
Terpaksa Eldrey mengeringkan rambutnya. Bahkan tanpa harus dibantu Ramses yang menontonnya. Tatapan laki-laki itu cukup lekat, terlebih lagi saat menyoroti lengan kiri putri Dempster.
Dia tak mengatakan apa-apa, akan jejak menyedihkan seperti penyiksaan atau bunuh diri tertera di sana.
Dan Eldrey yang menyadari arah pandang Ramses tidak mempedulikannya.
“Sudah bukan? Sekarang pergilah,” usirnya sambil melemparkan handuk tadi.
Untung saja ditangkap dengan sigap, karena kalau tidak dipastikan akan menghantam wajah sang pemuda yang tampan.
“Selamat tidur, Eldrey.”
Hanya itu yang diucapkan Ramses lalu pergi dari sana. Dan Eldrey tak peduli selain merebahkan tubuhnya.
Esoknya sambutan luar biasa tertoreh dari keluarga Turner.
Eldrey tertegun saat Nyonya Nera begitu memperhatikannya. Bahkan membuatnya makan dengan porsi di atas normal.
“Jadi, apa pekerjaan Ayahmu?” tanya nenek Ramses dan membuat semuanya terdiam.
“Pengusaha.”
Tapi jawaban singkat itu berhasil mengundang tawa Fiona.
“Nek, tolong dimaklumi ya, Eldrey ini memang begitu. Dia kalau bicara memang singkat-singkat begitu,” jelasnya agar suasana tidak canggung.
Dan lagi-lagi, Eldrey tidak mengatakan apa-apa. Bahkan jika dia seorang tamu sepertinya tak berniat mengambil muka dengan baik di sana.
Padahal para penghuni rumah itu memandangnya dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Hari minggu. Hari di mana semuanya menghabiskan waktu di rumah. Eldrey sebagai orang asing pun melintasi halaman rumah Tuan Harel.
Terdiam menyaksikan berbagai jenis bunga tertata tapi di halaman mereka.
Sampai akhirnya pandangannya terhenti saat melihat tulip yang indah.
“Apa kamu menyukainya?” seseorang bersuara. Tampak oleh putri Dempster kalau itu merupakan nenek Ramses yang sedang menyirami tanaman.
“Tidak,” perlahan ia mendekat.
“Lalu apa yang kamu sukai, Nak?”
“Forget Me Not.”
Wanita itu tertegun mendengarnya. “Itu memang bunga yang indah.” Eldrey hanya diam dan tetap memperhatikan aktivitas sosok di sebelahnya. “Apa tanganmu baik-baik saja?”
Sekarang, putri Dempster mengangkat tangan kirinya yang kemungkinan sedang dibahas.
“Ya.”
“Bekas luka yang cukup menakutkan untuk seorang perempuan.”
“Begitu? Apa karena kulit merupakan aset wanita?”
Nenek Ramses tersenyum. “Itu salah satunya. Jadi, apa ada yang menyakitimu?” Eldrey tidak merespons pertanyaannya. “Atau kamu sendiri yang melukai dirimu?”
“Begitulah.”
Selesai menyiram tanaman, sosok itu mengajak Eldrey untuk mengikutinya. Menuju kamar sang wanita tua di mana dia mengambil sesuatu entah untuk apa.
“Duduklah di sini, Nak,” ajaknya sambil menepuk pinggiran ranjang yang di dudukinya. Walau Eldrey menurutinya, tapi ia cukup kaget saat sosok di sebelahnya memegang tangannya.
“Walau tak bisa menghilangkan bekasnya dengan cepat, setidaknya obat ini bisa membantu menyamarkannya.”
Dan ibu dari Nyonya Nera pun mengusap salep itu ke permukaan kulit Eldrey. Di mana di lengannya terdapat jejak sayatan yang sudah mengering.
Dingin dan menyejukkan, itulah yang dirasakan putri Dempster saat meresapi sensasi obat yang menyentuhnya.
“Jika ada masalah, jangan coba bunuh diri. Selesai semuanya dengan lapang hati agar bisa menemukan solusi.”
Sungguh ucapan orang tua yang bijak.
Tapi entah kenapa Eldrey tersenyum tipis jadinya. “Lapang hati ya.”
“Setiap masalah, pasti ada jalan keluarnya.”
Eldrey memiringkan kepala. Dan perlahan menyentuh dada. “Jika sakitnya di sini, apa jalan keluarnya?” tanyanya tanpa keraguan.
Sang pendengar pun terkesiap. Tak menyangka, akan diberi pertanyaan seperti itu.
Nenek Ramses lalu menunjuk tangan Eldrey yang menyentuh dada.
“Maka yang menyebabkan rasa sakit itulah obatnya.”
“Maksudnya?” raut wajah Eldrey berubah. Tak lagi santai, sekarang agak menekan.
“Temukan jawabannya, dari penyebab rasa sakitnya. Apa alasan sampai semua itu terjadi. Dan saat kamu sudah menemukannya, maka kamu akan tahu kelanjutannya. Hasil apa yang kamu inginkan untuk menyembuhkan luka di hati.”
Terbungkam.
__ADS_1
Eldrey terdiam. Terlebih saat tangan nenek tua itu masih menunjuk ke arah dadanya.
Kalimatnya berhasil menusuk kesadaran putri Dempster. Sehingga tanpa sadar ia mengibarkan senyum di bibir.
“Cantik,” puji Nenek Ramses. “Kamu sangat cantik jika tersenyum. Dan Ramses mungkin akan terpukau melihatmu.”
Mendengarnya membuat Eldrey menghembuskan napas pelan sambil tertawa sekilas.
Dan akhirnya, ia pun menemui Tuan Harel untuk berpamitan kepadanya.
“Jadi, kamu ingin pulang?”
“Iya.”
“Baiklah kalau begitu. Paman akan mengantarmu.”
“Tida—”
“Tidak apa-apa,” potongnya seolah tahu apa yang akan diucapkan gadis itu. “Paman akan mengantarmu dengan Ramses. Tidak masalah kan?”
Entah kenapa, raut wajah Tuan Harel membuat Eldrey tidak jadi menolaknya.
Begitu jelas perbedaan sosok di pandangan dengan ayahnya. Mengingat Betrand seperti pria dingin nan angkuh, sementara ayah Ramses hangat juga menyamankan.
Setidaknya, itulah yang dirasakan Eldrey saat berhadapan dengannya.
Sekarang, mereka bertiga berlalu menuju kediaman Dempster. Walau sebelumnya ada drama di mana Nyonya Nera melarang Eldrey pulang, tapi apa mau dikata.
Gadis itu akan kembali ke rumah orang tuanya dan berjanji kapan-kapan akan pergi dengan Nyonya Nera yang mengajaknya berbelanja.
Sebenarnya, ibu Ramses dan Fiona hanya ingin mengeluarkan skill mereka dalam mendandani Eldrey yang tampak cocok sebagai model keduanya.
Tak banyak yang dibicarakan selama perjalanan. Terlebih hanya Eldrey lebih banyak menjawab singkat pertanyaan yang dilontarkan.
Sekarang, di sinilah mereka.
Memasuki halaman kediaman Dempster nan megah namun tak menyamankan sensasinya.
Itulah yang dirasakan Eldrey karena belum turun dan menatap lekat pintu masuk.
“Eldrey?”
Panggilan dari Tuan Harel pun diabaikan. Seolah ia sedang terlena pada pemikirannya. Sementara Ramses yang menyaksikan itu sebagai supir tiba-tiba bersuara cukup keras.
“Eldrey!”
“Ramses,” sela Tuan Harel sambil menggeleng. “Nak? Ada apa?” tanyanya karena perhatian Eldrey telah terarah kepadanya.
“Sama-sama. Ayo masuk ke dalam,” ajak pria itu.
“Paman ikut juga?” tanya Eldrey dengan polosnya.
“Ya, karena ada yang ingin Paman bicarakan dengan ayahmu. Kamu tidak keberatan kan?”
Eldrey mengangguk seolah setuju. Ramses yang menyaksikan interaksi ayah dan gadis itu mengernyitkan dahinya.
Mereka tampak begitu akrab di mata, seolah seperti seorang anak dan orang tua.
Tentunya ia juga mengekori mereka berdua dalam memasuki rumah mewah yang menyambutnya.
Terkesiap.
Bibi Arda terkejut bukan kepalang. Saat tatapannya bertemu dengan putri Dempster yang datang. Seketika air mata beruraian dan ia lari menuju kamar majikannya.
“Nyonya?” panggilnya sambil mengetuk pintu. “Nyonya?!”
“Ya, Bibi. Ada apa?” tanya Raelianna dengan wajah menyedihkan.
“Nona, Nona sudah pulang!”
Semringah pun tercetak sempurna di rupa wanita itu.
Sampai akhirnya ia lari terburu-buru dan mendapati Eldrey ditemani dua orang di sisinya.
“Eldrey!” teriaknya. Cukup keras dan mengejutkan Evan yang kebetulan sedang menuruni tangga. “Nak!” panggilnya sambil beruraian air mata.
Tapi saat akan memeluknya, gadis itu tiba-tiba mundur dan mengejutkan dua orang di belakangnya.
“Eldrey?”
“Ah, maafkan aku, Paman,” lirih gadis itu yang menoleh ke arah Tuan Harel. “Aku tidak sengaja menginjak kaki anda.”
Hanya saja, permasalahannya jelas bukan itu. Akan tetapi tentang pelukan sang ibu yang jelas-jelas ditolaknya di depan mata Ramses dan Tuan Harel di sana.
Tentunya menimbulkan syok Raelianna saat melihat pengabaian yang dilontarkan putrinya.
“Eldrey!”
Terdiam. Gadis itu membisu, saat seseorang menghampirinya dengan terburu-buru dan memeluknya.
__ADS_1
Seolah dunia hanya ada tentang mereka. Kepala sang putri yang diusap lembut menyiratkan kasih sayang sang ayah kepadanya.
“Ke mana saja kamu selama ini? Semuanya mencemaskanmu, Nak. Semua benar-benar mengkhawatirkan kamu,” bahkan sentuhan hangat juga terasa di pipi.
Mungkin pertama kalinya bagi Eldrey berhadapan langsung dengan tampang bahagia ayahnya. Dia benar-benar terlihat bersyukur karena akhirnya dapat berjumpa lagi dengan putrinya.
Namun respons tenang Eldrey ditatap aneh oleh Charlie dan Roma yang menontonnya.
Seolah seperti akan ada bom waktu yang meledak tiba-tiba.
“Kenapa Ayah bersikap seperti ini?”
Seketika hening mendera mereka.
“Eldrey?”
Gadis itu pun perlahan menepis tangan ayahnya darinya.
“Apa yang terjadi? Ayah yang aku tahu bukan orang seperti ini.”
Semua dilanda kebingungan. Terlebih suasana semakin menegang dengan perubahan ekspresi Presdir Betrand.
Tapi di satu sisi, Tuan Harel dan Ramses merasa sedang berada di situasi yang salah. Di mana mereka berdiri di keadaan yang tak seharusnya menjadi tontonan.
“Eldrey.”
“Betrand yang aku tahu, bukan pria hangat seperti itu. Ayahku bukan orang seperti dirimu.”
Rasanya bagai dihujam dengan kejam. Sang anak yang disayang tak bisa menangkap perhatian di pandangan. Seolah kasih orang tua tidak mampu menembus hati dan pikiran.
Eldrey yang mengatakan itu dengan tenang, benar-benar tak bisa dipahami sekarang.
“Jadi, ayah seperti apa yang kamu inginkan?”
“Betrand!” kaget Raelianna mendengarnya.
“Jika aku bukan ayahmu, sosok seperti apa yang kamu inginkan? Jika aku berubah untukmu, apa kamu tidak akan menerimaku sebagai ayahmu?”
Eldrey tidak mengatakan apa-apa.
“Bahkan jika aku dan ibumu sangat ingin membahagiakanmu?”
Tanpa terasa, pria yang dikenal dingin itu meneteskan air mata. Seolah label itu benar-benar telah sirna di dirinya.
Syok tentu saja. Eldrey yang menyaksikan itu dari dekat merasakan keanehan.
“Apa yang harus aku dan Anna lakukan agar diterima olehmu?”
Raelianna terkejut. Tak pernah ia sangka, seorang Presdir Betrand akan melontarkan kalimat dengan suara bergetar.
Mungkin bukan hanya dirinya, tapi juga orang-orang di sekitarnya. Mengingat sosoknya bersikap seperti itu karena putri semata wayangnya.
Evan yang tak bisa menahan emosinya pun terisak tiba-tiba.
“Apa yang kamu inginkan, Nak? Keluarga seperti apa yang kamu harapkan?”
Eldrey menyipitkan matanya, karena ini benar-benar aneh baginya.
“Kami akan lakukan apa pun untukmu, tapi tolong terima aku dan Raelianna sebagai orang tuamu. Ayah mohon, Eldrey. Terima kami bukan sekadar status yang melekat pada dirimu. Terima kasih sayang kami sebagai ayah dan ibumu, aku mohon,” pintanya sambil mencoba memeluk putrinya.
Tapi Eldrey mundur tiba-tiba dan menggelengkan kepala. Raut wajahnya aneh seperti hampir putus asa.
Mungkin tanpa ia sadari matanya memerah dan berkaca-kaca.
“Eldrey.”
Mungkin ini benar-benar di luar perkiraan mereka.
“Eldrey!” pekik Ramses karena gadis itu lari tiba-tiba.
“Ramses!” kaget Tuan Harel karena anaknya mengejar putri Dempster.
Evan yang juga syok dibuatnya, sekarang tertahan akibat Charlie mencegatnya. Menghentikan langkahnya agar tidak menyusul sang adik yang lari entah ke mana.
“Biar aku, yang mengejarnya,” jelas pria itu meninggalkan mereka.
Sementara suasana benar-benar aneh rasanya. Terlebih Presdir Betrand yang tampak frustrasi dalam diamnya hanya bisa menutup wajah dengan satu tangannya.
“Tuan, maafkan kami karena anda sampai menyaksikan hal seperti ini,” ucap Roma tiba-tiba.
Sementara Eldrey yang sudah berlari menjauh akhirnya berhasil disusul Ramses.
“Aku ingin pergi.”
“Eldrey.”
Napas gadis itu begitu terengah-engah dan tampak putus asa.
“Aku ingin pergi, aku tidak ingin lagi di sini.”
__ADS_1