
PERINGATAN, Part ini mengandung kekerasan.
Suster yang melihat kejadian itu hanya bisa berteriak takut melihat adegan yang tak pernah dibayangkannya. Eldrey yang masih duduk di pinggir jendela pun menatap ke bawah, ke arah mayat pembunuh yang dihabisinya.
“Gadis itu!” gumam Kevin yang melihat ke atas, ke arah Eldrey. Tanpa pikir panjang ia langsung memasuki rumah sakit untuk menuju lantai dua. Tapi sayang antrian di depan lift tampak ramai yang membuatnya memilih alternatif lain untuk ke lantai atas.
Eldrey pun langsung turun dari jendela dan menghampiri rekan orang yang sudah dibunuhnya.
“Dasar berisik!” bentaknya dan langsung menggores leher pria itu dengan pecahan kaca yang masih ada di tangannya.
“Aaaaahhhhh!” pekik pria tersebut mengerang kesakitan. Air mata pun mengalir dari sudut matanya, ia meronta-ronta dengan keras akibat rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Eldrey lalu menatap tajam ke arah suster yang menangis takut karena tindakan yang sudah dilakukannya.
“Elena,” gumamnya membaca name tag suster itu saat mendekatinya. “Tutup mulutmu dan berpura-puralah tak tahu atau kau kuburu bersama keluargamu,” ancam Eldrey sambil mengarahkan pecahan kaca berlumuran darah itu ke mata gadis tersebut. “Apa kau mengerti?”
“I-iya, a-aku mengerti,” ucapnya terbata-bata sambil dibalas senyum tipis oleh Eldrey.
Gadis itu segera keluar dari sana dan tampaklah olehnya beberapa petugas keamanan berlari mendekat.
Tanpa pikir panjang Eldrey langsung masuk ke ruangan di sebelah kamar itu. Sebuah ruangan yang kosong tanpa ada pasien didalamnya dan membuat Eldrey bisa sedikit bernapas lega.
Ia merasa beberapa bagian tubuhnya sudah mati rasa, tapi tak begitu dihiraukannya. Petugas keamanan itu beserta beberapa suster lain pun memasuki kamar di mana laki-laki yang tergeletak kesakitan itu berada.
Tanpa pikir panjang Eldrey yang sedang mengintai pun keluar kamar dan berlari menuju lift, sesekali ia menoleh ke belakang melirik dua penjaga di depan kamarnya yang tergeletak begitu saja. Tapi sebelum belok ia sempat melihat seseorang mendekati penjaganya itu dan menatap tajam ke arahnya.
Tak jelas apakah mereka masih hidup atau mati. Melihat tatapan orang itu membuat Eldrey tiba-tiba berubah haluan dan memilih membuka pintu menuju tangga darurat. Lantai dua itu tak begitu ramai atau bisa dikatakan agak sepi penghuni.
Berbeda dengan suasana di lantai satu rumah sakit itu yang ramai, atau di bangunan rumah sakit sebelahnya. Bagaimanapun juga, pasien yang dirawat di lantai dua hanya ada empat orang termasuk dirinya, tapi dua lainnya di rawat terpisah di lorong yang berbeda.
Ia menuruni tangga dengan terburu-buru seolah-olah sedang dikejar sesuatu, tapi tak disangka di belokan tangga yang ia lalui Eldrey pun bertemu seseorang tak terduga.
“Kamu!” pekik orang itu melihat Eldrey.
“Brak!” suara pintu menuju tangga darurat yang dibuka dan membuat gadis itu spontan menatap ke atasnya.
“Sial!” umpat Eldrey lalu meninggalkan laki-laki di depannya itu.
“Hei! Ada darah di bajumu!” teriak laki-laki itu sambil menarik tangan Eldrey yang menuruni tangga.
Tanpa pikir panjang Eldrey pun memutar tangannya dan menarik balik lengan laki-laki itu untuk mengikutinya. Ia pun membuka pintu keluar dan menatap ke sekelilingnya, “apa yang sebenarnya sudah terjadi?” tanya Kevin tiba-tiba saat Eldrey menariknya keluar dari pintu tangga darurat tersebut.
Eldrey pun menatap denah rumah sakit yang terpampang tak jauh darinya dan langsung menarik lengan Kevin lagi seolah sedang menghindar dari sesuatu.
“Apa kamu sedang dikejar?!”
Eldrey pun membalikkan tubuhnya saat melihat ada petugas rumah sakit di depannya, ia menatap Kevin dengan tatapan dingin, “sweatermu, bisakah pinjamkan padaku?” potong gadis itu tanpa menjawab pertanyaan dari Kevin.
Kevin yang mendengar permintaan Eldrey pun tanpa pikir panjang langsung melepas sweaternya dan menyerahkannya. Eldrey pun memakai sweater itu dengan terburu-buru, tapi ia tersentak kaget saat melihat tangga darurat yang agak jauh dari tempatnya berdiri terbuka.
Tampaklah sosok orang yang menatap tajamnya saat di lantai dua di balik pintu tersebut. Pria itu pun memandang ke sekelilingnya dan tanpa disadari mata mereka pun saling bertemu.
__ADS_1
“Sial!” Eldrey pun langsung lari begitu menyadari kalau orang itu memang mencarinya.
“Ada apa?!” tukas Kevin dan menoleh ke belakang. Ia pun menatap laki-laki yang berlari ke arah mereka dan tanpa pikir panjang membuatnya segera menyusul Eldrey.
“Kenapa kamu dikejar-kejar begini?!” teriak Kevin yang tak diacuhkan Eldrey.
Napas gadis itu terengah-engah mencari pintu keluar sekaligus menghindari kejaran pria itu. Terlebih lagi ia merasa membawa beban karena Kevin juga mengikutinya.
“Apa kau bawa kendaraan?!” lirih Eldrey tiba-tiba.
“Ya!”
“Di mana?!”
“Di parkiran depan!” jelas Kevin. Ia pun kaget saat melihat Eldrey langsung menaiki kursi dan membuka jendela rumah sakit. Orang-orang yang kebetulan melihat mereka juga kaget dengan tingkah Eldrey itu, terlebih lagi ada petugas kebersihan yang berteriak ke arah mereka. Kevin yang juga kalut dengan situasinya malah mengikuti langkah Eldrey keluar dari jendela.
Ia mengikuti Eldrey yang berlari ke parkiran, “itu mobilku!” tunjuk Kevin padanya.
Kevin pun berlari duluan dan membuka pintu mobilnya sambil diikuti Eldrey yang memasukinya.
Tanpa terasa tangan Kevin pun gemetaran saat menghidupkan mesin mobil tersebut, sementara Eldrey menoleh ke belakang dengan napas yang memburu. Jantungnya terasa tercekat saat melihat pria itu masih mengejarnya.
“Cepat bodoh! Dia sudah datang!” bentak Eldrey kesal.
“Iya! Iya!” balas Kevin dan ia pun buru-buru menjalankan mobilnya keluar dari rumah sakit. Mereka berdua tampak merasa lega seolah baru saja bebas dari bahaya.
“Aku pikir aku akan mati!” oceh Kevin tiba-tiba, namun Eldrey tak menanggapinya dan masih melirik ke belakang memastikan mereka tak lagi dikejar.
“Bisa pinjamkan aku ponselmu?” pinta Eldrey.
“Aku mau menghubungi keluargaku,” jelas Eldrey dan Kevin pun memberikan ponselnya.
Gadis itu segera mengetik nomor telepon seseorang yang ingin dihubunginya, tapi pandangannya terganggu saat melihat mobil dengan kecepatan aneh tiba-tiba muncul di belakang mereka lewat kaca spion.
“Siapa ini?” tanya orang di seberang telepon yang mengangkat panggilan Eldrey.
“Bosmu! Aku diserang bodoh!” sahut Eldrey tanpa basa-basi.
“Apa?!”
“Bereskan urusanku di rumah sakit dan temui aku di tempat Arlene! Sekarang aku dikejar!” Eldrey pun langsung memutus panggilan begitu saja.
“Kita dikejar?!” timpal Kevin menoleh ke belakang dan ya, mereka memang dikejar.
Di tempat lain ....
“Sialan!” umpat Charlie setelah menerima kabar dari Eldrey. Dengan tampang kesal ia pun segera menghubungi seseorang yang tak diketahui siapa.
“Apa yang sudah kamu lakukan sampai dikejar seperti ini?!” Kevin pun mengendarai mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi.
“Ke kanan!” perintah Eldrey yang mengabaikan pertanyaannya. Gadis itu mulai merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat luka di beberapa tempat yang dialaminya.
__ADS_1
Mobil pun membelok ke kanan dengan kecepatan yang tak main-main, untung saja jalanan itu tak begitu ramai dibanding sebelumnya, sehingga membuat mereka tak kerepotan untuk menyalip mobil lain.
Tapi sosok mobil pengejar tampaknya masih belum menyerah untuk memburu mereka, sampai-sampai Kevin merasa tak yakin dengan apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya.
“Kita mau ke mana?!”
Suasana semakin mencekam dan membuat gadis itu tak bisa berpikir jernih, terlebih lagi dengan sakit yang tak jelas lagi rasanya sekarang di tubuhnya. Ia mendengar perkataan Kevin namun seolah tak ada tenaga untuk menjawabnya.
Kevin pun melihat celah dan memasuki jalan di antara gang-gang. Sebuah gang yang agak sepi untuk menghindar dari kejaran.
“Buaakkh!” bagian belakang mobil Kevin ditabrak pengejar itu yang membuat mobilnya jadi kehilangan kendali. Spontan Kevin pun menginjak rem tiba-tiba agar mobil itu berhenti.
Tapi sayang ia sedikit terlambat dan mobil tersebut menabrak pohon yang ada di sekitarnya.
"Braaaak!!!"
“Uuuhh!” erang Kevin pelan saat kepalanya membentur stir. Kepalanya berdarah namun kondisinya tak parah walau mereka berdua tak memakai sabuk pengaman.
Eldrey menunduk dan tak jelas apakah ia dalam keadaan sadar atau tidak, tapi tiba-tiba pintu mobil di sebelah gadis itu pun terbuka.
“Keras kepala! Jika kau mati tadi maka aku tak perlu mengejarmu sampai seperti ini!” oceh pria itu sambil terkekeh.
Kevin yang menyadari kehadiran orang tersebut sontak kaget dan terperangah, ia segera menarik lengan Eldrey namun pria itu sudah bergerak duluan.
“Buaakkh!” suara pukulan di leher pun membuat pria itu jatuh tersungkur. Tiba-tiba gadis itu langsung keluar dari mobil dan mencengkeram leher pria tersebut, ia mencekiknya tanpa berpikir panjang.
Tapi kekuatan laki-laki memang tak bisa dibandingkan dengan perempuan apalagi gadis itu sedang terluka, ia membalikkan keadaan dan mencekik Eldrey yang tampak sekarat sekarang.
“Duaakkh!” Kevin pun menendang perut pria itu sehingga ia terpental. “Kau baik-baik saja?!” teriak Kevin membantu Eldrey untuk berdiri.
“Dasar bocah-bocah keras kepala!” Ia pun berlari menghampiri mereka dengan maksud menyerangnya lagi dan Kevin pun mendorong Eldrey untuk menjauh darinya.
“Buugh!"
“Uughh!” erang Kevin saat pria itu berhasil memukul perutnya.
“Kau dulu yang mati bocah!” pria itu terkekeh dan mencekik Kevin yang meronta-ronta berusaha membebaskan dirinya.
Tapi tiba-tiba!
“Aaaaahhhhh!” pekik pria itu saat matanya ditusuk seseorang dari belakang. Ia pun melepaskan Kevin dan mendorong orang di belakangnya.
“Tes ... Tes ... Tes ....” suara darah yang mengalir jatuh dari mata kanan pria itu.
Eldrey pun menatap tangannya yang ujung jari tengah serta telunjuknya berlumuran darah dan cairan dari mata pria yang ditusuknya itu.
“Aku sudah sangat lelah,” gumam Eldrey tiba-tiba. Ia pun berlari dan mendorong pria itu sampai ia terjerembab kasar.
“Kau!” pekik pria tersebut dengan mencengkeram tangan Eldrey. Namun situasi benar-benar tak terduga, gadis itu mematahkan jari tengah pria yang memegangnya sehingga ia pun mengerang kesakitan.
"Aaaah! Sakit! Tanganku sak!" Mmm! Mmm! Mmmm!"
__ADS_1
Erangan pria itu pun tertahan, karena tanpa pikir panjang Eldrey langsung menutup mulut pria tersebut dengan tangannya dan menindih lehernya menggunakan lututnya.
Sehingga laki-laki itu meronta-ronta sesak napas akibat tindihan yang dilakukan Eldrey untuk menghabisinya.