
“Apa kamu yakin akan berhenti di sini?” tanya Henry saat mobilnya sudah terparkir tak jauh dari pinggiran sungai Sin.
Eldrey pun mengangguk sekilas.
“Apa kamu harus pergi? Kamu bisa menginap di rumahku. Aku akan pastikan tak ada siapa pun yang tahu di mana keberadaanmu,” ajaknya.
Henry sudah mendengar garis besarnya, alasan kenapa Eldrey pergi dari kediaman Dempster. Dia ingin tidur dengan tenang, tanpa harus terganggu oleh keberadaan keluarganya.
Karena bagaimanapun juga, Eldrey tak bisa membohongi keadaannya kalau sosoknya selalu sesak saat melihat kebahagian di dalam keluarganya.
Memang terdengar aneh bagi Henry, namun pemuda itu mencoba memahaminya.
“Aku sudah janji dengan Charlie. Jadi aku harus pergi,” sambil matanya melirik ke luar jendela. Mencoba memastikan keberadaan sang pembuat janji dengannya.
Dan tiba-tiba Henry pun menggenggam tangannya.
“Apa kita akan bertemu lagi?”
“Entahlah.”
“Aku mohon ayo kita bertemu lagi nanti,” pintanya sambil mengeratkan genggaman pada tangan putri Dempster.
Cukup lama bagi Eldrey untuk menjawabnya, sampai akhirnya ada mobil yang berhenti terburu-terburu dan mengganggu pandangan mereka.
Tampak Charlie turun dengan pandangan yang diedarkan ke sekelilingnya. Membuat Eldrey bersiap membuka pintu tapi langkahnya tertahan karena sikap aneh bawahan ayahnya.
Charlie menyilangkan tangan sekilas lalu masuk kembali ke dalam mobilnya.
“Lho, kenapa orang itu malah pergi?” kaget Henry melihat mobil yang ingin dituju Eldrey malah meninggalkan pinggiran sungai.
“Ayo kita pergi.”
“Apa.”
“Ayo kita pergi Henry.”
“Baiklah,” angguknya dan mengendarai mobilnya.
Eldrey pun melirik ke belakang kendaraan, memastikan apakah ada yang sedang mengikuti mereka.
Mengingat sikap aneh Charlie, berarti bisa dipastikan kalau dia sudah ketahuan atau sedang diikuti.
“Eldrey?”
“Ya?”
“Kamu baik-baik saja?”
“Ya. Oh ya, bisa ambil jalan lain untuk ke rumahmu?”
“Kenapa? Apa kita sedang diikuti?”
“Hanya ingin memastikannya saja,” jelas Eldrey.
Dan akhirnya, setelah memastikan tak ada yang mengikuti mereka saat mobil melewati jalan sepi, barulah Eldrey duduk santai di kursinya.
“Apa itu berarti kamu akan menginap di rumahku lagi?”
“Kamu keberatan?”
__ADS_1
“Tidak, bukan begitu. A-aku, aku senang bisa membantumu,” Henry pun tersenyum kepadanya.
Sampai akhirnya mereka terkesiap karena di belakang mobil Henry ada kendaraan lain juga yang berhenti.
“Lho! Kalian berdua!” kaget Steven melihatnya.
Bahkan pemuda lain yang juga turun dari mobil itu, menatap tak percaya pada pemandangan di depan matanya.
“Steven, Kevin! K-kalian di sini?” Henry juga ikutan panik melihat kedatangan teman-temannya.
Berbeda dengan Eldrey yang entah kenapa diam saja namun sorot matanya tak teralihkan dari Kevin di depannya.
“Kami ingin main,” jawab Steven tanpa basa-basi. “Jadi, kenapa ada Eldrey di sini? Apa mungkin kalian sedang kencan?”
“I-itu ...” Henry pun jadi bingung harus menjawab apa. Tak mungkin kan dia menyebarkan fakta kalau Eldrey sedang kabur dan menginap di rumahnya? Otaknya jadi berpikir keras sekarang.
“Steve,” panggil Kevin tiba-tiba.
“Mm?”
“Aku pinjam mobilmu ya? Sebagai gantinya akan kutraktir makan seminggu penuh.”
“Benarkah?!” kaget Steven mendengarnya.
“Ya.”
“Silakan, pakai saja bro, pakai sepuasnya,” pemuda itu tiba-tiba bersikap dermawan pada temannya.
Sementara Kevin yang tersenyum pun membuka kembali pintu mobil di sebelahnya.
“Ayo, Eldrey.”
“Kamu mau mengajak Eldrey ke mana? Dia menginap di sini,” cegat Henry tiba-tiba.
Tapi bukannya jawaban yang di dapatkan Henry, justru pemuda Cesar mendekati mereka dan memegang lengan Eldrey di hadapan semuanya.
“Terima kasih karena sudah membiarkan pacarku menginap di rumahmu, selanjutnya tanggung jawabku,” dan tangannya pun menyentuh bahu sahabatnya.
“Apa!” Steven menatap tak percaya atas ocehan yang dilontarkan temannya.
Sementara Henry, dibuat terbelalak oleh pernyataan Kevin yang tiba-tiba menghantam kesadarannya.
Tanpa sadar ditahannya putri Dempster, agar putra Kendal tidak bisa membawanya.
“Apa yang kamu katakan Kevin? Jangan main-main begitu. Eldrey sedang tidak di kondisi yang bisa kamu ajak pergi seenak hatimu.”
Kevin terdiam sejenak. Ditatapnya gadis di hadapan lalu beralih pada Henry yang mulai memperlihatkan tampang tidak senang. Sosoknya tahu, kalau sang teman mulai kesal dan menganggap kalimatnya sebagai omong kosong belaka.
Tapi dia juga tidak bisa mengalah begitu saja.
“Maafkan aku.” Henry pun tersentak. “Aku memang hutang penjelasan padamu. Tapi gadis ini kekasihku. Biarkan kami pergi demi kebaikan kita semua, aku mohon,” pintanya dengan rupa yang membuat sang sahabat tak habis pikir.
“Kamu serius?”
“Dia memang pacarku.”
Bagai disambar petir, Henry pun tanpa sadar melepaskan tangan Eldrey tiba-tiba. Menatap tak percaya pada gadis yang hanya diam saja.
“Aku pergi, ayo Eldrey,” ajak Kevin menarik tangannya. Dan gadis itu pun melirik Henry yang masih tampak syok di posisinya.
__ADS_1
Menggumamkan kalimat yang membuat Henry tak habis pikir dengan maknanya.
“Terima kasih.”
Dua kata namun berhasil mengembalikan kesadaran Henry yang tanpa sadar meneteskan air mata.
Bahkan Steven tak bersuara akibat tontonan yang baru saja dilihatnya. Ini memang drama cinta, tapi kenapa rasanya aneh begini?
Apa kedua temannya baru saja memperebutkan seorang perempuan yang sama?
Dan Kevin sebagai pemenangnya? Dia yang tak terlihat suka pada Eldrey Brendania Dempster mengaku sebagai pacarnya?
Sungguh dirinya masih tak bisa mempercayainya. Bahkan jika kendaraannya sudah pergi, sosok Henry masih membisu dengan mata memerahnya.
Perlahan, pemuda itu meninggalkannya dengan langkah seperti baru saja kehilangan sesuatu yang berharga.
Mungkin, itu adalah cinta dan juga persahabatannya.
Tak ada yang berbicara di dalam mobil. Eldrey hanya fokus menatap lukisan di luar jendela sementara Kevin sorot matanya mengarah ke depan pada jalanan yang di lewatinya.
Sampai akhirnya gadis itu tersadar kalau mereka berhenti di sebuah rumah yang tak asing baginya.
Kediaman milik keluarga Kendal. Rumah singgah yang jarang dihuni dan hanya dipakai sesekali oleh mereka.
Eldrey ingat kalau dia pernah dibawa Kevin ke sini sebelumnya. Bahkan insiden di mana pemuda itu hampir menciumnya juga berkumandang di ingatannya.
“Ayo turun,” dan penyandang nama Cesar itu sudah keluar duluan.
Membukakan pintu mobil untuk Eldrey yang masih diam memperhatikan.
“Kenapa kita ke sini?”
“Karena kamu akan menginap di sini,” jelasnya tanpa ragu.
“Menurutku kediaman Henry juga tidak terlalu buruk,” Kevin tak meresponsnya. Kecuali membuka pintu masuk dan terus melangkah ke dalamnya.
“Yang ini kamarmu. Tenang saja, takkan ada seorang pun yang tahu kalau kamu berada di sini.” Eldrey hanya diam memperhatikannya, memilih duduk di sofa dan menyandarkan tubuhnya. “Apa kamu lapar? Kalau iya akan aku pesankan makanan.”
“Tidak perlu. Aku hanya ingin istirahat, sekarang kamu boleh pergi.”
Kevin tertawa pelan. Tak menyangka kalau gadis itu akan mengusirnya dari rumah keluarganya. Melangkah santai dan mendekatinya.
“Jangan dekat-dekat dengan Henry lagi. Kamu, tidak lupa taruhan kita kan?”
“Bagaimana mungkin aku lupa? Dan kau tidak berhak untuk mengaturku.”
“Aku tidak mengaturmu. Aku hanya memintamu menjauh dari Henry karena aku pacarmu. Aku juga punya perasaan Eldrey, jadi tolong hargai aku.”
Tapi gadis itu malah tersenyum tipis kepadanya. Memiringkan kepala, dan menyandarkannya pada tangan yang tertopang punggung sofa.
“Begitu? Sepertinya pacar taruhanku sangat ingin dihormati ya. Jadi, apa kamu benar-benar menyukaiku?”
__ADS_1