
Sekitar 13 menit menempuh perjalanan, Kevin akhirnya sampai di kediaman Henry. Di mana pagar rumah itu terbuka lebar di depan matanya.
Sementara di kamar, Henry tampak sedang berguling-guling tak karuan di ranjangnya. Ini pertama kalinya ia membawa seorang gadis muda ke rumah. Apalagi yang cantik seperti itu.
“Sialan! Apa yang harus kulakukan? Tak mungkin aku melakukannya secara tiba-tiba!” gerutunya bingung.
Tiba-tiba, pintu kamar pun terbuka dengan kasarnya, membuat Henry memamerkan tampang kaget luar biasa.
“Kau! Kevin?! Sedang apa kau di sini?!”
“Kau sendiri? Bukankah kau sedang bersama wanita?”
“Wanita? Aah, ayolah teman. Begitu penasarannya dirimu dengan desahannya sampai-sampai datang kemari?” oceh Henry tanpa tahu arti kedatangan Kevin.
“Hah ... Steven benar-benar keterlaluan, mengajakmu menggagalkan rencanaku,” lanjut Henry menggerutu menyebut nama teman yang menghubunginya tadi.
Sementara di dalam kamar, Eldrey menatap pistol yang tadinya tersimpan di saku jaketnya. Samar-samar, terdengar suara berisik dari kamar sebelah. Tanpa diharapkan, perutnya pun berbunyi, mengingat ia belum makan apa pun sejak tadi.
Dengan rambut yang masih basah, ia keluar kamar hendak meminta sesuatu dari pemuda tadi. Suara berisik masih terdengar jelas dari tempat yang dituju, namun ia tak peduli karena bukan urusannya.
Gadis itu mengetuk pintu kamar yang setengah terbuka, membuat ocehan kedua pemuda terhenti. Dengan sigap Henry pun berlari ke arah pintu dan Kevin membalik tubuhnya karena penasaran pada tamu di luar kamar.
“Hai, ada apa?”
“Aku la-” ucapan gadis itu terhenti begitu melihat sosok yang muncul tiba-tiba di belakang Henry.
“Eldrey? Sedang apa kamu di sini?” Kevin memecah suasana mereka.
Henry menatap kaget pada temannya yang berbicara. Gadis itu tak menjawab kecuali memiringkan wajahnya dengan ekspresi datar yang selalu terasa menyebalkan bagi Kevin.
“Kalian saling kenal?” tanya Henry.
Eldrey tak mengacuhkannya, “sepertinya aku mengganggu kalian. Kalau begitu aku akan pergi,” lirih Eldrey berbalik meninggalkan mereka.
“Eldrey!” panggil Kevin sambil mengejar dan meraih tangannya. “Kenapa kamu bisa ada di sini?”
“Bukan urusanmu,” Eldrey melepaskan pegangan Kevin dan pergi ke kamar. Kevin dan Henry juga mengikutinya. Tampak gadis itu mengambil jaketnya yang berada di atas ranjang.
Ia berbalik dan tampaklah Kevin dan juga Henry di depan pintu. “Terima kasih karena sudah mengizinkanku sebentar di sini. Ah ... terima kasih juga bajunya, aku pasti akan menggantinya,” jelas Eldrey pada Henry sambil pergi melewati mereka berdua.
“Hah? Apa maksud-”
Kalimat Henry pun terpotong, karena Kevin sudah beralih arah meninggalkan temannya yang masih menatap heran dan tenggelam dalam pikirannya.
“Eldrey!” panggil Kevin mengejar gadis yang menuruni tangga itu.
Gadis itu masih tak bersikap peduli sampai akhirnya Kevin berhasil mengejar langkahnya. “Kenapa kamu ada di sini?”
“Dan kenapa kau ingin tahu? Ini bukan urusanmu,” tegas Eldrey sambil tetap berlalu.
Henry juga ikut mengejar karena ia penasaran apa hubungan antar Kevin dan si gadis cantik.
“Hei!” cegat Henry. “Jika kamu tak punya tempat menginap, kamu bisa tinggal di sini. Itu lebih baik daripada kamu pulang dan disiksa,” ucap Henry menghentikan langkah keduanya.
“Disiksa?” gumam Kevin menatap Eldrey.
“Aku tidak tahu apa hubunganmu dengan Kevin. Tapi, bukankah lebih baik kamu tetap di sini? Dengan begitu orang tuamu takkan menyiksamu lagi,” ajak Henry.
Kevin memandang tak percaya dengan ocehan yang dilontarkan temannya. Keningnya pun berkerut bingung atas omong kosong yang baru didengarnya.
“Aku bohong. Jadi aku akan pergi,” Eldrey berpaling tak peduli dengan tanggapan kedua pemuda itu.
“Hah?” gumam Henry tak percaya karena gadis itu berlalu begitu saja.
Kevin pun pergi menuju mobilnya. Akan tetapi, saat ia akan melajukan mobil Henry malah menghalanginya.
“Tunggu! Kamu mau ke mana?”
“Pergi.”
“Kamu ada hubungan apa dengan gadis itu?!”
Kevin terdiam sejenak, “aku mengenalnya jauh lebih baik darimu,” jelas Kevin lalu mengendarai mobil meninggalkan kediaman Henry.
Beberapa saat kemudian, mobil pun terhenti tepat di depan Eldrey dan menghentikan langkahnya. Kevin turun dari mobil dan menghampirinya.
“Kamu mau ke mana?”
Eldrey menatap datar wajahnya, “apa kita ada urusan?”
Kevin terdiam mendengar perkataannya. Ia bingung harus menjawab apa, karena mereka tak ada urusan dan Kevin hanya mencoba menghentikannya untuk bersama Henry yang merupakan buaya di antara para wanita.
“Apa?” Eldrey masih tak melepaskan pandangannya.
Kevin pun menjadi risih sendiri karena tak menemukan jawaban yang pas untuk pertanyaan Eldrey.
“Kamu menyukaiku?” spontan kalimat itu meluncur keluar dari bibir Eldrey.
“Apa!”
“Tidak?”
“Itu-” Kevin tak percaya kalau gadis itu akan mengucapkan sesuatu tanpa basa-basi.
“Jika tak ada keperluan aku pergi saja,” jelas Eldrey.
Gadis berjalan semakin menjauh membuat Kevin tak bisa berkata-kata. Ia tak harus menjawab apa atas pertanyaan Eldrey, karena ia bertindak tanpa berpikir dulu.
“Aah!” decak Kevin. Ia masuk mobil dan mengejar Eldrey kembali.
__ADS_1
“Eldrey!” panggilnya. “Kamu mau pulang? Kalau iya aku antar.”
Eldrey menoleh padanya, lalu melirik ke belakang mobil yang berjarak cukup jauh darinya. “Baiklah,” ia menyetujuinya dan masuk ke mobil itu.
“Kenapa kamu bisa bersama Henry?” tanya Kevin memulai percakapan.
“Kenapa ya?” gadis itu bergumam bingung yang mengundang tatapan aneh dari Kevin.
“Katanya kamu mau menginap di rumahnya?”
“Mmm ... iya.”
“Kamu lagi ada masalah?”
“Tidak juga,” jawab Eldrey. Semua pertanyaan Kevin dibalas santai olehnya. Ia menjawab apa pun tanpa beban, membuat Kevin jadi bingung dengan dirinya.
“Kamu sudah lama kenal Henry?”
“Aku baru mengenalnya tadi.”
“Lalu? Kamu akan menginap di rumah orang yang baru pertama kali kamu temui?”
“Begitulah.”
“Apa kamu tidak berpikir kalau sesuatu yang tidak-tidak bisa saja terjadi padamu?”
Eldrey berpaling ke arahnya. “Apa yang kau bicarakan? Aku hanya akan menginap bukan melayaninya. Apa laki-laki memang berpikir serendah itu?”
Kevin terbungkam, ia tak menyangka Eldrey akan mengatakan itu. Ia tak menjawab dan memilih fokus ke depan mengendarai mobilnya.
Akan tetapi, Eldrey masih menatap lekat dirinya, sampai akhirnya getaran dari ponsel mengalihkan perhatian.
“Halo?” jawab Eldrey begitu mengangkat panggilan.
“Di mana kau?”
“Di jalan.”
“Apa yang kau lakukan pada bawahanku?” tanya Charlie dengan nada jengkel.
(Bahasa Rusia) “Ada yang ingin kupastikan. Aku sudah selesai, suruh bawahanmu kembali dengan mobil Reynald. Kunci ada di mobil itu.”
Charlie terdiam sejenak karena gadis itu sekarang memakai bahasa Rusia. Tak hanya dirinya, bahkan Kevin yang berada di samping Eldrey juga memasang wajah kaget dengan bahasa Eldrey.
(Bahasa Rusia) “Ada apa?” tanya Charlie dengan bahasa yang sama.
(Bahasa Rusia) “Ingat bawahan Bill yang pernah ke rumah? Dia mengikutiku. Sekarang aku sedang di jalan pulang. Sepertinya mereka hanya ingin mengintaiku.”
(Bahasa Rusia) “Baiklah, kau dengan siapa?”
“Kevin,” jelas Eldrey memutus panggilan.
Kevin pun meliriknya, “sepertinya itu pembicaraan yang penting.”
Keduanya pun sampai di depan gerbang rumah Eldrey. “Terima kasih sudah mengantarku. Kapan-kapan aku pasti akan mentraktirmu,” ucap Eldrey keluar dari mobil dan langsung pergi.
Sementara, mata Kevin masih tak beralih menatap punggung sang gadis yang pergi begitu saja meninggalkannya. Tak ada tawaran untuk mampir, Kevin benar-benar hanya menjadi supir sesaatnya.
“Rambutnya masih basah,” gumam Kevin memandangnya dan akhirnya pergi dari depan kediaman itu.
“Apa-apaan dandananmu itu?” cela Charlie mengikuti langkahnya.
“Di mana presdir?” Eldrey mengabaikannya.
“Di kamar utama,” sahut Charlie. Langkah gadis itu berlalu ke kamar yang disebutkan tanpa menanggapi pertanyaan terlontar ke dirinya.
Begitu pintu dibuka, tampak sosok sang ayah terbaring dengan alat-alat terpasang ke tubuh untuk menjaga kondisinya yang lemah dan terluka agar tetap bertahan.
Eldrey mendekat, ditatapnya wajah presdir Betrand yang terlelap tak bergerak. Cukup lama ia memandang diam, menimbulkan suara Charlie memecah suasana sekitarnya.
“Pelakunya sudah ditemukan.”
Eldrey berpaling, “benarkah? Siapa?”
Charlie mendekat dan membisikkan sesuatu padanya. Akan tetapi, raut wajah Eldrey tak berubah begitu mendengar nama kotor yang sudah menyerang dirinya dan juga ayahnya.
“Orang yang sama?”
“Ya,” Charlie mengedarkan pandangan.
“Cukup mengejutkan, tapi jika bukan karena jejak bersih yang mereka tinggalkan, Rudan pasti sudah sangat kesulitan melacaknya. Untunglah, karena ia berhasil melacak jejak pembelian senjata dan mobil orang itu,” jelas Charlie.
Eldrey melirik kembali presdir Betrand, ia menyentuh poni sang ayah dan merapikannya.
“Nona?”
“Beri Rudan hadiah atas kerja kerasnya. Dua hari lagi kuliahku akan dimulai, aku sudah lelah jika harus berurusan dengan kekacauan ini,” ujar Eldrey melepaskan tangannya dan keluar kamar.
“Nona.”
“Ada apa lagi?” Eldrey memandang Charlie yang berekspresi ragu-ragu.
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Dia keluarga, walaupun aku ingin membunuhnya, tapi itu cukup sulit jika harus berhadapan dengan Betrand. Kita tunggu waktu yang tepat saja.”
“Bagaimana dengan saham yang sudah ditarik?”
“Biarkan saja. Tak perlu ada kasihan dalam berbisnis,” Eldrey pun berlalu ke kamarnya.
__ADS_1
Langkah kaki seseorang pun mendekati Charlie yang masih menatap udara kosong di mana Eldrey sempat berdiri tadi.
“Tuan? Ada apa?” pertanyaan Roma membuyarkan lamunannya.
“Roma? Kamu sudah pulang?”
“Ya.”
“Bagaimana harimu?” tanya Charlie dengan sedikit tersenyum.
“Buruk.”
“Benarkah?”
“Para pemimpin tak henti-hentinya menghubungiku. Mereka masih tak terima karena aku menarik saham dari perusahaan mereka.”
“Bagaimana lagi, itu perintah atasan.”
“Sepertinya anda menyetujui keputusan nona.”
“Aku hanya mengikuti perintah atasan.”
“Walau bertindak di saat presdir sedang terbaring tak berdaya?”
Charlie melirik sekretaris Roma lewat sudut matanya. “Nona putrinya dan itu berarti dia atasan kita. Walau begitu, kemampuannya dalam mengelola bisnis secara mendadak sangat luar biasa.”
“Bahkan jika kondisinya seperti itu?”
Charlie terdiam sejenak, “apakah di matamu dia terlihat gila?”
Sekretaris Roma tak menjawabnya. Charlie pun melanjutkan kembali ucapannya.
“Menyiksa teman di usia anak-anak, membunuh pembully dan membakar mayat beserta sekolahnya. Meracuni simpanan ayahnya, mencoba membunuh ayah dan bawahannya, membunuh psikolog yang menyebutnya gila. Mencoba melakukan bunuh diri, ah iya apalagi?” Charlie menempelkan tangan kanan ke dagunya.
“Benar juga, tindakan kriminalnya baru-baru ini, apa mungkin dia gila ya?” Charlie terkekeh.
“Ini bukan lelucon, dia masih belum sembuh benar,” tegas sekretaris Roma. “Bahkan jika ada masa di mana dia bersikap normal, tapi kita tak bisa menutup mata jika dia tiba-tiba bersikap tak karuan.”
“Kau benar.”
“Karena itu kita ha-” sekretaris Roma tak melanjutkan ucapannya, karena ekspresi Charlie yang berubah dingin menatapnya.
“Jangan mengekangnya. Dia bukan binatang, kalian yang lahir dari keluarga penuh kasih sayang memangnya tahu apa?” tukas Charlie pergi meninggalkan sekretaris Roma.
Laki-laki itu terdiam tak berkutik mendengar sesuatu yang menusuk batinnya. Perkataan Charlie tertelan kesunyian, namun meninggalkan jejak besar yang mengudara.
Ternyata, kalimat itu tak hanya ditujukan pada sekretaris Roma tapi juga orang-orang di belakangnya.
Rupanya Rondolf dan beberapa pelayan serta pengawal Betrand mendengar pembicaraan itu. Mereka tak ada yang bergerak kecuali terdiam di posisi masing-masing.
Sementara di dalam kamar, Eldrey merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia menatap kosong ke langit-langit kamar, membiarkan ruangan itu gelap tanpa lampu dan bergantung pada cahaya malam dari arah balkon.
Tanpa banyak bergerak, ia menutup mata. Membiarkan tidur menyelimuti diri yang penuh kelelahan itu.
Esok harinya, panggilan tak terduga justru kembali menghubungi Charlie. Wajahnya tampak gusar, menatap panggilan yang sudah dua kali mendatanginya.
“Halo?” sapa Charlie begitu panggilan terangkat.
“Tuan Charlie, apa saya bisa bertemu dengan Betrand? Saya hanya ingin melihat keadaannya. Saya mohon,” pintanya.
Kemarin, panggilan itu cuma diangkat sebentar Charlie karena kepulangan Eldrey mengganggunya.
Tapi sekarang, sebelum sarapan panggilan itu kembali mengganggunya, membuatnya bingung harus bersikap seperti apa.
“Tuan Charlie?” wanita itu kembali memanggilnya karena Charlie tak kunjung menjawab.
“Saya tak masalah jika anda ingin menemui tuan. Tapi, saya tak bisa melakukannya jika tak ada izin dari nona. Maafkan saya Nyonya,” jelas Charlie pada lawan bicaranya itu.
“Kalau begitu izinkan aku untuk bicara dengan Eldrey. Tidak, izinkan aku untuk bertemu dengannya. Aku mohon, biarkan aku bertemu dengannya,” wanita itu memohon sambil terisak-isak.
“Baiklah nyonya. Saya akan berusaha membantu sebisanya,” ucap Charlie hendak menenangkan wanita itu.
“Terima kasih. Terima kasih banyak tuan, terima kasih,” secercah nada senang terpancar dari ucapannya.
Waktu terus berlanjut, tetapi Eldrey masih belum turun untuk sarapan. Ia tampak duduk di lantai sambil bersandar ke tepi ranjangnya.
Rambutnya basah, dengan mata yang menatap layar televisi besar di kamar itu. Sebuah film terputar di sana, mengisahkan tentang seorang anak lelaki pengurung diri mencintai seorang gadis yang baru datang ke kehidupannya.
Sesekali Eldrey menonton sambil menatap cermin kecil yang terpegang di tangannya. Mencoba untuk mengikuti ekspresi yang ditampilkan sang artis figuran.
Bermacam-macam ekspresi ditirukan Eldrey. Mulai dari tertawa, tersenyum, dan sedih. Akan tetapi, ia cukup kesulitan meniru ekspresi sedih karena air matanya tak kunjung keluar.
Aktivitas itu lumayan sering ia lakukan, karena gadis itu tak bisa menampilkan ekspresi dengan benar. Akibat trauma masa lalu, kemampuan Eldrey dalam berekspresi menurun sehingga ia hanya bisa menampilkan wajah datar di rupanya.
Berbagai macam ekspresi mulai ia pelajari semenjak menonton film. Setidaknya itu cukup membantunya dalam belajar mengenai emosi.
Sekalipun sadar akan rasa marah, Eldrey tak bisa menampilkan rupanya dengan benar. Terkadang itu membuatnya bisa mengubah emosi secara tiba-tiba.
Dan hal itu sering disalah artikan orang-orang sekitarnya. Terkadang mereka mengira musibah yang di hadapi Eldrey tak menimbulkan rasa sedihnya. Bukan tak ada hanya ia tak bisa, tanpa alasan jelas gadis itu tidak bisa menangisi keadaannya.
Tak terasa, langkah kaki seorang wanita dan laki memasuki halaman rumah presdir Betrand. Mereka tampak gugup dan memandang berkeliling.
Tak ada penjaga gerbang di sana, karena orang itu sedang pergi ke kamar mandi. Tanpa menuruti rasa ragu, mereka berdua tetap melangkah masuk menuju pintu utama kediaman itu.
“Permisi,” ucap yang wanita dengan keringat dingin turun ke pipi. Tangannya basah, merasakan gugup teramat dalam akan penghuni yang sebentar lagi ditemuinya.
“Selamat datang,” sapa seorang pelayan. “Ada yang bisa dibantu nyonya?” tanyanya sopan di dekat pintu masuk.
“Siapa?” tanya sebuah suara berjalan mendekat. Ia tertegun melihat kedua tamu yang hendak berkunjung itu.
__ADS_1
“Nyonya?” Rondolf menatap kaget sosok wanita yang berdiri di depan mata.
“Tuan Rondolf, aku ....”