FORGIVE ME

FORGIVE ME
Ditampar


__ADS_3

Diana yang agak kecewa dengan perkataan Dean pun memilih diam. Perlahan-lahan ia membuka mulutnya, “ya sudah Dean, kalau begitu aku pulang dulu, semoga kamu cepat sembuh dan baikan lagi ya, kalau begitu aku pulang dulu Dean.”


“Mmm,” balas Dean singkat.


Dengan perasaan sedih Diana pun keluar dari kamar Dean, ia melangkah dengan pelan, berharap Dean akan memanggil dan menghentikannya. Tapi semua penantian singkatnya sia-sia, Dean tak peduli dan tak akan mungkin melakukan itu.


Diana pun menyusuri tangga dengan langkah kakinya yang berat. “Loh Diana? Kenapa kamu sudah turun? Deannya gimana?” tanya nyonya Julia yang sedang duduk di ruang tamu bersama Kevin.


“Mmm .... Itu bibi Julia, Dean masih sakit, karena itu dia minta aku buat tinggalin dia biar bisa istirahat,” jelas Diana.


“Dean minta kamu buat pergi?!” nyonya Julia pun kaget mendengar perkataan Diana.


“I-iya bibi, tapi dia gak bermaksud usir aku, bibi jangan salah paham dan marah sama Dean,” balasnya cemas.


“Iya, bibi gak akan marahin Dean Diana, kamu gak perlu cemas begitu,” sahut nyonya Julia sambil mengelus-elus bahu gadis itu. Nyonya Julia pun tersenyum melihat kecemasan Diana pada putranya, terlihat jika Diana benar-benar sangat menyukai Dean dan itu membuatnya senang.


Sementara Kevin, ia hanya menatap datar ke arah dua wanita yang sedang bercengkerama itu. “Wah, omong kosong yang luar biasa, sepertinya dia sangat menyukai kakak,” gumam Kevin dalam hatinya. Kevin pun memilih pergi ke kamarnya karena tak tahan mendengar ocehan para perempuan itu, ia sadar bahwa keberadaannya tak akan memberi pengaruh bagi mereka ataupun dirinya di sana.


Malam harinya ....


“Tok ... Tok ... Tok ....” suara pintu kamar yang di ketuk.


“Iya, masuk,” sahut Dean sambil menatap ke arah pintu kamarnya.


Pintu kamar pun di buka dan tampak sosok papa dan mamanya di balik pintu tersebut.


“Dean,” panggil tuan Kendal pada putranya.


“Iya Pa, ada apa?” tanya Dean kaget melihat kedatangan orang tuanya ke kamar.


“Mama bilang kamu sakit, bagaimana keadaanmu?”


“Sudah lebih baik Pa.”


“Tadi Diana ke sini?” tanya tuan Kendal.


“Iya, tapi dia sudah pulang karena aku lagi sakit,” jelas Dean seadanya yang tak sesuai kenyataannya.


“Ya sudah, jika kamu sudah baikan, ajaklah Diana jalan-jalan,” perintah tuan Kendal.


“Kenapa?”


“Tentu saja karena dia calon tunanganmu, tadi kalian batal makan bersama, bukankah seharusnya kamu mengajaknya di kesempatan berikutnya?!” tukas tuan Kendal.

__ADS_1


Dean hanya diam menatap papanya, ia pun menundukkan kepala dengan perasaan kesal yang berkecamuk di dadanya.


“Jangan lupa, bagaimanapun caranya kamu harus bisa meluluhkan hati Diana. Dia bukan hanya akan menjadi tunanganmu, tapi dia juga kunci untuk kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan keluarganya,” jelas tuan Kendal.


Telinga Dean pun memanas karena tak tahan dengan perkataan papanya itu, ia pun mengangkat wajahnya dan menatap tuan Kendal, “demi perusahaan? Apakah perusahaan lebih penting daripada kebahagiaanku?” tanya Dean tiba-tiba.


Nyonya Julia pun kaget mendengar perkataan putranya, begitu pula Kevin yang berdiri di luar kamar sedang menguping pembicaraan mereka. Kevin tak menyangka jika kakaknya akan berani mengatakan hal seperti itu dihadapan tuan Kendal.


“Apa maksudmu Dean?” tanya tuan Kendal dengan suara yang mulai berat tekanannya.


“Aku tak menyukai Diana Pa, bagaimana bisa aku bertunangan dengan wanita yang tak kusukai?!”


“Suka? Kau tak perlu menyukainya! Kau hanya perlu meluluhkannya, sehingga dia bertekuk lutut dihadapanmu!” sahut tuan Kendal dengan emosi, ia sangat tidak suka dengan perkataan dari putranya.


“Aku tidak bisa melakukan itu Pa!” bantah Dean.


“Dean!!” bentak tuan Kendal. “Tidak peduli apa pun yang kau katakan, kalian akan tetap bertunangan! Jika sampai pertunangan kalian batal, papa tak akan mengampunimu!”


Dean pun menatap tuan Kendal dengan perasaan sangat kecewa, “hanya karena itu papa sampai bicara seperti itu padaku?! Lalu apa artiku bagi papa? Apa aku ini benar-benar anak papa?!” sahut Dean dengan emosi.


“Plaakkkk ...!!”


Suara tamparan keras mendarat ke pipi kanan Dean, tuan Kendal benar-benar naik pitam mendengar perkataan putra sulungnya itu.


“Sekali lagi kamu bicara seperti itu! Papa akan menghukummu dan mempercepat pertunanganmu!” teriak tuan Kendal dan pergi dari kamar Dean. Kevin pun kaget dan berpindah dari posisinya berada, sehingga tuan Kendal tak tahu jika dia menguping pembicaraan.


Dean hanya memegang pipinya sambil menunduk dan membuat nyonya Julia memeluknya erat. “Sayang, maafkan papamu, dia tak berniat seperti itu, dia begitu karena sangat menyayangimu sayang, maafkan papamu Dean,” gumam nyonya Julia pelan sambil meneteskan air mata.


Dean membalas pelukan mamanya dengan perasaan sangat kecewa, ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa, berharap nyonya Julia bisa melakukan sesuatu untuknya tapi sayangnya tidak.


Tak ada yang bisa dilakukan selain menuruti perintah tuan Kendal. Kevin yang dari tadi menguping pembicaraan mereka pun hanya menunduk, apa yang dialami Dean memberi tekanan tersendiri baginya.


Ia sadar bahwa perasaannya sekarang hanya akan melukainya. Ayahnya takkan pernah setuju dengan wanita yang disukainya, semakin ia berusaha mendapatkan wanita itu semakin ia sadar kalau ayahnya akan menghancurkan wanita pilihannya.


Sepertinya, tak ada pilihan bagi Kevin selain mengubur rasanya pada Alice yang sangat-sangat disukainya. Ironis .... Karena Kevin dan Dean dua kakak beradik itu saling menyukai orang yang sama.


*******


Pagi harinya, Alice ....


Gadis itu sedang bersiap-siap untuk membantu ibunya memasak sarapan pagi. Setelah sekitar setengah jam lebih membantu memasak, ia pun memindahkan sup miso ke dalam mangkuk.


Ia menyusun nasi, sup miso, telur, ikan panggang dan natto di atas meja makan. Aromanya benar-benar menggugah selera, sehingga Alice pun tak sabar untuk memakannya.

__ADS_1


“Bu, nanti malam aku akan jalan dengan Eldrey,” sahut Alice pada ibunya.


“Eldrey? Ya sudah tapi hati-hati ya, jangan lupa bawa kunci,” tukas ibunya sambil menyendok natto tersebut.


“Mmm, iya bu ....”


Mereka berdua pun meneruskan sarapan mereka dengan lahap.


Kediaman tuan Harel, di mana Ramses tinggal merupakan salah satu kediaman yang berdiri di kawasan elit Bella Airoz. Kawasan itu banyak dihuni pengusaha dan para pekerja di bidang industri hiburan.


Diana dan keluarganya, juga merupakan salah satu penghuni di kawasan tersebut. Namun, jarak rumahnya dan rumah Ramses lumayan jauh.


Di sebuah kamar besar dalam kediaman yang bergaya mediterania berlantai dua, tampak Ramses sedang terbaring di ranjangnya. Ekspresinya gusar, seolah-olah ada yang sedang membebaninya.


“Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya pelan. Sambil menghela napas kasar ia pun mengambil ponselnya dan tampak sedang menghubungi seseorang.


“Tut ... Tut ....” suara panggilan yang akan terhubung.


“Halo?” sapa seorang gadis begitu panggilan itu tersambung.


“Liz? Maaf aku ganggu kamu pagi-pagi begini ....” sahut Ramses.


“Gak apa-apa Rams, oh ya ada apa?”


“Mmm ... Hari ini .... Hari ini, apakah kamu sibuk?” tanyanya.


“Hari ini? Mmm .... Hari ini aku ada kerja Rams, memang kenapa?”


“Kerja?! Kerja apa?! Aku mau mengajakmu jalan,” sahut Ramses penasaran.


“Aku kerja di toko roti Rams,” balasnya.


“Di mana?


“Di toko roti RAELVENA Rams,” jelas Alice.


“Begitu? Kalau malam nanti, kamu ada waktu?” tanya Ramses penuh harap.


“Maaf Rams, tapi malam nanti aku mau jalan sama Eldrey.”


“Ooh, ya sudahlah kalau begitu, lain kali saja,” pungkas Ramses dengan nada kecewa. Tampaknya ia sangat berharap untuk bisa bertemu dengan Alice.


“Mmm, iya Rams, maaf ya Rams,” sahut Alice dengan nada agak bersalah.

__ADS_1


“Mmm ....” lalu panggilan antara mereka berdua pun terputus, sambil Ramses meletakkan ponselnya di atas meja nakas. Ia menghela napas kasar menelan kekecewaan, padahal hari itu ia berharap untuk bisa bertemu Alice dan menyatakan perasaannya dengan jelas sekali lagi.


__ADS_2