FORGIVE ME

FORGIVE ME
Rencana licik


__ADS_3

Tiba-tiba, pesan dari Eldrey pun masuk ke ponsel Lily menyatakan kalau ia sudah hampir sampai.


Lily tersenyum membaca pesan itu. Tak hanya dirinya, bahkan Naomi juga melakukan hal serupa.


Segera Lily mengetik pesan yang entah ditujukan pada siapa. Sementara Eldrey, ia mengumbar senyum pada seseorang yang dilewatinya.


Sampai akhirnya dirinya tiba di tempat yang sudah dijanjikan.


“Rey! Kamu sudah datang?!” sambutnya.


Tak lama kemudian, bar waiter pun datang membawakan minuman yang sudah dipesan Lily.


“Rey,” panggil Lily mengalihkan pandangannya dari bar waiter itu. “Apa aku boleh tanya sesuatu?”


“Silakan.”


“Apa kamu sudah punya pacar?”


Eldrey memiringkan wajah mendengar pertanyaan itu. Di sela-sela pembicaraan, minuman beralkohol pun di persiapkan. VIP lantai dua itu hanya menyediakan beberapa tempat. Dengan beberapa pelanggan di dominasi pria menghiasi suasana.


Bahkan beberapa dari mereka melirik pada tiga gadis yang duduk bersama di sudut ruangan. Eldrey terdiam begitu segelas minuman disajikan di depannya.


Lily mengambil minuman Eldrey dan menyodorkannya.  


“Belum,” sahutnya menerima sodoran minuman itu.


“Benarkah? Lalu Kevin?” tanyanya mengambil minuman di gelas lain dan meneguknya.


“Aku tak tahu kamu tertarik dengan privasiku.”


“Tentu saja. Bukankah kita sepupu?”


Eldrey terdiam dengan segelas minuman masih di tangan. “Kamu tidak minum?” sela Naomi.


Eldrey meliriknya lalu beralih menyorot bar waiter itu. Ia menyunggingkan senyum tipis dan meneguk habis minuman.


“Aku selalu penasaran seperti apa tipemu,” ucap Lily lalu menuang kembali minuman ke dalam gelas Eldrey.  


Gadis itu kembali meminumnya, diiringi Lily dan Naomi yang juga melakukan hal yang sama.


“Lalu bagaimana denganmu?” Eldrey membalikkan pertanyaan.


“Aku menyukai tipe seperti Kevin,” jawabnya jujur. “Aku selalu bergairah melihatnya,” sambil tertawa pelan.


“Benarkah? Ingin kuperkenalkan lebih dekat dengannya?” Eldrey tersenyum simpul.


Akan tetapi, sekitar 10 menit kemudian pada tegukan ketiga, raut wajah Eldrey langsung berubah. Spontan gadis itu menutup mulutnya. “Kau,” gumamnya menatap tajam Lily.


“Ada apa Eldrey?” Gadis itu menyeringai menatapnya.


Napas Eldrey memburu. Ia menatap masam Lily dan tiba-tiba menamparnya.


“Kau!” pekik Lily geram. Eldrey pun berbalik dan mendorong Naomi lalu lari dari sana. “Kejar dia!” teriak Lily.


Seketika para pria yang ada di dalam ruangan itu mengejarnya. Ternyata mereka adalah laki-laki suruhan Lily yang ikut menjebak Eldrey.


Tapi, gadis yang nanar itu justru berhasil tertangkap oleh para pria bajingan itu. Seketika, perlawanan sia-sia dikeluarkan Eldrey dan ia justru diseret paksa oleh tujuh pria itu menuju kamar VIP kosong yang memang tersedia di lantai itu.


Gadis itu meronta-meronta. Bahkan kemeja yang dibalut jaket denimnya robek akibat ulah orang-orang tersebut. Dirinya pun dilempar kasar di atas ranjang.


Dalam peliknya suasana, Eldrey bisa mendengar tawa saling bersahutan. Merekalah Lily dan Naomi.


“Bagaimana rasanya?” tanya Naomi dengan pandangan angkuh.

__ADS_1


Di antara wajah geram, Eldrey mulai memperlihatkan ekspresi sensualnya.


“Hei! Aku sudah tidak tahan ingin menyentuhnya!” teriak salah satu pria mendekat dan menyentuh rambut Eldrey. Seketika ditepis kasar tangan itu olehnya.


“Baiklah. Jangan lupa perjanjian kita. Aku ingin foto terbaik. Kalau begitu, silakan nikmati pertunjukannya,” seringai Lily dan Naomi hendak meninggalkan mereka.


Saat akan menutup pintu, teriakan Eldrey pun memecah suasana sampai akhirnya mereka berdua tertawa terbahak-bahak.


“Dengan begini, dia tidak akan punya muka lagi untuk bersikap sombong,” tukas Naomi.


“Kamu benar, aku jadi tidak sabar ingin melihat hasilnya. Berita tentang tuan putri keluarga Dempster yang ternyata dinikmati banyak pria. Bukankah itu menarik?”


“Kamu benar Lily.”


Mereka berdua pun kembali ke ruang VIP sebelumnya. “Ayo kita nikmati pesta ini sampai mereka selesai!” ucap Lily dengan bangga.


Mereka pun minum-minum sampai puas karena sudah berhasil menjebak Eldrey.


Esok paginya, Lily terbangun di ruang VIP itu. Tak ada siapa-siapa kecuali dirinya dan Naomi. Lily yang bangun terlebih dahulu, merasakan sakit-sakit di sekujur tubuhnya.


“Mm? Kenapa rasanya sesakit ini?” gumamnya sambil garuk-garuk kepala. “Mi! Naomi! Bangun Mi!” teriaknya memukul-mukul bahu Naomi.


Gadis itu juga bangun secara perlahan dan menggeliat. “Ugh! Kepalaku!” pekik Naomi mencoba bangkit. “Di mana kita?”


“Masih di club. Ayo pergi, kita harus kuliah hari ini.”


“Ah! Kepalaku sakit! Aku ingin tidur saja!” gerutu Naomi kembali merebahkan tubuhnya.


“Bangun Mi! Kita harus lihat keadaan si brengsek itu!”


Sontak mata Naomi terbuka lebar. Tentu saja ia paham siapa yang di maksud Lily. Eldrey, si gadis keparat yang sudah mempermalukannya.


Mereka berdua pun mencoba bangkit namun jatuh terduduk karena rasa sakit di area vital bawahnya.


“Aku juga. Apa yang terjadi?”


“Mungkin ini efek karena terlalu mabuk. Pinggangku juga sakit.”


“Mungkin kamu benar,” ucap Naomi.


Dengan penuh usaha, keduanya pun bangkit kembali lalu melangkah terseok-seok menuju kamar VIP di mana Eldrey berada semalam.


Begitu pintu kamar dibuka, semua tampak sepi. Kecuali jejak sedikit darah dan kemeja robek yang ada di atas sprai putih ranjang itu.


Seketika Lily dan Naomi menyemburkan tawa karena rupanya jebakan untuk Eldrey itu berhasil.


“Lihat Mi! Lihat ini!” Lily memungut kemeja itu.


“Tapi ke mana dia?”


“Mungkin dia sudah pergi sambil menangis karena merasa kotor. Biarkan saja. Aku akan minta orang-orang itu untuk mengirimkan foto dan videonya.”


“Jangan lupa perlihatkan padaku ya!”


“Kau akan melihatnya. Saat itu tersebar di kampus,” ucap Lily.


Akan tetapi, di sebuah kediaman mewah yang sudah tak asing lagi, tampak seorang gadis duduk bersandar ke ranjang dalam keadaan berantakan. Sorot matanya tampak menyedihkan.


Eldrey.


Gadis yang meringkuk dengan mata sembab. Bahkan tangan kirinya tampak diperban sampai lengan dan masih menjejakkan bekas darah di sana.


Tak lama kemudian, ada pesan masuk ke ponselnya. Raut wajah menyedihkan itu semakin lama berubah ekspresinya.

__ADS_1


Tersenyum aneh. Di balik senyumnya, mulutnya terbuka dan menyemburkan tawa yang makin mengeras. Saking kerasnya ia menutup matanya.


“Benar-benar menyedihkan,” kata itu langsung keluar menghentikan tawa diiringi tangan terluka itu menutup matanya.


Pagi yang terus berlanjut, sebuah rapat yang dihadiri para ketua divisi di perusahaan tuan Gates memulai pembahasan rencana tentang akuisisi anak perusahaan milik HEadtoN Group yang berada di bawah kepemimpinan Deugate Marcopolo.


Dia merupakan mantan petinju terkenal yang pernah menyabet beberapa kejuaraan kelas dunia.


Namun, saat rapat mulai memasuki tahap klimaks, pembahasan beralih dengan proyek yang sedang dikerjakan anak perusahaan HEadtoN Group.


Semua terangkum dalam sebuah map dan juga video di flashdisk yang sudah disiapkan tim divisi satu.


Saat akan melakukan presentasi, justru kejadian tak terduga terjadi.


Desahan demi desahan serta reka adegan tak senonoh malah terputar di video presentasi proyek anak perusahaan HEadtoN Group itu.


Seketika suasana berubah, terlebih raut wajah tuan Bill yang melihat secara langsung tak lagi dapat dilukiskan.


Ketua divisi dua segera mematikan tayangan video itu dengan terburu-buru, karena anggota divisi satu masih tak menyangka kalau video presentasi proyek yang sedang ia siarkan justru berubah menjadi siaran dewasa.


Seketika suasana menjadi hening. Tuan Bill segera bangkit dari duduknya dan pergi dari ruangan itu.


Hiruk-pikuk langsung menyeruak di sana karena pemimpin dari perusahaan itu sudah pergi.


Di tempat berbeda, Lily yang baru pulang dari club tampak tersenyum puas. Terlebih karena orang-orang bayarannya baru saja menghubungi, berjanji sebentar lagi akan mengirimkan foto-foto telanjang Eldrey dalam versi cetak.


Tak ada lagi yang lebih membuatnya bahagia dibandingkan ini. Segala khayalan tentang hujatan dan rasa malu yang akan diterima Eldrey, sudah bermelodi di pikirannya.


Dirinya tak sabar ingin melihat seperti apa respons keluarga atas kejadian ini. Ia yakin kalau nenek dan kakek yang selalu membanggakan kepintarannya gadis itu, akan berbalik mencaci maki dan menampar Eldrey.


Ya, Eldrey memang pantas mendapatkannya. Dia yang cuma anak dari wanita toko roti tak seharusnya bersikap sombong di hadapannya.


Seketika seringai Lily makin melebar, terlebih pembantu datang ke kamarnya mengatakan kalau ada kurir paket yang tiba mengantarkan barang untuknya.


Seringai bercampur hati berbunga-bunga itu pun ia bawa untuk menemui kurir. Sebuah amplop coklat yang sangat ia idam-idamkan.


“Lily?” sapa nyonya Camila yang kebetulan baru turun tangga. Diiringi high heels 7 cm kuning menyala melekat indah di kulit keriputnya. Ya, dia memang nenek tua berdandanan muda.


“Oh, Nenek!” sapa Lily girang.


“Amplop apa itu?”


“Ini?” Lily pun terdiam. Sejenak kemudian, ia menyeringai karena ada ide licik yang sekilas terlintas di otaknya. “Aku tidak tahu. Ada orang yang mengirimkan ini untuk keluarga kita. Kata kurirnya, ini adalah hadiah tak terduga dari mereka yang saling bercinta,” dustanya. Kenyataannya, kurir itu tak mengatakan apa pun. Semua hanya karangan Lily saja.


Nyonya Camila terdiam. Raut wajahnya berubah. Guratan makin terlihat jelas.


“Berikan padaku!”


Lily pun menyerahkan amplop itu. Akan tetapi, tentu saja hatinya tertawa senang dengan ekspresi nyonya Camila.


Nenek tua itu segera membuka amplop dan melihat isinya. “Ini!”


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2