
Eldrey hanya tersenyum menanggapinya. Sampai akhirnya Bill kembali lagi setelah menerima panggilan yang memperkeruh suasana wajahnya.
“Di mana sekretaris Roma?” tanyanya pada orang-orang presdir Betrand.
“Ada apa paman?”
“Bagaimana bisa sekretaris itu bertindak sembarangan di saat adikku sedang terbaring sakit begini?!” emosi Bill meledak.
Orang-orang presdir Betrand terdiam. “Memang apa yang sudah dilakukan sekretaris Roma?!”
“Kamu tidak tahu? Hah! Tentu saja kamu tak tahu apa-apa, karena kamu hanya anak-anak,” ledek Bill pada keponakannya.
Ia melanjutkan, “berani-beraninya sekretaris itu menarik saham Betrand dari perusahaanku?!”
Beberapa orang kaget mendengarnya. Akan tetapi, ada dua wajah yang tetap berekspresi tenang. Dialah Eldrey dan juga Charlie.
“Dia hanya menjalankan perintah. Paman tak perlu semarah itu,” Eldrey menenangkan.
Tapi, keributan yang cukup mengundang perhatian akhirnya membuat ayah dari presdir Betrand akhirnya keluar ruangan.
“Ada apa ini? Tidak boleh ada keributan di rumah sakit,” sela tuan Gates menengahi pembicaraan. Wajah Bill sudah terlanjur menampilkan guratan amarah di sana.
“Apa maksudmu?” tanya Bill pada Eldrey dengan nada menekan.
“Seperti yang kukatakan. Itu hanya perintah, dan dia cuma menjalankan tugas.”
“Perintah? Perintah dari siapa?!” Bill menyorot tajam wajah keponakannya.
“Dariku,” jelas Eldrey singkat.
Wajah suami-istri Bill terbungkam mendengar perkataan keponakan mereka. “Apa yang sebenarnya sedang kalian bicarakan?” tuan Gates mencoba memahami perdebatan di depannya.
“Bagaimana bisa kau memerintahkan penarikan saham seperti itu? Apa kau lupa itu perusahaan siapa?!” mata Bill mulai memerah karena emosi yang tertahan hanya bisa dituangkan dalam kata-kata.
“Bagaimana bisa aku lupa? Itu perusahaan kakek,” Eldrey pun melirik tuan Gates yang mencerna ucapannya.
“Kau!”
“Eldrey, apa benar semua yang kamu katakan barusan?” potong tuan Gates tiba-tiba.
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena kami masih belum tahu siapa pelaku penyerangan.”
Raut wajah tuan Gates berubah mendengar perkataan cucunya. “Itu tak ada hubungannya dengan penarikan saham.”
“Tidak bagi Kakek, tapi iya bagiku. Karena mungkin saja pelaku adalah salah satu rekan ataupun musuh.”
“Bagaimana bisa penarikan saham berhubungan dengan itu?! Apa kamu sudah gila?!” hardik Bill padanya.
Eldrey menatap datar pamannya, “seperti yang kukatakan, mungkin saja musuh adalah rekan atau lawan. Saat keuntungan menghilang di depan mata, maka mungkin mereka akan mulai mengeluarkan wajah aslinya. Jika aku mengecualikan perusahaan kakek, itu hanya akan menghancurkan kami nantinya.”
“Itu alasanmu?” tanya tuan Gates.
“Ya.”
“Apa kamu takut memperlihatkan celah? Jika urusan di bawah tangan, maka takkan ada perusahaan lain yang tahu kalau saham Betrand masih ada pada kami. Bagaimana menurutmu? Lagi pula kita ini adalah keluarga,” ucap tuan Gates mencoba meyakinkan cucunya.
“Jangan lupa Kakek, bahkan dinding pun punya mata dan telinga. Ini bukan masalah keluarga, ini hanya masalah bisnis dan juga nyawa,” tegas Eldrey tak menunjukkan kelunakan hati dalam ucapannya.
“Cih!” umpat Bill pergi meninggalkan mereka.
Nyonya Amelia menatap tak percaya mendengar perkataan keponakan suaminya dan memilih mengejar Bill. Begitu pula dengan Lily, menampilkan kekesalan di wajahnya lalu mengejar ayah dan ibunya.
“Maafkan aku Kakek, tapi kami berada di posisi yang sangat sulit.”
“Jika aku bisa menemukan pelaku penyerangan anakku, apa kamu akan membatalkan penarikan saham?”
“Mmm, semua tergantung hasilnya.”
Tuan Gates pun mengelus lembut kepala cucunya, “kamu tidak perlu cemas. Kakek akan mengurus semuanya,” jelas tuan Gates.
Tak lama, istrinya pun keluar ruangan di mana putranya dirawat. “Di mana Bill?”
“Dia sudah pergi.”
“Aku mendengar ribut-ribut, ada apa?” tanya nyonya Camila pada suaminya.
“Tak ada apa-apa, ayo kita kembali,” ajak tuan Gates pada istrinya.
Nyonya Camila mengangguk dan memeluk cucunya, “nanti nenek akan kembali lagi, kamu yang sabar sayang. Ayahmu pasti akan baik-baik saja,” ucapnya. Nada suaranya berbeda dengan saat pertama kali datang.
“Mmm,” angguk Eldrey. Beberapa saat kemudian, nenek dan kakeknya pun pergi dari sana.
Eldrey menyandarkan tubuhnya di kursi tunggu, “karena inilah aku sangat membenci mereka.”
“Tapi, apa semua akan baik-baik saja? Mereka bukan satu-satunya orang yang akan menentang kita,” sela Charlie sambil memantik api rokoknya.
“Ayo pindahkan presdir,” perintah Eldrey padanya.
“Ke mana?”
“Ke rumah, kita bisa memperketat penjagaan di sana.”
“Baiklah, aku akan mengurus semuanya,” jelas Charlie pergi meninggalkannya.
“Nona, anda baik-baik saja?” tanya sang supir pribadi presdir Betrand.
__ADS_1
“Mmm.”
“Jika anda lelah, silakan istirahat dulu, kami yang akan menjaga presdir,” jelas Reynald padanya.
Eldrey tersenyum tipis, “aku baik-baik saja.”
Beberapa jam kemudian, setelah mengurus semua persiapan dan surat-suratnya, perawatan presdir Betrand pun dipindahkan ke rumah. Mungkin suatu keberuntungan karena presdir Betrand dibawa ke rumah sakit kenalannya.
Alasan semua proses bisa berjalan cukup lancar, karena rumah sakit tersebut merupakan milik mitra bisnis sekaligus anak buah presdir Betrand.
Walau tak banyak yang mengetahui, tapi jalur bisnis presdir Betrand mengalir dari anak buahnya yang memiliki status dan kekuasaan besar di beberapa tempat. Mereka saling membentuk jaringan, agar sama-sama menguntungkan dan beraturan.
Tak hanya di rumah sakit, bahkan di pemerintahan serta keamanan negara, presdir Betrand juga menempatkan anak buah di sana. Sebagai mata-mata dan juga memperluas jalur bisnisnya.
Entah itu jalur obat-obatan terlarang, senjata ilegal, penjualan organ, wanita, semua ditangani dengan baik dan juga sangat dinikmati para penguasa.
Akan tetapi, pusat bisnis dipindahkan ke negara lain. Alasannya, karena negara sana melegalkan obat-obatan yang menjadi incaran para penikmatnya. Serta, memperbesar keuntungan jika semuanya mengimpor barang dari negara itu.
Karena penikmat di negeri ini rela membayar mahal untuk mendapatkannya, tanpa peduli berapa banyak uang mereka akan berserakan demi memuaskan hasratnya.
Untuk meloloskan barang-barang tersebut di berbagai tempat yang melarangnya, itu adalah peran dari pemerintah dan aparat karena mereka ikut terlibat menjual dan menikmatinya.
Sistem penjualan berbasis internasional yang melibatkan orang-orang ternama dan berkuasa di suatu negara, adalah cara tercepat dan juga aman untuk semua yang merasakannya.
Hal seperti itu sudah berjalan dalam waktu yang sangat lama. Di antara semua bisnis presdir Betrand, hanya satu yang benar-benar bersih luar dalamnya. Itu adalah perusahaan yang di jalankan sekretaris Roma sebagai orang nomor dua di sana.
Tapi, walaupun ia pemilik kekuasaan tinggi di sana, pekerjaan sekretaris Roma tak sepenuhnya terfokus pada perusahaan.
“Ayo, aku sudah mengurusnya,” jelas Charlie menghampiri Eldrey.
“Kau duluan saja, ada sesuatu yang ingin kulakukan, berikan kunci mobil padaku.”
“Melakukan apa?”
“Kau bawahan Betrand, fokus saja padanya. Reynald, berikan kuncimu padaku,” perintah Eldrey.
Dengan ekspresi ragu, Reynald menyodorkan kunci namun diambil paksa oleh Charlie.
“Di saat seperti ini kita tidak boleh lengah, kau tahu itu kan?”
“Mmm. Tapi, jika ingin mendapatkan sesuatu, aku harus melangkah duluan.”
“Apa yang kau rencanakan?”
Eldrey memegang tangan Charlie yang menggenggam kunci dan mengelusnya. “Percayalah padaku, nanti aku akan memberi tahumu. Lagi pula ada pistol di sakuku, kau tenang saja,” ia mengambil kunci itu.
“Lagi pula ada pengawal jugakan?” tambahnya sambil tersenyum dan meninggalkan mereka. Setelah keluar rumah sakit dan memastikan di mana keberadaan mobil Reynald, Eldrey pun mengendarainya untuk pergi dari sana.
Raut wajahnya yang datar menapaki jalanan dengan mobil sebagai pengantar tubuh. Entah ke mana dirinya, waktu yang sudah menunjukkan datangnya jam malam, menghentikan langkah kaki gadis itu di sebuah club.
Eldrey menghubungi salah satu pengawalnya dan meminta mereka tetap diam di posisi sampai ia keluar. Karena bagaimanapun, ada sesuatu yang ingin dipastikan Eldrey.
“Cantik, siapa namamu? Mau bergabung denganku?” ucapnya dengan nada keras dekat telinga, karena hentakan musik mencoba menelan suaranya. Tak hanya menghadang, ia juga menyentuh punggung Eldrey dan hendak turun ke bawah.
Tanpa perlawanan, gadis itu cuma melepaskan tangan pemuda tersebut dan beralih menuju pintu keluar belakang. Sepertinya ia tahu di mana posisi pintu, menandakan kalau dirinya sudah pernah ke club itu sebelumnya.
Eldrey menatap langit-langit sambil berjalan pelan. Ia memilih pergi dari sana dan membiarkan mobilnya terparkir begitu saja di parkiran club.
Di sebuah kursi pinggir jalan, ia merebah diri untuk duduk dengan menampilkan tatapan kosong ke depan.
Cukup lama ia seperti itu, sampai akhirnya seorang pemuda mendekat dan duduk di sampingnya.
“Hai sendiri saja?” sapanya. Eldrey tak melirik dan membiarkan orang tersebut mengoceh sendirian.
“Mmm, kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Eldrey melirik dirinya, “punya rokok?”
“Apa?! Rokok?” ia memandang cukup kaget. “Akan kubelikan sebentar, apa kamu juga mau minuman?”
Eldrey tak menjawab dan memilih memiringkan wajahnya. “Tidak perlu, aku beli sendiri saja,” ia pun berdiri dari duduknya.
“Hei!” pemuda itu mengejarnya.
“Apa?”
“Kamu sendiri saja?” tanyanya sambil berjalan di samping Eldrey.
“Mmm.”
“Apa yang kamu lakukan berkeliaran di tempat ini malam-malam begini?”
Eldrey tak menjawab dan memilih mengabaikannya. Tapi, saat akan menyeberangi jalan langkahnya terhenti dan berbalik lagi.
“Ada apa?”
“Aku kabur dari rumah. Apa yang harus kulakukan?” Eldrey menatapnya sambil berwajah polos.
Tentu saja hati pemuda itu sedikit tak karuan melihat wajahnya. Karena bagaimanapun juga, ia mendekati Eldrey yang sendirian akibat tertarik pada rupa sang gadis cantik saat sedang melamun di depan matanya.
“Mau menginap di rumahku? Mungkin itu bisa membantumu,” ajaknya diiringi senyuman. Eldrey menatapnya dengan wajah datar tanpa bersuara.
“Ah, aku hanya ingin membantu. Tak ada maksud apa-apa,” ucapnya panik.
Gadis itu akhirnya mengangguk pelan. “Kamu mau menginap di rumahku?” tanya pemuda itu memastikan arti anggukkan Eldrey.
“Ya,” jawabnya.
“Ayo ikuti aku, mobilku ada di sana,” tunjuknya pada Eldrey.
__ADS_1
Keduanya pun berjalan semakin menjauh dari club dan juga pengawal Eldrey yang dari tadi menunggu di luar pintu club.
Dalam perjanjian, para pengawal tak boleh mengawasi majikannya dalam jarak dekat atau melihat aktivitas bosnya baik di club, hotel, perusahaan atau apa pun itu.
Perintah itu dibuat presdir Betrand karena ia tak suka aktivitasnya ditonton para bawahan, dan begitu pula Eldrey. Pernah pada suatu masa, para pengawal lupa dan mengikuti Eldrey sampai ke lantai apartemen yang membuat gadis itu menembak salah satunya.
Tidak bisa disalahkan jika para pengawal kadang terlambat menyelamatkan majikannya, itu akibat perintah aneh yang ayah dan anak tersebut lakukan.
“Mmm, namamu siapa?” tanya pemuda itu pada Eldrey. Matanya yang kadang fokus ke depan saat mengendarai mobil mulai melirik sesekali ke wajah gadis itu.
“Eldrey.”
“Nama yang cantik. Ah, umm ... Maafkan aku jika sudah lancang. Tapi, kenapa kamu kabur dari rumah?”
“Orang tuaku bertengkar hebat dan akhirnya menyiksaku. Aku tak punya pilihan lain selain kabur,” terang Eldrey berwajah tenang.
“Bagitu?” pemuda itu tampak canggung mendengarnya. “Maafkan aku.”
“Itu bukan salahmu, ini hanya masalah keluarga yang sering terjadi,” jelas gadis itu. Tampaknya sang pemuda mempercayai kebohongan Eldrey, bahwa dia telah kabur dari rumah.
Mereka berdua pun sampai di sebuah kediaman mewah bergaya kontemporer tropis yang menawan. Mobil itu memasuki halamannya, dan tampaklah seorang penjaga sedang tertidur lelap di sana karena kelelahan.
Pemuda itu mengajak Eldrey turun dan memasuki rumahnya. Rumah besar yang tampak sepi, walau cahaya lampu bersinar terang menghujani mereka.
Langkah sang pemuda membawanya menaiki tangga dan berjalan ke sebuah pintu. “Ini kamarmu dan itu kamarku,” jelasnya membukakan pintu kamar untuk Eldrey.
Eldrey menatap datar pemandangan di depannya. “Aku ingin mandi, apa kamu bisa meminjamkan baju untukku?”
“Ba-baju? Baiklah tunggu sebentar!” ia berlari terburu-buru menuju kamarnya. Cukup lama mencari, ia pun memilih kaos oblong dan celana training untuk Eldrey dan menyerahkannya dengan senyum semringah.
Beberapa saat kemudian, “untung saja aku masih punya stok baru. Kalau bekasku, bisa gila aku membayangkan dirinya memakai pakaianku,” ucap pemuda itu mengusap kasar rambutnya, wajah dan telinganya juga memerah karena membayangkan hal yang tidak-tidak.
Tiba-tiba ponselnya berdering, “hei! Kau di mana?” tanya suara di seberang telepon begitu panggilan terangkat.
“Di rumah.”
“Bukannya kau sudah hampir sampai di club? Kami sudah menunggu dari tadi!”
“Maaf, aku tidak jadi pergi,” tukas pemuda itu sambil garuk-garuk kepala.
“Sialan! Kenapa?”
“Ada wanita cantik di rumahku yang butuh perlindungan.”
“Cih, omong kosong! Wanita mana yang mau dengan buaya sepertimu?!”
“Kau tidak percaya? Aku baru saja membawanya pulang.”
“Kau pasti berkhayal!” ledek temannya itu.
“Aku tidak berkhayal bodoh! Memang ada wanita cantik di sini!”
“Benarkah?! Kalau begitu biarkan aku mendengar desahannya!”
“Dia sedang mandi!”
“Ah, paling-paling kau cuma bersama wanita jelek. Seleramu kan begitu!”
“Sepertinya kau tak percaya ucapanku! Lihat saja, akan kuperlihatkan betapa cantiknya Eldrey itu padamu!” gerutu sang pemuda sambil menutup panggilan dari temannya.
“Dimatikan? Dasar!”
“Ada apa?”
“Sepertinya si bodoh itu tidak jadi ke sini.”
“Kenapa?”
“Dia sedang bersama wanita cantik!”
“Apa-apaan itu? Dia yang mengajak malah dia yang ingkar.”
“Sepertinya karena selalu sendiri, dia mulai gila dan memilih wanita jalanan untuk menemaninya.”
“Ah, aku kasihan dengan seleranya. Dia kan bodoh dalam hal memilih wanita,” timpal yang lain.
“Yah, setidaknya wanita bernama Eldrey itu mungkin saja bisa memuaskan hasratnya,” terang pemuda yang tadi menghubungi temannya itu sambil tertawa.
Sementara, rekannya yang menjadi lawan bicara tampak menampilkan ekspresi tak terduga.
“Eldrey?”
“Mmm? Ada apa?”
“Apa barusan kau bilang Eldrey?”
“Ya? Ada apa?”
“Eldrey sedang bersama Henry?”
“Apa yang kau bicarakan?”
Pemuda yang ditanya pun langsung berdiri pergi meninggalkan mereka begitu saja.
“Hei! Kau mau ke mana?!”
“Kevin! Hei Kevin!” panggil temannya yang lain.
Tapi, pemuda itu sudah terlanjur pergi dari ruangan VVIP dan keluar dari club menuju mobilnya yang terparkir dengan terburu-buru.
__ADS_1
“Eldrey? Tidak mungkinkan itu Eldrey yang kupikirkan?!” ia pun mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, menuju rumah sang teman yang tadi berkicau tentang wanita cantik bersamanya.