
Ekspresi Eldrey langsung berubah masam menatap Dean. Sepertinya Dean sudah mengatakan sesuatu yang menyinggung hatinya.
“Menemui Alice?”
“Iya,” jawab Dean tanpa ragu. Wajah cool yang selalu menghiasi Dean tampak tak terlintas di depan Eldrey. Sepertinya ia sangat berharap mendapat bantuan dari gadis itu.
“Kamu bisa ke rumahnya bukan? Kenapa harus meminta bantuanku?”
“Aku ...” Dean pun akhirnya menceritakan kejadian di rumah sakit saat gagal bertemu Eldrey. Tak ada yang ia lewatkan, sepertinya Dean sedang berusaha melepaskan beban yang ia pendam sendiri.
“Diana?”
“Benar,” balas Dean.
“Sepertinya dia tak terlalu buruk untukmu.”
“Tidak terlalu buruk? Apa kamu ingin mengatakan jika lebih baik aku bersamanya?” Dean mulai jengkel.
“Entahlah, lagi pula pilihan apa yang kamu punya? Semakin kamu melawan semakin besar jarakmu dan Alice,” tukas Eldrey sambil memainkan jarinya.
“Aku, aku tak tahu lagi harus bagaimana.”
“Tak tahu? Kupikir kamu tidak sebodoh itu untuk tak tahu jawabannya,” ledek Eldrey.
“Apa maksudmu?”
“Jangan berpura-pura Dean, kamu tahu jika kamu hanya perlu memilih salah satunya.”
“Apa pilihan yang kupunya?” Dean mulai emosi.
“Bukankah kau sudah tahu? Pilih salah satu dari mereka dan bayar harganya,” jelas Eldrey tak menatapnya. Tatapannya malah mengarah pada dua orang yang sedang menunggu mereka sambil berbincang.
“Kamu tahu jika aku tak bisa,” lirih Dean kecewa.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Aku sangat mencintai Alice, jika kulakukan papaku pasti menghukum Alice untuk itu.” Eldrey menatapnya, tak jelas apa arti pandangannya, tapi itu bukanlah ekspresi muka datar yang sering ia pasang di wajahnya.
“Kalau begitu tinggalkan dia. Karena bagaimanapun juga, Diana bisa menyelamatkan hidupmu.”
“Apa?! Kamu tahu jika aku tidak menyukainya!”
Mendengar perkataan Dean, kalimat mengumpat langsung tertulis di benak Eldrey.
“Kalian berdua memang pantas bersama, sama-sama menyusahkan,” mungkin itu terjadi karena ia sudah bosan terlibat dalam hubungan Alice dan Dean yang merepotkan.
“Dean, jadilah lebih cerdas, kamu sendiri yang tahu seperti apa ayahmu. Jika kamu ingin menyelamatkan Alice, maka buatlah pilihan yang benar,” pungkas Eldrey. Kata-katanya terdengar seperti nasehat untuk Dean, bagaimanapun juga Eldrey adalah sahabat Alice yang juga sudah menjadi temannya dalam melancarkan hubungan mereka.
Tak bisa dipungkiri, kalau dia adalah teman perempuan yang cukup akrab dengannya, mengingat jika ada sesuatu yang berhubungan dengan Alice, Dean pasti akan langsung menghubungi Eldrey. Bagi mereka berdua, Eldrey adalah teman yang pengertian, sedikit pun tak pernah terpikirkan kenapa Eldrey mau membantu mereka. Apa itu hanya karena pertemanan?
Apa Eldrey benar-benar melakukan itu karena menganggap mereka teman? Hanya ekspresi datar yang selalu ditampilkan gadis itu saat menemani mereka.
Setelah sejenak terdiam, “terima kasih,” ucap Dean akhirnya tersenyum. Ia seperti mendapat petunjuk saat mendengar nasehat Eldrey. Tanpa aba-aba langsung ia sentuh tangan Eldrey dan menggenggamnya.
Tak ada ekspresi kaget, kecuali muka heran dengan hal konyol apa yang dilakukan Dean padanya. “Ada yang kau lakukan?”
“Aku ingin meminta bantuanmu. Mungkin ini terdengar kurang ajar, tapi tak ada yang bisa membantuku selain kamu,” Dean masih belum melepaskan tangannya.
“Bertunanganlah denganku,” sejurus kalimat itu keluar dari bibir Dean tanpa ragu.
“Bertunangan? Kenapa?” Eldrey menanggapinya dengan tenang.
“Karena hanya kamu yang bisa menyelamatkanku. Seperti yang kamu tahu, papaku ingin aku bertunangan dengan orang yang memiliki pengaruh tinggi, dan kamu memiliki itu. Tidak, kamu bahkan jauh lebih baik dari itu,” sahut Dean bersemangat. “Jika kita bertunangan, maka hubunganku dengan Alice pasti akan baik-baik saja.”
Eldrey merasakan sesuatu yang menggelitik otak dan hatinya. Seolah-olah tawa akan terpecah jika ia tak menahan dirinya. “Kalau aku tidak mau?”
Dean terdiam, seperti ada sengatan listrik kecil di benaknya saat mendengar penolakan itu. “Kenapa? Biasanya kamu pasti akan membantu.”
Perkataan Dean membuat Eldrey tersenyum tipis, “Dean? Apa sebenarnya yang kamu inginkan?”
“Apa maksudmu?” Dean merasa bingung dengan pertanyaan Eldrey.
__ADS_1
“Maksudku? Mmm ... Bukankah kamu sudah punya pacar? Kenapa kamu masih sibuk dengan perempuan lain? Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan pacarmu itu?”
“Itu, kenapa kamu bertanya seperti itu?”
Eldrey menatap tenang dirinya, “aku hanya penasaran, karena sepertinya kamu sangat egois.”
Dean sudah tahu jika Eldrey gadis yang blak-blakan, tapi ia tak menyangka akan mendengar sesuatu yang menusuk dari mulut gadis itu. “Aku? Egois?”
“Ya.”
“Di mana letak egoisku? Aku hanya ingin hubunganku dengan Alice baik-baik saja.”
“Bukankah karena itu kamu egois? Apa kamu lupa statusmu?” sindir Eldrey.
“Aku mencintai Alice.”
“Karena itulah kukatakan kamu egois," tandas Eldrey.
“Apanya yang egois dari itu? Aku mencintai Alice, apa yang salah dengan itu? Kamu tak tahu apa pun Rey!”
Eldrey tertawa, ekspresinya mengundang penasaran Kevin dan Charlie yang berdiri tak jauh dari mereka. “Luar biasa sekali teman, kamu punya pacar, kamu punya tunangan, dan kamu ingin bertunangan lagi untuk menyelamatkan gadis yang kamu cintai? Pasti menyenangkan sekali jadi dirimu.”
Ekspresi Dean berubah, merasa aneh saat mendengar perkataan Eldrey yang seperti sindiran keras untuknya. Tapi itu tak mengusiknya, bagaimanapun juga ia harus bisa membuat Eldrey membantunya. Karena memang hanya dia satu-satunya kunci tersisa untuk menyelamatkannya.
Berbeda dengan Alice, Dean tahu latar belakang Eldrey. Selama berteman mereka tak pernah membahas tentang keluarga karena itu tak ada gunanya, dan hanya akan membuat Alice merasa rendah diri jika ia sadar dikelilingi oleh orang-orang kaya seperti itu.
“Kenapa? Apa kamu tak ingin membantuku dan Alice? Kamu sendiri tahu jika dengan itu pasti bisa menyelamatkanku,” sambung Dean. Sepertinya ia benar-benar berharap pada Eldrey, dan perasaan menggelitik aneh itu semakin menyelimutinya.
“Jadi? Apa yang bisa kamu tawarkan?” jawab Eldrey membungkam Dean. Dean merasa ada secercah harapan dari jawaban itu.
Tanpa pikir panjang Dean langsung menjawab penuh keyakinan, “jika kamu kesusahan aku pasti akan membantumu, apa pun itu. Percayalah!”
“Apa yang bisa kamu tawarkan?” Eldrey kembali mengulangi perkataannya. Dean terdiam, meresapi perkataan Eldrey tersebut. Ia menerka-nerka apa jawaban yang sesuai untuk itu.
“Apa yang kamu inginkan?” tanya Dean akhirnya. Rasa cinta pada Alice yang terlalu besar, sepertinya sudah membutakan Dean dan membuatnya bodoh. Bahkan berpikir jernih pun sepertinya sudah sulit baginya. Seperti anak muda yang terlalu hanyut akan kenikmatan dunia, bahkan hati jauh lebih jalan dari logika, sudah tak bisa membedakan mana yang benar dan hasrat baginya.
__ADS_1
Bahkan keinginan itu membuatnya tak sadar akan rasa egois yang berdiri di atas rasa orang lain. Entah rasa sakit, rasa sayang, rasa cinta, rasa kecewa, rasa amarah, rasa rindu, rasa menghargai, rasa pertemanan atau apa pun itu yang mereka jadikan pijakan. Sedikit banyaknya Alice dan Dean tak ada bedanya.
“Kutanya sekali lagi, apa yang bisa kamu tawarkan?” Eldrey pun melepaskan genggaman Dean darinya dengan ekspresi angkuh yang menekan.