FORGIVE ME

FORGIVE ME
Pengakuan Eldrey


__ADS_3

Afro yang syok melihat kejadian itu pun langsung lari menghampiri. Bukan hanya dirinya, bahkan beberapa pengawal serta pelayan juga. Untung para tamu berada di area rumah utama dan lantai dua, sehingga kawasan belakang di mana kolam renang berada tidak dihampiri.


“Nona! Apa yang anda lakukan?!” Afro benar-benar kaget dan mengulurkan tangan untuk membantu sang pemuda.


“Aku hanya membantunya untuk mendinginkan otaknya. Kamu bisa pinjamkan dia baju ganti kan? Lagi pula ukuran tubuh kalian sepertinya sama,” jawabnya datar.


Bahkan Kevin masih tak bisa berkata-kata akibat perbuatan kekasih yang ingin jadi mantan di acara kebahagiaan keluarganya sendiri.


“Maaf Tuan Timmothy, sepertinya aku harus undur diri. Sampai berjumpa lagi,” sempat-sempatnya Eldrey memamerkan senyum manis di bibirnya.


Berlalu dari sana menuju kamarnya. Ia tak ingin lagi mengikuti acara ini.


Bersikap ramah yang tak sesuai dirinya sangat melelahkan fisiknya.


Lebih baik rebahan sambil membaca bukunya.


Tanpa ia sadari, di waktu yang terus bergulir dirinya pun terlelap akhirnya.


Pagi hari, dalam suasana masih diselimuti sisa-sisa acara, para penghuni Dempster sarapan bersama.


Eldrey agak terlambat sehingga kehadirannya menjadi bahan tontonan sosok-sosok penduduk di meja makan.


Mereka menatapnya dengan pandangan beragam dan ia tak peduli.


“Ayah dengar semalam kamu mendorong putra keluarga Cesar ke kolam renang.” Gerakan Eldrey yang hampir menggigit roti itu terhenti sejenak. “Kenapa?”


“Dia gila.”


Dua kata itu berhasil mengerutkan dahi pendengarnya.


“Bukankah karena dia ingin bicara denganmu makanya kamu dorong?” sela Charlie tiba-tiba.


Eldrey pun mengangkat sebelah alisnya.


“Untung saja dia tidak marah dan bilang kalau dirinya terpeleset. Sepertinya dia menyukaimu, Nona,” Daniel Bonapart yang ikut sarapan bersuara.


Eldrey tidak meresponsnya dan lanjut memakan rotinya.


Sementara sang ibu di seberang tampak ingin mengatakan sesuatu namun masih ragu-ragu.


Tentunya Eldrey meliriknya. Menyipitkan mata sehingga Raelianna merasa tertekan. Walau suasana sudah jauh lebih baik, nyatanya sikap dingin dan cuek putrinya cukup membebaninya.


“Mm ... Eldrey,” panggil Ibunya tiba-tiba. Pastinya orang-orang jadi penasaran karena Bu Anna begitu gelagapan.


“Ada apa, Anna?” tanya Presdir Betrand.


“I-itu, apa Eldrey mau menemani Ibu bertemu dengan teman-teman Ibu?”


“Tidak.”


Jawaban singkat itu cukup menyentak hati Bu Anna. Tapi ia coba tenangkan dirinya dan berusaha membujuk putrinya sekali lagi.


“Ini pertemuan dengan beberapa istri pengusaha. Mereka akan bawa putrinya jadi I-ibu harap kamu juga mau pergi bersama Ibu, Nak.”


“Kau tidak lupa kan dengan pertemuan sebelumnya?”


Seketika orang-orang berhenti makan. Terlebih lagi Betrand yang tiba-tiba menggenggam tangan putrinya. “Eldrey, panggil Anna, Ibu ya?” pintanya.


Gadis itu pun tersenyum sinis. “Benar juga. Ibu Raelianna Jin tidak lupa kan dengan kejadian sebelumnya? Di mana dirimu yang terhormat direndahkan para istri pebisnis itu.”


“Nak, yang mengundang Ibunya, Dean. Kalau ayah tidak salah, dia juga temanmu bukan? Ayolah temani Ibumu. Kapan lagi kalian pergi bersama? Katanya orang-orang itu juga mau membawa anak gadisnya.”


“Untuk apa? Ajang pamer?” Eldrey tidak memperlihatkan kelunakan hatinya.

__ADS_1


“Iya. Kalau bukan kamu yang akan dipamerkan ibumu, siapa lagi? Tidak mungkin ayah kan?”


Lihatlah, seberapa lunak perjuangan Betrand dalam membujuk putrinya.


Bagaimanapun tidak mungkin dirinya tak mengizinkan istrinya mengikuti acara para wanita berkelas itu.


Mengingat Nyonya Julia yang merupakan teman masa kuliahnya, secara khusus mengundang istrinya.


Walau sebagai ajang penambah teman dan berkumpul, tapi sebenarnya itu memang acara pamer para wanita.


Entah akan menyombongkan apa di sana, tapi Betrand benar-benar berharap putrinya yang bermulut tajam itu hadir menemani istrinya.


“Pergi saja, Nona. Apa kamu tidak bosan di rumah saja? Mungkin kamu bisa dapat teman,” Charlie ikut menimpalinya.


Setelah menatap Charlie beberapa detik Eldrey pun menyetujuinya.


Percayalah, siapa pun sadar kalau gadis itu lebih mendengarkan masukan bawahan ayahnya daripada Betrand.


Walau rasanya agak kecut di dada, kepala keluarga Dempster itu sadar jika putrinya lebih dekat dengan tangan kirinya itu.


Memang masih sulit untuk menyentuh hatinya. Setidaknya suasana sekarang jauh lebih baik bagi mereka.


Karena Eldrey tak sedingin sebelumnya.


Esoknya pertemuan di rumah Nyonya Julia akan dihadiri sekitar tujuh istri pebisnis dan para anak gadisnya.


Entah karena Nyonya Cesar itu tidak punya putri atau bagaimana, pertemuan konyol itu diadakan di rumahnya.


Dan sekarang di sinilah Eldrey.


Siang harinya ia serta Raelianna sama-sama menuruni mobil yang disupiri Afro. Melangkah pasti memasuki kediaman megah milik orang tua Dean dan Kevin itu.


“Selamat datang, Nyonya Anna,” sapa sang tuan rumah. “Eldrey, halo sayang,” bahkan pelukan hangat juga ditorehkan untuknya.


Berbagi perkenalan, walau sebenarnya sudah bertemu dengan istri Betrand Dempster di pesta pernikahan.


Parahnya lagi, Nyonya Nera juga turut hadir di sana. Tentunya Fiona juga ada bersamanya.


Kakak Ramses itu melambaikan tangan pada Eldrey dan bahkan duduk di sampingnya.


Melepas canda tak ingin ikut serta berbaur dengan para wanita sebaya ibunya yang sibuk memamerkan kesombongan mereka.


“Eldrey, ayo kita keluar,” bisiknya tiba-tiba.


Gadis itu hanya mengangguk sekilas dan Fiona tanpa keraguan memotong perdebatan para wanita dan kaum gadis muda itu dalam berbicara.


Tentunya hal itu ditatap tajam Nyonya Nera. Tapi kakak dari Ramses tak peduli dan terus menarik Eldrey sambil ditatap senyum Bu Anna karena anaknya punya teman di sana.


“Ah, melelahkan,” keluh Fiona sambil duduk di gazebo yang tersedia di kediaman itu. Eldrey hanya diam memperhatikannya. “Apa kamu tidak lelah?”


“Tidak.”


“Wah, luar biasa. Apa kamu menyukai acara para ibu-ibu itu?”


“Tidak.”


“Aku juga tidak. Bahkan aku tak tahu apa gunanya pertemuan itu. Cuma ajang pamer dan cari jodoh putra-putri mereka yang tidak laku.”


“Benarkah?”


“Tentu saja. Aku sudah sering mengikutinya lho, tapi ibuku terus gigih memaksaku ikut. Benar-benar menyebalkan,” umpat kakak Ramses itu. “Oh ya, Eldrey. Apa kamu tahu kalau adikku akan dijodohkan?”


“Ya.”

__ADS_1


Fiona pun terdiam sejenak melihat respons datar gadis di depannya. Perlahan ia mainkan ponselnya, lalu mendekat dan menatap lekat wajah putri Dempster.


“Apa kamu tidak punya perasaan apa pun pada adikku?”


“Tidak.”


“Benarkah? Sedikit pun? Adikku tampan lho.”


“Ya. Dia memang tampan.”


“Lalu?”


Eldrey pun tertawa pelan. “Apanya?”


“Adikku?”


“Apa yang sebenarnya ingin kakak katakan?”


Fiona pun melirik ke atas seolah memikirkan sesuatu. Lambat laun tatapannya kembali bertemu dengan Eldrey.


“Apa kamu tidak ada niat berpacaran atau bertunangan dengan adikku?”


“Tidak.”


“Kenapa? Padahal aku lebih suka kalau kamu yang jadi pasangan Ramses,” ucapnya tanpa basa-basi.


“Kami hanya teman.”


“Tak bisakah berubah jadi cinta?”


“Mungkin bisa jika Ramses berusaha keras menaklukan hatiku untuknya.”


“Benarkah?” tiba-tiba raut wajah Fiona berubah semringah.


Eldrey yang mengatakan semuanya apa adanya tentu tak paham dengan maksud respons Fiona. Karena ia tak berpikir panjang akan efek yang mungkin ditimbulkan ucapannya.


“Ah!” pekik wanita itu tiba-tiba.


“Ada apa?”


“Aku mau pipis. Temani aku ya. Tenang saja, cuma menunggu di depan kamar mandi, tidak lama. Mau ya, mau?” bujuk Fiona.


Eldrey mengangguk dan mengikutinya. Lewat pintu belakang, sepertinya Fiona tahu di mana tata letak kamar mandi milik keluarga Cesar.


“Eldrey? Kak Fiona?” sapa Dean.


“Ah, halo Dean, Kevin,” ucap kakak Ramses dengan tampang risih. “Mm, aku numpang ke kamar mandi ya,” dirinya tampak terburu-buru.


“Eh, iya.” Sekarang, tinggallah Eldrey dan kakak beradik Dempster. “Sedang ikut pertemuan itu?” tanya Dean sambil menunjuk ke belakang. Padahal ruang tamu entah ada di mana.


“Mm.”


“Ya sudah kalau begitu. Aku ke kamarku dulu ya,” pamitnya sambil mengusap kepala putri Dempster.


Berbeda dengan Kevin. Dia tidak mengatakan apa-apa. Seolah mereka orang asing dan mungkin semua karena kejadian semalam. Tapi memang Eldrey namanya. Ia tak peduli dan takkan memikirkan.


Nyatanya isi otaknya sekarang bagaimana caranya agar cepat pulang.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2