
Perlahan, Kevin pun mulai mendekatkan wajahnya. Sang gadis yang diperlakukan seperti itu, hanya diam menatapnya.
Dalam jarak begitu dekat, hembusan napas yang terdengar, Eldrey tiba-tiba menahan posisi Kevin dengan lengannya.
Sorot mata yang masih saling bertemu, menjadi saksi dari tindakan Kevin. Tak ada suara di dalam tatapan mereka, kecuali jarak selebar jempol menyentuh hidung masing-masing.
“Apa yang kamu lakukan?”
Pemuda itu hanya diam menatapnya.
Eldrey menyentuh wajah Kevin, perlahan beralih ke bibir pemuda yang hampir menciumnya. Diusap lembut sampai Kevin merasa aneh dengan tindakannya.
“Ciuman pertamaku bukan untukmu.”
Kevin agak kaget mendengarnya. Dirinya masih memandang Eldrey yang belum melepaskan sentuhan di wajahnya. Ia pun mulai menjauhkan diri darinya.
Gadis itu tiba-tiba tertawa pelan. “Jangan menyentuhku, jika kau tidak menyukaiku,” Eldrey menarik tangannya dari wajah Kevin. “Jika kau butuh seseorang untuk bermain, katakan saja. Aku akan membantumu, tapi yang jelas orang itu bukan aku,” lanjutnya lalu bangkit dari duduknya.
Pemuda itu masih tertahan dalam diam. Kejengkelan pada Eldrey, membuatnya hampir melakukan hal tak terduga.
Dipandangnya sang gadis yang hendak membuka pintu keluar rumah. Dikejarnya, sampai berhasil meraih tangannya.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Dalam keadaan seperti ini?!”
“Apa masalahnya? Kau tak berniat mengajakku tidur di sinikan?” dengan nada mengejek.
Kevin pun menghela napas pelan.
“Sudahlah, aku akan mengantarmu.”
Mereka berdua lalu memasuki mobil Kevin. Tak berapa lama menempuh perjalanan, tiba-tiba perut Eldrey berbunyi yang mengagetkan sosok penyetir di sampingnya.
“Apa itu?!”
“Aku belum makan,” sahut Eldrey datar.
Kevin melirik sekilas dengan ekspresi tak percaya. “Hanya kamu orang yang mengatakan itu dengan santai. Gadis-gadis biasanya akan malu dibuatnya.”
“Malu? Aku memang lapar. Apa yang aku malukan?”
Kevin geleng-geleng kepala dibuatnya. Saat bersamanya, gadis itu pasti selalu menyebalkan.
Sementara Eldrey, pikirannya yakin kalau ayahnya pasti sudah menyuruh orang untuk mencarinya.
Yah, setidaknya itu hal yang bagus menurutnya.
Tiba-tiba, mobil terhenti di depan sebuah restoran.
“Kenapa berhenti di sini?”
“Ayo makan dulu. Aku juga lapar,” ajak Kevin turun dari mobilnya.
Akan tetapi, saat memasuki restoran lewat pintu samping, baru beberapa langkah Kevin di kejutkan dengan dua sosok yang ada di depannya. Spontan ia berbalik.
“Ada apa?”
“Ayo ki-”
“Hei!” pekik Eldrey menarik perhatian.
“Mm? Ada apa itu?” tanya Tuan Kendal pada istrinya. Perhatiannya pun teralihkan dengan kehadiran keluarga tuan Adam hendak bergabung dengan mereka untuk makan malam bersama di restoran.
“Selamat datang Tuan Adam,” sambut tuan Kendal.
Keluarga tuan Adam mengumbar senyum pada kedua orang tua Dean.
__ADS_1
“Maaf sebelumnya Tuan Kendal dan Nyonya Julia. Saya permisi ke toilet dulu,” jelas tuan Adam meninggalkan mereka. Istri dan anaknya pun melanjutkan duduk dan berbincang.
Di saat yang sama di tempat yang berbeda.
“Sialan, ada apa?” tanya Eldrey.
“Itu ada keluargaku.”
“Hubungannya? Kita cuma mau makan.”
“Cih, ap-” kalimat tak lagi dilanjutkan karena Kevin kaget. “Sial!” umpatnya makin menarik Eldrey. Tiba-tiba ia hendak membuka pintu toilet pria. “Sial! Dia laki-laki!”
Mendengar kalimatnya, Eldrey langsung menarik tangan Kevin memasuki toilet perempuan di sebelahnya.
“Apa yang kamu lakukan?!”
Eldrey menutup pintu toilet. Tampak hanya ada mereka berdua.
“Tak bisakah kau berterima kasih? Aku sudah membantumu.” Kevin hanya menatap malas padanya. “Lagi pula kau juga yang membuat kita di situasi ini,” gerutu Eldrey.
Kevin hanya memandang jengkelnya.
“Tak kusangka orang tuaku akan makan dengan mereka di sini,” gumam Kevin.
“Minggir kau, aku akan lihat situasi,” sahut Eldrey menarik tangan Kevin agar ia tak bersandar lagi di pintu masuk toilet.
Tapi, saat baru mengeluarkan kepala dari sedikit celah di pintu, Eldrey tiba-tiba masuk lagi.
“Cih! Ada orang mau ke sini,” umpatnya menarik tangan Kevin masuk toilet pribadi cewek. Terpaksa keduanya bersembunyi di sana karena pintu masuk tiba-tiba terbuka.
“Aah! Bikin malu saja! Kenapa pengait bra ini pakai lepas!” oceh seseorang.
“Ya tidak usah pakai! Untung aman, kalau tidak ...” dilanjutkan dengan tawa mereka berdua.
Kevin dan Eldrey hanya bisa diam mendengarkan. Sejujurnya Kevin malu berada di sini, terlebih mendengar ocehan pribadi perempuan itu.
“Jangan tatap aku,” bisiknya.
Eldrey hanya memperlihatkan muka malas.
Cukup lama mereka di sana, sampai akhirnya kedua orang itu pergi.
“Kau tunggu di sini, aku akan lihat situasi,” ucap Eldrey mulai jenuh. “Hei! Orang tuamu makan dengan siapa?”
“Keluarga Diana.”
“Diana? Namanya tak asing.”
“Ah! Dia juga kuliah di Oxtello Rako.”
Wajah Eldrey tampak tak bersemangat mendengarnya.
“Kenapa kau tidak keluar saja? Ikut makan bersama mereka.”
“Tidak bisa! Aku tidak ingin terlibat.”
“Pecundang,” ledek Eldrey meninggalkannya. Akan tetapi, setelah beberapa saat menunggu Kevin justru dikejutkan oleh suara masuknya seseorang ke sana.
“Sialan!” umpat wanita yang tak ia ketahui siapa sosoknya. Pemuda itu memilih diam mendengarkan. Tak lama, pintu kembali terbuka dengan kedatangan orang lain lagi. “Kamu.”
“Diana?” sapa suara yang tak asing. Ya, itu suara Eldrey. Tapi, Diana? Apa gadis itu baru saja menyebut sosok calon tunangan gagal kakaknya? Kevin jadi waspada.
“Eldrey? Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Menurutmu?”
“Heh! Gadis sombong. Pasti memalukan sekali bagi keluargamu untuk terlibat skandal ini.”
“Skandal?” Eldrey melirik bingung.
__ADS_1
“Bukankah keluargamu sedang hancur karena insiden memalukan Lily?”
“Aku tak tahu jika Nona Diana tertarik dengan kisah keluargaku.”
“Aku membencimu.”
Eldrey menatap datar dirinya. Lalu memutar bola mata sekilas mengalihkan pandangan. “Kenapa?”
Diana mendekatinya dan mencengkeram pipinya. “Jangan pura-pura lupa! Apa kau pikir aku akan memaafkanmu?!”
“Aku tak ada urusan denganmu. Urus saja pertunanganmu.”
“Kau! Bagaimana bisa kau-”
“Kau ingin mengikat Dean tapi hatimu masih ternoda? Aku tak yakin apa kalian akan bisa bersama.”
“Jaga bicaramu! Bagaimana bisa kau mengenal Dean?!”
Eldrey tersenyum tipis. “Tentu saja karena aku temannya.”
“Dasar wanita brengsek!” teriak Diana mendorong Eldrey sehingga sang gadis mundur dan menabrak dinding. Ia hanya menyeringai, membuat Diana semakin kesal dengan guratan di wajahnya.
“Sepertinya tidak akan berjalan dengan mulus ya,” Eldrey menyisir rambutnya ke belakang dengan angkuhnya. “Tenang saja, karena aku hanya temannya. Mungkin saja pengganggunya orang lain kali ini!”
Diana semakin geram. “Bagaimana. Bagaimana bisa, pasti kau kan gadis keparat yang menggoda Dean sehingga dia membatalkan pertunangan denganku?!” teriaknya lalu menarik kerah baju Eldrey dan membuat gadis itu tersandar ke dinding.
“Aku? Levelku bukan Dean. Jika kau penasaran, kenapa tidak tanyakan saja padanya? Mungkin kau akan semakin hancur setelah tahu siapa wanita yang diperjuangkannya.”
“Kau-“
Kalimat Diana tak dilanjutkan karena pintu kamar mandi terbuka. Dua gadis muda yang hendak masuk terdiam membisu melihat ulah keduanya.
Diana pun langsung melepas cengkeraman di kerah baju Eldrey dengan kasar. “Lihat saja! Aku takkan pernah mengampunimu!” umpatnya pergi dari sana. Sementara dua orang pendatang itu masih terdiam di depan pintu kamar mandi yang terbuka.
Diana yang melangkah dengan wajah emosi di rupanya, menampilkan gemuruh napas memburu di sana. Sampai akhirnya ia menyisir rambutnya dengan jari dan menghela napas kasar untuk memperbaiki ekspresi di mukanya.
Lain halnya dengan dua pendatang yang mengganggu Eldrey dan Diana, mereka memilih mencuci tangan sebentar dan pergi dari sana karena Eldrey masih menyoroti keduanya di tempat yang sama.
“Gadis keparat,” umpat Eldrey.
Kevin bisa mendengar itu, perlahan dibukanya pintu untuk mengintip keadaan. “Tidak kusangka kamu mengenal Diana,” bersuara setelah meyakini tak ada siapa pun di sana.
Eldrey tersenyum. “Tikus penakut akhirnya menampakkan dirinya.”
“Aku bukan penakut. Hanya tidak ingin ketahuan saja.”
“Apa bedanya?”
Kevin mulai memasang tampang jengkel karena enggan berdebat dengannya. “Apa hubunganmu dengannya?”
“Bukan urusanmu.”
“Masalah laki-laki?”
Eldrey tersenyum. “Sepertinya ikut campur memang jadi kebiasaanmu ya. Aku duluan.”
“Hei!”
Akan tetapi, saat membuka pintu toilet Eldrey dikagetkan oleh sesosok wanita yang juga berdiri tepat di luar sana.
“Kamu!”
__ADS_1