
“Aku mohon jangan begini,” sahut Henry di balik rangkulan eratnya.
Eldrey hanya diam, walau wajahnya bersandar pada dada laki-laki yang dibalut bomber jacket hitam itu.
“Tolong jangan menyakiti dirimu sendiri,” tambahnya.
Rasanya, dada Eldrey sesak. Tapi ia tak tahu apa penyebabnya, kecuali pikirannya yang tidak tenang. Tak seperti biasa, di mana dirinya bisa melakukan apa saja secara tiba-tiba.
“Kenapa kamu begini? Aku sudah pernah membuatmu menangis.”
Henry tersenyum kecut. Sekarang tak ada gunanya melakukan hal yang ragu-ragu pada orang dalam dekapan.
“Karena aku menyukaimu.”
“Kamu hanya menyakiti dirimu.”
Entah kenapa, mata Henry perlahan memerah mendengarnya. Dirinya pun mulai melepas pelukan.
“Ayo kita obati dulu tanganmu,” ucapnya sambil tetap berusaha mengukir senyum.
“Tidak perlu. Aku hanya perlu mencuci tanganku.” Eldrey menarik tangannya yang dipegang dan hendak ke kamar mandi.
Sontak Henry menahan lengannya. “Kenapa kamu harus begini? Aku tak bisa membiarkan orang yang kusuka terluka begitu saja!” lirihnya akhirnya.
Tentu saja Eldrey terdiam dengan sorot mata menatap lekat sang pemuda. Tetesan darah di tangan kiri, sudah mulai berkurang alirannya.
“Aku yang tersiksa melihatmu terluka,” tambah pemuda itu sambil beruraian air mata.
“Henry.”
“Aku benar-benar tidak tahan melihatmu seperti ini,” sambil menutup mata dengan tangan kirinya.
Sorotan Eldrey yang semula tajam perlahan sayu pandangannya. Rasa sakit di tangan sekarang mulai mengganggunya.
Sampai akhirnya, dirinya menunduk dan menyandarkan kepala pada bahu laki-laki yang masih memegang lengannya.
“Eldrey.”
Respons itu pun menjadi tanda bagi Henry untuk merangkulnya.
Tak ada suara, tak pula tangisan, kecuali helaan napas Eldrey mulai naik-turun di dalam pelukan. Henry mengelus lembut punggung gadis itu demi kebaikan sosok yang tak mengukir air mata di balik pesakitannya.
Tiba-tiba Eldrey pun membalas pelukannya, melakukan itu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun tak ada yang berdiri di sampingnya.
Tanpa sadar, walau hatinya tertutup tapi jiwanya meronta butuh seorang sandaran. Sesuai kata Charlie, bocah tengik seperti Henry mungkin memang bisa melakukan sesuatu pada Eldrey yang rusak mentalnya.
Akan tetapi, tanpa mereka sadari seorang laki-laki sudah berdiri di balik pintu kamar. Lirihan kalimat Henry, jelas terdengar yang membuatnya tetap diam di posisinya.
Dan perlahan langkahnya pun akhirnya pergi dari sana membiarkan mereka tetap berdua tanpa sepatah kata.
Beberapa hari kemudian, suasana kembali membaik. Atas permintaan Charlie, tak ada satu pun yang diizinkan menemui Eldrey mengingat kebencian dan sikapnya.
Hanya beberapa orang yang bisa bertatapan muka dengannya, di antaranya Bibi Arda, Charlie dan Rondolf. Eldrey, lebih meladeni mereka berbicara dan tak mengamuk seperti dulu.
“Tuan Charlie,” panggil Bu Anna tiba-tiba. Pria itu berbalik dan menatap tenangnya.
“Ya Nyonya, ada apa?”
“Itu ... aku ...” Tampak keraguan di tutur katanya.
Sepertinya, pria itu mulai paham ke mana arah pembicaraan. “Maaf Nyonya. Bukan maksud saya melarangnya, tapi sepertinya ini masih belum waktunya.”
Sang mantan istri Betrand, hanya bisa melukiskan senyum pahit akan jawaban bawahan tuan rumah.
__ADS_1
Tak disangka, seorang pemuda dengan langkah pasti mendekat sambil menenteng sebuket bunga biru yang menjadi kesukaan tuan putri di sana.
“Henry?”
“Selamat sore Nyonya, Tuan,” sapa Henry dengan senyum ramahnya.
“Apa kamu datang untuk menemui Eldrey?”
“Tidak. Aku hanya ingin memberikan bunga ini padanya,” sodornya pada Charlie.
“Kenapa bukan kau saja yang memberikannya?”
“Mm ... itu, kupikir lebih baik aku tak sering-sering menemuinya.”
“Baguslah kau sadar diri juga.”
“Tuan Charlie,” sela Bu Anna kaget mendengar ucapannya.
Pria itu hanya tertawa, “kalau begitu akan kusampaikan sekarang juga,” ucapnya meninggalkan mereka. Tapi, dalam langkah dan hampir tiba di depan pintu kamar Eldrey, sosok Evan terlihat berdiri tenang di depan pintu. “Ingin masuk?” selanya mengganggu pandangan putra Anna.
Evan meliriknya, akhirnya beranjak tanpa suara dan menjauh dari tempat yang memang ingin dimasukinya.
Charlie hanya tersenyum. Ia pun mengetuk pintu kamar, “Nona? Aku masuk ya,” sambil membukanya tanpa persetujuan. Didekatinya gadis yang menyandarkan diri sambil menonton televisi. “Bagaimana keadaanmu?”
Tak ada jawaban kecuali lirikan. Buket bunga di tangan laki-laki pun tersodor padanya. “Untukmu,” tambah Charlie. “Kupikir kau pasti tahu siapa pengirimnya.”
Cukup lama bagi Eldrey untuk menerimanya. Dipandang lekatnya, hamparan Forget Me Not yang entah kenapa tak pernah absen mendatangi kamarnya.
“Kenapa? Apa kau ingin menemui pemilik bunga itu?” tanya Charlie tanpa basa-basi. Masih tak ada jawaban. “Sepertinya kau malas dengan kehadiranku, ya sudah aku pergi saja. Oh ya, aku harus keluar kota selama tiga hari. Jadi, tolong jika ada apa-apa hubungi aku seperti dulu. Oke?”
Dan Eldrey, menatap tenang sosok pembicara sampai akhirnya orang itu pergi meninggalkannya.
“Hah? Kau masih di sini bocah?” suara Charlie memecah perbincangan antara Henry dan Bu Anna begitu ia sampai di ruang tamu.
“Ah, maaf-maaf,” lirihnya pada mantan istri bosnya.
“Mm ... itu,” Henry tampak ragu melanjutkan kalimatnya.
“Apa? Jangan bertele-tele.”
“B-bunga—”
“Bungamu dibuang Nona.”
“Apa!”
“Tentu saja aku bercanda. Kau hebat juga bisa meluluhkan hatinya hanya dengan bunga,” ledek Charlie yang membuat wajah Henry memerah.
“Tuan Charlie, tolong jangan mempermainkannya.”
Charlie masih saja tersenyum menyebalkan yang membuat Henry jengkel. “I-itu, apa aku boleh menemui Eldrey?”
“Bukannya kau tidak ingin menemuinya? Dasar bocah plin-plan.”
Bu Anna pun geleng-geleng kepala akan sikap Charlie Stevano sang tangan kiri Betrand. “Boleh Henry.”
“B-benarkah?”
“Ya,” angguk ibu Eldrey itu.
Spontan saja senyuman terkembang di bibir Henry untuk menemui gadis yang disukainya. Tanpa ragu, langkahnya ke sana benar-benar diiringi hati senang di dadanya.
Seakan ia sudah paham betul aturan untuk berkunjung di kediaman mewah Dempster. Dibanding takut ada yang berbuat macam-macam pada sang putri, justru semua penghuni rumah lebih cemas jika gadis itu tiba-tiba menggila dengan memangsa tamunya.
__ADS_1
“Eldrey?” panggil Henry setelah mengetuk pintu. Seperti biasa, gadis itu takkan menjawab, sehingga sang pemuda memberanikan diri membukanya tanpa mendengar persetujuan terlebih dahulu.
Langkahnya terdiam begitu gadis itu menatap dinginnya.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Henry dengan muka kebalnya.
“Baik.”
Pemuda itu terdiam saat melihat bunga biru di samping Eldrey. “Mm, apa kamu tidak menyukainya?”
“Apanya?”
“Bunganya.”
Sang tuan putri melirik Forget Me Not itu. “Tidak buruk.”
“Eh?”
Eldrey kembali menatapnya. “Apa kau tidak bosan? Membawakan bunga ini terus-terusan.”
“Bagaimana mungkin aku bosan? Untuk orang yang kusukai, aku akan selalu membawakan bunga kesukaannya.”
Eldrey hanya diam. Semenjak kejadian terakhir yang menggemparkan di kamarnya, Henry mulai terang-terangan tanpa menahan apa pun yang ada di hatinya.
Entah dari mana ia mendapatkan pelajaran untuk mendekati Eldrey tanpa malu-malu lagi, tapi yang jelas sekarang tebal mukanya mulai memperoleh respons Eldrey.
Walau tak yakin apakah gadis itu memang menaruh rasa atau cuma mencoba menggugurkan kesepiannya.
“Oh ya, apa kamu mau pacaran denganku?”
“Tidak.”
Henry cuma tersenyum mendengar penolakan Eldrey. “Baiklah, besok akan kucoba lagi.”
“Keras kepala.”
Henry pun tertawa seperti anak kecil. Wajahnya yang melukiskan ekspresi hangat hanya dipandang datar gadis itu. Bahkan suara dari siaran televisi tak mengalihkan suasana mereka.
“Jika aku tidak keras kepala, maka aku akan menyesalinya nantinya.”
“Jangan salahkan aku jika kau terluka.”
Tiba-tiba, sang pemuda mengangkat tangannya dan menyentuh tepian rambut Eldrey untuk digeser ke belakang telinga.
“Tak masalah. Setidaknya aku menyukaimu dan akan terus berusaha.”
Tak diragukan lagi, ia begitu gigih berusaha bahkan jika penolakan mentah-mentah selalu diterima. Entah keberanian apa yang menimpa Henry tapi dirinya tidak lagi memikirkan itu, karena yang terpenting perasaannya pada gadis di depannya.
“Aku pulang dulu. Besok aku akan kemari lagi. Maaf jika kamu bosan dengan tampangku, tapi aku takkan terus mengganggu jika kamu mau menerimaku,” tambah Henry dengan tak tahu malunya.
“Kamu menyukai orang yang salah,” sahut Eldrey memiringkan wajah sehingga sentuhan Henry berjarak dari mukanya.
“Aku tidak peduli. Kalau begitu aku pulang dulu, sampai jumpa lagi Eldrey,” Henry bangkit dari posisinya. Dan bahkan saat akan menutup pintu kamar ia masih tersenyum pada Eldrey yang berhati batu.
Di balik sikap tak acuh Eldrey, mungkin ia tak tahu kalau Henry akan selalu memukul pelan pipinya sendiri setelah keluar dari kamar itu. Sebagai rasa, agar sang pemuda tidak cengeng akibat selalu ditolak dan juga tanda untuk terus bermental baja.
Terkadang, dia yang selalu berusaha mungkin mampu melelehkan dinding es di depannya. Walau tak bisa menembus pagar batu yang menyembunyikan hati pemiliknya.
Setidaknya, dirinya sudah mencoba dan hasil akhirnya masih menunggu jauh di ujung jalan penantiannya.
__ADS_1