FORGIVE ME

FORGIVE ME
Siksaan tanpa ampunan


__ADS_3

Gelap. Aroma debu menyusup ke penciuman. Sensasi kotor menempel pada pinggiran badan dan sosok yang merasakan hanya bisa mengumpulkan kesadaran. Kalau dirinya sedang tidak menunggu lagi di taman.


Tiba-tiba ia terisak. Menangis ketakutan, sampai akhirnya sebuah bentakan menghantam dirinya.


“Diam bodoh! Atau aku akan menginjakmu!”


Tapi yang ada, gadis itu malah meraung sejadi-jadinya. Sampai akhirnya, sebuah rantai di leher tertarik ke atas dan dia pun terkejut bukan mainnya.


“Aku bilang tutup mulutmu atau aku benar-benar akan menghajarmu!” marah orang itu akhirnya. Sampai dirinya pun tega menghempaskan tubuh kecil sang gadis dengan kasarnya.


Sakit, tapi tak dapat diucapkan. Karena amarah orang di depan telah menekan dan menjadi sumber ketakutan, sehingga putri Dempster hanya bisa menggigit bibir bawah dengan kuat agar tak memuntahkan tangisan.


Dia benar-benar diperlakukan seperti binatang. Kakinya, tangan, dan juga leher, dirantai tanpa iba. Dihiasi bentakan untuk menyadarkan dirinya, kalau Eldrey tak tahu apa salahnya.


“Eldrey diculik?!” pekik Betrand. “Dan kamu meninggalkannya begitu saja?!”


Raelianna menggeleng, beruraian air mata dan memegang lengan suaminya. “Bukan begi—”


“Ya, pasti begitu! Bukankah kau sendiri yang bilang ingin pergi?! Kau sudah tidak sanggup lagi merawat anak-anakmu. Karena itu kan kau menghubungiku! Benar begitu bukan?!” potong Nyonya Camila tiba-tiba.


“Ibu!”


“Kenapa menatapku begitu?! Akui saja, kalau kau itu memang tidak mau punya anak sebenarnya! Bukankah itu yang kau katakan pada teman-temanmu?! Kau mengatakan itu saat tidak ada anakku!”


Betrand dan Anna menatap tak percaya atas ucapan Nyonya rumah Gates pada mereka.


“Bu, bagaimana bisa Ibu berkata seperti itu! Putriku sedang menghilang Bu. Aku sedih dan juga terluka,” Anna pun membela dirinya.


Tapi memang Nyonya Camila namanya. Hal yang tak pernah ada dengan lantang ia buatkan faktanya. Mengadu domba sang putra, agar pernikahan mereka pecah tak bersisa.


“Alasan! Kau ingin kuperdengarkan rekaman suaramu itu,” ledek wanita tua itu dengan angkuhnya.


“Hentikan! Tolong hentikan ini semua! Aku tak ingin mendengar perdebatan apa pun di antara kalian karena yang terpenting sekarang adalah Eldrey! Putriku! Jadi aku mohon tolong jangan menambah masalahku lagi dengan keributan kalian!” geram Betrand.


Sang istri pun terkesiap akan amarah suaminya, sampai akhirnya kepala keluarga Dempster itu beranjak dari sana dan meninggalkan mereka berdua begitu saja.


“Kau! Berani-beraninya kau menantangku! Apa kau lupa apa yang sudah kau katakan sebelumnya?! Dasar wanita tidak tahu diri! Sekali lagi kau macam-macam, orang tuamu yang akan jadi korbannya,” dan Nyonya Camila pun melepaskan cengkeraman pada lengan menantunya. Sampai akhirnya Anna hanya bisa beruraian air mata dan mengusap kasar bekas genggaman keras mertuanya.

__ADS_1


Hari-hari berlanjut. Di saat keluarga Dempster dilanda kerusuhan akibat penculikan Tuan Putri mereka, nasib Eldrey justru sangat berbeda.


Menyedihkan.


Lusuh dan kotor.


“Hentikan isakanmu brengsek atau aku akan melubangi tubuhmu!” hardik seorang pria 30 tahunan. Kakinya menginjak dada Eldrey, sehingga gadis itu meronta-meronta kesakitan. “Keparat! Cepat ambil kain dan bungkam mulutnya!” marahnya.


Ia pun tanpa iba menendang wajah gadis kecil itu dengan perasaan tak berdosa.


Seolah-olah sosoknya lupa, kalau dirinya memiliki anak juga di rumah yang mungkin saja suatu saat akan menerima karma serupa.


Berdarah, ujung bibir Eldrey robek karenanya. Bahkan darah mengering akibat mimisan masih tersisa di wajahnya.


Sosok kecilnya benar-benar disiksa tanpa ampun oleh mereka.


Hampir lewat dari dua minggu. Bahkan jika para bawahan telah dikerahkan, walau bantuan dari Gates sudah diturunkan namun hasilnya tetap saja nihil.


Tak ada jejak. Tak ada sedikit pun. Bahkan jika CCTV di area taman itu ada namun rupa-rupanya rusak kondisinya.


Seperti sebuah keberuntungan untuk sang penculik dalam melancarkan aksinya.


Hanya itu yang ia junjung tinggi dalam setiap kedatangannya ke rumah sang putra kedua.


Tapi, mungkin neraka Eldrey yang sesungguhnya dimulai dari sekarang.


“Brengsek! Ada polisi di mana-mana! Kalau begini terus bisa-bisa kita tertangkap!” murka salah satu lelaki yang berkumis tipis di wajahnya.


“Tapi walaupun begitu, setidaknya bayaran si bodoh itu cukup besar!” sela seorang pria yang juga beruban di bagian depan rambutnya.


“Jadi bagaimana?”


“Kalau begitu kita—”


Akhirnya, kalimatnya terpotong tiba-tiba. Akibat putri Dempster yang terisak di depan mereka.


Sakit di badan seolah kematian ingin memeluknya, sekarang mendera di tubuhnya. Bagai siksa di raga mudanya, dia terlalu kecil untuk itu semua.

__ADS_1


“Aku bilang tutup mulutmu, brengsek! Aku muak mendengar isakanmu itu!” geram laki-laki berkumis tipis tersebut sambil menendang perut putri Dempster. Diinjaknya dadanya, benar-benar menyesakkan sang gadis yang tak berdaya.


Sampai akhirnya anak itu pun jatuh pingsan seketika.


Tapi, di saat-saat kesadaran akan kembali ke dirinya, sebuah sensasi aneh menyiksa kelopak matanya.


Lilin cair, begitu panas sampai akhirnya putri Dempster meraung dalam bungkaman. Mulutnya disumpal dengan kain dan dia meronta-ronta.


Tapi, hanya kekehan yang terdengar dari mulut penyiksanya.


“Hei, apa yang kau lakukan? Kita hanya disuruh menculiknya.”


“Sepertinya kau tuli. Apa kau lupa? Kalau orang itu menyuruh kita menanganinya dengan benar. Aku bosan, karena itu aku ingin bermain-main dengannya. Lagi pula bocah ini kan anak orang kaya, kalaupun dia cacat, setidaknya orang tuanya bisa mengoperasinya,” jelas laki-laki berkumis itu sambil melanjutkan aksinya.


Bukan hanya pada kelopak mata putri Dempster, tapi ke dalam telinga kanannya lilin cair itu juga diteteskan.


Benar-benar tak berperasaan, dan seolah tangisan yang berjatuhan dari mata anak tak berdaya itu tidak berarti apa-apa bagi penontonnya.


Di hari selanjutnya, sebuah makanan seperti hidangan penjara terburuk sudah ada di depan mata Eldrey yang tergeletak.


Mangkuk besi, dengan nasi basi dan juga daging ayam yang disuwir-suwir ala kadarnya.


“Hei, apa tidak masalah diberi itu? Itu makanan sisa kemarin kan?” tanya pria yang lehernya dihiasi tatoo bergambar tulang tengkorak.


“Tidak masalah. Lagi pula, pencernaan anak-anak itu dua kali lipat lebih baik dari orang dewasa. Hei bodoh! Ayo cepat dimakan!” laki-laki yang sebelumnya menyiksa Eldrey kembali menjambak rambutnya.


Sehingga sang gadis kesakitan, dan lagi-lagi terisak karena tak tahan akan apa yang menimpa tubuhnya.


“Ma-maafkan ak—”


“Tutup mulutmu!” sambil tangannya yang lain memukul kepala Eldrey. “Kusuruh makan ya makan!” hardiknya.


Dan akhirnya, sakit di kepala akan pukulan kasar barusan, justru membuat Eldrey berteriak tidak tahan. Dia meraung sejadi-jadinya, sampai sebuah tamparan kasar dihempaskan ke pipi kanannya.


“Bangsat! Sekali lagi kau teriak, aku akan menamparmu!” marahnya dan menghempaskan tubuh sang putri Dempster seenak hatinya.


Bahkan memar di kelopak mata masih terasa, robek di ujung bibir tetap menyiksa, dan perih di telinga serta anggota tubuh lainnya ikut-ikutan menertawakan penyiksaan di dirinya.

__ADS_1


 


__ADS_2