
Suara tusukan pisau pun langsung mengenai perutnya.
“Buaakkh!”
Ramses yang lengannya ditarik paksa Eldrey pun langsung menabrak tumpukan kotak-kotak kayu yang berserakan.
“Uughh .... Eldrey!” pekiknya saat menoleh ke arah gadis itu.
Gadis itu memegang tangan laki-laki yang memegang pisau tersebut dengan erat, namun sayang, ia sedikit terlambat sehingga pisau itu berhasil menusuk perutnya.
Gadis itu pun jatuh terduduk dengan mata yang masih menatap tajam pada laki-laki tersebut.
“Duaakkh!” suara tendangan kuat yang dilayangkan Ramses pada laki-laki tersebut pun membuatnya tersungkur dan pingsan.
“Rey! Rey! Kamu baik-baik saja?!” teriak Ramses sambil memegang bahunya.
Ia pun tersentak kaget saat melihat Eldrey sedang memegang pisau yang menancap di perutnya. Napas gadis itu mulai tidak beraturan, setelah ia melepaskan pisau yang menancap di tubuhnya.
“Sial!” umpat Ramses lalu menggendong Eldrey keluar dari gang tersebut. Gadis itu tidak bicara, ia hanya menatap Ramses dengan pandangan mata sayu.
“Bertahanlah Rey, aku mohon bertahanlah!” sahut Ramses sambil terengah-engah. Ia pun menoleh ke sekelilingnya untuk mencari taxi atau apa pun itu. Orang-orang di sekelilingnya hanya menatap heran, takut dan ada yang berteriak cemas.
Tanpa pikir panjang Ramses langsung turun ke jalan dan menghentikan laju sebuah mobil yang tak jelas siapa pemilik atau penghuninya.
“Aku mohon! Tolong antar kami ke rumah sakit! Dia benar-benar sangat butuh bantuan! Aku mohon!” pinta Ramses pada supir mobil tersebut.
Seorang laki-laki pun turun, “masuklah!” tukasnya lalu membukakan pintu belakang mobilnya dengan cepat.
Ramses pun membawa Eldrey ke rumah sakit dengan menumpang pada mobil tersebut. “Rey! Bertahanlah! Aku mohon Rey, bertahanlah! Kamu akan baik-baik saja!Percayalah padaku!” gumam Ramses kalut.
Sementara Eldrey, gadis itu sudah mulai kehilangan tenaga untuk menekan bekas lukanya, sehingga darah semakin banyak mengalir keluar dari luka tersebut.
Ia pun perlahan menutup matanya ....
“Rey!” pekik Ramses. Ia langsung menekan luka Eldrey tersebut, “Rey! Sadar Rey! Rey! Aku mohon Rey!”
“Tolong cepat tuan!” pinta Ramses sambil memegang tangan Eldrey dengan tangannya yang satu lagi. Gadis itu sepertinya sudah tak sadarkan diri.
“I-iya!” jawab laki-laki itu sambil meningkatkan laju mobilnya. Mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit Mavo Anos, salah satu rumah sakit terbesar di sana.
“Terima kasih tuan!” ucap Ramses lalu membuka cepat pintu mobil dan langsung menggendong Eldrey keluar. Ia segera berlari terburu-buru dengan Eldrey dalam dekapannya.
“Dokter!” teriak Ramses. Ia melihat ke sekelilingnya dan suster yang kaget pun langsung berlari menghampirinya.
“Teman saya terluka! Tolong cepat obati dia!” pinta Ramses.
“Tenang! Tenang! Kami akan segera menanganinya!” sahut suster.
Eldrey pun segera di tangani dokter, sementara Ramses terduduk di kursi tunggu sambil menunduk dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
“Maafkan aku Rey! Ini semua salahku!” gumamnya dengan nada bersalah. Ia pun terdiam dan akhirnya berdiri dari duduknya untuk mengurus administrasi.
Tiba-tiba, seseorang laki-laki menerobos masuk ke rumah sakit dengan napas terengah-engah. Ramses pun melirik laki-laki yang baru datang tersebut.
“Kak Roma?” panggilnya.
“Ramses? Sedang apa kamu di sini?” Ia lalu menatap lekat Ramses yang berlumuran noda darah di tangan dan bajunya.
“Eldrey,” gumam Ramses pelan.
Sekretaris Roma langsung menghampirinya dan menarik kerah bajunya, “nona?! Apa yang terjadi padanya?!” bentak sekretaris Roma. Ia pun memandang Ramses dengan tatapan tajam seolah akan membekukan tulang Ramses tersebut.
“Maafkan aku!” tukas Ramses sambil menunduk dengan ekspresi sangat-sangat menyesal. Sekretaris Roma pun melepaskan tangannya sambil memperlihatkan raut muka masam pada dua bodyguard yang baru saja datang menghampirinya.
“Tuan, maafkan kami tuan! Kami benar-benar minta maaf tuan,” pungkas salah satu bodyguard.
“Minta maaf? Aku hanya meninggalkan nona sebentar dan meminta kalian untuk menjaganya dengan benar, tapi apa yang kalian lakukan?!” tanyanya dengan nada dingin yang menekan. Kedua bodyguard itu sampai-sampai tak mampu menatap sekretaris Roma karena tekanan yang diberikannya.
“Apa kalian tahu ketidak becusan kalian sudah membuat nona terluka?!” bentak sekretaris Roma.
“Maafkan kami tuan, kami sudah mengawasi nona tapi dia tiba-tiba berlari dan menghilang, kami sudah berusaha mencarinya tuan,” jelas salah satu bodyguard memberi penjelasan.
“Sudahlah! Aku tak butuh penjelasan kalian yang tak berguna!”
Ponsel sekretaris Roma pun tiba-tiba berdering. “Halo tuan?” sahutnya begitu panggilan telepon tersambung.
“Bagaimana?!” tanya Charlie dari seberang telepon.
“Syukurlah kalau begitu, akan kutangani sisanya,” sahut Charlie lalu mematikan teleponnya.
“Aku yakin nona bilang bertemu dengan temannya yang bernama Alice, bagaimana bisa dia bersama denganmu dalam keadaan seperti ini?” tanya sekretaris Roma dengan ekspresi yang dingin.
“Itu, aku ....” ucap Ramses sambil menatap balik sekretaris itu. Ia pun menjelaskan kronologi pertemuannya dengan Eldrey, sampai penyebab Eldrey bisa terluka seperti itu.
“Nona menyelamatkanmu?” sahut sekretaris Roma dengan nada seolah-olah tak percaya mendengar cerita Ramses.
“Apa kau yakin?”
“Bagaimana bisa aku berbohong di situasi seperti ini?! Kenapa kakak bicara seperti Eldrey tak mungkin melakukan hal seperti itu?!”
“Tidak, maksudku bukan begitu. Sudahlah .... Lupakan saja,” jelas sekretaris Roma sambil memalingkan wajahnya.
Dokter yang menangani Eldrey pun keluar dari ruangan tersebut.
“Dokter!” panggil Ramses. “Bagaimana keadaan Eldrey?!”
“Dia sudah sadar dan tak apa-apa, lukanya agak dalam tapi tak sampai membahayakan nyawanya,” jelas dokter menenangkan.
“Syukurlah,” sahut Ramses bernapas lega.
__ADS_1
Mendengar itu sekretaris Roma langsung meninggalkan mereka untuk memasuki ruang rawat Eldrey.
“Maaf tuan, tapi nona itu meminta untuk tidak diganggu saat ini, demi kebaikan pasien tolong pengertiannya,” pungkas dokter yang menghentikan langkah sekretaris Roma.
“Baiklah kalau begitu,” ia menghampiri Ramses lalu dokter pun pergi meninggalkan mereka.
“Ramses pulanglah,” perintahnya.
“Apa?! Aku masih belum memastikan kondisi Eldrey, bagaimana bisa aku pulang begitu saja?!”
“Nona tak ingin bertemu siapa pun, jadi biarkan dia beristirahat, kamu bisa bertemu besok dengannya.”
“Tapi!”
“Pulanglah!” ucap sekretaris Roma dengan nada menekan.
Ramses pun terdiam mendengarnya, terlebih lagi ekspresi sekretaris Roma mulai berubah menatapnya.
“Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu,” pamitnya.
“Mmm.”
Mereka pun berpisah, sementara sekretaris Roma memainkan ponselnya sambil duduk di kursi tunggu, dengan raut wajah dingin seolah ada yang dipikirkannya.
Di sebuah kursi di pinggir jalan, tampak dua orang sedang duduk sambil saling memberikan perhatian pada masing-masingnya.
“Bagaimana?” tanya Dean.
“Ponselnya mati, tak peduli berapa kali kucoba,” sahut Alice sambil menatap layar ponselnya.
“Apa kamu yakin dia bakalan datang?”
“Rey orang yang tepat janji, aku percaya padanya,” pungkas Alice.
“Tapi ia masih belum datang, bahkan kita sudah kembali lagi ke taman kota namun ia masih tak ada di sana.”
“Ponselnya mati .... Apa mungkin terjadi sesuatu sama Rey?!” Alice menatap Dean dengan pandangan cemas.
“Jangan berpikiran yang tidak-tidak, dia pasti baik-baik saja, mungkin ada urusan mendadak sehingga ia tak bisa datang,” tukas Dean menenangkan Alice.
“Tapi ponselnya!”
“Ponsel mati itu hal yang wajar bukan? Bisa saja baterainya habis.”
“Semoga saja begitu,” jawab Alice lirih.
“Percayalah, jangan terlalu cemas.”
“Mmm ....”
__ADS_1
“Ayo kita pulang, aku akan mengantarmu,” ajak Dean sambil menarik tangan Alice.
“Mmm,” angguk Alice.