FORGIVE ME

FORGIVE ME
Impianku menikahimu


__ADS_3

“Sekarang bagaimana? Menurutmu apa yang akan terjadi jika aku memperlakukanmu begini?” tekannya sambil menarik kerah baju Eldrey tiba-tiba.


Gadis itu jadi bingung karenanya. “Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” kesalnya sambil mendorong pemuda itu.


Tapi Kevin justru mencengkeram lengannya. Membuat Eldrey kaget terlebih lagi langkahnya dipaksa mundur ke belakang. Sampai akhirnya punggungnya beradu dengan pintu dan tampangnya berubah masam.


“Minggir Kevin. Apa kau ingin pukulanku melayang ke wajahmu?”


“Seberapa baik kamu dalam beladiri?”


“Apa.”


“Kutanya seberapa baik kamu dalam melindungi dirimu? Nona.”


Eldrey tidak menjawabnya. Kecuali memiringkan wajahnya. Tersirat jelas kalau sosoknya tidak merasa bersalah ataupun cemas.


“Apa ini? Apa mungkin kau marah? Aku bahkan tidak menghancurkan pintu rumahmu.”


“Hah!” Kevin benar-benar tak habis pikir sekarang. Seketika kalimat Eldrey berhasil membuatnya seperti orang bodoh barusan.


Dilepaskannya gadis itu, dan disentuhnya wajah sendiri dengan telapak tangan seperti orang kesusahan. Dia benar-benar frustrasi sekarang.


“Kupikir aku akan gila,” lirih Kevin meninggalkannya dan memilih duduk di sofa.


Sedangkan Eldrey masih merasa heran dengan perubahan sikap sang pemuda.


“Sepertinya kau kelelahan. Kenapa kau tidak pulang saja? Istirahat dengan benar di rumah.”


Lihatlah putri Dempster itu. Dia juga ikut duduk dengan santainya di sebelah Kevin yang menatap tak percaya.


Sungguh luar biasa sampai-sampai putra Cesar penasaran seberapa rendah toleransi Eldrey akan makna khawatir di sekitarnya.


Perlahan Kevin pun menghadap kepadanya.


“Apa yang kamu rasakan saat melihatku?”


Bukannya jawaban, tapi wajah yang dimiringkan dan senyum remeh sebagai perwakilan. Sepertinya, hal itu sudah bisa mewakilkan isi otak Eldrey untuk dibaca laki-laki di depannya.


“Memangnya apa lagi yang akan aku rasakan? Kau pacarku.”


Benar-benar jawaban hebat dan akan membuat berdebar sosok pendengarnya. Tapi sayangnya itu tidak berlaku untuk Kevin. Terlebih lagi yang mengatakannya seorang putri Dempster.


Ekspresinya jelas seperti meremehkan, dan tak terlihat berperasaan. Jangan mengharapkan cinta kepadanya karena itu takkan mungkin terjadi sekarang.


Eldrey benar-benar gadis yang menyebalkan.


“Apa aku boleh memelukmu?”


Sebelah alis putri Dempster pun terangkat. “Silakan. Rupanya kau butuh pelukan,” dia bahkan merentangkan tangan.


Membuat harapan Kevin untuk bisa mendapatkan hatinya, semakin jauh dari kenyataan.

__ADS_1


Tapi, sebuah pelukan dari sosok yang disukai memang sangat menenangkan.


Dia begitu hangat, sangat pas di rangkulan. Wangi rambutnya menguar bersamaan dengan aroma sabun mandi di badan.


Secara fisik Eldrey memang sosok yang sempurna, tapi di sisi lain dia terlalu kekurangan.


Kurang toleransi untuk simpati dan empati terhadap lingkungan.


“Apa aku boleh menyandarkan kepalaku di atas pahamu?”


Pelukan yang sudah terlepas, dihiasi pemandangan. Berupa tatapan saling beradu lekat dan fisik tidak terlalu berjarak.


“Apa kau mengantuk?”


“Mungkin saja. Jadi, apa aku boleh melakukannya? Hanya sebentar saja, aku janji.”


Butuh sejenak waktu bagi Eldrey untuk menjawabnya. Sampai akhirnya ia mengangguk sekilas dan dibalas senyum oleh putra kedua Kendal.


Kevin benar-benar merebahkan tubuhnya, menyandarkan kepala pada paha putri Dempster yang tak ragu menatap lekat rupanya.


Mereka benar-benar seperti sepasang kekasih yang sedang berpacaran. Tapi sayangnya tak ada perasaan. Dari perempuan muda yang menjadi lawan main Kevin sekarang.


Sang pemuda pun terpaku pada ukiran di wajah Eldrey yang memandangi rupanya.


Jujur ia berdebar. Ingin melakukan sesuatu kepadanya. Namun di satu sisi dirinya juga tak mau kurang ajar. Mengingat sosoknya sedang mencoba melakukan yang terbaik agar sang pujaan terbiasa dengannya.


Perlahan tangannya terangkat dan menyentuh ujung rambut Eldrey yang menjuntai ke arahnya.


“Apa impianmu?”


“Impianku? Apa ya?”


Kevin terdiam mendengarnya. Penglihatannya masih tetap sama, enggan meninggalkan visual sang gadis yang ada di hadapannya.


“Apa tidak ada yang kamu inginkan?”


“Kalau kamu, apa impianmu?” dia malah balik bertanya.


“Menikahimu, itu impianku.”


Pernyataan Kevin barusan, berhasil mengundang tawa pelan sang pacar.


“Menikahiku?” senyumnya terkesan meledek. “Kamu masih muda Kevin, apa kamu tidak punya impian yang jauh lebih baik? Sebagai seorang pemimpin perusahaan besar, atau apa pun yang membuatmu tampak hebat. Itu benar-benar tidak keren, teman.”


Kalimatnya berhasil menusuk kesadaran. Kevin merasakan sensasi aneh di dada dan itu jelas bukan perasaan bahagia.


Tangannya yang memegang rambut Eldrey perlahan naik untuk menyentuh wajah kekasihnya.


“Memang itu tidak keren. Tapi, mendapatkan hatimu adalah impian terbesarku. Dan mungkin itu karena aku terlalu menyukaimu. Aku berharap benar-benar bisa memilikimu. Bukan sekadar pacar taruhan, tapi sebagai seorang laki-laki yang ada di hatimu. Aku hanya menginginkan itu.”


Sontak saja wajah Eldrey mendingin karenanya. Dia memilih membuang muka dan tidak mengatakan apa-apa. Lambat laun senyum tipis pun terukir di bibirnya.

__ADS_1


“Impianmu terlalu konyol bagiku. Bangunlah Kevin, kepalamu berat,” Eldrey pun memegang bahu sang pemuda agar menjauh darinya.


Kevin menurutinya dan tetap memperhatikannya.


Sampai akhirnya Eldrey mendekati wajahnya dan hanya berjarak beberapa cm sekarang.


“Ayo akhiri taruhan ini.”


Dan tanpa aba-aba diciumnya sang pemuda yang tanpa persiapan.


Kevin membeku, karena ulah Eldrey membuatnya membisu. Dia seperti kehilangan kesadaran, hatinya dihantam telak tanpa perasaan.


Nyatanya, ini ciuman ketiga baginya dan putri Dempster yang memulai duluan.


Tak peduli jika dia sering bersikap seperti bajingan, faktanya Kevin Daniello Cesar pemuda baik-baik yang tak pernah menodai perempuan.


Kecuali mencium gadis di depannya saat pingsan, hanya itu ulah kurang ajarnya selama ini.


Sementara di kediaman Dempster, Presdir Betrand mendapatkan telepon tentang perceraian kakaknya yang sebentar lagi terjadi.


Miris baginya, mengingat Bill ternyata juga melakukan hal serupa sepertinya.


Padahal nyatanya, sosoknya menyesal pernah bercerai dengan Raelianna yang sebentar lagi akan dinikahinya kembali.


Andai dia lebih gigih dan sabaran, mungkin semua ini takkan terjadi.


Dan di kediaman Tuan Harel, sarapan pagi keluarga mereka terasa begitu janggal. Tentu saja membuat Fiona juga Ramses menjadi heran. Setelah melihat betapa buruknya kerutan di wajahnya ayahnya karena beban terpendam.


“Kamu kenapa? Makan sampai tidak fokus begitu,” Nenek Ramses bersuara tiba-tiba.


“Aku baik-baik saja.”


“Baik apanya? Kamu ada masalah, Pa?” istrinya ikut bersuara.


“Aku baik-baik saja.”


“Papa itu kalau ada masalah tampangnya pasti ikut berbicara. Jadi tidak pergi ditutupi lagi, Pa. Kami bisa membacanya,” Fiona ikut menghujaninya.


Sampai akhirnya, desakan dari mereka berhasil membuat sang kepala keluarga mengakui bebannya.


“Keluarga Keanu ingin menjodohkan putrinya dengan keluarga kita.”


“Apa!” kaget Ramses, Fiona dan Nyonya Nera bersamaan.


Menjodohkan putrinya? Itu berarti dengan Ramses bukan?” Fiona pun melirik adiknya.


“Aku tidak mau,” tolak Ramses tiba-tiba.


“Aku juga tidak setuju. Putri Paman Keanu itu bajingan. Lebih baik jodohkan Ramses dengan Eldrey, dia lebih jelas bibit bobotnya.”


“Kakak!”

__ADS_1


“Apa? Lagi pula aku benar kan? Lebih baik kamu dijodohkan dengannya. Kecuali kamu memang mau bersama dengan Clara sialan itu, maka setujui saja.”


 


__ADS_2