
Ramses benar-benar tak habis pikir, namun ia juga tak bersuara. Matanya hanya bisa memandang kaget dan itu disadari oleh Dean.
Pemuda itu terkesiap dengan arti dari tatapan Ramses lalu melirik Eldrey yang memakan santai churros gigitannya tadi.
Dia terdiam akan ulahnya barusan.
“Kebetulan sekali melihatmu di sini. Tapi, kenapa kalian saling diam?” tanya Eldrey.
Ramses dan Dean sama-sama menoleh ke arah gadis itu. Sepertinya ia tidak tahu, jika suasana pertemanan kedua pemuda sedang canggung.
“Tidak bicara?” Eldrey pun memiringkan wajahnya. “Ya sudah, ayo Rams, bukankah kau akan mengantarku pulang?”
“Baiklah, kalau begitu kami duluan,” ucap Ramses sambil menyentuh bahu Dean.
Akan tetapi, pemuda itu tertegun tanpa melepaskan tangannya dari bahu temannya.
“Rams?” Dean pun melirik bingung ke arahnya.
“Bukankah itu mobil ayahmu?”
Kalimat Ramses sontak membuat sang pemuda menoleh ke belakang dan mendapati mobil berhenti sejarak kurang dari lima meter menampilkan rupa penghuninya.
Pria yang baru turun itu menoleh ke belakang dan memasang tampang dingin melihat tiga anak muda yang menatapnya.
“Dean.” Putranya hanya menatap jengkel kedatangan ayahnya. “Sedang apa kamu di sini? Tidak kuliah?” tanya Tuan Kendal dengan nada menekan.
“Aku baru pulang.”
Lalu tatapan ayahnya pun teralihkan pada dua sosok di sisi putranya.
“Selamat siang Paman,” sapa Ramses sopan.
“Ramses, senang melihatmu. Bagaimana kabarmu?”
“Baik Paman.”
“Sudah lama kamu tidak main ke rumah.”
“Ah iya, karena kami sedang kuliah jadi waktu luang agak berkurang. Kapan-kapan aku pasti main ke rumah, iya kan Yan?” Ramses pun merangkul Dean tanpa aba-aba.
Seolah sikapnya benar-benar berbanding terbalik dengan yang barusan.
Tuan Kendal hanya tersenyum tipis. Lirikan matanya pun perlahan bertemu dengan Eldrey yang sedang memakan churros gigitan terakhir.
“Halo, senang bertemu dengan anda, Tuan,” sapa gadis itu.
“Wajahmu,” lirih Tuan Kendal berjeda seperti sedang berpikir sejenak. “Eldrey bukan? Putri Betrand.”
“Benar Tuan. Rupanya anda masih mengingat saya.”
Ramses terdiam dan melirik sosok ayah dari temannya yang menatap tenang putri Dempster.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan ayahmu? Kudengar dia tertembak.”
“Ayahku sekarang sudah baik-baik saja, terima kasih atas perhatiannya Tuan.”
“Kamu masih saja kaku bahkan jika dirimu dulu lumayan sering menjemput putraku.”
Sontak saja hal itu menyentak hati dan pikiran Ramses. Sebenarnya, hubungan apa yang dimiliki Eldrey dan Dean? Batinnya bertanya-tanya.
Eldrey tertawa pelan. “Saya jadi bingung harus mengatakan apa.”
“Kamu lebih tahu sopan santun dibanding anak pedagang itu.”
Ketiga anak muda di depannya terbungkam. Tatapan mereka jelas-jelas tertuju pada Tuan Kendal yang berbicara menusuk itu.
Walau cuma isyarat, tapi mereka bertiga tahu siapa yang dimaksud.
“Dean sebentar lagi akan bertunangan. Nanti datanglah untuk ikut merayakannya,” ujarnya yang membuat rahang putranya kian menegas.
“Dengan senang hati, Tuan,” Eldrey pun menundukkan kepalanya sekilas.
Dan Tuan Kendal akhirnya mengalihkan tatapannya pada putranya.
“Oh ya Dean, karena kau sudah pulang jadi pergilah ke rumah Diana. Dia ingin jalan-jalan denganmu, cobalah bawa dia ke suatu tempat agar kesalah pahaman di antara kalian makin tak menjadi-jadi nantinya.”
“Salah paham?” wajah Dean jelas menyiratkan emosi terpendam.
Padahal dirinya dengan lantang telah membatalkan pertunangan di depan keluarga Diana sehingga membuatnya diusir.
Akan tetapi, ada saja yang dijadikan ayahnya sebagai ancaman agar ia tak berkutik. Terlebih sekarang sorot mata dingin Tuan Kendal justru membuat sang putra hanya bisa membuang muka.
“Bereskan barang-barangmu dan kembali ke rumah. Jangan membangkang lagi, karena kau tahu hukuman selanjutnya bukan sekadar pengusiran,” ancam Tuan Kendal dengan nada pelan namun menekan.
Sepertinya, ia tak ingin jika pembicaraan itu diketahui kedua teman Dean.
“Kalau begitu sampai jumpa lagi,” Tuan Kendal pun mengangguk sekilas pada Ramses dan Eldrey.
“Papa!” cegat Dean sebelum ayahnya benar-benar berbalik. “Maafkan aku Pa, tapi sepertinya aku tak bisa mengajak Diana jalan-jalan hari ini.”
“Kenapa?” nada suaranya berubah.
“Karena aku, Eldrey dan temanku yang lain akan pergi ke vila. Maafkan aku.”
Pernyataan itu sontak saja mengundang tatapan dingin Tuan Kendal. Diliriknya sang putri Dempster yang rupanya tampak tenang.
Gadis itu membalas pandangan Tuan Kendal yang seakan ingin menusuk tulangnya. Lalu perlahan ia alihkan ke arah Dean yang berekspresi tak terlukiskan.
Dirinya jadi paham apa yang diinginkan pemuda itu darinya.
“Baiklah kenapa tidak? Bersenang-senanglah.”
Seketika ekspresi Dean berubah. Seolah ada angin lembut yang menenangkan karena izin ayahnya berhasil ia dapatkan.
__ADS_1
“Terima kasih, Pa.”
Pria itu melirik Eldrey yang masih berdiri tenang.
“Terima kasih,” ucap Eldrey akhirnya dan hanya dibalas senyum tipis oleh pria yang sebaya dengan ayahnya.
Beberapa saat kemudian setelah Tuan Kendal meninggalkan mereka, “maafkan aku,” ucap Dean tiba-tiba di hadapan Eldrey dan Ramses. “Aku benar-benar minta maaf karena memakai namamu untuk menolak keinginannya, seharusnya aku meminta izin darimu dulu, tapi—”
“Tak masalah. Lagi pula kita sama-sama tahu seperti apa ayahmu, aku memaklumi itu. Kalau begitu kami balik dulu.”
“Tunggu!”
Eldrey hanya memiringkan kepalanya sementara Ramses sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang tak jelas apa.
“Jika kalian tidak keberatan, bagaimana jika kita benar-benar ke Vila keluargaku? Lagi pula besok libur kan?”
Ajakan Dean jelas membuat Ramses mengernyitkan wajah tak suka. Dia masih enggan berbicara atau berhubungan dengan temannya itu walau mereka tadi terlihat akrab di depan Tuan Kendal.
“Kau mengajakku? Kau pasti gila,” cela Eldrey.
“Aku sudah memberi tahu ayahku. Dia pasti curiga jika aku benar-benar tidak pergi ke sana. Aku tidak ingin di mata-matai dan dikira berbohong.”
“Dan aku sudah membiarkan kau menjual namaku pada ayahmu. Pergi denganmu buang-buang waktu.”
“Rey. Aku mohon, aku akan mengajak Alice juga.”
Gadis itu tak lagi berbicara dan hanya menatap tenang Dean. Sejurus kemudian kalimat tak disangka keluar dari bibirnya. “Aku membenci gadis itu.”
Putra Kendal terkesiap. “Apa maksudmu?”
“Aku membencinya. Apa kalimatku kurang jelas?” putri Dempster tampak angkuh dalam berbicara.
Rahang Dean mengetat dibuatnya. Sorot matanya, menatap dalam pada netra tenang putri Dempster. “Aku akan menjemputmu,” ucapnya ke arah Eldrey lalu mengalihkan pandangan. “Rams, apakah kamu mau ikut? Kalau iya, apa kamu tidak keberatan untuk menjemput Alice nanti?”
Entah kenapa Dean berkata seperti itu. Apa yang dipikirkannya? Ramses bertanya-tanya dalam hatinya. “Baiklah kenapa tidak?”
“Aku tidak akan pergi,” potong gadis itu.
“Aku akan menjemputmu, sampai jumpa,” pamit Dean tiba-tiba lalu memegang bahu Eldrey dan Ramses sebelum meninggalkannya.
“Dasar brengsek!” Ramses terdiam mendengar umpatan Eldrey yang menatap tajam punggung temannya. “Ayo! Bukankah kau akan mengantarkanku pulang?” ajaknya tanpa basa-basi.
Pemuda itu hanya mengangguk pelan. Keduanya pun kembali ke dalam mobil Ramses.
“Rey.” Gadis itu menoleh dengan lirikan lewat sudut matanya. “Apa aku boleh tahu apa hubunganmu dengan Dean sebenarnya?”
Akan tetapi, entah kenapa di situasi ini gadis itu malah menyeringai tipis. “Hubungan kami?” ia pun tertawa pelan. “Menurutmu?” kalimatnya sontak saja membuat sang pendengar mengernyitkan dahi bingung. “Fokus saja ke depan Rams,” lalu mengalihkan pandangan keluar jendela.
Ramses yang mendengar itu pun hanya bisa menerka-nerka penasaran. Seperti apa hubungan Eldrey dan Dean sebenarnya mengingat Tuan Kendal juga mengenalnya.
__ADS_1