FORGIVE ME

FORGIVE ME
Bernyawa tapi seperti boneka


__ADS_3

Katakanlah.


Saat seseorang sadar dari koma, maka pihak yang menanti pasti akan sangat bahagia. Merasa bersyukur karena belum ditinggalkan oleh dia yang ditunggunya.


Akan tetapi, bagi sosok yang membuka mata, mungkin dia juga merasakan hal berbeda. Senang sebab belum menemui penciptanya. Atau sedih, mengingat tubuh membutuhkan proses penyembuhan yang luar biasa.


Dan bagi keluarga Dempster, mereka tak bisa berkata-kata. Saat Dokter memberitahukan fakta yang tak terduga. Bahwa Eldrey Brendania Dempster, kemungkinan akan menderita sakit fisik, tekanan mental, serta stres pasca trauma.


Dia masih terlalu muda. Terlalu kecil untuk sebuah siksa. Juga membutuhkan pemulihan yang sangat lama. Bisa terlihat dari raut mukanya dengan ekspresi kosong saat menatap sekitarnya.


Tak bersuara, tidak pula melihat orang-orang di sekelilingnya. Fokusnya hanya pada langit-langit kamar.


Sakit mendera tak dirintihkan olehnya. Bahkan apa pun yang ingin diteriakan hati tidak tersalurkan lewat bibirnya.


Tak ada takut di matanya, kecuali tidak terlihatnya tanda-tanda kehidupan pada sosok kecilnya. Dia bernyawa namun seolah jiwa tak di raga. Seperti boneka, membiarkan siapa pun melakukan sesuatu kepadanya.


Menyedihkan sekali jika dibayangkan nasibnya.


Akhirnya, pada dua minggu setelah sadar dari koma, Eldrey histeris ketakutan. Luka robek di bibir kembali terbuka, semua yang menyiksa tubuh kecilnya kian memberikan sakit yang membara. Nyatanya, sakit mental jauh lebih memukul dirinya.


Sampai-sampai Dokter terpaksa memberikan suntikan penenang untuk membantunya. Sebulan kemudian, Eldrey sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit.


Terapi fisik dan psikis harus selalu diterapkan di sela-sela istirahatnya, agar dirinya tak lagi menderita stres pasca trauma. Namun itu semua memang tidak akan mudah untuk keluarganya.


Jam-jam yang terus berlanjut, berganti hari, menjadi bulan, dihiasi pertengkaran orang dewasa di sekitarnya kembali bersemi di telinga.


Antara Betrand dan Anna yang entah kenapa malah saling menyalahkan. Diiringi Nyonya Camila serta suaminya sebagai pihak ketiga, membuat pernikahan keluarga Dempster kian seperti hutan belantara.

__ADS_1


Eldrey yang mulai-mulai membaik kembali, hanya bisa meringkuk ketakutan di bawah ranjangnya. Takut mendengar teriakan Betrand serta tangisan Anna di luar kamarnya. Namanya terus disebut-sebut seolah membawa petaka.


Sehingga retaknya pernikahan ayah dan ibunya karena terlalu memikirkan kondisinya. Dia terlalu kecil untuk menghadapi itu semua.


“Eldrey?” panggil Evan. Dia kaget dan panik tiba-tiba. Mengingat tak ada sosok sang adik di kamarnya, lagi-lagi menimbulkan kisruh, sampai akhirnya ketahuan kalau putri Dempster bersembunyi di bawah ranjangnya.


“Kenapa kamu tidur di bawah, Nak? Kamu itu masih sakit! Masih dalam masa penyembuhan, tolong jangan buat ibu cemas sayang,” khawatir Anna sambil beruraian air mata.


Eldrey terisak, mengepal erat tangannya. Sampai akhirnya ia hanya bisa menangis karena merasa disalahkan oleh ibunya.


Dan neraka kedua kembali terjadi dalam hidupnya.


Camila datang ke sana dengan langkah angkuhnya. Membawakan buah-buahan dari negara tetangga untuk cucunya. Nyatanya, kehadirannya lagi-lagi cuma menambah masalah dalam keluarga anaknya.


“Ini semua gara-gara kamu! Karena kamu, cucuku sampai seperti itu! Kalau kamu tidak meninggalkannya maka semuanya pasti akan baik-baik saja. Sebenarnya maumu itu apa?! Kamu kan sudah hidup enak bersama putraku! Masa menjaga anak-anakmu saja kamu tidak bisa! Kalau kamu memang tidak mampu jadi ibu ya tinggalkan saja mereka! Mudah kan?! Dasar menantu tidak berguna!”


“Cukup, Bu. Cukup!” teriak Anna akhirnya. Eldrey yang mendengarkan itu semua di balik pintu pun hanya bisa ketakutan dan beruraian air mata. “Apa Ibu sadar apa yang baru saja Ibu katakan?! Aku begini karena Ibu, Bu! Ibu yang membuatku hampir meninggalkan anak-anakku. Ibu yang membuatku sampai seperti ini. Dan sekarang Ibu menyalahkanku? Karena Ibu aku meninggalkan Evan dan Eldrey di taman. Bagaimana bisa Ibu bersikap pura-pura tidak tahu? Aku melakukan semua ini karena Ibu selalu mendesakku, menyiksaku. Dan sekarang, Ibu menyalahkanku?! Aku juga terluka, Bu. Aku juga terluka melihat Eldrey seperti itu. Karena bagaimanapun dia darah dagingku! Dia anakku, Bu! Dia keluargaku!”


Dan sebuah anggukan pun dibalaskan Anna juga akhirnya. Membuat Betrand tak habis pikir dengan kebenarannya barusan.


“Nah, lihat kan?! Eldrey bisa sampai seperti ini kare—”


“Hentikan,” Betrand pun memotong kalimat ibunya. “Tolong Ibu pergi dari sini.”


“Betrand! Kamu mengusir Ibu?!”


“Aku mohon tolong pergi dari sini sekarang juga! Aku mohon Bu, tolong lakukan apa yang aku minta!” marahnya.

__ADS_1


Dengan sakit hati di dada, Nyonya Camila pun pergi dari kediaman putranya. Sungguh ia benar-benar marah dan juga kesal atas perlakuan Betrand barusan. Sayangnya, sosoknya seolah lupa. Kalau semua terjadi karena mulut tak bersaringnya. Sementara perasaan masih menyalahkan sang menantu kedua, berharap Raelianna Jin enyah saja dari kehidupan keluarganya.


“Aku tidak menyangka kalau kamu akan meninggalkan Eldrey dan Evan seperti itu.”


“Betrand.”


“Mereka masih kecil Anna. Mereka masih anak-anak. Bagaimana bisa kamu seceroboh itu? Dan sekarang kamu bisa lihat bukan? Keteledoranmu, membuat putri kita diculik sampai seperti itu. Nasib Eldrey pun dipertaruhkan karena pertengkaranmu dengan Ibu. Aku, benar-benar kecewa padamu.”


“Tapi semua—” Betrand pun mengabaikannya dan membuka pintu kamar Eldrey. Terkesiap, karena di balik pembatas kayu itu ada sosok putrinya. “Nak? Kamu di sini? Maafkan Ayah karena membuka pintu tiba-tiba,” kagetnya lalu menggendongnya.


Sementara sang putri hanya bisa menangis sesegukan di balik wajah tidak baik-baik saja.


“Apa maksud Ibu?!” kaget Raelianna esok harinya begitu surat perceraian terpampang nyata di hadapannya.


“Ceraikan Betrand.”


“Bu—”


“Aku bukan Ibumu! Asal kau tahu saja, gara-gara kau putraku memarahi diriku! Gara-gara kau juga Betrand yang penurut sekarang jadi membangkang terhadapku! Apa kau tidak malu?! Kau penyebab retaknya keluarga kami, Anna! Gara-gara kau juga putrimu sampai terluka! Semuanya gara-gara dirimu!”


“B-Bu—”


“Tidak masalah kalau kau tidak mau. Tapi jangan salahkan aku, kalau ayah dan ibumu harus membayar itu.”


“Apa maksud Ibu?!”


“Sebelumnya ayahmu hanya jatuh dari tangga kan? Selanjutnya, mungkin saja dia akan cacat seumur hidupnya.”

__ADS_1


“Ibu!”


“Jangan pernah meninggikan suaramu di depanku!” marah Nyonya Camila sambil mencengkeram erat lengan menantunya. “Aku masih melunak padamu, jika sampai besok kau masih belum meninggalkan Betrand, maka kupastikan takkan ada ampun untukmu. Jangan pikir bisa mengadu kepadanya, karena Gates takkan diam saja kalau kau sampai mengadu domba. Sekarang pergi dan bawa ini bersamamu!” usirnya sambil melemparkan kembali map berisi surat perceraian ke wajah menantunya.


__ADS_2