
“Kau, berani-beraninya kau membentakku ibumu karena wanita itu?!” marah Nyonya Camila sambil menunjuk Raelianna.
“Cukup, Bu. Cukup! Jika Ibu hanya ingin membuat masalah di sini, lebih baik Ibu pergi!”
Nyonya Gates serta Raelianna dan Evan terperangah mendengar pengusiran yang dilontarkan Presdir Betrand.
Tak disangka, kristal bening langsung berjatuhan di pipi wanita itu.
“Betrand, kamu—” dada Nyonya Gates mulai naik turun karenanya. Dirinya masih tak menyangka, putra yang ia besarkan akan memperlakukannya seperti itu. “Aku, Ibumu. Aku wanita yang mengandungmu, aku orang yang melahirkan dan membesarkanmu, dengan tega kamu perlakukan seperti itu?! Iya?! Kamu tega berbuat seperti ini padaku karena wanita itu?! Karena dia?! Karena perempuan miskin yang membuatmu berubah sampai seperti ini!” teriaknya.
Putranya terkesiap dan terdiam sekarang.
“Karena dia, Betrand! Karena dia kamu membangkang padaku! Karena dia kamu kehilangan hak warismu! Karena dia keluarga kita ditertawakan semuanya! Karena dia kamu sampai membuatku tak dihargai seperti ini! Semua karena dia Betrand! Karena dia!” marah Nyonya Camila yang terus-terusan menunjuk wajah menantunya.
Raelianna Jin yang diperlakukan seperti tersangka pun gemetaran tubuhnya. Tak bisa bergerak selain tertunduk dengan wajah berhiaskan air mata.
“Mana Betrandku yang dulu? Mana putraku yang dulu selalu mematuhi perintahku dan suamiku? Mana?! Jawab aku Betrand, mana!”
Sekarang hanya deru napas Nyonya Camila bersenandung di sana. Bersamaan dengan ocehan-ocehan penuh emosi yang dilontarkan olehnya.
“Gara-gara dia kau berubah seperti ini. Gara-gara dia kau menjauhi keluargamu sampai seperti ini! Di mana otakmu Betrand, di mana! Kau buta karena cinta! Kau dibutakan oleh perempuan tak tahu diri ini sampai-sampai kau lupa siapa keluargamu sesungguhnya! Aku ibumu, Betrand! Aku berdarah-darah untuk melahirkanmu ke dunia dan kau perlakukan aku seperti ini! Di mana otakmu sebagai anak Betrand, di mana! Jawab aku di mana!”
Terlihat rahang menegas di wajah kepala keluarga Dempster. Tangannya terkepal begitu erat, bersamaan dengan sosoknya yang tertunduk tak sekalipun melihat ibunya.
“Kubesarkan kau dengan kasih sayang. Kudidik kau dengan kemewahan! Kurang baik apalagi aku sebagai ibumu, Betrand! Kurang apa lagi aku padamu, jawab!” tunjuknya dengan tangan bergetar pada putranya.
“Kau tinggalkan keluargamu demi dia! Demi perempuan miskin yang bahkan lebih pantas jadi pembantumu dari pada istrimu! Kau buta karenanya! Kau buta Betrand! Dialah yang sudah menghancurkanmu! Dia!”
Raelianna Jin semakin tersedu-sedu mendengar tuduhan yang disemburkan padanya. Dadanya begitu sesak, sungguh ia tak sanggup lagi mendengarnya.
“Dan sekarang ini balasanmu? Pada ibumu? Pada orang tua kandungmu? Kau mengusirku? Kau merendahkan aku yang sedarah denganmu?” tatap tajam wanita itu. Bahkan jika wajahnya jelas-jelas dihiasi air mata, tampaknya itu takkan menyurutkan emosinya.
Justru Nyonya Camila semakin gencar menekan putranya.
“Coba ingat-ingat lagi. Kesialan apa saja yang kau dapatkan sejak berhubungan dengannya. Kau diusir dari rumah! Dicabut hak warismu! Kau menjadi gelandangan di luar sana, kau jadi pekerja kasar yang bahkan tak pantas disandang Gates sebenarnya! Apa kau tidak sadar tentang itu!”
Lagi, Presdir Betrand masih belum membalas hujatan ibunya. Seolah sakit di dada serta bersalah menyeruak menyelimuti hatinya.
“Kau kehilangan putrimu! Kau bercerai dengannya dikala anakmu jelas-jelas terluka! Kau kehilangan hak asuh putramu! Kau dipermalukan Eldrey yang gila! Dan semua gara-gara ibunya! Gara-gara dia! Gara-gara kau berhubungan dengannya kau menghadapi semua ini! Semua gara-gara dia! Gara-gara wanita miskin ini! Gara-gara dia, Betrand! Gara-gara dia!”
“Cukup,” potong pria itu tiba-tiba. “Cukup, Bu. Cukup, aku mohon jangan bicara lagi,” pinta pria itu karena tak sanggup lagi mendengarnya.
Semua yang berada di sana atau penguping pembicaraan tak satu pun bersuara. Karena mereka benar-benar tak ingin terlibat masalah keluarga itu.
“Kenapa? Apa mungkin karena kau sudah sadar kalau wanita ini pembawa sial? Iya? Baguslah. Seharusnya dari dulu begitu, seharusnya dari dulu kau tidak berhubungan dengannya jadi kau juga takkan pernah tertembak di depan tokonya!”
Tersentak. Raelianna Jin dan Evan terbungkam. Mereka yang dirundung perasaan menyakitkan luar biasa menatap tak percaya pada Nyonya Gates yang terus-terusan menyalahkan istri putranya.
Perlahan Betrand yang berkaca-kaca matanya pun menatap penuh harap pada ibumu.
“Cukup, Bu. Aku mohon cukup. Tolong jangan bicara lagi,” pintanya.
Tapi, mungkin karena rasa sakit hati dan kebencian luar biasa pada menantunya, seringai tipis pun tercetak di bibir wanita tua itu.
“Lihatlah. Kau bahkan tak bisa membantahku karena aku benar. Kau sudah tertimpa sial.”
Betrand yang tak sanggup lagi berhadapan dengan ibunya pun menyuarakan sesak di hatinya.
“Ya. Aku memang sudah tertimpa sial. Aku tertimpa sial, Bu. Aku memang tertimpa sial tapi bukan karena istriku. Tapi karena Ibu, karena ibu dan keluargaku. Aku tertimpa sial karena kalian para Gates!”
Nyonya Camila pun terkesiap mendengar ledakan emosi putranya. Bahkan bukan hanya dirinya, tapi Raelianna dan Evan juga tak menyangka jika Presdir Betrand akan begitu.
“Betrand, kamu—” syok wanita itu.
“Kenapa? Kenapa kalian melakukan itu? Kenapa kalian selalu menekanku!”
“Kau! Kau pikir aku menekanmu?!” Nyonya Camila tampak tak terima.
“Ya! Apa masih kurang jelas perkataanku?! Kalian menekanku! Kalianlah yang sebenarnya sudah menghancurkanku! Dan Ibu, dirimulah yang sudah merusak rumah tanggaku!”
Wanita tua itu semakin tak percaya akan perubahan sikap serta perkataan menyakitkan yang diucapkan putranya.
Perlahan ia menggelengkan kepala karena benar-benar terluka akan tuduhan anak bungsunya.
“Cukup, Bu. Sudah cukup! Tak perlu melihatku seperti itu, karena aku sudah tahu semua kejahatanmu!”
“Kau, apa maksudmu?”
Presdir Betrand pun tertawa pelan mendengar respons sosok yang sudah melahirkannya itu.
__ADS_1
“Benarkah Ibu akan berpura-pura tidak tahu?” dirinya menatap miris wanita di hadapannya.
“Apa maksudmu, Betrand! Memangnya kejahatan apa yang sudah kulakukan padamu?!” Pria itu akhirnya mengeluarkan ekspresi kecewa saat melihat rupa Nyonya Camila. “Kenapa kau diam saja?! Jawab! Memangnya kejahatan apa yang sudah kulakukan padamu!”
“Ibu sudah menculik Eldrey sampai dia seperti itu! Puas! Apa Ibu sudah puas, Bu, puas!”
Seketika suasana mendadak sunyi. Seolah hening menyeruak dari diri para pelakon di ruang utama.
“K-kau, omong kosong macam apa itu?! Kau menuduhku melakukan itu pada cucuku sendiri?! Apa kau sudah gila?!” marah Nyonya Camila yang merasa tak terima.
Betrand pun tersenyum kecut kepadanya. “Lihatlah, bahkan setelah kenyataan itu benar adanya ibu masih berpura-pura. Apa ibu pikir aku tidak tahu sepak terjangmu? Aku tahu semuanya, Bu. Aku tahu! Aku tahu kalau Ibu menyuruh orang untuk menculik Eldrey agar Anna disalahkan sebab lalai mengawasi putriku! Aku tahu semuanya, Bu! Aku tahu! Aku tahu empat keparat yang menjadi bawahanmu itu! Aku tahu kalau kau sengaja menyuruh mereka menyiksa putriku agar Anna dipersalahkan untuk itu! Aku tahu, Bu! Aku tahu semua itu! Aku tahu kau sekeji itu tapi masih menutupi kejahatanmu!”
Sekarang, napas terengah-engah terlukis dari pria yang melontarkan semua beban di perasaannya. Perlahan namun pasti, wajah memerah miliknya diukir oleh air mata yang berjatuhan dari pelupuknya.
Ia menatap sendu Nyonya Camila dengan tubuh gemetar di mata para penonton terdekatnya.
“Kenapa Ibu setega itu? Kenapa Ibu lakukan semua ini padaku? Jika Ibu memang marah padaku dan Anna, jangan lontarkan kebencianmu pada anak-anakku! Eldrey tidak tahu apa-apa, Bu. Tapi dia harus hancur karena emosimu! Putriku hancur karena dirimu!”
Mengejutkan. Syok menerpa setiap telinga pemiliknya karena ditusuk kenyataan.
Sungguh fakta itu begitu mengerikan, membuat setiap pasang mata yang menyaksikan menatap tak percaya. Kalau semua kegilaan yang menimpa Tuan Putri Dempster berasal dari keluarganya sendiri.
“Bahkan Ibu dan Bill juga tega menyuruh orang untuk menembakku di toko roti itu.” Seketika Betrand yang tadinya hanya mengumbar tangisan di rupa terisak suaranya.
“Betrand, i-itu—”
“Kenapa? Begitu tak sukanya kalian padaku yang masih memikirkan Anna? Sebegitu bencinya kalian pada kebahagiaanku sampai menghancurkanku seperti itu? Apa aku sudah tak ada artinya bagi Ibu?”
“Betrand, aku tak bermaksud seperti itu. Aku tak pernah ingin kamu tertembak di toko itu. Hanya saja aku—”
“Apa?” potongnya tiba-tiba. “Tak peduli apa pun alasan Ibu, itu tidak menolak kenyataan kalau Ibu ingin menghancurkanku!”
Nyonya Camila yang tak bisa berkata-kata hanya bisa menguraikan sakit di perasaan lewat tangisannya.
“Ibu benar-benar menghancurkanku. Bayangkan bagaimana perasaanku, Bu. Bayangkan! Ibuku melakukan kejahatan seperti itu padaku dan juga putriku! Bayangkan kalau Ibu di posisiku, Bu! Bayangkan! Antara harus memilih wanita yang melahirkanmu atau penderitaan yang jelas-jelas membunuh anakmu! Bayangkan, Bu! Bayangkan jika Ibu di posisi itu!”
“Betrand, aku—”
“Kau Ibuku dan Eldrey putriku! Tapi kau yang merusak hidup anakku!”
Nyonya Camila pun terisak-isak mendengar kalimat-kalimat yang disemburkan putranya.
“A-aku, melakukan semua itu demi kebaikanmu. Demi kebaikanmu, Nak. Demi dirimu,” ucapnya terisak-isak.
“Kebaikan?” nada Betrand berubah seketika. “Kebaikan macam apa? Kebaikan macam apa yang ibu lakukan dalam kehancuranku seperti itu!” teriaknya murka.
Nyonya Camila tak bisa lagi berkata-kata kecuali tertunduk karena tidak mampu menatap putranya.
“Kenapa Ibu menangis? Jawab aku, Bu. Jawab aku kebaikan macam apa yang kau sebutkan itu!”
“Kebaikan agar kau tak berhubungan lagi dengan wanita sampah itu!”
Betrand yang mendengarnya pun seketika gelap mata. Sontak ia berlalu menuju guci kristal di meja hias dan itu mengejutkan para penontonnya.
“Betrand, apa yang ka— agh!” pekik Nyonya Camila tiba-tiba karena putranya memecahkan benda mahal tersebut.
“Betrand!” kaget istrinya yang syok melihatnya.
Diraih pria itu pecahannya dan berjalan cepat ke arah Ibunya.
“Ayah! Apa yang—” Evan tersentak karenanya.
“Betrand, apa yang kau—”
“Betrand!” pekik istrinya.
“Pegang, Bu! Pegang! Pegang pecahan ini dan bunuh aku! Pegang!” hardik putranya tiba-tiba.
“Ayah! Hentikan, Yah! Hentikan!” lerai Evan mencoba memeluk Betrand dari belakang.
“Stop, Betrand! Hentikan!” Begitu pula dengan istrinya yang tampak histeris dan merangkul mertuanya yang terlihat ketakutan.
“Lepas!” rontanya pada Evan. “Bunuh aku, Bu! Bunuh aku jika itu yang terbaik untukku!” teriak pria itu pada Nyonya Camila.
Bahkan hal itu berhasil membuat para bawahannya datang untuk menghentikannya.
“Bos! Apa yang kau lakukan, Bos! Sadar, dia Ibumu! Kenapa kau jadi begini?!” Charlie mencoba menenangkannya dengan memegangi dari belakang.
“Bunuh aku, Ibu! Bunuh aku jika itu yang terbaik untukmu!”
__ADS_1
“Ayah, tolong hentikan, Yah. Aku mohon hentikan!” Evan yang menangis terus berusaha menahan Betrand sambil memeluknya.
“Tuan, tenangkan dirimu, Tuan. Lihat siapa yang di depanmu!” bahkan Rondolf juga memegangi lengannya.
Perlahan Betrand yang terengah-engah pun jatuh terduduk sambil menangis di sana. Dalam pelukan putranya, dengan elusan lembut di bahu oleh kepala pelayannya.
Sementara istrinya yang histeris melihatnya, memeluk erat sang ibu mertua dalam balutan ketakutan akibat kegilaan putranya.
Mereka dihiasi air mata akan kejadian menyedihkan yang merobek perasaan masing-masingnya.
“Nona?” kaget Bibi Arda melihat sosok itu di penghujung tangga lantai dua.
Tentunya bukan hanya dirinya, Emily yang berdiri di bibir tangga juga terkesiap melihat ekspresi putri Dempster.
Tenang seperti tak ada beban di sana.
Charlie sontak berdiri dan langsung mengejar Eldrey yang tampak kembali ke kamar.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia dengan lancang memasuki kamar sang gadis muda. Dan mendapati Eldrey berdiri di tengah-tengah ruangan menatap ke arah cermin meja rias.
“Nona.”
Perlahan Eldrey menoleh padanya. “Kau pasti sudah tahu siapa pelakunya.” Wajah kecut tercipta di rupa Charlie. “Kau dan Betrand sudah tahu tapi diam saja?”
Seketika pria itu merinding akibat dinginnya suara Eldrey yang di dengarnya.
“Nona.”
Syok langsung menyentak Charlie saat mendapati seringai lebar di bibir Eldrey.
“Di mana para bajingan itu?”
“Ayahmu sudah menangani mereka, jadi kamu tidak perlu—”
“Di mana?” ulang Eldrey dengan nada lebih menekan.
Charlie menggeleng padanya. “Kalaupun kau bertemu dengan mereka, kau mau apa? Menyiksanya? Ingat Nona, kau sudah berjanji akan memulai semuanya dari awal lagi. Jangan nodai tanganmu lagi! Jangan berbuat kejahatan lagi!”
“Di mana?”
Sungguh tatapan Eldrey begitu mengintimidasi sekarang.
“Nona—”
“Di mana?”
“Tolong jangan berbuat kejahatan lagi.”
“Kenapa?” Eldrey memiringkan wajahnya. “Kenapa tidak boleh? Aku hanya ingin memberi salam pada mereka dan keluarganya. Apa yang salah dengan itu?”
“Aku mohon jangan berbuat kejahatan lagi.”
Eldrey pun menundukkan kepalanya. “Keluar.”
“Nona.”
“Keluar.”
“Aku mohon, jangan lakukan itu lagi. Atau ayahmu akan semakin hancur tak bersisa jika kamu menodai dirimu lagi. Aku mohon, demi ayahmu tolong jangan lakukan kejahatan lagi.”
“Aku bilang keluar!” hardik Eldrey akhirnya.
Dan tangan kiri Betrand pun mau tidak mau terpaksa menurutinya.
Sementara Eldrey masih berdiam di posisinya. Hening menerpa diri dan kepala mulai terangkat menatap cermin di meja rias.
Lambat laun tangannya merangkak menuju wajahnya. Kian naik memegang kepala. Dan kekehan pelan terlontar dari mulutnya.
Semakin lama semakin keras tawanya. Seolah sedang meledek sesuatu yang lucu dalam hidupnya.
Dia tak bisa menghentikan itu semua sampai akhirnya jatuh terduduk memeluk diri.
Menyedihkan sebenarnya, karena faktanya putri Dempster sedang menertawakan kehidupan miliknya.
__ADS_1