
Mereka yang berdiri di sekitar gadis itu terdiam melihat tangannya terangkat. Eldrey menyentuh salah satu kepala tersangka di depannya.
“Mata dibayar mata, karena itu nyawa juga menjadi bayarannya,” tangannya langsung turun ke saku jaketnya, mencoba untuk mengambil sesuatu di sana.
Sebuah pistol pun keluar dari dalamnya, membuat dua tersangka menatap ngeri ke arah gadis yang tak jelas arti ekspresinya.
“Jangan tembak organnya,” timpal Charlie tiba-tiba.
Eldrey tersenyum, tak mengacuhkan perkataan Charlie dan menempelkan ujung pistol ke kepala tersangka yang sudah merendahkannya.
“Ada pesan terakhir?”
Tersangka itu tersenyum sinis, membuka mulut dan melemparkan kata-kata kotor untuk didengar seorang gadis yang masih muda. “Selanjutnya kau, tunggu saja giliranmu dengan tenang,” ia pun terkekeh yang memekakan telinga.
Eldrey memiringkan wajah, “dengan senang hati,” ucapnya.
Tiba-tiba, “aagh! S-sakit!” erang seseorang. Tanpa aba-aba, sebuah timah panas ditanamkan ke kaki tersangka yang menjerit saat ini.
“K-kau!” tersangka yang dikira akan ditembak gadis itu menatap kaget padanya. Berpikir kalau dirinya yang akan dihabisi duluan, akan tetapi pistol ternyata diarahkan ke rekan sebelahnya.
Rintihan demi rintihan mengalir dari bibir salah satu tersangka, mendesis sakit akibat peluru jarak dekat yang disarangkan ke kaki.
“Aku akan tanya terakhir kalinya, siapa yang memerintahkan kalian? Memang benar hanya tunggu waktu saja sampai semua ketahuan.Tetapi jika kalian bicara, maka akan ada ampunan yang kuberikan,” ujar Eldrey penuh penekanan.
“Sampai mati jangan harap aku akan mengata-”
Hening, bunyi tembakan yang memecahkan suasana membungkam habis semuanya. Sekarang tak ada satu pun yang mampu bersuara kecuali bergidik ngeri menatap darah membasahi wajah dari salah satu tersangka.
Peluru kedua, ditembakkan tepat di pangkal hidung tersangka yang sebelumnya tertembak. Membuatnya tewas dengan darah mulai berjatuhan.
Salah satu tersangka yang dari tadi berani menggertak Eldrey sekarang menatapnya dengan pupil bergetar, merasakan sesuatu di ujung hatinya yang terdalam.
Eldrey menyentuh wajahnya sendiri, mengusap sedikit cipratan darah yang menempel di pipi. Menatap lekat tanpa ekspresi apa-apa, “selanjutnya giliranmu.”
“Heh! Dari tadi kau hanya menggertak saja, kalau memang mau membunuhku maka cepat lakukan!” hardiknya.
Eldrey tersenyum, ia mengarahkan pistol ke arah kepala tersangka yang sudah tak bernyawa bersimbah darah.
“Apa yang kau inginkan? Dia sudah mati!” teriak tersangka yang dari tadi hanya digertaknya.
Tembakan ketiga, peluru selanjutnya ditanamkan ke mata kanan tersangka yang sudah meregang nyawa.
“Nona!” pekik Charlie kaget karena tak mengira tembakan cepat dari gadis itu akan berakhir di mata.
Eldrey menggeser tangannya sekarang tepat ke arah mulut pria di hadapannya. Tubuh orang itu gemetaran, tampak napasnya mulai naik-turun dengan situasi yang akan di hadapinya.
“Bunuh saja aku, karena kau tak akan dapatkan jawaban apa pun.”
Eldrey masih diam tak menjawab, sekarang ketegangan suasana hanya bergantung di tangannya. Menanti tembakan selanjutnya akan diarahkan ke mana.
“Jangan tembak organnya!” tegas Charlie sekali lagi.
Sementara yang lain, tak satu pun ikut bersuara kecuali menontonnya. Sekarang hanya itu pilihan terbaik, agar tak jadi sasaran kegilaan sang putri.
“Membunuhmu?” Eldrey tersenyum. “Bukankah itu terlalu indah? Padahal aku sudah merancang permainan untukmu,” sindir Eldrey. Ia menarik tangannya, memainkan pistol yang tak jelas kapan meledaknya.
“Apa itu perintah para pejabat?” tanya Eldrey akhirnya.
Tapi ekspresi tanpa kaget tertera jelas di wajah tersangka yang masih bertahan. Eldrey tak mengalihkan pandangan dan masih fokus pada rupa di depannya.
“Apa kau punya anak?”
Tersangka itu terdiam, tak menjawab atau bereaksi apa-apa. Eldrey kembali melanjutkan ucapannya, “bagaimana rasanya melihat rekanmu mati tepat di depan matamu?”
Sang tersangka akhirnya mengangkat wajah dengan ekspresi penuh amarah yang terlihat jelas.
Eldrey menyeringai, “rupanya keluargamu ada di negara ini ya.”
“Apa maksudmu!” teriak tersangka itu dengan lantangnya. Matanya mulai memerah dengan guratan emosi tertoreh jelas di sana. Sementara yang lainnya, menatap penuh penasaran dengan maksud ucapan dari sang gadis.
“Tebakanku benar ya?” seringai Eldrey semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
Pria itu langsung menggertakkan gigi karena perkataan Eldrey yang benar-benar di luar prediksinya.
“Apa pelakunya saingan keluargaku?”
“Kau menjebakku?” gumam tersangka itu tiba-tiba dengan mengabaikan pertanyaan Eldrey. Tampak ekspresi syok terlukis jelas di wajahnya.
“Hanya menunggu waktu sampai semuanya jelas. Aku akan menghabisimu, dimulai dari keluargamu,” lirih Eldrey mengedarkan pandangannya.
“Jangan pikir kau bisa menggertakku!”
Eldrey memalingkan wajah kembali memandangnya, “Charlie, urus penangkapan keluarganya, aku sudah tak sabar ingin memulai eksekusi mereka.”
“Kau sudah tahu pelakunya?”
“Ya. Dari awal,” gadis cantik itu menyeringai mengerikan.
“Bohong! Kau tak mungkin mengetahuinya!” sergah tersangka yang kaget mendengarnya.
“Terserah apa tanggapanmu. Ah! Benar juga, bukankah sebelum melakukan sesuatu kita harus izin dulu? Kalau begitu aku ingin meminta izin darimu, atas penjualan organ anak dan juga istrimu. Tenang saja, kami akan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya,” Eldrey pun berbalik hendak meninggalkan mereka.
“Kepar*t! Sampai mati aku takkan pernah mengampunimu! Sedikit saja kau menyentuh keluargaku, akan kupastikan untuk menghabisi kalian semua!”
Eldrey menghentikan langkahnya, memutar sedikit tubuh, menyorot tersangka yang marah lewat sudut matanya. “Memangnya apa yang bisa kau lakukan?”
Dada tersangka itu naik-turun mendengarnya.
“Kalian salah pilih lawan. Aku sudah memperingatkanmu, jika jujur maka kalian akan menerima ampunan.” Selesai mengatakannya, Eldrey pun pergi meninggalkan mereka.
Langkahnya terhenti di ruang tamu diikuti Charlie, “tak kusangka kau sudah menemukan pelakunya di saat tak ada jejak yang ditinggalkan.”
Eldrey menoleh mendengar ucapannya, “hubungi Roma, aku ingin bicara dengannya,” perintahnya.
“Baiklah.”
Tak butuh waktu lama, sekretaris Roma pun langsung mengangkat panggilan, “ini,” Charlie menyodorkan ponselnya pada Eldrey.
“Nona? Ada apa?” tanya orang itu saat menyadari kalau Eldrey yang memegang ponsel sekarang.
“Tarik seluruh saham di negara ini.”
“Nona! Apa maksudmu?” potong Charlie tiba-tiba. Kalimatnya bisa terdengar jelas oleh sekretaris Roma.
“Lakukan saja.” Eldrey lalu memutus panggilan.
Charlie menatap tajam ke arahnya, “Apa yang kau rencanakan? Kita tak bisa menarik saham seenaknya tanpa persetujuan presdir.”
“Dia terbaring tanpa bisa apa-apa. Setuju atau tidak, hal ini tetap harus dilakukan.”
“Apa sebenarnya tujuanmu?”
“Pembersihan,” lirih Eldrey singkat yang membuat Charlie terdiam beberapa detik.
“Ayo ke rumah sakit, para luwak tua pasti akan ke sana,” ajaknya.
Tanpa buang-buang waktu lagi, mereka berdua akhirnya pergi ke rumah sakit. “Jadi siapa pelakunya?”
Eldrey tak menanggapi dan memilih menatap keluar jendela mobil. “Mau sampai kapan kau diam?!” Charlie mulai kesal dengan sikap putri bosnya.
“Aku bohong.”
“Apa?!”
“Aku sama sekali tidak tahu siapa pelakunya.”
“Kau-” Charlie masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. “Heh, jadi semua hanya gertakan?”
“Ya.”
“Termasuk dengan penarikan saham?”
“Tidak. Itu serius, kita tetap harus melakukannya. Bagaimanapun juga Betrand memiliki banyak musuh, jika ingin menarik semuanya keluar, maka inilah saatnya.”
__ADS_1
“Tak kusangka pemikiranmu senekat itu,” sindir Charlie padanya.
“Para bawahan bukan orang bodoh, tapi kita masih tak mampu menemukan bos yang menyerangku dan juga Betrand. Bukankah ini sangat menarik?”
“Ya, karena mereka sudah memutus ekor sebelum kita mendapatkan kakinya.”
Eldrey tersenyum, “Mereka tahu sistem kerja kita.”
“Jadi maksudmu ada pengkhianat?”
“Apa kau tak berpikir seperti itu?” Eldrey mengeluarkan pistol dari sakunya.
“Aku sudah menduga, walau kita sedang mengumpulkan buktinya.”
“Kita akan segera mendapatkannya.”
“Kau sangat yakin, apa karena instingmu?” Charlie masih tak mempercayainya.
“Aku bukan orang lunak seperti Betrand. Kau akan tahu begitu melihatnya.”
“Ya, karena aku sudah melihatnya,” Charlie menyeringai aneh. Mereka berdua pun sampai di rumah sakit di mana presdir Betrand dirawat.
Tampak sosok Reynald dan beberapa penjaga lain duduk di dekat kursi tunggu depan kamar.
“Nona, tuan,” sapa Reynald dan lainnya.
“Bagaimana keadaan ayahku?”
“Beliau masih belum sadar,” jelas Reynald dengan ekspresi bersalah.
Eldrey menghela napas kasar sambil memutar bola matanya menyapu pemandangan di depan. Ia menjatuhkan badan untuk duduk di kursi tunggu.
“Apa kau takkan menemuinya?” Charlie duduk di sampingnya.
“Apa gunanya? Lagi pula dia belum sadar.”
“Setidaknya kau bisa memastikan bagaimana keadaan ayahmu.”
Tanpa membalas perkataan Charlie, Eldrey pun beranjak dari duduknya dan memasuki ruang rawat.
Sekitar semenit ia diam di dekat pintu yang sudah ditutup. Menatap ke sosok sang ayah dalam keadaan terbaring tak bergerak.
Sorot matanya fokus menatap wajah presdir Betrand, namun pikirannya entah berada di mana. Ekspresi datar tanpa kesedihan terlukis jelas di sana, mencoba menjelaskan kalau ia tak merasakan apa pun saat melihatnya.
Eldrey akhirnya membuka pintu dan keluar tanpa terlebih dahulu mendekat pada presdir Betrand yang tampak terlelap di matanya.
“Bagaimana?” tanya Charlie.
Tapi belum sempat Eldrey membuka mulutnya, langkah kaki dari beberapa orang yang cukup mencolok bunyinya mengganggu pandangan mereka.
Dialah keluarga Gates, kediaman asal yang mendarah daging di tubuh presdir Betrand. Tampak sosok sang ibu, ayah, kakak, kakak ipar beserta keponakannya datang untuk melihat keadaannya.
“Eldrey!” Nenek itu memeluknya erat sambil beruraian air mata.
Gadis muda itu membalas pelukannya, tak menampilkan ekspresi apa pun pada mereka semua.
“Bagaimana kondisi anakku?” tanya wanita tua yang sedang memeluknya. Diiringi isak tangis yang bisa terdengar jelas oleh Eldrey di dekat telinga.
Eldrey tak menjawab, kecuali melepaskan pelukan dengan pelan. Sang nenek yang melihat ekspresi datarnya menutup mulut lalu beralih menatap pintu ruangan dengan ekspresi sendu.
“A-apa putraku di sana?” tanyanya.
Charlie mengangguk padanya, tanpa buang waktu wanita itu masuk ke ruangan diiringi suaminya.
Sementara sang kakak presdir Betrand beserta istrinya, menatap Eldrey dengan ekspresi penuh kekhawatiran. Mencoba menenangkannya, agar dia bisa kuat menerima apa yang menimpa ayahnya.
“Eldrey, kamu yang tabah ya. Ayahmu pasti akan baik-baik saja,” ucap nyonya Amelia.
“Mmm.”
“Tenang saja, adikku itu kuat. Jadi jangan cemas,” tuan Bill menenangkan keponakannya. Nyonya Amelia pun tersenyum mendengar ucapan suaminya.
__ADS_1
Tapi suasana mulai berubah saat tuan Bill mendengar dering ponselnya mengganggu mereka. Ia menjauh untuk menerima panggilan itu.
Sementara Lily, sepupu Eldrey yang dari tadi tak bicara, memandang gadis itu dan menyentuh bahunya. “Semua akan baik-baik saja, kami di sini bersamamu,” lirihnya pada Eldrey lalu memeluknya.