
“I-itu,” ekspresi ragu terpampang nyata dari sosok yang ditawari Eldrey untuk membeli jam tangannya.
“Kau tak perlu membayar mahal, aku benar-benar butuh uang untuk pulang, aku mohon,” pintanya dengan nada memelas. Bahkan sorot mata penuh iba juga susah payah dipamerkan. Berharap perempuan yang lebih tua darinya itu luluh.
Negosiasi yang hampir memakan waktu lima belas menit, akhirnya mampu memaksa sosok berpenampilan modis itu untuk membayar barangnya.
Walau mereka sama-sama tahu kalau jam tangan putri Dempster sangatlah mahal, tapi Eldrey rela dibayar dengan harga yang sangat jatuh selama sosoknya punya ongkos untuk berpergian.
Senyum tipis merekah di bibir setelah menerima uang. Tanpa ragu dirinya memasuki kereta, memilih duduk di dekat jendela dan menikmati semua pemandangan memenuhi pandangannya.
Evan Brendan Dempster.
Sekarang di sinilah dirinya. Di sebuah penthouse milik pria lewat paruh baya yang tak henti-hentinya menebar senyum pada sang pemuda dan tawa ke arah sekretaris Roma.
Keduanya mengadakan pertemuan di kediaman Dome Bosmova. Sesosok casanova dengan kumpulan dolarnya yang entah harus ke mana lagi dihambur-hamburkan olehnya.
Tanpa istri dan anak, memang pantas bagi pria itu menikmati setiap pesona dunia yang mampu dibelinya.
“Kau tampan,” pujian tanpa filter itu membuat putra Dempster meradang. Batinnya meringis pilu karena tak tahan berhadapan dengan pak tua di sampingnya.
“Terima kasih pujiannya, Tuan,” balasnya kaku.
Sekretaris Roma yang menyaksikan hanya menyunggingkan senyum tipis di bibir.
“Kenapa kau tegang sekali? Ayo, minumlah. Red wine ini akan baik untuk staminamu,” sodornya sambil terkekeh pelan.
Sontak Evan menggeleng cepat dan mengangkat tangan. “Aku tidak minum, aku lebih suka air putih,” tolaknya yang membuat sekretaris ayahnya menahan tawa.
Jujur saja, penampakan Evan benar-benar seperti gadis perawan yang takut diajak bernegosiasi. Respons lucu itu benar-benar berhasil mengaduk suasana.
Dome Bosmova tak bisa menghentikan tawa dan memukul keras punggung putra Betrand.
“Kau benar-benar lucu, Nak. Kenapa kau seperti ini? Apa ayahmu tak pernah mengajarimu minum-minuman seperti ini? Sia-sia anggur di ruang bawah tanah kediaman kalian kalau keturunannya polos begini.”
Entah itu pujian atau ledekan Evan tak peduli. Dia anti pria ini. Masih jelas di ingatan saat pertemuan pertama mereka Dome Bosmova dengan lancang menyentuh bokongnya.
Walau katanya hanya lelucon tapi sang pemuda sudah alergi duluan saat berhadapan dengan pak tua itu. Benar-benar kesialan mengingat perusahaan mereka menjalin kerjasama dan terlebih lagi ia kolega setia Presdir Betrand.
Bukankah ini jelas-jelas neraka? Untuk putra Dempster yang merasa sempat dilecehkan.
“Jadi, Tuan. Kerjasama kita—”
“Oh ayolah. Aku mengundang kalian untuk menemaniku minum-minum di sini. Lupakan bisnis itu, Roma pasti sudah tahu jawabannya dan biar dia yang urus sisanya.”
__ADS_1
Sekretaris itu mengangguk tanda mengerti. Berbeda dengan Evan, sosoknya dongkol dalam hati. Menyumpahi kedua orang yang seperti menikmati hidup di tempat ini.
Tahu begitu lebih baik ia biarkan saja tangan kanan ayahnya mengurus semuanya, jadi dia tak perlu terjerumus di tempat gila Dome yang sibuk memainkan gelas winenya.
“Kudengar kau belum punya pasangan.”
“Ha?”
“Mau kujodohkan dengan keponakanku? Dia baru saja ditinggal nikah.”
Evan melongo, berbeda dengan Roma yang menyesap minuman di tangan dengan santai. Dirinya sudah terbiasa menikmati keadaan bersama sang pemilik rumah. Mengingat Dome Bosmova selain sebagai kolega atasannya, ia juga merupakan gurunya dalam bermain saham.
“A-aku—”
“Aku juga punya keponakan laki-laki. Ah, adikmu sangat cantikkan? Katakan pada ayahmu kalau aku juga ingin dia jadi pasangan keponakanku. Bagaimana menurutmu, Roma? Tidakkah mereka cocok?”
“Hm ...” balasnya tak minat.
“Itu aku—”
“Tenang saja mereka cantik dan tampan,” lagi-lagi pak tua Dome memotong ucapan Evan. “Yah, walau keponakanku memang ditinggal lari karena calonnya selingkuh sendiri. Tapi kurasa kau takkan kecewa. Mau lihat fotonya? Namanya Arabella.”
“Kak Bel!” panggilan itu mengalihkan atensi wanita yang fokus ke luar jendela.
Terlihat raut wajah tak bersahabat dari sosok penjawab. Seperti banyak beban di sana, bahkan sorot mata lelah ikut menghiasi pandangannya.
“Nanti setelah sampai kita akan ke mana?”
“Ke Hotel. Aku mengantuk,” perlahan ia tutup matanya.
Sang adik yang menyaksikan hanya diam saja. Memilih memainkan ponsel dan berseluncur di sosial media.
Dan akhirnya kereta yang mereka tumpangi berhenti di stasiun. Banyak turis menjadikan kawasan itu sebagai tempat untuk merasakan ketenangan.
Destinasi danau yang berbatasan dengan negara lain, ditambah pemandangan bunga juga keindahannya membuat setiap pengunjung tak menyesal mendatanginya.
“Aku ke toilet dulu,” pamit laki-laki bertopi merah.
Sang kakak tidak menjawabnya. Kecuali melirik sekilas dan memilih bersandar pada dinding dekat kursi tunggu antrean kereta. Sejenak ia terdiam menikmati keramaian di sekitar.
“Itu!” kagetnya. Matanya agak menyipit saat mendapati rupa tak asing berjalan di seberang. “Hei!” teriaknya tiba-tiba.
Atensi sosok yang dipanggil teralihkan. “Kamu—” Eldrey mengingat-ingat kembali sosoknya. “Yang aku tabrak di stasiun kan?”
__ADS_1
“Iya. Hai, makasih ya coklatnya. Padahal itu tidak di sengaja, tapi kamu sampai memberiku coklat.”
“Tidak masalah.” Wanita di depan Eldrey tertegun sejenak. Dua kata yang disuguhi senyuman tanpa sadar memaku fokus lawannya untuk diam. “Halo? Kamu baik-baik saja?” kalimatnya berhasil membuyarkan pandangan.
“Ah! Maafkan aku!” kaget sosok itu. Tanpa sadar ia tersihir saat melihat rupa putri Dempster. Tatapan tenang yang tampak cantik diselingi tahi lalat di bawah mata menambah daya tarik keturunan Betrand.
“Ayo, Kak!” Ajakan itu mengusik keduanya. Laki-laki yang baru datang agak terkejut menyaksikan sosok di depan kakaknya. “Mm? Kamu ... tunggu, kamu siapa? Apa sebelumnya kita pernah bertemu?”
“Hei! Sembarangan! Nona ini yang aku temui di stasiun sebelumnya. Dia tak sengaja menabrakku dan coklat yang kamu makan itu pemberiannya.”
Laki-laki itu mengangguk tanda mengerti. Namun raut berbeda ditampilkan Eldrey. Ia masih mencerna pertanyaan sebelumnya, karena memang seperti perkataan sang pemuda, wajahnya tak asing seperti pernah dilihatnya.
“Oh ya namamu siapa, Nona?”
“Kau!” heran wanita itu akan gerak cepat saudaranya. Dalam hatinya ia mengumpat, merasa yakin kalau adiknya sedang berusaha berkenalan dengan sosok cantik di depan mata.
“Maaf, sepertinya aku harus pergi. Aku terburu-buru,” balas Eldrey di luar perkiraan mereka.
Tapi belum sempat berbalik, cekalan di tangannya mengejutkan mereka. Tidak, lebih tepatnya dua perempuan karena laki-laki bertopi merah itulah pelakunya.
“Tunggu, aku belum tahu siapa namamu. Aku benar-benar merasa pernah bertemu denganmu.”
Tiba-tiba Eldrey berdecak kasar. Ia tepis pelan genggaman itu dengan raut wajah kurang bersahabat.
“Eldrey, salam kenal tuan muda Timmothy.”
Selesai mengatakannya kakak-beradik yang ditinggal putri Dempster terdiam. Butuh sejenak waktu bagi mereka untuk mencerna keadaan.
“Tunggu! Dia benar-benar mengenalmu?”
“Eldrey? Eldrey ... Eldrey ... Ah!” pekik sang pemuda.
“Sialan kau mengagetkanku.”
“Aku mengingatnya. Bukankah dia gadis itu? Dia adik temanku,” kagetnya setelah menyadari semuanya.
Tapi terlambat sosok tadi sudah tak tampak batang tubuhnya. Eldrey Brendania Dempster, dengan terburu-buru menyusuri jalanan pinggiran. Melewati tempat-tempat yang tak terlalu dipenuhi keramaian.
Dirinya terdiam, memandang lepas kejauhan. Pada ujung danau di sana, di mana negara lain berada.
__ADS_1