
Begitu banyak yang menari. Alunan musik menghentakkan denyutan di dada serta telinga berkumandang keras bagi penikmatnya. Rayuan para wanita cantik dengan style feminim mulai menjajakan kebolehannya. Melayani para lelaki yang tergoda bujuk rayuannya di kursi dudukan mereka.
Akan tetapi, dalam suasana yang terus berlanjut di mana Paul berekspresi tak suka menatap pekerjaan kakaknya, seseorang pun mendekatinya. Tersenyum padanya dengan belahan pakaian area dada serasa ingin mempertontonkan mahkota berharganya.
Dan lelaki muda itu, masih saja merasa tak suka. Dirinya terlalu mengkhawatirkan kakaknya.
“Minuman bersoda? Apa kamu di bawah umur?” tanya wanita itu sambil meliriknya lewat sudut matanya.
“Aku tidak ingin mabuk,” hanya itu balasan singkat Paul dengan mata yang tak lepas dari kakaknya. Jujur dirinya kaget, walau pertama kali melihat Patricia seperti ini ternyata saudaranya itu ahli dalam menari. Seketika kecut menghampiri, sedih karena semuanya harus seperti ini.
Tapi, tiba-tiba minuman dengan kadar alkohol lumayan untuk pemula tersodor di hadapan Paul. Mengejutkannya, membuatnya memamerkan muka masam padda gadis di sebelahnya.
“Cobalah untuk menikmatinya.”
“Minum saja sendiri.”
Wanita itu tertawa. “Jika ingin minum sendiri, maka aku tidak akan menghampirimu.”
“Terserah,” jengkel Paul lalu kembali menatap kakaknya.
Wanita itu terdiam sejenak. Dan ikut memperhatikan sumber tatapan pemuda di sampingnya. “Gadis yang cantik. Apa mungkin pacarmu?”
“Kakakku.”
“Penari striptis? Dan kamu sedang mengawalnya?”
“Masalah?” Paul benar-benar jengkel dibuatnya. Wanita ini terlalu ikut campur dan sibuk mengganggunya.
“Apa itu berarti kalian sedang butuh uang?”
“Apa maksudmu?” sang pemuda jelas kesal. Tapi wanita itu hanya tertawa pelan.
“Yah, sangat jarang bagiku melihat ikatan persaudaraan yang seperti ini. Seorang adik menjaga kakaknya dalam menyajikan tarian erotis. Bagaimana caraku menyebutnya? Benar-benar luar biasa.”
“Diamlah!”
Dan Paul pun berbalik untuk meminum minuman bersoda yang tadi baru sedikit disentuhnya. “Jika memang butuh uang, mau bekerja untukku?”
“Apa maksudmu?!”
__ADS_1
Wanita itu tertawa pelan. “Aku wanita yang sudah bersuami, namun selalu merasa sepi. Mungkin kamu bisa bilang kalau aku kekurangan kasih sayang. Jika mau bekerja untukku, akan kuberikan bayaran yang tinggi untukmu. Bagaimana? Apa kamu tertarik? Lagi pula aku ini orang kaya.”
Seketika guratan emosi terlukis di rupa sang pemuda. Entah merasa tersinggung akan ucapannya, tapi salah satu tangannya pun terkepal erat.
“Berapa banyak yang bisa kamu bayar?”
Wanita itu tertawa mendengarnya. “Tulis saja dalam cek yang akan kuberikan. Tapi kuharap, itu juga sesuai dengan pelayanan yang akan kamu berikan,” tangannya pun perlahan naik dan mengelus lembut wajah sang pemuda.
“Baiklah, kenapa tidak? Aku terima tawaranmu.”
Akhirnya, seringai tipis pun tercetak di bibir sosok berpakaian seksi itu. Perlahan ia genggam tangan sang pemuda, menariknya untuk berjalan mengikutinya. Sesekali orang-orang yang dilewati menyentuh dagu salah satu di antara mereka.
Seperti ingin menghentikan langkah dan ikut bermain bersama. Bar waiter yang dilewati keduanya pun menganggukkan kepala ke arah sang wanita. Seperti sudah saling mengenal cukup lama.
Sementara Patricia, dalam gerakan tubuh yang menari, pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Merasa takut karena sudah melihat kepergian adiknya dengan wanita asing di mata. Kebolehannya mulai kehilangan kefokusan sampai seorang seorang bar waiter memberi kode kepadanya. Meminta untuk tetap profesional dan semangat dalam bekerja.
Tapi, di balik kegelisahan sang gadis muda, seorang pria yang sedang duduk bersama kenalannya memamerkan seringai tipis. Tak menyangka akan melihat sosok yang tak terduga.
Dan dirinya pun menoleh pada salah satu laki-laki di sebelahnya. “Kuharap, anda akan menepati kesepakatan kita.”
“Selama kau memang bisa dipercaya, kenapa tidak? Buktikan saja perkataanmu padaku,” balas sosok yang sedang merangkul gadis berusia belasan tahun itu.
Akhirnya, Patricia pun selesai dalam pekerjaannya malam ini. Dirinya langsung panik dan menghampiri bartender yang tadi menemani Paul.
“Kak, apa kakak tahu adikku pergi ke mana?”
“Laki-laki barusan? Sepertinya dia tadi sibuk berbicara dengan Miss Christy. Mungkin mereka di lantai dua, periksa saja di sana.”
“Terima kasih!” dan Patricia pun terburu-buru berjalan menapaki lantai dua. Mencoba mencari sosok adiknya agar semua baik-baik saja.
Bagaimanapun juga, Paul adalah anak yang bersih. Dia tak ingin, saudaranya itu melakukan sesuatu yang akan merusak martabat wanita. Bentuk kasih sayangnya pada adik semata wayangnya.
“Patricia?!”
Gadis itu tersentak, saat melihat sosok tak terduga mencegat tangannya.
“Paman?! Apa yang kau lakukan di sini brengsek!”
“Apa katamu!” hardiknya sambil mencengkeram erat lengannya.
__ADS_1
“Agh! Sakit bajingan!” ronta gadis itu sambil memukul sosok yang merupakan bagian dari keluarga ayahnya.
“Bajingan?! Dasar keponakan kurang ajar!” dan akhirnya, tamparan pun dilayangkan pria itu pada Patricia. “Seharusnya kau berterima kasih karena aku tidak membinasakan keluargamu!”
“Berterima kasih?! Setelah semua yang terjadi?! Kau hancurkan kepercayaan ayahku! Dan kau bilang aku harus berterima kasih?! Seharusnya aku membunuhku karena sudah memporak porandakan nasib keluargaku!”
“Agh!” erang pria itu karena Patricia menendang lututnya. Bahkan dirinya juga dihujani dengan pukulan oleh sang keponakan yang menyebalkan. “Hentikan, gadis keparat!”
“Agh! S-sakit!” erang Patricia karena pamannya itu tiba-tiba menjambak rambutnya.
Di kawasan VIP area sayap kiri ini, tak begitu banyak orang yang lalu lalang. Sehingga tak satu pun menonton pertikaian mereka. Beberapa penikmat layanan Club menjadikan beberapa ruangan tersedia sebagai tempat transaksi ataupun pemuas layanan untuk level kelas tinggi.
Dan di sinilah Patricia. Dirinya diseret paksa oleh pamannya dalam keadaan meronta dan tidak baik-baik saja. Perutnya bahkan sempat dipukul oleh adik ayahnya itu karena melawan.
Namun di balik itu semua, seorang gadis muda telah memperhatikan siksaan yang diterima olehnya. Hanya diam tanpa berniat membantunya. Menyaksikan dengan saksama. Seolah tak punya rasa iba akan apa yang menimpanya.
Sekarang di sinilah Patricia. Meronta di depan pintu VIP sambil mencoba melepaskan jambakan dari pamannya. Begitu pintu terbuka, dirinya disambut oleh tiga pria dan seorang gadis sebaya dirinya.
Mengerikan.
Gadis di depan mata sudah tak berdaya. Mabuk sambil memamerkan pakaian tak senonohnya.
Patricia terkesiap. Seketika takut menghujam kesadarannya terlebih menyadari tatapan singa lapar dari penghuni ruangan kepada dirinya.
“Wah, kau benar-benar membuktikan ucapanmu. Siapa si cantik ini?” tanya seorang laki-laki berusia sekitar 28 tahun. Jas di badannya sudah tergantung di pinggiran sofa. Bahkan dasi di leher telah longgar ikatannya.
Begitu pula untuk kedua pria di sisinya. Keadaan tersebut juga berlaku untuk mereka.
“Tentu saja keponakanku. Bagaimana menurut anda?” tanyanya sambil mendorong paksa Patricia.
“Mau apa kau brengsek! Lepaskan aku! Kubilang lepaskan aku!” teriak Patricia sambil meronta dengan sangat gila. Sampai akhirnya tamparan selanjutnya dilayangkan pamannya itu pada keponakannya hingga jatuh tersungkur tak berdaya.
“Hei! Jangan nodai pelayan kami! Kau ingin perjanjian kita batal?!” hardik salah seorang pria dengan kemeja merah di badannya. Usianya diperkirakan sekitar 35 tahun.
“Ah, m-maafkan aku Tuan. Karena aku sudah menepati janjiku, aku akan pergi dulu. Semoga kalian terhibur dengan sajian yang kubawakan.”
“Terima kasih,” pria berusia 37 tahun dengan rambut panjang dikuncir pun tersenyum puas melihat pesona gadis di depannya.
Sungguh ini mimpi buruk bagi Patricia. Di saat dirinya ingin mencari adiknya, justru keadaannya menjadi seburuk ini. Sang paman bahkan meninggalkannya di dalam sana tanpa kata. Seolah gadis tersebut sangat tidak berharga.
__ADS_1