
Sedih rasanya. Saat tahu kalau sosok sangat berharga menanamkan belati di jantung sementara yang lain melepaskan pelukan.
Itulah yang dirasakan Betrand. Sang Presdir angkuh di mata para kolega, nyatanya rapuh aslinya.
Berantakan melukiskan keadaannya. Di antara isak tangis Anna sang istri yang masih tak menyangka dengan kejadian yang menimpa mereka, usahanya dalam membangkitkan Betrand dari keterpurukan berujung sia-sia.
Dan di satu sisi, ada putri mereka yang jelas-jelas terluka.
Eldrey Brendania Dempster.
Seperti orang asing. Dia tak lagi mengatakan apa-apa tentang tragedi yang sudah menghantamnya. Akan tetapi, kalimat singkat yang ditorehkan mulutnya berhasil menusuk anggota keluarga.
“Aku ingin keluar negeri. Tak ada artinya lagi tinggal di sini.”
Sejurus rangkaian katanya membungkam suasana malam itu. Betrand dengan dandanan lusuhnya semakin tak percaya pada keadaan di dirinya.
Dan ocehan Eldrey yang lainnya, justru membuatnya kian tak berdaya, seolah mati lebih pantas ia dapati sebagai seorang ayah.
“Apakah kita benar-benar keluarga?” pertanyaan Eldrey memerahkan mata sosok di depannya. “Kita terikat darah, tapi lukisan orang tua dan anak tak ada di dalam rumah. Aku sudah memikirkannya, tentang ucapan Charlie dan juga kondisimu. Aku takkan menyalahkanmu, jika selama ini ingin melindungi ibumu. Tapi kau tahu, Ayah? Semua ini benar-benar merobek hatiku.”
Anna tak bisa menahan derasnya aliran air mata saat putrinya mengatakan itu di ruang tamu. Jujur saja, sejak semuanya terbongkar, Presdir Betrand masih belum beranjak dari sana bahkan jika ibunya sudah pergi meninggalkannya.
Tetap meringkuk di salah satu sofa, dengan tampang frustrasi namun jauh lebih mengenaskan. Dia seperti orang yang kehilangan arti kehidupan.
Tiba-tiba Eldrey tertawa pelan. “Sejujurnya, aku menyesali semuanya. Menyesali semua ucapanku yang berharap kita bisa mulai lagi dari awal. Tapi nyatanya, fakta ini membuatku tersiksa. Dan melihat wajahmu yang lebih melindungi ibumu daripada putrimu, benar-benar membuatku gila. Aku memaklumi posisimu, tapi aku tak bisa lagi menerima semua itu. Sungguh Ayah. Aku, benar-benar ingin membunuh keluargamu dan juga ibumu itu!”
Akhir kata yang dihiasi nada tinggi menyentak Presdir Betrand. Terlebih tatapan tajam sang putri benar-benar menyiratkan emosi terpendam. Tampak di mata, bagaimana urat-urat leher Eldrey menonjol diiringi rahangnya yang menegas.
Akan tetapi mendadak sebuah senyuman terbit di sana. Ekspresinya yang tiba-tiba berubah mengusik pasang mata di sekitar.
Bertanya-tanya kenapa sosoknya seperti itu.
“Jadi sudah kuputuskan. Aku tak ingin lagi tinggal bersama kalian. Mati memang bisa menjadi pilihan, tapi bukankah itu sangat mengenaskan? Aku tak sudi membuang nyawaku karena ulah berdarah dari keluargamu.”
__ADS_1
“Eldrey,” Evan menyela tiba-tiba dan hendak mendekatinya. Tapi langkahnya tertahan karena Charlie memegangi lengannya.
Dan ia pun menggeleng, sehingga sang pemuda dengan segala sesak di perasaannya itu mau tidak mau harus mengurungkan niat menghampiri adiknya.
“Karena itu, aku ingin meminta izin darimu, Ayah. Lepaskan aku dari keluarga ini, biarkan aku pergi. Sebab aku, benar-benar tak ingin melihat wajahmu ataupun Gates lagi.”
Hening menerpa di sana. Anna jatuh terduduk akibat sedih yang tak kuat ditahannya, sementara Evan menatap tak percaya akan ucapan adiknya.
“Eldrey, apa kamu serius mengatakan itu?” Kakaknya terisak.
Akan tetapi, tak ada jawaban terlontar. Selain fokus mata gadis itu, menatap lekat sang ayah di depannya. Jarak 5 meter yang memisahkan mereka, membuat Eldrey bisa memperhatikan dengan benar kondisi sesungguhnya Betrand.
Kristal bening berjatuhan. Walau isak tangis tak terdengar, namun itu memenuhi wajah kepala keluarga Dempster.
Tak bisa dibayangkan, bagaimana perasaannya? Setelah ibu sendiri berbuat keji pada keluarga kecilnya, dan dengan susah payah ia tutupi juga terima, tapi sang anak yang sangat ia sayangi namun sempat disakiti justru seperti ingin membuangnya.
Jelas semuanya bagai hukuman mati baginya.
Sayangnya tak sedikit pun kata yang terlontar dari mulut Presdir Betrand. Kecuali ekspresinya sudah memaparkan semuanya. Ia tersiksa, dan ini benar-benar menghancurkannya.
Semua terbelalak mendengar ucapannya.
“Apa maksudmu, Betrand!” teriak Anna tiba-tiba.
“Kamu cuma ingin pergi ke luar negeri kan? Kalau begitu ayah akan izinkan. Kamu bisa pergi dengan Charlie dan juga ibumu. Karena aya—”
“Aku tidak ingin melihatmu lagi,” ulangnya yang memotong ucapan. Bagai dihujam dengan kejam, Betrand terkesiap dan menatap putrinya sambil dihiasi tubuh gemetar. “Aku tidak ingin melihatmu lagi. Tidak dirimu, istrimu, putramu, ataupun keluargamu. Lepaskan aku, lepaskan aku dari Dempster yang ada di belakang namaku, sehingga aku bisa memulai semuanya dari awal lagi. Aku ...” setetes air mata luruh cepat meninggalkan wajahnya. “Ingin menghapus kalian semua dari hidupku. Karena itu, biarkan aku pergi untuk memulai semuanya dari awal lagi.”
Betrand mendadak memegang kepalanya yang terasa sakit. Mengejutkan para bawahan dan juga sang putra yang berdiri tak jauh darinya. Sontak saja Charlie buru-buru menghampiri dan menyentuh bahunya.
“Bos, kau baik-baik saja?” tanyanya dengan nada khawatir.
“Ayah!” panik Evan melihatnya.
__ADS_1
“Aku, baik-baik saja,” ucapnya dengan suara bergetar. Dua sosok di dekatnya terkesiap mendengarnya. Perlahan Evan menoleh dan menatap adiknya yang memamerkan raut muka tenang.
“Eldrey, apa kamu yakin dengan ucapanmu itu? Perkataanmu, seolah-olah kamu ingin membuang keluargamu!” Putra keluarga Dempster, sepertinya tak bisa lagi menahan sesak di hatinya. Langsung dihampirinya sang adik dan memegang lengannya. “Aku tahu kalau ini menyakitkan. Tapi kita bisa memperbaikinya kan?!”
Air mata tercerai berai ke pipinya. Bahkan Charlie yang tadi menahannya, sekarang membiarkan pemuda itu berbicara. Jujur saja, ia juga syok dengan permintaan Eldrey. Akan tetapi, setelah melihat kondisi sang gadis dan juga sepak terjang kehidupannya, mungkin itu pilhan yang terbaik.
Putri Dempster pasti sangat menderita, mendapati kenyataan kalau orang yang sudah membuatnya diculik dan trauma, tak lain keluarga dari ayahnya sendiri. Semua terungkap setelah Betrand sadar dari insiden penembakannya. Informasi yang di dapatkan Daniel Bonapart dengan harga tinggi itu, ditutupi sang kepala keluarga.
Dengan menelan luka juga air mata, dirinya bersikap seolah-olah pelaku penculikan yang membuat mental putrinya hancur masih dicari oleh mereka. Nyatanya itu tepat di depan mata.
Bersusah payah ia berpura-pura. Jika tak mengingat wajah penuh arti keluarga di mana ia berasal, pasti sudah dihukumnya mereka semua. Bagaimanapun juga, putrinya lah korbannya.
Tetapi, saat dirinya mendatangi empat bawahan keparat ibunya yang sudah menculik Eldrey, beragam rasa menyakitkan menghampiri sanubari.
Satunya meninggal karena gagal jantung. Sementara tiga lainnya, kehidupan mereka tak bisa disebut layak.
Ada yang meringkuk di rumah sakit jiwa. Kehilangan sosok berarti, membuat kewarasan mengabur di dirinya.
Lainnya menderita stroke. Dan karena terbatasnya dana untuk pengobatan, sosoknya hanya bisa terbaring tak berdaya di ranjang lusuh rumahnya. Ditemani orang tua renta yang seharusnya menikmati masa tua, namun harus mengurusi sakit putranya.
Dan terakhir, pria dengan tato yang dilihat Eldrey di supermarket. Dia bukanlah orang berada. Posisinya tulang punggung keluarga, anak tunggal dari ayah yang sudah renta, namun tidak bisa berjalan akibat amputasi menjadi jawaban dari kecelakaan kerja dulunya. Sedangkan ibunya sudah meninggal, bertepatan dengan hari di mana putri Dempster yang berhasil ditemukan ketika penculikan.
Jujur Presdir Betrand sangat ingin membunuhnya. Tapi ketika melihat wajah histeris istri keparat itu, terpaksa ia urungkan niatnya. Bukan karena suka, tapi iba akibat lontaran permohonan yang di dengarkan.
Di mana ada anak yang baru lahir, juga seorang ayah tak berdaya yang menjadikan pria itu sebagai sandarannya.
Dan dengan menelan semua perasaan yang ada, ia lagi-lagi menutup mata akan kehidupan empat keparat itu, untuk disiksa seperti yang dialami Eldrey dahulu kala.
Tapi sekarang semua berbeda. Sakit di hatinya semakin tak bisa diuraikan setelah Charlie juga Daniel jujur padanya. Kepergiannya keluar negeri bersama Ana, membuka tabir siapa dalang keji penembakannya di toko roti itu.
Dan lagi-lagi ibunya terlibat di dalamnya.
Seperti candaan kejam dalam hidup seorang Presdir Betrand.
__ADS_1