FORGIVE ME

FORGIVE ME
Bunuh aku


__ADS_3

“Keparat! Berani-beraninya kau menatapku seperti itu!” tamparan keras langsung dilayangkan ke pipi putri Dempster. Lily ketakutan melihatnya, terisak-isak di balik pesakitannya. “Kenapa kau tidak berteriak?! Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa?! Memangnya ini tidak sakit?! Kalau begitu aku akan terus menghajarmu agar kau menderita!” emosi Naomi seperti orang gila.


Dia terus menampar pipi Eldrey sampai memerah dan bibirnya berdarah. Tapi, erangan tetap tak tercetak dari dalam mulutnya. Kecuali seringai yang ia pamerkan di sela-sela wajah memarnya.


“Kau!” geramnya. Tiba-tiba ia ambil balok yang ada di atas tumpukan di pinggiran. “Jika kupukul, apa kau akan menangis? Kalau begitu ayo kita lihat, seberapa bisa kau menahan ekspresi menjijikanmu itu!”


Dan akhirnya, pukulan keras dilayangkan tepat ke perut Eldrey. Membuat Lily berteriak histeris karenanya, takut jika itu juga akan menimpanya.


“Apa yang kamu lakukan?!” pekik Paul yang mendadak muncul di sana. Langsung diambilnya balok itu dan dilemparnya ke sembarang arah. “Kamu gila?!”


“Gila?! Kamu yang gila! Kenapa aku dilarang menghajarnya?! Dia yang sudah membuatku hancur seperti ini! Dia juga yang sudah membuat kakakmu mati!”


“Diam!” hardik Paul tiba-tiba. “Tutup mulutmu! Jangan lupa kalau aku yang sudah mengeluarmu dari penjara itu!” ancamnya.


Tapi, perlahan terdengar kekehan dari mulut sang wanita muda. Menyentak para pendengarnya, memasang ekspresi tak percaya kalau ia masih sadar setelah apa yang menimpanya.


“Jadi, kau membuang aset-aset yang dikembalikan untuk melepaskannya? Benar-benar bocah tak tahu diri.”


“Diam!” lagi-lagi Naomi melayangkan tamparan ke pipinya.


“Aku bilang hentikan!”


“Kenapa?! Kau tidak dengar apa yang dia katakan?!” gadis itu tak kalah marah pada laki-laki di sampingnya.


“Keluar!”


“Apa!”


“Aku bilang keluar!” bentak Paul padanya.


Dengan menggertakan gigi dan mengepal erat tangannya, Naomi pun terpaksa pergi dari sana. Sungguh ia marah, merasa geram atas kalimat Eldrey yang terasa merendahkannya. Begitu ingin dirinya menghajar putri Dempster agar tidak bersikap sombong lagi padanya.


“Kau baik-baik saja?”


Tapi, justru tawa yang dilontarkan sosok terikat di hadapannya. “Kau baik-baik saja? Apa kau buta? Aku terluka.”


Paul menggigit bibr bawahnya. Merasa kesal namun juga mencoba sabar. “Jangan menguji kesabaranku, Eldrey Brendania Dempster.”


Seketika, sang pemilik nama pun memiringkan wajahnya. Entah apa yang ia pikirkan tapi tak terlihat ekspresi kesakitan di dirinya. “Sebenarnya, apa yang kau tunggu? Ambil pisau dan bunuh diriku. Lebih cepat lebih baik. Karena tak lama lagi keberadaan kita akan ketahuan keluargaku. Bukankah karena itu kau menculikku? Ingin menghabisku, untuk menemani kakakmu.”


Pemuda itu tak bersuara. Dirinya hanya menatap Eldrey dengan lekat. Bahkan jika sosoknya begitu kesal padanya, tapi ada sesuatu yang menahannya. Pesan terakhir sang kakak untuk menyuruhnya tidak menjadi pria bajingan seperti pelaku penyiksanya.

__ADS_1


“Satu pertanyaan untukmu. Apa yang sebenarnya terjadi hari itu?”


Eldrey tidak menjawabnya. Memilih mengedarkan pandangan dan melirik Alice di sebelahnya. “Gadis yang cantik. Tidakkah dia mirip dengan Patriciaku?”


“Jawab aku!” Paul pun mencengkeram pipinya. Membuat Eldrey, mau tidak mau terpaksa mempertemukan sorot matanya.


“Apa dia tidak di visum?”


“Apa yang sebenarnya terjadi?” ulang Paul sekali lagi.


“Hanya karma untuk cerita kami berdua,” Eldrey lalu terkekeh pelan.


“Aku akan membunuhmu.”


“Lakukan.”


Sungguh pancingan yang luar biasa. Paul benar-benar mengeluarkan pisau dari sakunya.


“T-tidak. Tidak, tidak, tidak, apa yang mau kau lakukan?!” pekik Alice akhirnya. Dirinya telah sadar di saat mendengar Eldrey yang tertawa pelan. “Aku mohon hentikan! Jangan sentuh Eldrey, tolong. Aku mohon tolong jangan lakukan!” isaknya ketakutan.


Tapi, justru seringai tipis yang dipamerkan putri Dempster untuk membelah wajahnya. “Sayat lenganku seperti kakakmu. Lalu bunuh aku demi memuaskan dirimu. Kau bisa mulai dari mana pun. Tusuk aku dengan luka yang dalam. Mati pun bukan pilihan yang buruk sekarang. Ayo, Paul. Kau, ingin balas dendamkan?”


Benar-benar provokasi yang hebat. Paul langsung menyipitkan matanya, karena kalimat Eldrey membakar emosinya.


“Lepaskan aku.” Perkataan Eldrey langsung menghentikan langkahnya. “Jika kau tidak ingin membunuhku.”


Tapi, pemuda itu mengabaikannya dan meninggalkan ruang penyekapan. Sekarang, hanya tersisa Eldrey yang berwajah tenang, Lily dengan rasa ketakutan dan Alice dirundung kekhawatiran.


Kenapa orang-orang itu menculik mereka?


Walau dua bersaudara dari keluarga Gates dan Dempster, tahu alasan terbesarnya. Mereka adalah musuh yang sudah ditenggelamkannya. Namun sekarang bangkit berupa mayat, untuk membalaskan dendam padanya.


“K-keluarga kita, pasti akan menemukan kita kan?” Lily terisak.


“Keluarga yang mana?” Eldrey menyindirnya. “Gates dan Dempster keluarga adidaya. Seharusnya kita sudah ditemukan dengan cepat. Tapi mereka lalai. Jangan terlalu berharap Lily. Mati muda juga tidak buruk kan?”


“Diam!”


“Naomi mungkin akan memukulimu lagi.”


“Aku bilang diam!” kesalnya.

__ADS_1


Tapi di tempat berbeda, histeris seorang wanita begitu memilukan pendengarnya. Raelianna Jin. Tak bisa membendung kesedihan akan fakta yang menimpa putrinya. Walau bawahan sang suami sedang berusaha untuk menemukan Eldrey, tapi nyatanya mereka tak bisa melakukannya dengan cepat.


Begitu pula dengan keluarga Tuan Bill. Sebuah pesan mengerikan dari Naomi yang akan membalas dendam atas semua masalah di hidupnya, mengacaukan pikirannya. Kecuali keluarga Gates dan Dempster memindahkan aset perusahaan atas nama dirinya.


Sungguh di balik balas dendam, dia juga menginginkan harta mereka.


“Jangan lakukan. Kau pikir, perusahaan sebanding dengan anak itu? Biarkan saja. Dia yang bermasalah, maka dirinya juga harus menanggung akibatnya,” sahut Nyonya Camila pada putranya.


“T-tapi Bill, bagaimanapun Lily itu putrimu. Kamu harus membantunya,” Amelia terisak-isak. Kondisi dirinya benar-benar berantakan, karena ditampar habis oleh mertuanya. Setelah suaminya pulang akibat berita penculikan anaknya yang menimpanya, sosoknya justru harus di hadapkan akan laporan dari sang ibu. Kalau istrinya sudah berani bersikap kasar padanya.


Hampir saja kata cerai terlontar kalau bukan karena Naomi menghubunginya kembali.


“Diam kau! Berani-beraninya kau berbicara seperti itu setelah apa yang kau lakukan padaku?!” hardik Nyonya Camila. “Jangan mimpi! Kalaupun mau dibantu, anakmu akan ditebus dengan apa? Harta Gates?! Hidupmu dan juga putrimu tidak sebanding dengan harta keluarga ini, ingat itu!”


Benar-benar berisik yang mengganggu pendengaran.


“Sudah Camila. Tenangkan dirimu,” sela suaminya. Sosok kepala keluarga tertinggi itu lalu melirik menantunya. “Amelia, sekarang lebih baik kau angkat kaki dari sini.”


Tersentak. Pendengaran wanita itu bagai dicambuk dengan kejam oleh kalimat ayah mertuanya.


“A-ayah mengusirku? Setelah semua yang terjadi?”


“Pergi. Kau pikir, setelah apa yang kau lakukan dirimu masih bisa diterima di sini? Bill akan menceraikanmu secepatnya. Sekarang kau bisa kembali ke rumah orang tuamu. Karena kami tidak sudi melihatmu lagi.”


“Pergi? Kembali ke rumah orang tuaku? Kalian yang membawaku ke sini sekarang mengusirku?” dirinya menatap tak percaya pada suami istri itu. “Kalian berani melakukan ini padaku?!” nada suaranya naik dua oktaf.


“Berani-beraninya kau meninggikan suaramu!” hardik Nyonya Camila.


Amelia yang geram pun melirik Bill dengan ekspresi marah. “Kenapa kamu diam saja? Aku diperlakukan seperti ini oleh orang tuamu! Dan kamu sama sekali tidak membelaku?!”


Tapi, justru tamparan yang tiba-tiba dilayangkan suaminya. “Diam Amelia, diam! Berani-beraninya kau membentakku?! Benar kata ayah, lebih baik kau angkat kaki dari sini!”


“Kau!”


“Jangan pernah coba-coba menunjuk ke arahku!” marah Bill lalu menyeret paksa istrinya.


“Mau apa kau, lepaskan aku!” Amelia meronta sambil memukul-mukul lengan suaminya.


“Kau sudah menyakiti orang tuaku dan sekarang kau berani menantangku! Memang suatu kesalahan tetap mempertahankan istri miskin seperti dirimu!”


“Sakit! Lepaskan aku Bill, lepas!”

__ADS_1


Dan sesuai perkataannya. Suaminya itu benar-benar melepaskannya dengan sentakan tangan kasar. Membuat Amelia jatuh tersungkur beruraian air mata.


__ADS_2