FORGIVE ME

FORGIVE ME
Ingatannya kembali


__ADS_3

Sekarang di sinilah mereka. Menuju sebuah kamar sambil dituntun pihak Hotel di depannya. Keramahan tercipta dari sang pegawai sebagai tanda pelayanan agar pengunjung berminat kembali ke sana.


Bahkan uang tip juga diberikan putra Cesar sebagai bentuk terima kasih. Hanya saja Eldrey berbeda, diam menyaksikan semuanya.


 Saat mengikuti Kevin masuk ke kamar suara tetap enggan terdengar.


“Ini kamarmu, kuharap kamu suka, Eldrey.”


Perlahan pandangan diedarkan. Berjalan pelan menuju dinding kaca, menyoroti keindahan di luar sana lewat lantai 25. Tapi yang mengejutkan diri Eldrey adalah ketika pintu ditutup keras. Di mana putra kedua tuan Kendal masih ada di depan mata.


“Kevin.”


Tiba-tiba laki-laki itu melepas trench coat gelapnya. Memamerkan kemeja hitam dan membuangnya sembarangan.


Desiran aneh menyapa, bahkan ketika kacamata telah di jarakkan sekarang justru semakin mempertegas rupa sang pemuda. Ekspresinya sulit diartikan namun berhias tatapan yang dingin dan agak menakutkan.


“Kevin,” Eldrey memanggilnya sekali lagi.


Tiadanya respons dan langkah semakin mendekat mengusik batin putri Dempster. Ia tak tahu kenapa tapi instingnya berbicara kalau sosoknya harus segera pergi dari sana.


Dan kakinya memang mengikuti kata hatinya.


“Mau ke mana?” Kevin tiba-tiba menghalangi.


“Aku ingin keluar sebentar. Cari angin.”


Senyum miring tercipta diiringi tangan lancang yang menyentuh ujung rambut putri Dempster.


Eldrey yang menyaksikan perubahan itu secara refleks mundur ke belakang.


“Kenapa?” Tak ada suara kecuali lirikan mata tak tenang putri Dempster di depan Kevin. “Kenapa kamu diam saja?” dia terus mendekat.


“Aku ingin keluar.”


“Lalu?”


Laki-laki dengan tinggi 181 cm itu berhasil memaksa Eldrey mendongak. Masih sama, bahkan jika guratan tidak nyaman terlukis di rupa namun ia tak pernah ragu menatap lawan bicara.


Seperti menantang mereka agar tidak semena-mena.


“Kamu aneh, Kevin. Tatapanmu itu, itu bukan kamu.”


“Bukan aku?” tawa remeh terdengar. “Kamu berbicara seolah-olah mengetahui diriku. Kamu tak tahu apa pun tentang aku, Eldrey. Kamu hanya tahu siapa aku saat menyukaimu. Tapi saat mengejarmu, kamu tak tahu apa pun. Pihak yang suka kabur sepertimu, takkan pernah tahu perjuangan seseorang kecuali dipaksa untuk mengetahui itu.”

__ADS_1


“Kevin!”


Hampir saja, hampir saja pemuda itu berhasil menciumnya. Tarikan tiba-tiba di pinggang memaksa Eldrey menabrak dada putra Cesar.


Tapi posisi yang terlalu berdekatan itu mengunci langkahnya. Dan cengkeraman di lengan kiri bukan omong kosong untuk dilepaskan.


“Aku sudah melunak padamu, tapi kamu tetap tidak mengerti. Kamu tahu, Eldrey? Yang aku inginkan kamu membuka hatimu. Bukan lari seperti itu. Kamu benar-benar menguji batas kesabaranku. Dan kuharap kamu tahu konsekuensi dari tindakanmu.”


Teriakan tiba-tiba terlontar saat Kevin menggendongnya. Dan dengan mudahnya laki-laki itu melemparnya ke ranjang.


Tapi mungkin putra Cesar takkan pernah mengira, kalau kegesitan Eldrey berbalik arah hendak mencekiknya. Putri Dempster memang menindihnya, namun sayang ia lupa. Perbedaan fisik serta tenaga mereka justru berbalik arah menjadi ranjau untuknya.


Dan tangan yang terkunci di atas kepala mulai menghantam masa lalu. Membangkitkan trauma akan siksaan para penculik di usia muda.


“Tidak, lepaskan aku brengsek! Lepa—” kalimatnya terpotong tiba-tiba. Sebuah ciuman sempurna mendarat kasar di bibirnya. Tak ayal spontan Eldrey menggigit pesona merah milik sang pemuda.


Namun di sela-sela rasa darah yang menghiasi mulut keduanya, sensasi seperti kejutan listrik mulai merambat ke tubuhnya. Itu adalah ketika Kevin tanpa sengaja merobek baju putri Dempster sehingga memamerkan penutup mahkota berwarna merah pekat di badannya.


“Putra-putri Dempster, bagaimana menurutmu?”


Pertanyaan tiba-tiba itu mendiamkan Timmothy. Hanya lirikan mata yang bekerja, dan teredar seperti mencari jawabnya di udara.


“Evan, dia tipe setia. Dan mungkin akan susah membuatnya jatuh cinta. Tapi adiknya—” kalimat yang tertelan hening itu mengernyitkan dahi sang kakak.


Senyum tipis pun tersungging di bibirnya. “Sepertinya akan sangat susah bagiku untuk mengikatnya.”


“Benarkah? Kenapa?”


Timmothy menengadah. Menyaksikan langit-langit ruangan dengan sorotan mata tenang. Tangan kiri sibuk mengelus bibir gelas, dan lainnya mencengkeram ponsel.


“Karena bukan cuma paman Dome yang mengincarnya. Ada banyak laki-laki di luar sana menginginkannya, tapi hanya pak tua itu yang secara terang-terangan berani meminta keduanya. Aku tak tahu sedekat apa dirinya dengan kepala keluarga Dempster. Tapi ucapan pria itu benar-benar mengusikku. Dia jelas tak setuju kecuali kakak dan aku memang berhasil mendapatkan hati kedua anaknya itu.”


Sekarang mereka sama-sama terdiam. Kembali mengingat lirihan Dome Bosmova tentang Evan dan adiknya.


Dempster akan setuju menikahkan mereka kalau siapa pun yang menginginkan keduanya memang mampu membuat kakak beradik itu jatuh cinta.


Jelas banyak yang berlomba untuk melakukannya. Kekayaan Dempster serta sepak terjang kekuasaan mereka tentunya mengundang hasrat pengagumnya. Tapi hanya Evan yang terlihat di permukaan, sedangkan Eldrey menghilang dari peredaran.


Bertahun-tahun sampai sekarang tak ada yang tahu di mana keberadaannya. Bahkan Dempster juga tutup mulut untuk itu, tapi entah kesialan atau keberuntungan dua peserta mendapati lokasinya.


Dan Timmothy baru mengetahui kalau ternyata sosok bernama Eldrey Brendania Dempster memang menghilang dari naungan Dempster. Andai saja Dome Bosmova tak bersusah payah mengorek informasi dari sekretaris Roma, maka jelas berita itu takkan sampai ke telinga.


Entah apa pun pilihan yang akan diambil sang pemuda. Jika dia memang ingin serius dengan adik sahabatnya, mungkin sosoknya akan mulai mencari Eldrey lewat bawahannya.

__ADS_1


Berantakan.


Salah satu kamar hotel dipenuhi tangisan seseorang. Dari gadis muda dengan pakaian koyak memperlihatkan area dada tertutup bra. Wajah berpalingnya ditatap sosok di sampingnya.


Kevin Daniello Cesar.


Dia sudah berhasil menakutinya. Bibir sama terluka, tiga kissmark terukir di tubuh pujaannya, tapi untungnya ia tak merenggut kehormatannya.


Hanya saja sosoknya memang mampu menghantam kesadaran Eldrey. Memaksa putri Dempster untuk mengingat sepenuhnya luka lama. Penyiksaan di rumah kosong itu, rasa sakitnya, semua yang ada kembali tanpa iba.


Sekarang tak ada lagi kenangan kacau di kepala. Alurnya telah tertata dengan benar tanpa mungkin bisa dilupakan kembali olehnya.


“Aku, ingat semuanya,” ia bersuara. “Akhirnya aku ingat semuanya,” iramanya terdengar bergetar. “Akhirnya aku ingat apa saja yang sudah mereka lakukan padaku sampai seperti ini,” ucapnya dengan tangan mengarah ke langit kamar. “Mereka menyiksaku tanpa jeda, mereka hampir membuatku tuli dan buta. Mereka mengabaikan teriakanku yang mengemis ampun padanya.”


“Eldrey.”


“Benar memang itulah yang terjadi, bagaimana bisa aku lupa, memang itulah yang sudah dilakukan orang-orang brengsek itu padaku hingga sampai seperti ini,” tawa pelan terlontar darinya.


“Eldrey,” kaget Kevin melihatnya.


“Benar memang itulah yang terjadi. Memang itulah yang sudah dilakukan Camila padaku hingga aku seperti ini,” dirinya bangkit tiba-tiba.


“Eldrey, apa yang kamu katakan?” Kevin memegang lengannya.


Tapi sebuah senyuman terlukis di rupa. Mulai terasa aneh saat Kevin menatapnya lama.


“Benar. Bagaimana bisa aku lupa? Padahal pelakunya keluargaku sendiri.”


“Eldrey, apa yang kamu bicarakan? Aku mohon jangan aneh-aneh Eldrey,” paniknya sambil memegang kedua tangannya.


“Benar, seharusnya aku tidak pergi. Seharusnya aku tak peduli lagi. Ya, Betrand bisa melindungi ibunya, tapi bukannya aku juga bisa membunuhnya? Mata dibayar mata bukan? Begitulah aturannya.”


“Eldrey!” teriakan tiba-tiba itu membungkam suasana. Terdengar deru napas memburu dari putra Cesar. Ia benar-benar mencengkeram erat lengan gadis di depannya. “Sadar Eldrey! Apa yang kamu katakan? Jangan nodai tanganmu lagi! Ayahmu, dia tidak melepasmu pergi untuk jadi seperti itu. Ayahmu bahkan juga tersiksa—”


“Tahu apa kau?” potongnya. “Kau tak tahu apa pun karena kau orang luar,” sambil menatap tajam. “Kau bilang kau mencintaiku kan? Kalau begitu jangan halangi aku. Mungkin saja setelah itu aku akan sudi kembali ke pelukanmu.”


Kevin menatap tak percaya. Sepertinya ia sudah salah melakukannya. Dan sekarang dampaknya benar-benar di luar prediksinya.


“Eldrey, aku—”


“Tutup mulutmu, Kevin. Atau kau lebih suka menjadi korbanku? Aku tidak keberatan jika harus memulainya dari dirimu,” dan tangannya sekarang sudah mendarat sempurna di leher sang pemuda.


 

__ADS_1


__ADS_2