
Namun saat putri Dempster akan melangkahkan kaki ke luar rumah, lengannya dicegat oleh Leon.
“Apa?”
“Kakak yakin?”
“Apanya?”
“Keluar malam-malam begini. Kalau Kakak pergi, nanti Kakak akan tinggal di mana?”
Eldrey pun mengedarkan pandangannya sekilas. Perlahan, senyum tipis berkibar di bibirnya.
“Entahlah. Tapi jika kalian penasaran aku akan ke mana, kenapa tidak ikut saja? Mungkin kalian bisa melihat dunia luar nantinya.”
Leon dan Lea pun terkesiap.
“Dunia luar?” gadis kembar itu tampaknya mulai tertarik.
“Ya. Apa kalian tidak bosan tinggal di sini? Kalau keluar, kalian bisa melihat seperti apa orang-orang perkotaan itu. Mungkin saja kalian akan menemukan tempat tinggal yang lebih layak dibandingkan di sini.”
Tapi, entah kenapa sudut hati kedua anak kembar itu meradang dibuatnya. Tempat yang lebih layak, seolah menyiratkan kalau hunian mereka bukanlah lokasi yang pantas untuk ditempati sekarang.
“Kenapa menatapku seperti itu?”
“Apakah rumah ini, tidak layak untuk ditinggali?” tanya Lea dengan polosnya.
Dan sorot mata Eldrey yang tenang pun mulai melukiskan ekspresi aneh di pandangan. Seolah tatapan remeh sekaligus angkuh bercampur menjadi satu di sana.
“Jika dibandingkan dengan rumahku, ini jauh dari kata layak. Tapi, mungkin sudah menjadi jalan kalian. Yah, aku tidak tahu apa takdir bisa dirubah atau tidak, namun tak ada salahnya mencoba bukan? Lagi pula, jika tetap di sini, kalian cuma akan merasakan hal yang sama seperti sebelumnya. Sudahlah, aku pergi dulu, terlalu lama di sini bisa-bisa aku makin susah untuk keluar dari kawasan ini.”
Dan akhirnya, Eldrey pun pergi dari sana. Sampai akhirnya ia tersentak melihat dua sosok di belakangnya telah mengikutinya.
“Kalian.”
“Biarkan kami ikut Kak. Kami juga ingin merasakan bagaimana kehidupan di bagian kota,” pinta Leon sambil memegang ujung baju putri Dempster.
Dan akhirnya, tanpa banyak basa-basi ia pun mengizinkan mereka untuk mengikutinya.
Baunya jalanan yang dilewati sungguh luar biasa. Aroma sampah, bercampur dengan pembakaran serta busuknya kubangan di sekitar.
Sungguh ini benar-benar menghiasi penciuman mereka.
Nyatanya, di sana terdapat kawasan kehidupan untuk mereka yang terlupakan. Sosok-sosok terabaikan bagi negara penampungnya.
Awalnya, Eldrey tak menyangka jika keadaan di sini akan separah ini.
Sesekali ada teriakan, tangisan, ataupun tawa di sudut-sudut yang cukup jauh dari jangkauan. Dan dirinya, takkan pernah peduli.
__ADS_1
Bahkan lantunan minta tolong dari seseorang yang diperkirakan sebagai perempuan pun tak mengusik nuraninya.
Karena dia, bukan orang sebaik itu untuk membantu sekitarnya.
Sampai akhirnya mereka bertiga keluar dari gerbang kota kumuh.
“Kak,” panggil Lea tiba-tiba. Putri Dempster pun meliriknya lewat sudut matanya. “Kenapa kita tidak berhenti? Tadi, ada orang yang minta tolong kan?”
Eldrey pun menyipitkan matanya. “Lalu? Apa harus dibantu? Kita bukan pahlawan. Daripada membuang-buang waktu dan mencelakakan diri dengan sia-sia, lebih baik berpura-pura tak mendengar apa-apa.”
Lalu dirinya pun melanjutkan jalannya. Sungguh Lea dan Leon kaget mendengar pernyataan gadis di depannya. Kalimatnya begitu masuk akal, tapi keduanya sadar kalau itu sangat egois untuk di dengarkan.
Tapi, mungkin apa yang dikatakannya memang benar.
Bisa saja niat baik mereka untuk membantu orang yang meminta pertolongan malah menjadi petaka bagi ketiganya. Karena mereka, tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya ketiganya pun sampai di jalan raya dengan taman kota yang tak jauh di depan sana.
“Ini!” pekik Lea yang kaget melihat kemilau gedung-gedung pencakar langit dari dekat.
Walau sudah sering melihatnya dari kejauhan, tapi anak kembar itu tak pernah menyangka kalau pesonanya akan seindah ini.
Sungguh seperti keajaiban dunia bagi Lea dan Leon jika bisa menikmati pemandangan seperti ini setiap hari.
Dan Eldrey yang telah membawa mereka sejauh ini, mulai merasa kesulitan. Luka akibat penusukan sungguh menyiksanya. Faktanya, ia masih belum sembuh benar. Terlebih sekarang, langkahnya malah membebani kesehatannya.
“Bunyi itu! Mobil—” panik Leon.
Eldrey pun menarik keduanya dan memasuki kawasan gang di antara toko-toko strategis jalanan.
Jujur ini sangat menyedihkan.
Karena kawasan kota modern dengan hiasan pemandangan bangunan lama yang memiliki arsitektur renaissance di beberapa sisinya, melarang keras akan kehadiran gelandangan ataupun pengemis di jalanan.
Demi kebersihan kota, para aparat lalu lintas yang selain sibuk mengurus jalanan, juga sibuk mengintai sosok-sosok terbuang agar tak menyakitkan mata.
Jika diperhatikan secara saksama, bukankah dandanan Eldrey, Leon serta Lea termasuk golongan orang terpinggirkan? Atau dengan kata lain gelandangan.
Tapi, salah satu sosok yang mencoba bersembunyi pun terkesiap.
Putri Dempster terkejut bukan main. Terlebih saat matanya menangkap sosok di luar dugaan di ujung sana.
Dan tanpa ragu langkahnya pun dihentikan sambil memegang perutnya.
“Kak?” kaget Lea melihatnya. “Kakak baik-baik saja? Wajah kakak terlihat lelah sekali,” paniknya sambil memegang lengan putri Dempster.
Bahkan napasnya mulai terengah-engah karena sakit yang mendera.
__ADS_1
“Kak?”
“Aku baik-baik saja. Ayo istirahat dulu,” ajaknya. Mereka pun duduk di atas tumpukan kayu yang ada di sana.
Benar-benar gang kecil yang bersih dari sampah kalau diperhatikan secara cermat.
Sampai akhirnya, sorot mata Eldrey yang melirik sekelilingnya pun bangkit secara tiba-tiba.
“Kak?”
“Ayo. Sudah saatnya beristirahat di tempat yang lebih layak,” seringai tipisnya tiba-tiba.
Beberapa saat kemudian, langkah mereka bertiga pun berhenti tepat di sebuah rumah mewah namun tampak gelap pemandangannya.
Dan di depan pagar besarnya, terpampang nyata label kalau kediaman ini akan dijual beserta nomor telepon yang bisa dihubungi siapa pun juga.
Eldrey pun berjalan mengitari dingin batu yang menyelimuti rumah itu di kiri dan kanannya.
Tak ada celah selain masuk lewat pagar depan yang kokoh, serta tingginya membuat heran si anak kembar.
“Kak?” panggil Lea yang masih mengikuti langkah kakinya.
Sampai akhirnya putri Dempster pun terdiam di bagian dinding batu belakang rumah.
Ada satu pintu di sana, namun di gembok oleh pemiliknya.
“Ambilkan batu,” perintah Eldrey secara tiba-tiba.
“Batu? Maksudnya Kak?”
“Ambilkan aku batu besar namun bisa digenggam, cepat,” pintanya.
Dan kedua anak kembar itu pun menuruti perkataannya. Leon berhasil mendapatkan batu yang diinginkan putri Dempster.
Sampai akhirnya digenggamnya dan dipukulkan dengan sangat keras serta tepat pada salah satu tepian gembok.
Dua kali usaha, gembok pun terbuka tanpa kuncinya.
Tentu saja Lea dan Leon terkejut menatap hasilnya. Mereka yang tidak pernah melihat hal seperti itu atau mempelajarinya, menjadi takjub pada kemampuan Eldrey barusan.
“Aku baru tahu kalau gembok bisa dibuka seperti itu,” sahut Leon secara tiba-tiba.
Putri Dempster tak menanggapinya dan terus melangkah ke dalam.
Bagai di istana menurut si kembar. Padahal kenyataannya, kediaman mewah ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tempat yang dihuni Dempster.
__ADS_1