FORGIVE ME

FORGIVE ME
Saling mengancam


__ADS_3

“Halo,” sapa Eldrey begitu ponsel di tangannya.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya pria di seberang telepon itu.


“Tidak sehat.”


“Lukamu?”


“Parah.”


Charlie pun menutup paksa mulutnya, suara tawa hampir saja meledak dari bibirnya.


“Ayah empat hari lagi akan pulang, pekerjaan di sini masih menumpuk,” jelas presdir Betrand.


“Begitu?”


“Apa ada yang kamu inginkan sebagai oleh-oleh?”


“Tak ada, aku hanya ingin istirahat.”


“Aku akan memerintahkan Charlie untuk meningkatkan penjagaan, pindahlah ke rumah,” perintahnya.


“Mmm, kalau sudah selesai akan kututup teleponnya.”


“Apa tak ada yang ingin kamu minta dari ayah?”


“Baiklah, kalau begitu jawab saja satu hal. Apa aku benar-benar anakmu?”


“Apa maksudmu?”


“Tidak ada, lupakan saja, aku hanya bercanda ayah,” lirih Eldrey datar. Ia pun memberikan ponsel itu pada Charlie.


“Aku lelah,” gumam gadis itu merebahkan kembali tubuhnya.


Akhirnya Charlie pun terpaksa melanjutkan pembicaraan dengan bosnya itu. Setelah ia selesai, “apa yang kau pikirkan bertanya seperti itu?” tanya Charlie jengkel.


“Apa maksudmu?”


“Bos berpikir macam-macam kalau aku mengatakan sesuatu yang aneh-aneh padamu,” jelas Charlie.


“Aku hanya bertanya apa aku benar anaknya atau tidak, apa yang aneh dengan itu?” tanya Eldrey.


“Tentu saja aneh, sudah jelas kau anaknya! Apa lagi yang kau tanyakan?!” gerutu Charlie.


“Karena bagiku tidak tampak seperti itu.”


“Di mananya yang tidak? Apa kau tak bisa merasakan dengan jelas kasih sayang darinya selama ini?”


“Tidak, karena jika aku memang anaknya sudah seharusnya ia cepat pulang melihat kondisiku dibandingkan bisnisnya itu,” jelas Eldrey jengkel.


“Ayolah, bukankah bisnis itu menghasilkan uang demi memenuhi kebutuhanmu?”


“Begitu cara pikirmu?”

__ADS_1


“Karena aku hidup seperti itu, bersyukurlah nona, kehidupanmu jauh lebih baik dariku. Yang perlu kau lakukan hanya menikmati semuanya dan bersikap patuh, itu takkan merugikanmu bukan?”


“Keluarlah, ocehanmu hanya membuatku tambah sakit,” lirih Eldrey dingin.


“Nona, walau tak pantas aku tetap akan mengatakannya. Tolong jangan tambah beban presdir dengan ulahmu, sudah cukup ia membersihkan darah yang kau tuai dulu. Dia selalu memikirkan masa depan dan kebahagiaanmu, jika bukan demi keluarga, presdir takkan bisa sampai di titik ini,” tukas Charlie.


Eldrey pun tersenyum, “sudah seharusnya ia berusaha seperti itu, karena dia adalah kepala keluarga.”


“Benar, tapi tolong jangan tambah bebannya. Dari dulu sampai sekarang perjuangannya tak mudah, banyak yang harus ia korbankan dan kau hanya akan menambah susah jika berulah lagi,” tukas Charlie blak-blakan.


“Sudah selesai? Kalau sudah pergilah,” usir Eldrey. Tampak jika ia sudah muak mendengar ocehan Charlie itu.


“Iya-iya! Aku akan keluar!” Charlie pun segera melangkah pergi dari kamar tersebut. Eldrey memandang lekat langkah kaki yang beralih pergi.


“Kasih sayang darinya? Hanya orang gila yang tega mengirim putrinya ke rumah sakit jiwa,” gumam pelan Eldrey.


Gadis itu memperhatikan telapak tangannya yang dibalut perban itu, “saking kesalnya aku bahkan tak bisa merasakan sakitnya sekarang.”


Malam pun datang ....


“Bagaimana? Apa kata keluargamu?” tanya Charlie pada Kevin.


“Mereka percaya kalau aku menginap di rumah temanku,” jelas Kevin.


“Begitu? Baguslah, kalau begitu ayo kita pergi.”


“Pergi ke mana?!”


“Ayo kita pulang ke tempat yang seharusnya,” lirih Charlie tak diacuhkan Eldrey.


Di pintu keluar, “nona, tolong diingat lagi, anda tak boleh berjalan-jalan sampai kaki anda benar-benar sembuh. Tolong selama seminggu ini diusahakan seperti itu, saya mohon nona,” sahut dokter Arlene.


Eldrey pun tersenyum, “jangan cemas, aku akan mengingatnya.” Mereka pun memasuki mobil yang sudah disiapkan. Di dalam mobil ada Charlie, Eldrey dan Kevin. Sedangkan di mobil belakang ada para pengawal sekaligus bawahan Charlie.


Kevin terlihat tidak tenang, itu semua terlukis jelas di wajahnya.


“Ada apa nak? Apa dadamu sesak?” tanya Charlie terkekeh pelan.


Kevin hanya menatap pria yang mengemudikan mobil itu, seolah-olah ada yang ingin ia katakan namun tertahan.


“Jika ada sesuatu sampaikan saja, aku akan mendengarkannya.”


“Besok aku harus pulang, tak peduli apa pun alasannya,” tegas Kevin.


“Kenapa?”


“Karena orang tuaku bisa cemas nantinya.”


“Bukankah kau sudah bilang akan menginap di tempat temanmu?”


“Tapi bukan berarti aku harus berlama-lama bersama kalian bukan? Aku takkan membocorkan apa pun yang kulihat, karena itu biarkan aku pulang,” ucap Kevin sedikit emosi.


“Bagaimana menurutmu nona?”

__ADS_1


“Terserah,” jawab Eldrey singkat.


“Mmm, baiklah, besok kau sudah bisa pulang,” Charlie pun akhirnya menyetujuinya. “Tapi jangan lupa, kalau kami selalu memperhatikanmu, jika kau aneh-aneh kupastikan kau beserta keluargamu akan beres secepatnya,” tekan Charlie tersenyum misterius.


“Aku bukan orang bodoh yang tak tahu posisiku,” tantang Kevin.


“Dan aku suka sekali tatapanmu, jika kau bukan anak Kendal sudah pasti kau kurekrut jadi rekanku.”


“Dan belum tentu juga aku akan mau.”


“Entahlah, tak ada yang bisa menolak kekuasaan, mungkin saja kau akan terpana dengan imbalannya,” Charlie pun terkekeh.


“Jadi, apa yang sudah ditawarkan padamu tuan?” tanya Kevin tiba-tiba yang membuat kedua orang di depannya terdiam. Eldrey lalu menoleh kepada Charlie.


“Kenapa kau bertanya seperti itu?”


“Karena aku penasaran dengan keloyalan anda sebagai orang yang melayani keluarga tuan Betrand.”


“Sepertinya kau sudah tahu siapa aku.”


“Bagaimana mungkin aku membiarkan diriku tidak tahu terlibat dengan siapa? Setidaknya aku harus menyiapkan sesuatu agar hidupku tenang. Lagi pula keluarga yang penuh misteri setiap napasnya pasti takkan membiarkan saksi mata tetap hidup, mengingat kalian membersihkan kejadian di rumah sakit tanpa tercium media ataupun ayahku yang sebentar lagi akan memiliki rumah sakit itu,” sahut Kevin tanpa basa-basi.


Eldrey dan Charlie sama-sama menoleh ke belakang, menatap Kevin dengan sorot mata yang dingin, “luar biasa sekali, bagaimana cara kalian menutupi semuanya? Mengingat begitu banyak saksi mata di rumah sakit itu,” tukas Kevin terheran-heran.


“Kau!” gumam Charlie jengkel.


“Kau penasaran? Kami melakukan semua cara yang tak bisa dibayangkan siapa pun,” tukas Eldrey tiba-tiba.


“Nona!” pekik Charlie kaget.


“Sekarang kau mengancam kami? Apa kau sudah menyiapkan sesuatu sebagai jaminan? Jika cuma sekedar rekaman dan kesaksian takkan berguna untuk menjatuhkan kami. Lebih baik kau bersikap seperti orang mati atau benar-benar mati Kevin, karena jika kau menarik tali kupastikan imbasnya tak hanya berdampak pada keluargamu. Kau bukanlah tandingan kami,” sahut Eldrey santai.


“Apa ini? Kalian sedang menggertakku?” sela Kevin penasaran.


“Tidak, tak ada gertakkan. Hmmh! Sekarang aku penasaran, apa yang bisa kulakukan pada Alice sebagai sahabat baikku,” ucapnya tiba-tiba.


“Apa maksudmu?!”


“Secara garis besar penusukanku terhubung dengannya, bukankah tidak adil jika aku saja yang terluka?” lirih Eldrey angkuh.


“Kau!” ekspresi Kevin berubah mendengarnya.


“Aku tahu dia berharga bagimu, tak hanya kau tapi bagi kakakmu juga, jika kau macam-macam dengan kami semua yang berkaitan denganmu akan dibersihkan termasuk Alice dan ibunya,” Eldrey balik menekannya yang membuat Charlie tersenyum.


“Kak Alice temanmu!”


“Lalu? Bukan berarti aku harus menahan diri padanya bukan?”


“Kau! Tak kusangka kau gadis yang kejam!”


“Kejam? Aku tak yakin apa itu pantas untukku, mengingat aku tak terhina dengan itu,” balas Eldrey yang mengundang tawa Charlie.


“Sudah nona, kau hanya ingin memperkeruh suasana, apa kau tak lihat ekspresinya?” timpal Charlie untuk menengahi pembicaraan mereka.

__ADS_1


__ADS_2