FORGIVE ME

FORGIVE ME
Terburuk


__ADS_3

Sekarang, pantulan cermin di meja rias menampilkan sang pemilik kamar yang berekspresi tenang. Ditatap lekatnya rupanya, cantik namun mungkin ia tak begitu mempedulikannya. Eldrey pun berlalu menuju nakas dan mencari sesuatu di laci paling bawah.


Ada dua buah pistol di sana. Salah satunya ia ambil dan masukkan ke dalam saku bomber jacketnya.


Langkahnya tenang, tak menyiratkan sikap terburu-buru untuk menuntunnya menuju halaman rumah. Memasuki jeep unlimited, sosok kendaraan yang sudah lama tidak dikendarainya.


Sampai akhirnya penjaga gerbang terkesiap melihat kepergiannya.


“N-nona?!” pekiknya kaget. Terlebih Eldrey melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah dengan kecepatan lumayan tinggi seperti ingin bunuh diri.


Sontak saja pria tersebut segera memainkan ponselnya, mencoba menghubungi sang atasan demi memastikan apakah tuan putri itu memang memiliki izin keluar dari kediamannya.


“Apa maksudmu? Kenapa putriku mengirimkan berkas yang tak kuminta ke sini? Apa dia sedang bercanda?” geram Tuan Bill setelah sang sekretaris datang membawakan pesanan yang diberikan resepsionis. Tentu saja suasana di ruang kerja putra pertama Gates memanas karena ekspresi masam di wajahnya.


Entah lelucon apa yang dilakukan putrinya, dirinya hanya bisa merasakan jengkel dan kesal. “Taruh saja di meja,” perintahnya pada sekretaris itu.


Selesai bawahannya pergi, barulah ia mainkan ponsel yang dari tadi digenggamnya. Mencoba menghubungi putrinya namun tidak tersambung.


Sampai akhirnya telepon dialihkan ke kediaman Gates.


“Halo? Selamat siang.”


“Mana, Lily?”


“Bill? Kamu ingin bicara dengan Lily?” Amelia agak kaget karena ternyata itu suara suaminya.


“Cepat panggilkan dia!” hardiknya yang membuat sang istri terkesiap. Walau hanya lewat telepon, tapi jelas nadanya tidak ramah dan sangat marah.


“T-tunggu sebentar. Akan kupanggilkan,” pamit Amelia sebentar. Dan dirinya bertemu dengan pelayan di jalan menuju tangga. “ Heh, kamu! Cepat panggilkan, Lily,” perintahnya.


“Tapi, Nyonya, tadi Nona Lily keluar.”


“Keluar? Keluar ke mana?”


“Mengantarkan berkas Tuan ke kantor, Nyonya.”

__ADS_1


“Mengantarkan berkas? Maksudmu mengantarkan berkas Tuan Bill?”


“Benar, Nyonya. Tadi sekretaris Tuan menghubungi kemari, meminta tolong pada Nona untuk membawakan berkas Tuan yang ketinggalan di rumah.”


Seketika raut wajah Amelia berubah mendengarnya. Lebih terkesan jengkel akibat amarah tak jelas suaminya. Dirinya pun kembali mengangkat panggilan dari sosok yang menjadi tulang punggung keluarganya.


“Lily pergi ke kantormu,” ucap Amelia tiba-tiba tanpa basa basi.


“Aku juga tahu dia ke sini! Sekarang mana dia?!”


“Belum pulang lah! Kamu kenapa marah-marah begini? Hargai kami Bill! Bagaimanapun Lily itu putrimu dan aku istrimu! Jadi tolong jaga cara bicaramu!”


“Oh, jadi kamu ingin dihargai? Kalau begitu cepat panggilkan gadis bodoh itu sekarang!”


Sontak saja kesal mencuat di pikiran Nyonya Amelia. “Gadis bodoh? Sebenarnya kamu kenapa marah-marah begini? Memangnya Lily membuat kesalahan apa lagi sampai-sampai kamu seperti orang kesetanan begini?!”


“Kamu ingin tahu? Putrimu yang tidak berguna itu sudah mengantarkan berkas milikku tanpa sepengetahuan diriku! Kapan aku menyuruhnya begitu? Seharusnya dia di rumah saja, bukannya berkeliaran ke kantor memperlihatkan mukanya! Dia itu sudah mempermalukanku Amelia! Dia sudah menodaiku! Di mana letak otak putrimu itu?!”


“Dia juga putrimu, dasar bajingan!” marahnya sambil memutus panggilan tiba-tiba. Sungguh Nyonya Amelia sangat naik pitam mendengar ocehan yang dilontarkan suaminya.


Sampai akhirnya suara seseorang menyentak kesadarannya dan membuatnya terbungkam.


“I-ibu,” panik Nyonya Amelia saat melihat kehadiran sang ibu mertua.


Guratan masam di balik wajah angkuh itu mulai menyiratkan petaka untuk dirinya. Benar-benar kesialan, siapa yang bisa mengira kalau Nyonya Camila muncul dan akan mendengarkan ini? Batinnya mengumpat di balik wajah gugup dan takutnya.


“Kamu memanggil Bill bajingan? Putraku? Dia yang berasal dari keluarga terhormat ini kamu rendahkan seperti itu?!” hardiknya bersuara lantang.


“I-ibu, maksudku bukan begitu. Hanya saja B-Bill—”


“PLAK!”


Suara tamparan yang tanpa keraguan dilayangkan ke arah wajah Nyonya Amelia. Kalimat dari mulutnya pun langsung terpotong karenanya, sambil rasa sakit menjalar ke pipi dan ujung bibir terluka akibat cincin di tangan wanita tua itu.


“I-ibu menamparku?” tanya Nyonya Amelia, ia merasa tak percaya akan apa yang baru saja dialaminya.

__ADS_1


“Ya! Kenapa? Kau punya masalah dengan itu?! Harusnya kau itu sadar diri! Kalau kau itu cuma menantu di rumah ini! Berani-beraninya kau mengatai putraku bajingan?! Lalu putrimu sendiri bagaimana? Dia itu jal*ng! Dan kau cuma wanita miskin dari keluarga yang bangkrut! Ingat itu!”


Terluka. Sungguh Nyonya Amelia merasa tidak baik-baik saja. Dirinya yang merupakan wanita dari keluarga terpandang dan dulu disanjung-sanjung sekarang malah direndahkan seperti ini.


Di mana letak hati nurani Nyonya Camila? Padahal dia sendiri yang menjodohkan dirinya dengan putranya itu. Tapi sekarang, setelah keluarganya jatuh bangkrut justru penghinaan sebagai penghormatan untuknya.


Sebenarnya, apa-apaan keluarga ini? Tak ada satu pun yang beres penghuninya, terlebih sang ayah mertua hanya menonton tenang pertikaian dirinya dan wanita tua di depannya.


“Padahal dulu Ibu sangat menyayangiku. Menyanjungku dan memuji-muji diriku. Tapi sekarang, Ibu merendahkanku. Menghinaku sama seperti menantu ibu yang murahan itu. Sebenarnya, mau Ibu itu apa? Dulu Ibu kan yang menjodohkanku dengan Bill? Kalian begitu memujaku, tapi setelah kebangkrutan keluargaku kalian memperlakukanku seperti ini! Seperti binatang yang tak punya harga diri!”


“Memangnya salahku kalau keluargaku jatuh miskin? Ibu kan yang ingin aku menjadi menantu di rumah ini? Tapi semua berubah sekarang ini! Hanya karena keluargaku tidak sama seperti dulu lagi!”


“Jadi, apa selama ini kasih sayang kalian itu hanya sekadar kebohongan saja? Apa kalian hanya menghargai orang-orang yang masih berkuasa di mata kalian? Begitu?! Orang-orang yang tampak berharga di mata kalian? Seperti barang?!”


“Jadi, apa selama ini kalian cuma menanggapku seperti itu?! Setelah hargaku dipakai lalu dibuang saja?! Jadi memang benar begitu?! Luar biasa!”


“Kalian benar-benar luar biasa! Keluarga Gates yang terhormat dan bermartabat, ternyata isinya hanya orang-orang yang tak punya hati! Sungguh, kalian keluarga terburuk yang pernah aku temui! Benar-benar buruk sampai aku merasa ingin muntah hanya dengan berdiri di sini!”


“PLAK!”


Sekali lagi tamparan dihujamkan ke pipi Nyonya Amelia. Membuat memar di pipi kanannya semakin jelas dan sakit kian terasa mencekiknya.


“I-ibu menamparku lagi?”


“Karena kau memang pantas untuk itu! Dasar menantu rendahan!” sekali lagi tangannya terangkat namun malah ditahan Amelia. “Kau— lepaskan aku!” ronta wanita tua itu mencoba melepaskan cengkeraman tangan menantunya.   


“Kenapa? Ibu mau menamparku lagi kan? Kalau begitu ayo lakukan?! Lakukan Ibu, lakukan!” 


“Agh!” pekik wanita tua itu karena tubuhnya terjatuh akibat tak bisa menahan keseimbangan.


Dirinya pun perlahan menatap tajam menantunya yang tersenyum tipis setelah menyentak tangannya itu.


“Dasar wanita tua. Berdiri dengan benar saja tidak bisa. Seharusnya Ibu tidur saja di ranjang, menikmati masa tua yang takkan lama lagi usianya.”


“PLAK!”

__ADS_1


Dan untuk ketiga kalinya, tamparan keras pun dilayangkan ke pipi Nyonya Amelia. Sehingga ia jatuh tersungkur dan tak berdaya. Lambat laun, diangkatnya wajahnya. Menatap tak percaya kalau pria yang menjadi kepala keluarga sekaligus ayah mertuanya, ternyata juga tak ada bedanya dengan istrinya.   


 


__ADS_2