
“Sudahlah! Memang melelahkan membahas ini dengan buaya kurang nafsu seperti kalian!” gerutu Steven melangkah pergi.
“Hei! Mau ke mana?”
“Ambil minum!” ketus Steven pada Henry.
“Ada apa dengan si bodoh itu?” tanya Henry.
“Dia kan baru putus dari kekasihnya.”
“Aku juga tahu itu. Tapi untunglah, setidaknya dia sudah tak berhubungan lagi dengan nenek sihir itu. Aku sudah lelah ikut jadi supirnya,” gerutu Henry sambil memanyunkan bibir.
Kevin tertawa menanggapi. Sampai akhirnya Steven yang bertampang jengkel kembali dengan snack dan juga beberapa kaleng minuman.
“Apa tidak ada yang bisa menghilangkan kebosananku?”
“Silakan main game. Kau tidak akan bosan,” tawar Kevin pada Steven yang hampir saja melemparkan minuman kaleng padanya.
“Diam bodoh! Kau benar-benar teman yang jahat,” Steven lalu memakan snacknya.
Mereka sibuk masing-masing, sampai akhirnya Steven memandang sebal pada Henry.
“Apa yang dari tadi kau lakukan?!” ia merebut ponsel Henry.
“Kembalikan!” Henry merebutnya.
“Kenapa?! Padahal aku kan cuma penasaran!” Steven menghindari kejaran Henry. “Kevin!” teriaknya melempar ponsel ke arah pemuda itu.
“Kembalikan!” teriak Henry, tapi Steven menahannya bersamaan dengan Kevin yang berhasil menangkap ponsel itu.
“Apa ini? Dress perempuan?” Kevin mengernyitkan dahinya.
“Aduh!” pekik Steven karena kakinya diinjak.
“Kembalikan bodoh! Kembalikan!” Henry merebut paksa ponselnya dari Kevin.
“Kamu lagi dekat dengan seseorang?” Kevin menatap lekat mata Henry.
“Tidak! Mana mungkin!” kilah Henry. Mukanya merah karena ulah kedua temannya yang tadi mengganggunya.
“Benarkah? Lalu kenapa kamu lihat-lihat dress perempuan begini?” Steven mulai menginterogasi.
“Aku kan cuma lihat-lihat! Memang apa salahnya?”
“Ini dia. Bocah ini mulai mencurigakan sejak malam terakhir kita di Club. Bukan begitu Kevin?”
“Aku hanya lihat-lihat gambar saja, kenapa kalian berlebihan begitu?!” Henry memanyunkan bibirnya.
“Karena kamu mencurigakan. Terlebih lagi kamu menolak ajakan para primadona. Tentu saja itu mencurigakan!”
“Sudahlah! Aku malas berdebat tak penting denganmu!” Henry mengalihkan perhatiannya dari Steven yang masih menempelinya dengan tatapan curiga.
“Aku yakin kamu lagi dekat sama perempuan. Atau jangan-jangan sama cewek jalanan itu? Siapa namanya? Erey? Derey? Rerey?!”
“Jangan ngawur! Nama dia Eldrey! Jangan sembarangan ganti namanya!” tegas Henry sebal.
Kevin terkesiap, “Eldrey?”
Tanpa sadar Henry pun menutup mulutnya dengan salah satu tangan. Gaya kagetnya benar-benar mirip seperti gadis-gadis pada umumnya.
“Kamu bertemu dengannya?”
“Mana mungkin!” teriak Henry keras.
“Bodoh! Kenapa kamu teriak keras-keras begitu? Lagi pula siapa perempuan itu sampai kamu juga mengenalnya?” tanya Steven pada Kevin.
“Bukan siapa-siapa,” Kevin mengalihkan perhatian. “Ponselku ketinggalan di mobil, Steven kunci mobilmu,” pinta Kevin padanya.
Steven pun melemparkan kunci mobilnya pada Kevin, sehingga pemuda itu keluar dari kamar.
Perdebatan antara Steven dan Henry kembali berlanjut. Kevin pun menapaki jalanan menuju mobil Steven di parkiran, mengambil ponselnya yang ketinggalan di sana.
Saat memasuki rumah, Kevin dikagetkan oleh sesosok perempuan yang menapaki jalanan lantai dua lalu menghilang di arah jalan ke kamar Henry.
“Perempuan? Ibunya? Orang tuanya kan di luar negeri?” gumam pelan Kevin. Ia terus menaiki tangga, memikirkan siapa sosok perempuan yang dilihatnya. Setahunya, Henry tak memiliki saudara lain.
“Apa mungkin sepupunya? Perawakannya masih muda,” lirih Kevin begitu sampai di lantai dua. Ia melihat ke arah pintu kamar Henry yang tertutup rapat.
Sepintas hatinya merasa aneh, karena sikap Henry yang tak seperti biasanya. Tanpa sadar, dirinya melirik ke salah satu pintu. Pintu kamar di mana tempat itu pernah dihuni seseorang yang dia kenal sebelumnya.
Entah kenapa, langkah kakinya membawa dirinya ke depan pintu kamar itu. Tangan yang sudah memegang gagang pintu pun membuka tanpa keraguan.
Sampai pemandangan tak terduga terlihat jelas di matanya. Seorang gadis cantik sedang meminum minuman kaleng dan menatap balik ke arahnya.
“Kamu!” pekik Kevin kaget.
Gadis itu berlari ke arah Kevin dan mendorong pemuda itu ke pintu secara kasar. Bunyinya sangat keras, saking kerasnya bisa terdengar ke kamar Henry walau tak begitu kentara.
“Bunyi apa itu?”
“Hah? Aku tak dengar apa-apa,” ucap Henry sedikit panik.
Steven yang melihat raut wajah Henry langsung curiga, karena pemuda itu memiliki tipe ekspresi mudah dibaca.
“Kenapa kamu sepanik itu?”
“Kapan aku panik?!” teriak Henry.
“Sekarang kamu benar-benar membuatku curiga. Tunggu, apa jangan-jangan kamu menyembunyikan perempuan dariku?” Steven pun keluar dari kamar Henry.
“Hei! Kamu mau ke mana?”
“Memastikan sesuatu!”
“Tunggu! Jangan buka pintu itu! Jangan buka!” pekik Henry yang membuat Steven bertambah curiga. Ia membuka pintu kamar di mana kegaduhan tadi terdengar.
“Mmm?” Steven memiringkan wajahnya.
“Sudah kukatakan tidak ada siapa-siapa atau bunyi apa pun!” wajah Henry tampak lega. Ia panik jika Eldrey akan ketahuan oleh Steven.
Steven melirik sekeliling, sepi dan kamar tampak bersih. “Mmm? Ponsel?” gumam Steven mengambil ponsel yang ada di ranjang.
__ADS_1
Henry semakin panik karena Steven mengambil ponsel itu. “Ini bukannya ponsel tuamu? Kenapa ada di sini?”
“Wajar saja! Kan ini rumahku bodoh! Kemarin aku lihat tikus di kamarku, jadi karena pembersihan aku tidur di sini! Lagi pula apanya yang tua! Ini masih baru tahu!” jelas Henry dengan sombongnya.
“Sudahlah! Aku lelah, mau ke sebelah! Si Kevin juga kenapa lama sekali ambil ponselnya?” tukas Henry sambil mengambil ponsel itu. Ia bermaksud mengalihkan perhatian Steven agar keluar dari kamar.
Sementara, di pinggir ranjang yang sempit dan kurang dari setengah meter di dekat jendela, tampak dua tubuh saling menindih untuk bersembunyi.
Saat ini, Kevin sedang menahan sakit akibat benturan keras dari punggungnya menabrak pintu.
Terlebih lagi Eldrey, dia menutup mulut pemuda itu sambil menindihnya. Ekspresi Eldrey cukup waspada, dengan sorot mata melirik ke samping di mana pandangannya pada Steven yang masih di sana, terhalang tingginya ranjang.
Akan tetapi, di balik rasa sakit, Kevin mendapatkan pemandangan tak terduga. Ia bisa melihat belahan dada Eldrey akibat kerah baju gadis itu jatuh.
Tanpa ragu dirinya tetap menatap ke sana. Bagaimanapun itu adalah pemandangan langka tak terduga.
“Cukup besar,” batin Kevin walau pesona indah gadis itu tertutup bra hitam dengan desain yang menggoda.
Steven yang masih mengedarkan pandangan curiga pun membuka lemari dan kamar mandi. Sampai akhirnya ia memilih pergi dari kamar karena tak mendapati apa-apa.
Hal itu membuat Eldrey sedikit bernapas lega, lalu melepas tangannya yang menahan mulut Kevin dan menatap tajamnya.
“Brengsek, apa yang kau lihat?” tanya Eldrey dengan mata sinisnya.
Kevin tak menjawab apa-apa. Eldrey pun bangun tanpa membantu pemuda itu.
“Kenapa kamu di sini?” Kevin bangun sambil mengelus-elus punggungnya.
“Bukan urusanmu.”
“Kamu kabur dari rumah?”
“Keluar!” perintah Eldrey mengabaikan pertanyaannya.
“Apa kamu tidak tahu kalau kak Alice sangat mencemaskanmu?”
Spontan Eldrey langsung memasang muka masam di wajahnya. Ia berjalan mendekat dan meraba punggung Kevin yang sedikit sakit.
“Menyakitkan? Tapi ini sementara. Berbeda dengan sakit di hati yang takkan bisa sembuh sendirian. Terkadang, rasa benci akan sesuatu yang tak bisa dimiliki, lebih menyakitkan dibanding kemiskinan.”
Kevin terkesiap mendengarnya, ia mencoba meresapi kalimat Eldrey yang bermakna ambigu itu. Sampai akhirnya gadis itu melepaskan sentuhannya dan berbalik.
“Silakan keluar. Aku harap, kamu menutup mulut tentang keberadaanku,” ucap Eldrey sambil duduk di ranjang.
Kevin yang masih berdiri di sana, perlahan keluar ruangan dan kembali ke kamar Henry.
“Cih! Dari mana saja? Lama sekali,” gerutu Steven namun tak ditanggapi Kevin.
Mereka pun kembali melanjutkan ocehan tak berguna sambil menghabiskan snack yang ada di lemari simpanan Henry.
Di perjalanan pulang, Kevin masih tak bisa mengalihkan pemikirannya tentang Eldrey. Bagaimanapun ia tahu seperti apa Henry, walau agak bodoh dan tak masuk akal, tapi bocah itu tetap laki-laki.
Dirinya risih jika terjadi apa-apa pada Henry mengingat kebodohan yang dimilikinya. Apalagi Kevin sadar, kalau Eldrey tipikal kriminal berwajah cantik berkulit belut. Keluarganya akan dengan mudah menutupi kejahatan gadis itu jika terjadi apa-apa.
“Ada apa?” tanya Steven yang menyadari sikap gelisah temannya.
“Tidak ada apa-apa.”
“Hah!” Kevin menghela napas kasar. “Fokus saja menyetirnya!”
“Cih! Iya-iya!”
*******
“Bagaimana? Apa ada kabar tentang nona?”
“Maafkan kami Tuan. Kami masih belum bisa menemukan di mana keberadaannya.”
Wajah Charlie yang jengkel semakin berubah masam mendengarnya. “Sialan! Di mana dia bersembunyi? Tuan sudah sadar! Apa lagi yang harus kukatakan?!” gerutu Charlie mengacak-acak rambutnya secara kasar dengan sebelah tangan.
“Tu-tuan Charlie,” panggil bibi pembantu tiba-tiba.
“Bibi? Ada apa?”
“I-itu, nyonya Anna datang kembali untuk menjenguk tuan besar.”
Charlie memasang tampang enggan, tampak ketidak sukaan di wajahnya mendengar berita dari bibi pembantu.
“Apa yang harus saya katakan Tuan? Kata Rondolf semua sesuai perintah anda.”
“Aku akan turun menemuinya.”
Charlie pun menapaki jalanan sambil diiringi bibi pembantu di belakangnya.
“Tuan Charlie,” sapa bu Anna dengan ekspresi canggung. Tampak mata lelah dan sembab tertera di wajahnya.
Charlie tersenyum, “apa Nyonya ingin bertemu Tuan?”
Bu Anna masih tak menjawab, “E-El-Eldrey?”
“Maafkan saya.”
Bu Anna menangis, mata yang tadinya sembab sekarang kembali meneriakkan kesedihannya. Tak ada yang lebih menyakitkan selain ditolak anak sendiri dan tak bisa menemuinya.
“Ini semua salahku! Ini salahku! Jika aku tidak keras kepala maka semua ini takkan terjadi! Ini takkan terjadi!” isaknya. Wanita itu jatuh terduduk ke lantai sambil memegang dadanya.
“Nyonya! Nyonya!” bibi pun mendekat sambil merangkul wanita itu. “Ini bukan salah anda Nyonya! Ini bukan salah siapa-siapa! Tolong berhenti menyalahkan diri anda Nyonya!” ucap Arda, bibi pembantu yang ikut menangis merasakan kesedihannya.
“Ini memang salahku! Semua salahku! Bahkan Betrand sampai seperti ini juga salahku! Seharusnya aku tak pernah mengambil keputusan seperti itu!” bu Anna melepaskan teriakan di hatinya. Tangisan sendunya hanya ditatap tenang Rondolf dan Charlie.
Cuma bibi Arda yang tak tahan melihat kesedihan mantan majikannya. Bagaimanapun ia saksi hidup dari keluarga Dempster. Dari keluarga itu jatuh bangun, sampai akhirnya bisa seperti ini setelah melalui banyak perjuangan dan pengorbanan.
Tanpa sadar, Bu Anna pun pingsan akibat menangis keras seperti itu. Orang-orang terkesiap melihat kejadian yang tiba-tiba terjadi.
“Nyonya! Nyonya!” bibi Arda langsung panik karena wanita itu tak sadarkan diri dipelukannya.
“Sial!” Charlie segera menggendong wanita itu ke salah satu kamar. “Emily! Hubungi Arlene!” perintahnya pada pelayan yang juga mengikutinya.
Di tempat yang berbeda, seorang gadis sedang merebahkan dirinya di ranjang. Raut wajahnya tak bersemangat, sambil mengangkat salah satu tangan ke langit-langit menghiasi pemandangan dirinya.
Pintu kamarnya diketuk, lalu dibuka setelah mendapat persetujuan darinya. Pemuda yang merupakan tuan rumah melangkah masuk dengan ekspresi malu-malu.
__ADS_1
“E-Eldrey?”
“Ada apa?”
“Ah, i-itu ...” ia berjalan mendekat sambil duduk di sebelah gadis yang bangun dari tidurannya.
“Maaf jika aku mengganggumu.”
“Tidak masalah,” jawab Eldrey tanpa ragu.
Cukup lama mereka terdiam masing-masing. Eldrey hanya menatap pemuda di sebelahnya. Sementara Henry, ia menyadari sorot mata itu yang membuat dirinya semakin gugup dan sulit berkata-kata.
“Ada apa? Ada yang ingin kamu katakan?”
Henry sedikit tersentak karena gadis itu memulai pembicaraan. “A-apa kamu bosan?” tanyanya.
“Ya.”
Henry terkesiap. “Maafkan aku, aku tidak tahu jika kamu tidak nyaman di sini. Aku benar-benar minta maaf,” ucapnya sambil menunduk.
“Aku bosan karena harus bersembunyi. Tidak ada hubungannya dengan kenyamanan menginap di sini,” jelas Eldrey. “Lagi pula sudah dibiarkan tinggal di sini, apa lagi yang harus aku keluhkan?”
Henry tersenyum tipis. “Maafkan aku.”
“Kenapa kamu minta maaf?”
“Ah, i-itu ...” ia bingung menjawabnya. “A-apa kamu kuliah?” tanya untuk mengalihkan pembahasan.
“Ya.”
“Di mana?”
“Oxtello Rako,” jelas Eldrey singkat.
“Begitu, jadi juru-” kalimat Henry terpotong karena ada pesan masuk ke ponselnya.
“Ada apa?”
“Kevin mengajakku keluar malam ini,” terang Henry.
“Kevin ya.”
“Iya. Itu ... apa aku boleh tanya sesuatu?”
“Silakan.”
“Apa Kevin temanmu?”
“Teman? Entahlah,” jawab Eldrey dengan pandangan menerawang.
“Kenapa begitu?”
“Karena aku teman kakaknya, bukan dia.”
“Kak Dean?”
“Iya.”
Henry mengangguk pelan. “A-apakah lancang jika aku bertanya kenapa kamu kabur dari rumah?” tanyanya dengan gugup. Tampak ia memainkan tangannya karena merasa canggung jika pertanyaan itu agak salah untuk ditanyakan.
Eldrey menghela napas pelan. “Tidak.”
“Kalau begitu kenapa kamu kabur dari rumah?”
“Karena aku tak ingin melihat wajah orang yang sudah menghancurkanku,” Eldrey tersenyum padanya.
Jawaban itu membuat Henry sedikit bingung. “Hancur?”
Eldrey tertawa, lalu mengalihkan pembicaraan. “Aku hanya bercanda.” Gadis itu menopang wajahnya.
“Tanganmu!” sela Henry saat tak sengaja melihat telapak tangan Eldrey sekilas.
“Ah, ini? Ini bekas luka karena aku diserang.”
Henry terdiam, bekas luka yang cukup mengerikan di telapak tangan gadis itu membuatnya miris. “Apa yang terjadi?” ia menyentuh tangan Eldrey.
“Ini hanya bentuk pertahanan diri,” Eldrey menarik tangannya dan mengepalkannya.
“Pertahanan diri? Tanganmu terluka seperti itu? Memang siapa yang menyerangmu?!”
“Musuh dari keluargaku.”
“Lalu apa yang dilakukan keluargamu?!” Henry tampak emosi.
Eldrey tersenyum, “entahlah.”
Henry semakin kesal mendengar kalimat Eldrey. Ia tak kesal dengan jawaban gadis itu, tapi ia begitu emosi saat mendapati jawaban Eldrey yang mengisyaratkan keluarganya tak peduli padanya.
“Mungkin ini hukuman. Jika terlahir dari keluarga menyebalkan, maka tak heran jika ada musuh di balik pintu kamarmu,” Eldrey tertawa pelan. “Sepertinya aku harus kembali,” lanjutnya.
“Apa! Kembali? Kembali ke rumahmu?! Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?!” tukas Henry cemas.
“Aku juga tak bisa terus begini. Sepertinya aku harus pulang malam ini.”
“Tapi!”
“Lagi pula aku akan baik-baik saja.”
Henry masih tidak tenang hatinya mendengar perkataan Eldrey. Tapi ia juga tak punya hak untuk melarang gadis itu pulang.
“Apa aku boleh mengantarmu?”
“Mmm,” angguk gadis itu.
“Baiklah, kalau begitu nanti malam aku akan mengantarmu. Aku keluar dulu, kamu istirahat,” pamit Henry.
Eldrey hanya mengangguk pelan. Tapi begitu Henry sampai di kamarnya, wajah canggungnya berubah menjadi cemas.
“Dia akan pulang? Itu berarti aku tidak akan bisa lagi bertemu dengannya kan? Oh tuhan, tapi aku sangat mengkhawatirkannya,” oceh Henry sambil membenamkan wajah ke bantal.
Henry terdiam sejenak lalu mengangkat kepalanya. “Sepertinya, aku memang menyukainya,” lirihnya sambil memeluk erat bantal itu.
__ADS_1