
Cinta itu buta.
Bunga layu tampak indah di mata, darah keji begitu dipuja sang penyuka, dan dosa besar bisa menjadi wajar bagi mereka yang di rundung sensasinya.
Mungkin, itulah yang dirasakan laki-laki di kursi penumpang mobil mewah di tengah kota. Membelah jalanan tanpa peduli waktu dan keadaan, namun matanya tetap fokus pada satu tujuan.
Layar ponsel, memamerkan peta dan juga sebuah titik pelacakan. Di suatu tempat yang mengundang khawatir juga penasaran.
Sementara sumber pencarian sedang tersenyum pada seseorang. Wanita tua di pembaringan hanya bisa meringkuk ketakutan, dan mulutnya disumpal dengan sapu tangan.
Walau tak terikat, gerakan enggan dilontarkan mengingat sebuah pistol menyentuh tepat lehernya.
Lambat laun benda menakutkan itu beralih pada mata kanan. Bisa dipastikan saat pecahnya suara penembakan, maka sosok Camila akan berakhir menyedihkan.
Uraian air mata memohon ampunan tidak mengusik sang pelaku. Gadis itu tetap berekspresi tenang. Dan di detik-detik selanjutnya suara seraknya lolos lepas di sela-sela bibir ranumnya.
“Kenapa?”
Camila terkesiap.
“Bukankah aku cucumu?”
Air mata dari sosok tak berdaya semakin tercerai-berai.
“Darahmu mengalir di tubuhku. Jadi kenapa?”
Sensasi aneh mulai merasuk ke raga, menghantam perasaan sang wanita tua.
“Aku tidak salah. Jadi kenapa kau lakukan itu padaku?”
Tanpa sadar nyonya Gates mengepalkan tangan.
“Ayahku yang membangkang. Dia dan istrinya sumber kebencianmu. Lalu kenapa? Kenapa harus aku? Aku hanya korban dari keegoisanmu.” Perlahan Eldrey menengadah, menatap langit-langit berwarna putih pucat. Sorot matanya terlihat tak berminat, namun saat kembali memandangi Camila, mendadak berubah menjadi tajam.
Tampaknya masih banyak yang ingin ia katakan.
“Apa kau ingat? Pertemuan pertama kita. Kau tersenyum padaku, begitu hangat hari itu. Tapi semua berbeda, senyumanmu seolah hanya mimpiku saja, saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana sikapmu.”
Tanpa aba-aba gadis itu mencengkeram tangannya. Mengabaikan jarum infus yang ada dan jelas-jelas bisa saja melukai nenek kandungnya.
Camila tersentak. Seketika ia meronta sebelum Eldrey melepaskan dirinya. Aliran darah pun merangkak naik lewat selang infus akibat kegilaan cucu perempuannya itu.
__ADS_1
Seringai tipis tercipta dan membelah wajah cantik putri Dempster.
“Aku dituntut sempurna. Tanpa cela, tanpa masa depan sebagaimana mestinya. Kau buat aku seperti boneka, dan kau siksa aku sampai trauma. Dan yang lebih parahnya lagi, kedua orang tuaku membuangku begitu saja. Anna tidak menginginkan aku, Betrand bahkan mencampakkan diriku. Dan saat kutahu kalau kaulah pelaku semua itu, apa yang kudapatkan? Kau dilindungi olehnya, oleh pria yang seharusnya menjadi sandaran juga tumpuanku.”
Eldrey yang tadinya berdiri sekarang duduk di kursi samping brankar. Berpose angkuh dengan tatapan lekat pada pistol di tangan.
“Darah memang lebih kental dari air, tapi sepertinya itu tak berlaku untukku.”
Gelengan kepala yang begitu kuat memaksa wanita tua itu untuk menarik sapu tangan penyumpal.
Celiac.
Penyakit autoimun, gejalanya muncul akibat mengonsumsi makanan mengandung gluten. Mampu menimbulkan keluhan pada sistem pencernaan dan komplikasi serius jika tidak diobati.
Itulah yang di derita Camila saat ini. Akan tetapi gejala yang dialami Nyonya Gates justru berada di luar sistem pencernaan.
Anemia defisiensi besi, tubuh mudah lelah dan nyeri sendi, serta pengeroposan tulang yang sempat membuatnya histeris.
Hanya saja bagi Eldrey tidak ada iba. Bahkan ketika suara bergetar neneknya mengalun sendu ke dalam telinga. Sorot mata itu masih menekan suasana.
“Maaf,” satu kata tercipta. Tampak tulus juga takut yang dipancarkan Camila. “Maafkan, nenek sayang. Maaf,” pintanya penuh harap.
“Maaf?” gadis itu terkekeh pelan. “Apa maafmu bisa mengembalikan semuanya?”
Dan tatapan mereka yang bertemu saling melukiskan sesuatu.
“Eldrey?” Kevin terkejut melihat pistol di tangan putri Dempster.
Sang gadis langsung bangkit dari duduknya, memasang ekspresi tidak mengenakan untuk dipandang lawan bicara. Sementara rasa syukur memenuhi hati Camila. Berharap kalau ini memanglah bantuan dari Tuhan untuk menyelamatkan dirinya.
“Ini mengejutkan. Tak kusangka kau muncul di sini,” ucapnya. Sayangnya ia tak tahu kalau trench coat yang dikenakan memang dipasangi pelacak.
Walau bukan untuk hal ini, tapi Kevin juga tak menduga kalau rencana berjaga-jaga yang ia terapkan mampu mengantarnya pada putri Dempster.
“Eldrey, apa yang ka—”
Terkesiap tentunya. Terlebih serangan Camila yang tiba-tiba merebut pistol membuat Eldrey naik pitam. Tanpa ampun ia cekik leher wanita itu dan bersamaan dengan tarikan pelatuk di tangan, refleks Kevin menjadi jawaban menyedihkan.
Sang pemuda tertembak karena tak sengaja mengarahkan senjata itu padanya.
“Tuan muda!” pekik seorang pria yang tadi menemani Kevin. Sementara Camila histeris melihatnya, dan jatuh pingsan akibat syok mendera.
__ADS_1
Dan putri Dempster, dengan tangan masih memegang pistol ia tatap lekat laki-laki yang tertunduk di posisi terduduk itu. Memegangi area di bawah dada kanan dengan darah merah membasahi pakaian.
Anehnya justru senyuman yang ia tampilkan. Perlahan diraihnya satu tangan Eldrey dalam jangkauan dan melirihkan kalimat di luar perkiraan.
“Bram, apa pun yang terjadi tolong jaga Eldrey.”
Mengejutkan pendengaran. Sayup-sayup pekikan cemas lolos lepas di telinga. Putra Cesar akhirnya tak sadarkan diri di hadapan mereka. Teriakan sang ajudan memenuhi lorong di lantai dua. Mencoba mencari bantuan agar sang tuan muda bisa diselamatkan.
Nyatanya Eldrey masih membeku di posisinya memandangi laki-laki muda yang tak berdaya.
“Tolong, Dokter. Cepat tolong dia!” pinta sosok bernama Bram. Bahkan ia juga membantu menggendong Kevin di punggungnya. Sebelum meninggalkan ruangan, “Nona,” panggilnya tiba-tiba. Membuyarkan kebisuan Eldrey di sana.
Lambat laun gadis itu mengikuti mereka, sekilas ia tatap tajam sosok lewat paruh baya di brankar. Masih tak sadarkan diri dalam posisi menyedihkan.
Akhirnya tanpa keraguan ditembaklah lampu kamar. Bunyinya yang terdengar menakutkan mengundang kebungkaman sosok di pintu ruangan.
“Ayo cepat,” ajak Eldrey pada bawahan Kevin dan sang dokter. Mengabaikan tatapan mereka, gadis itu pun melirik tajam. “Tunggu apa lagi?!” hardiknya.
Dan mereka yang terkesiap pun segera membawa Kevin ke IGD. Dokter spesialis diturunkan, operasi dilakukan, sementara dua penunggu dirundung perasaan yang berbeda.
Eldrey masih berekspresi tenang sedangkan Bram berlalu-lalang di depannya.
“Apa kau tidak akan menghubungi keluarganya?”
Bawahan putra Cesar terdiam. Raut wajahnya sulit diartikan, pandangan matanya tertunduk ke pijakan. Ada beban di tampangnya, laki-laki berusia 30 tahunan itu pun menghela napas panjang.
“Anda benar, Nona. Saya harus menghubungi keluarga tuan muda.”
Sementara ajudan Kevin melakukan panggilan, Eldrey pun memperhatikan telapak tangan. Mengingat kembali jejak senjata yang sudah melukai putra Cesar.
Masih di negara yang sama, di sebuah bandara satu keluarga terpandang baru saja turun dari pesawat. Napas memburu melukiskan dua orang di antara mereka.
Betrand Gates Dempster dan juga Charlie Stevano.
Bagaimana tidak, informasi yang disampaikan Dome Bosmova itulah penyebab kekhawatiran mereka. Mengingat pak tua itu dengan rendah hati memberikan pistol pada tuan putri Dempster.
Tanpa memikirkan dampak sampingnya, ia justru bersuara tanpa merasa bersalah.
“Aku menghargai gadis itu, dan aku percaya kalau ia takkan sekeji itu.”
Nyatanya hati Betrand dan Charlie justru mengatakan hal yang berbeda. Mereka percaya kalau Eldrey bisa lebih kejam dari yang bisa dibayangkan oleh mereka.
__ADS_1