya Dean, tampak kalau mereka sedang dalam perjalanan menuju hotel Belruxiar.


Tapi tiba-tiba!


“Uugh ....” gumam Dean.


“Dean kamu kenapa?!” tanya nyonya Julia tersentak kaget.


“Ma! Perutku! Perutku sakit ma!” tukasnya merintih kesakitan.


“Sakit?! Sakit kenapa Dean?!” tanya nyonya Julia yang kalut dengan ocehan putranya.


“Uuugh ....” erang Dean.


“Kamu kenapa sayang?! Jawab mama Dean! Jangan bikin mama takut begini!” nyonya Julia panik dan memperlambat laju mobilnya.

__ADS_1


“Putar balik mobilnya ma!” pinta Dean agak berteriak pada nyonya Julia. Terlihat di mata mamanya wajah Dean sudah mulai mengucurkan keringat dingin.


“Iya-iya! Tenang kamu sayang! Tenang ini mama putar balik mobilnya!” sambung nyonya Julia kelabakan. Ia pun memutar mobil secepat kilat dan kembali lagi ke rumah mereka. Beruntung karena mereka belum pergi terlalu jauh sehingga dalam waktu kurang dari lima menit keduanya pun sudah sampai di rumah.


Tanpa berlama-lama, Dean langsung membuka pintu mobil dan lari ke dalam rumah. Kevin yang sedang bersantai di ruang tamu pun terkaget karena kedatangan kakaknya yang tiba-tiba sambil berlari itu.


“Dean!” teriak nyonya Julia yang memasuki rumah dengan panik.


“Ma! Ada apa?!” tanya Kevin penasaran.


“Kakakmu! Ke mana kakakmu?!” tanya nyonya Julia.


“Ke sana! Ke arah dapur!” sahut Kevin dengan ekspresi bingung sambil menunjuk arah lari Dean tadi. Mendengar itu nyonya Julia pun langsung menuju dapur dan tak menemukan apa pun. Ia pun pergi ke arah ruangan selanjutnya, ruangan paling pojok di mana kamar mandi berada.


“Dean apa kamu di dalam?!” tanya nyonya Julia, tapi tak ada jawaban dari dalam kamar mandi itu. Tak lama, terdengar suara percikan air di dalam sana yang meyakinkan nyonya Julia kalau Dean ada di dalam sana mengingat pintunya terkunci dari dalam.


Pintu kamar mandi pun perlahan-lahan terbuka dan tampaklah Dean dari balik pintu dengan raut wajah lelah dan mata sayu yang merah.


“Dean?! Kenapa kamu sayang?! Kamu sakit?!” tanya nyonya Julia panik melihat kondisi putranya.


“Perut aku ma, sepertinya aku diare,” gumam Dean pelan dengan ekspresi agak iba.


Nyonya Julia yang menyaksikan keadaan putranya pun menjadi tak tega, ia pun akhirnya berjalan meninggalkan Dean sambil memainkan ponsel yang baru saja di ambilnya dari dalam tas. Tampak jika ia akan menghubungi seseorang lewat ponsel itu.


Panggilannya pun tersambung ....


“Halo? Nyonya Meldi? Selamat siang nyonya Meldi,” tukas nyonya Julia memulai pembicaraan di telepon.


“Nyonya Julia, selamat siang juga nyonya, apa anda sudah sampai? Maaf saya masih di perjalanan dan sebentar lagi akan sampai,” balasnya ramah.


“Eh itu, mmm ... Maafkan saya nyonya Meldi, saya benar-benar minta maaf ....” sahutnya dengan nada bersalah.


“Maaf? Minta maaf kenapa nyonya?!” tanyanya terheran-heran. Diana yang mendengar kalimat itu pun berpaling kaget menatap ibunya yang sedang menerima panggilan.


“Dean, tidak-tidak maksud saya, saya minta maaf karena terpaksa membatalkan pertemuan ini nyonya,” balas nyonya Julia.


“Di batalkan? Kenapa?!”


“Dean, Dean sakit nyonya, tadi kami sudah dalam perjalanan dan terpaksa kembali lagi karena Dean tiba-tiba mengerang sakit, maafkan saya nyonya Meldi, saya benar-benar minta maaf pada anda dan pada Diana juga,” sambungnya dengan nada bersalah yang tak di buat-buat.

__ADS_1


“Tidak apa-apa nyonya Julia, lagi pula itu bukan kesalahan anda, anda tak perlu meminta maaf, lagi pula masih banyak waktu bagi kita untuk melakukan pertemuan selanjutnya,” balas nyonya Meldi dengan nada bijaksana.


“Iya nyonya Meldi, terima kasih atas pengertian anda, oh ya bisakah tolong anda sampaikan permintaan maaf saya dan Dean pada Diana?"


“Iya, akan saya sampaikan, anda tak perlu khawatir,” balasnya dengan nada ramah andalannya.


“Terima kasih nyonya Meldi, kalau begitu saya tutup dulu teleponnya,” tukas nyonya Julia.


“Iya nyonya Julia,” dan panggilan antara kedua ibu dari pihak Dean dan pihak Diana pun akhirnya terputus.


“Aku tidak salah dengar? Pertemuannya dibatalkan?! Benar-benar dibatalkan?!” tanya Diana dengan nada kesal dan geram.


“Iya sayang, mau bagaimana lagi, Dean tiba-tiba sakit sehingga pertemuannya dibatalkan,” jelas nyonya Meldi.


“Sakit?! Dean sakit apa ma?!” tanyanya penasaran.


“Tidak tahu, karena nyonya Julia tidak mengatakan apa-apa kecuali Dean sakit. Oh ya pak! Putar balik mobilnya, kita tidak jadi pergi!” tukas nyonya Meldi pada supirnya.


“Baik nyonya,” balas supir itu lalu memutar balik mobil yang dikendarainya.


Diana pun terdiam mendengar perkataan mamanya, perlahan ia lalu mulai tersenyum yang menimbulkan rasa penasaran dari nyonya Meldi.


“Kenapa kamu tersenyum seperti itu?!”


“Aku akan ke rumah Dean Ma! Untuk melihat keadaannya,” balas Diana sambil tersenyum manis pada mamanya.


“Ke rumah Dean? Sekarang?!”


“Tidak, aku akan pergi nanti sore sendiri saja.”


“Sendiri? Kenapa tidak sama mama saja?!” tanya nyonya Meldi yang tak yakin dengan perkataan putrinya.


“Aku inginnya sendiri saja, sekalian pendekatan dengan Dean dan juga keluarganya, lagi pula kalau ada mama orang tua Dean pasti akan bersikap sedikit canggung padaku, karena itu lebih baik aku pergi sendiri saja,” jelasnya panjang lebar.


“Iya-iya, ya sudah terserah kamu saja, selama kamu senang mama akan mendukung keputusanmu,” balas nyonya Meldi sambil mengusap kepala putrinya.


“Iya ma, terima kasih ma, aku sayang .... Sama mama,” gumamnya sambil memeluk manja mamanya.


“Iya sayang, mama juga sangat-sangat sayang sama kamu,” nyonya Meldi pun membalas pelukan dari putrinya.

__ADS_1


__ADS_2