FORGIVE ME

FORGIVE ME
Pesan terakhir


__ADS_3

“K-kakak? A-apa yang terjadi?” Paul terisak lalu menggenggam tangan kakaknya. “K-kak, bangun Kak,” sambil menggoyang-goyangkan bahunya. Tapi tak ada jawaban, darah telah mengalir deras dari jejak goresan yang bukan cuma satu di lengan kanannya. Membasahi lantai sebagaimana mestinya.


Sambil melirik penampakan mayat tiga pria dan juga seorang gadis muda tak sadarkan diri di ujung sana, Paul pun kembali menatap kakaknya. Akhirnya, ia hanya bisa meraung keras dengan menyandarkan kepala pada bahu Patricia.


Begitu keras lirihan sendunya, menyayat hati para pendengar dengan sangat iba. Dan seorang laki-laki muda pun datang ke sana bersama dengan para pengawalnya. Menatap tak percaya kalau ini benar-benar terjadi di Club miliknya.


Pandangan diedarkan memperhatikan mayat-mayat pelanggannya. “Pindahkan mereka dan bawa dia ke ruang tunggu untuk menenangkan dirinya,” perintahnya pada beberapa penjaga di sekitarnya. Dirinya pun memainkan mata ke arah bar waiter dan juga penari striptis yang merasakan kesedihan.


Sebagai tanda, kalau informasi ini tidak boleh sampai ke dunia luar.


“Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?” kalimat pertama sang owner Club saat ia baru memasuki ruang kerjanya.


“Aku sudah hubungi Charlie. Dia dan Roma yang akan menanganinya,” jelas gadis itu. Terlihat dirinya sedang bersandar ke meja kerja.


Sosok pemilik tempat tersebut pun mendekatinya. Menyentuh darah kering dari pipi gadis yang terluka. “Apa yang terjadi?”


“Apa harus kuceritakan?” Eldrey balik bertanya.


“Katakan padaku. Agar aku juga bisa membereskannya.”


Eldrey pun menyeringai dibuatnya.


Sementara itu Paul, di ruang tunggu para karyawan masih dalam keadaan terisak-isak. Menggenggam kalung dan ponsel milik salah satu pria penyiksa yang digunakan kakaknya untuk mengirim pesan padanya.


Jenazah Patricia telah dipindahkan tanpa diketahui para pelanggan di dalam Club. Mengingat area sayap kiri tempat gadis itu disiksa, hanya diisi oleh empat jenis pelanggan di bagian sana.


Pelanggan pertama yang bertransaksi obat-obatan dan sudah meninggalkan tempatnya dari tadi.


Kedua, pelanggan muda dengan gaya hedonis dalam hidupnya.


Ketiga, putri Dempster yang menjadikan salah satu kamar paling ujung di seberang sana sebagai tempat peristirahatannya.

__ADS_1


Dan keempat, ruang VIP yang dipakai tiga pria dalam melecehkan korban-korbannya. Dan juga, sebagai tempat di mana gadis muda yang baru memulai debutnya sebagai penari striptis mati bunuh diri.


Di balik wajah basah dan menyedihkan Paul, tangannya pun perlahan memainkan ponsel yang tak bersandi di genggaman. Terdiam saat melihat aplikasi rekaman terpampang nyata begitu ponsel dinyalakan.  


Ditekannya, karena ada durasi rekaman tersimpan di dalam sana. Perlahan, alunan kesedihan dari seorang gadis terisak bersenandung di pendengaran.


“Ini menyakitkan. Aku yang ingin bekerja untuk membantu keluargaku, dihancurkan sampai seperti ini. Kenapa pamanku tega menyiksaku dan menyeretku pada tiga keparat itu? Laki-laki brengsek yang sudah merusak kehormatanku. Mereka merendahkanku. Memperkosaku tanpa iba sedikit pun. Aku seperti binatang di mata mereka, juga sampah untuk n*fsu-n*fsu bejatnya. Aku salah apa sampai diperlakukan seperti ini?”


“Aku kesakitan. Aku sudah hancur tak bersisa. Masa depanku direnggut seolah bukan apa-apa. Siapa yang bisa kusalahkan sekarang? Keluargaku yang hancur? Pekerjaanku yang kupilih? Atau adikku yang menghilang? Siapa yang bisa kusalahkan sekarang?!”


“Jadi, apakah ini karma?! Karmaku karena sudah membiarkannya?! Aku membencinya! Aku begitu membencinya, dia melihatku dan membunuh para keparat itu tepat di depan mataku. Apakah aku harus bahagia?! Apa aku harus tertawa melihatnya berlumuran darah pria bejat itu?!”


“Apakah ini karmaku karena membiarkannya tersiksa dulu? Jadi, apa ini semua benar-benar salahku?! Apa ini benar-benar salahku, Eldrey? Bukankah kamu temanku? Padahal aku sangat menyayangimu. Kamu sudah seperti adikku, jadi kenapa dulu aku bersikap begitu?! Apa sekarang, semua ini benar-benar salahku?! Ataukah ini salahmu?! Kenapa kamu melakukan ini padaku? Jawab aku Eldrey, jawab!”


“Jadi kenapa, aku memalingkan wajahku dulu?”


Hening pun berlalu di dalam rekaman. Bahkan jika sisa durasinya masih ada, tapi tak lagi terdengar apa-apa.


“Paul, kakak minta maaf karena sudah mengabaikan peringatanmu. Andai kakak mendengarkanmu, maka semua mungkin tidak akan menjadi seperti ini.”


Begitulah lanjutan isi rekaman. Sekarang isak tangis begitu keras terus berkumandang di dalam sana.


“Paul, kakak minta maaf karena harus pergi meninggalkanmu. Kakak tidak sanggup lagi menjalani semua ini. Terlalu menyakitkan bagiku, begitu kotor dan hina. Kakak mohon, tolong jangan hidup seperti para bajingan ini. Tetaplah hidup dengan membanggakan adikku, karena bagaimanapun kakak akan selalu menyayangimu.”


Akhirnya, raungan keras pecah dari bibir sang pemuda. Setelah tadi ia tahan-tahan, namun tak terbendung juga. Alexa merasa bersalah di balik pintu. Begitu iba pada sosok yang merasakan kehilangan.


Tapi, kata selanjutnya benar-benar di luar perkiraan laki-laki itu.


“Eldrey, memang seperti katamu. Aku bisa memilih, dan aku memilih menghilang sepenuhnya tanpa tahu respons semuanya. Aku berdoa, bila aku mati, semoga aku bisa mendatangi dirimu. Menghantuimu, agar kamu tahu bagaimana rasanya kehilangan diriku.”


Tawa pelan lalu berkumandang dari bibir gadis yang meninggalkan pesan. Jujur Paul sangat syok mendengar lirihan kata Patricia. Masih mencoba memahami, kenapa kakaknya mengucapkan hal-hal seperti itu. 

__ADS_1


“Aku tidak akan meminta maaf padamu. Tapi, terima kasih sudah membunuh keparat itu untukku.”


Dan durasi rekaman telah habis. Paul masih tak percaya jika kakaknya melakukan semua ini. Dirinya benar-benar merasa bersalah. Telah meninggalkan kakaknya dan pergi dengan wanita lain. Andai ia tak melakukan itu, bukankah Kakaknya akan baik-baik saja?


Sekarang, posisinya jatuh terduduk di lantai dan bersandar ke dinding. Meraung keras diiringi tangan memegang kepala frustasi. Kakaknya telah mati. Patricia telah memilih pergi.


Dan nyanyian rekamannya masih di dengarkan Paul hingga saat ini. Setelah dua tahun berlalu dirinya masih belum bisa mengikhlaskan kepergian kakaknya.


Bahkan jika ganti rugi sudah diberikan. Pihak Club, membayar harga tinggi untuk kepergian kakaknya.


Mereka juga sudi melunasi seluruh hutang dan tanggungan, serta membantu mengembalikan semua aset keluarganya. Sebagai tanda maaf, atas kelalaian yang menimpa karyawan barunya.


Walaupun mungkin keluarga Paul tidak akan pernah tahu, jika harga mahal atas kematian kakaknya, separuh lebih bayarannya berasal dari Dempster. Eldrey, meminta ayahnya melakukan itu. Bukan karena kasihan, tapi sebagai hadiah atas kematian Patricia.


Baginya, teman di masa lalunya memang pantas mendapatkan itu.


Akhirnya, semburan air yang disiramkan membasahi lantai. Salah satu gadis terikat tersadar dari tidur berhias mimpinya. Badannya basah, dan sakit di bibir serta pipi agak menggelitiknya.


“Sudah sadar?” begitulah seringai Naomi menatap dirinya.


Eldrey hanya melirik dingin ke arahnya. Perlahan, terdengar rintihan dari suara seseorang. Membuatnya menoleh dan mendapati sumbernya.


Lily.


Babak belur di wajah. Ada darah mengalir di dahi serta mimisan menghiasi rintihannya. Wajah cantiknya ternoda akan siksaan teman yang dijebaknya.


Dan lain pula bagi Alice. Kedua pipinya memar, seperti bekas tamparan. Sudut bibirnya terluka, tak ada bedanya dengan Eldrey yang menatapnya.


“Kaget? Dia berisik sekali. Selalu menggangguku saat ingin menghajar Lily. Kalau begini, aku pun jadi tenang kan?” seringai Naomi sambil tangan mencengkeram pipi Alice. Tampaknya, gadis itu sedang pingsan.


“Jujur saja, aku sangat ingin menyiksamu. Tapi laki-laki itu menahanku. Menunggu waktu yang tepat untuk menghakimimu. Menurutmu, siksaan apa yang pantas bagimu?! Aku sangat ingin menghancurkanmu. Benar-benar ingin merusakmu!” hardiknya dan menjambak rambut Eldrey tanpa iba.

__ADS_1


Tapi, ini semua memang sangat menyebalkan. Bahkan jika diperlakukan seperti itu, putri Dempster tak mengerang sama sekali. Sorot matanya lebih mirip singa tenang. Mengintai mangsa, dalam pesakitan tak terucapnya.


__ADS_2