FORGIVE ME

FORGIVE ME
Tekanan Nyonya Camila


__ADS_3

Katakanlah.


Makan malam yang telah dilewati Betrand dengan gadis pilihan ayahnya, sangatlah hambar. Dia cantik di mata, namun tak mampu menyusup ke dalam rasa suka.


Lagi-lagi Raelianna Jin muncul di otaknya. Seperti bayang-bayang kejam yang ingin menghantuinya. Kenapa gadis itu begitu tega kepadanya?


Betrand jengkel dan mulai merancang strategi untuk mendapatkannya.


Hari-hari pun terus berlanjut. Cerah mendung silih berganti, beberapa musim saling datang dan pergi, akhirnya Betrand mampu mengusik perasaan sang pujaan hati.


Sikapnya yang keras kepala, terus berusaha meyakinkan Anna kalau dia hanyalah pemuda biasa dengan rasa cinta untuknya.


Bukan sekadar ingin menikmati visualnya, tapi sosoknya sungguh menjaga dan menjadikannya yang utama.


Betrand buta karenanya. Namun dia bukanlah laki-laki bajingan yang ingin menodainya.


“Besok, ulang tahun pernikahan orang tuaku. Apa kamu mau datang?”


Pertanyaan itu menyentak Anna. Cukup lama baginya untuk menjawabnya, dan perlahan senyuman yang tak terlalu membahagiakan merekah di bibirnya.


“Maafkan aku, Betrand. Tapi, kupikir aku tak pantas untuk itu.”


“Bisakah kamu berhenti merendah, Anna? Setelah semua, aku ingin kita berdua hidup bahagia.”


Jujur ini sangat membahagiakan. Memiliki seseorang yang benar-benar mencintai kita apa adanya. Bahkan jika pijakan terjarak oleh tangga besar, namun Betrand terus melewatinya. Menarik tangan Anna untuk naik ke atas sana.


“Tapi—”


“Aku sudah bilang kan? Aku ingin kita bersama. Aku akan berusaha, jadi tolong jangan lepaskan tanganku begitu saja, aku mohon,” ucapnya.


Dan akhirnya Anna luluh juga. Betrand sangat mencintainya, dan sepertinya dia juga harus berjuang untuk kelanjutan kisah mereka.


Keluarga Gates.


Bak bangsawan di dalam kota. Bisnis mereka bertebaran sampai menjamah kursi negara tetangga. Dan itu semua bukan hanya karena skill semata. Melainkan darah biru berupa kekayaan turun-temurun, juga ikut mengalir di dalam nadinya.


Pesta ulang tahun pernikahan Alex Damius Gates dan istrinya Camila Eliana Gates, benar-benar memukau setiap pasang mata.


Bak acara besar di istana zaman dahulu kala, tentu saja pesonanya menggetarkan hati dan pikiran Raelianna.


Dia yang berada di kasta berbeda, merasakan aneh setiap melihatnya. Canggung dan rendah diri berbisik pelan, mencoba menyadarkan siapa sosoknya.


Pantaskah dirinya bersanding dengan kekasih hatinya?

__ADS_1


Dan semua terjawab sudah.


Perkenalan yang dilakukan Betrand pada orang tua serta hadirin di sekitar, membungkam suasana. Jujur Anna kaget, saat ayah dan ibu kekasihnya menyambut dengan hangat dirinya.


Bertanya-tanya apakah ia sedang bermimpi atau semua memang realita di depan matanya.


Bisikan saling bersahutan, gosip-gosip dari bibir mereka yang tidak mau diam bermain di permukaan. Membicarakan dirinya dan juga Betrand.


Tapi, memang pemuda Gates namanya. Sosoknya tak peduli pandangan orang sekitar. Karena dia tak makan, dengan uang dari mulut para pengoceh yang tak tahu akan fakta sebenarnya.


Sebuah kenyataan kalau logika Betrand sudah mati karena sosok yang dicintainya. Sehingga melupakan istilah kasta di dalam hidupnya.


Sampai akhirnya, tamparan keras pun dilayangkan Ayahnya tepat setelah para hadirin tak lagi berada di sana.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Tuan Gates kepada putranya. Jujur Betrand terkesiap. Pipinya serasa kebas akan ulah ayahnya. Namun ia hanya diam tak bersuara. “Memperkenalkan gadis yang tak jelas asal usulnya sebagai pacarmu?! Kamu tidak lupa kan kalau kamu sudah dijodohkan?!”


“Ya, lalu? Ayah sendiri juga tahukan kalau aku tidak suka pada wanita itu? Aku kan sudah bilang kalau aku punya kekasih. Kenapa sekarang malah diperdebatkan?”


“Sepertinya, gadis tukang roti itu benar-benar sudah membuatmu buta.”


Sindiran yang tiba-tiba dilayangkan Bill pun sontak membuat Nyonya Camila dan suaminya tersentak.


“Tukang roti? Jadi Anna itu gadis miskin?!”


“Kalau bukan miskin lalu apa? Dia cuma perempuan modal beasiswa. Orangtuanya hanya pedagang roti pinggiran, jadi apalagi sebutan yang pantas untuknya kalau bukan itu?”


“Kak—”


Tapi, tamparan dari Nyonya Camila pun seketika memotong kalimat putranya.


“Dan kamu, berani memperkenalkan perempuan rendahan itu pada kami? Di pesta mewah tadi? Mau ditaruh di mana muka keluarga ini, Betrand! Bisa-bisanya kamu mempermalukan aku dan ayahmu dengan ulahmu itu! Otakmu di mana, Nak! Di mana!” murka ibunya.


Sungguh ia benar-benar marah akan sikap bodoh yang sudah dilakukan putranya.


“Apa salahnya dengan itu? Anna perempuan baik-baik, Bu. Dia bukan gadis yang buta harta seperti wanita lainnya. Seharusnya Ibu dan Ayah bersyukur karena aku bisa bersamanya.”


Wajah suami istri Gates pun bagai disiram air panas oleh ucapan anak keduanya.


“Bersyukur? Apa yang patut disyukuri, Betrand! Aku mengandungmu sembilan bulan bukan untuk berpasangan dengan gadis miskin seperti itu! Aku dan Ayahmu menyekolahmu tinggi-tinggi, bukan untuk berakhir dengan gadis rendahan itu! Sadar, Nak! Dia tak pantas untukmu! Bahkan menginjakkan kaki di sini dia juga tak punya standar untuk itu!”


Sungguh menyayat setiap untaian kata milik Nyonya Camila. Melukai hati Betrand sedikit banyaknya.


Kenapa orang tuanya harus bersikap seperti itu? Padahal Raelianna Jin yang dicintainya, gadis baik dan sempurna di pandangan.

__ADS_1


“Sekarang kembali ke kamarmu! Aku muak membahas ini denganmu! Dasar anak tidak tahu diri!” marah Nyonya Camila yang pergi meninggalkan mereka.


Dan begitu pula Tuan Gates. Dia memilih pergi untuk menyusul istrinya.


Tanpa terasa, tangan putra keduanya terkepal erat karena kejadian barusan.


“Jangan merasa sakit hati, Betrand. Lagi pula, kamu sudah tahu kalau orang seperti itu tak pantas bersanding di dalam keluarga kita. Yah, dia memang cantik. Jika kau ingin memakainya sebagai penghangat ranjang bergantian denganku, aku tak masalah.”


“Diam kau, brengsek!” marahnya sambil mencengkeram kerah baju kakaknya.


“Woah! Kenapa kau semarah ini? Sepertinya kau benar-benar sudah buta karenanya. Kalau begitu nikmati saja. Sampai sejauh mana hubungan kalian bisa bertahan,” sindir Bill sambil memamerkan tawa di akhir kata.


Benar-benar membuat murka sang pemuda Gates. Jika bukan karena kakaknya, Betrand pasti sudah menghajar Bill akibat kalimat kurang ajarnya. Begitu bajingan sosoknya di matanya.


Beberapa hari kemudian, Nyonya Camila mendatangi toko roti milik keluarga Raelianna. Memandang remeh pada hal-hal di sekitarnya.


Mengumpati kebodohan putranya dalam memilih seorang wanita.


“Bibi,” sambut senang Anna. Dihampirinya, dengan senyum semringah yang terpatri di bibirnya. “Ada apa Bibi kemari? Ayo duduk dulu.”


“Tak perlu basa-basi. Aku ingin bicara denganmu. Apa kau bisa ikut aku?”


Terdiam. Nadanya terkesan aneh dibandingkan pertemuan pertama mereka. Sudut hati Anna merasa tak beres mendengar irama suaranya.


Sejenak kemudian, “Baik, Bi. Tolong tunggu sebentar.”


Dan setelah berpamitan pada karyawan toko orang tuanya, Anna pun mengikuti langkah ibu dari kekasihnya. Memasuki mobil mewah yang menjadi kereta kuda Nyonya Camila.


“Bi—”


“Tinggalkan Betrand,” wanita itu memotong ucapan gadis itu tiba-tiba.


“Maksud Bibi?”


“Kau tuli? Jangan berhubungan lagi dengan anakku. Kau pikir kau pantas bersamanya? Betrand itu sudah dijodohkan!”


Tersentak. Serasa tersayat, baik pendengaran atau hati yang memendam perasaan. Perlahan, mata Anna memerah karena ucapan wanita di sampingnya. Mulai berkaca-kaca, walau belum meneteskan kristal bening untuk membanjiri pipinya.


“Kau pikir kalau kau menangis aku akan mengasihanimu? Apa kau tidak punya kaca di rumah? Seharusnya kau sadar siapa yang kau pacari itu! Gadis rendahan sepertimu, takkan pernah bisa bersanding dengan putraku! Jadi jangan harap aku akan setuju dengan hubungan kalian berdua. Atau aku akan buat kau menyesal karena sudah berani-beraninya menggoda putraku dengan lancangnya!”


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2