FORGIVE ME

FORGIVE ME
Pergi


__ADS_3

Insomnia.


Hampir semuanya mendapati kondisi itu. Para penghuni inti keluarga Dempster tak ada yang bisa tidur.


Rasa yang berkecamuk di dada, melunturkan kantuk berganti sendu dalam istirahatnya. Dan aliran kristal bening di rupa, membasahi sudut mata ke bantal masing-masing mereka.


Esok, akan menjadi hari keberangkatan Eldrey ke luar negeri.


Tapi sayangnya, gadis itu hanya akan pergi bersama Emily. Sang pelayan dari kediaman keluarga Dempster. Dan sekarang, lirihan sang tuan putri, kembali terngiang di diri Charlie. Di mana sosoknya ditolak mentah-mentah untuk menemani.


“Jangan pergi. Daripada aku, Betrand jauh lebih membutuhkan dirimu,” tiba-tiba diraihnya tangan pria itu dan menggenggamnya. “Charlie. Kau tahu? Di antara semua orang, aku sangat ingin berterima kasih padamu. Terima kasih karena sudah menjadi sandaran untuk ayahku. Dan terima kasih, karena sudah menjadi guru bagiku. Tanpa dirimu, aku takkan tahu arti dari luka di tangan kiriku.”


Sosok di hadapan Eldrey tersentak mendengarnya. Hampir saja ia tarik tangannya akibat ucapan yang dilontarkan. Tapi, genggaman erat Eldrey membuat ulahnya sia-sia.


“Jaga dirimu, Charlie. Aku, pasti akan merindukanmu,” lanjutnya.


Mengejutkan sebenarnya. Entah kalimat itu benar-benar tulus dari hati putri Dempster, Charlie pun tak tahu. Sulit diterima nalar, jika gadis muda di depannya melirihkan kata rindu.


Namun satu hal yang pasti, gemuruh di perasaan berbisik agar merentangkan tangan. Dan Eldrey menyambutnya dengan sebuah pelukan.


Ini bukanlah cinta. Tapi ini adalah kasih sayang antara bawahan sang ayah dengan putri majikan. Kedua mata mereka sama-sama memerah walau tidak mengukir tangisan.


Dan pagi harinya, Eldrey sudah bersiap dengan keberangkatannya ke bandara. Tak banyak yang ia bawa, kecuali pakaian melekat di badan, paspor, juga beberapa dokumen penting lainnya.


Di ruang tamu, tampak sosok kedua orang tuanya juga sang kakak yang menyambutnya. Kondisi tidak baik-baik saja jelas tertera di rupa mereka. Mata-mata sembab, dan Anna yang masih mengurai tangis sekarang tak sedikit pun mampu mengusik hati putrinya.


Apalagi kalimat terakhir Eldrey tadi malam sungguh menghantam kesadaran.


“Jangan menghentikanku. Jika kamu, tak ingin aku semakin membencimu, Ibu.”


Sekarang, Betrand berdiri tepat di depannya. Mencoba memberikan ekspresi terbaiknya walau sosoknya seperti orang yang kehilangan arti kehidupan.


“Eldrey, bisakah kita bicara sebentar? Ayah mohon,” pintanya.


Gadis itu mengangguk. Mengikuti langkah sang kepala keluarga, menuju taman di samping rumah. Berlanjut ke arah gazebo yang jarang sekali di datanginya. Lambat laun, ayahnya berbali padanya.


Tersenyum hangat setelah sekian lama.


“Maaf.”


Dahi berkerut menghiasi rupa gadis itu.


“Maaf untuk semuanya,” mendadak suara Presdir Betrand terdengar bergetar. “Ayah akan lakukan apa pun. Apa pun itu, ayah akan lakukan. Jadi ayah mohon, tolong maafkan ayah. Maafkan aku, karena lagi-lagi menyakiti hatimu. Maafkan aku, Eldrey. Maafkan aku,” ucapnya dengan menyentuh lengan putrinya.


Putri Dempster tidak mengatakan apa-apa. Kecuali menjadi pendengar yang baik sekarang. Tak tersirat emosi sedih di mukanya, selain ekspresi tenang ia pamerkan pada sosok di depan mata.

__ADS_1


Bahkan jika angin lembut menerpa mereka, tapi suasana jelas kasar di perasaan masing-masingnya. Seolah-olah ada kecamuk parah yang berkobar akibat pecahan di hatinya.


Tiba-tiba Presdir Betrand jatuh terduduk di depan gadis itu. Menyentuh kakinya entah kenapa.


“Maafkan aku, Eldrey. Sekali lagi maafkan aku.”


Mungkin inilah yang disebut kasih sayang orang tua. Seandainya kondisi mereka tidak seperti itu, jelas tak pantas bagi seorang ayah terlihat mengemis di depan putrinya. Dan Betrand melakukannya.


Demi sebuah maaf yang harus ia lakukan agar sang putri mengampuninya. Bagaimanapun juga, ucapan Eldrey yang ingin menghapus ikatan keluarga mereka pastilah menyesakkan hati kedua orang tuanya.


Walaupun ditentang, tapi masa lalu dan trauma Eldrey juga tidak dapat diabaikan.


Perlahan gadis itu mensejajarkan tubuhnya dengan Betrand. Menarik tangan ayahnya, yang menyentuh kakinya.


“Kau tahu, Ayah? Tak sepantasnya seorang kepala keluarga bersikap seperti ini,” ucapnya tiba-tiba. Perlahan ia usap pipi ayahnya dengan tangan kanan. Entah kenapa namun menggaungkan sedih di hati Betrand. Terlebih saat putrinya menatap dengan sorot mata yang tak dapat diartikan.


“Eldrey—”


“Aku membencimu,” ia memotong ucapan. “Karena itu, tolong hargai keputusanku. Aku, benar-benar tak sanggup lagi melihat kalian.” Tiba-tiba ia peluk sosok Betrand. “Terima kasih untuk semuanya. Jaga kesehatanmu, Ayah. Aku akan selalu mendoakanmu,” selesai mengatakan itu Eldrey pun pergi meninggalkannya.


Membiarkan sang ayah tetap diam di posisinya sambil beruraian air mata. Perpisahan ini pastinya meninggalkan lubang besar di hati masing-masing. Namun memang tak bisa disalahkan keputusan putri Dempster itu.


Karena bagaimanapun juga, dialah yang paling terluka. Semua trauma juga sakit yang di derita berasal dari keluarganya. Walau kata memulai dari awal sempat tertera, nyatanya pengampunan dari sebuah maaf memang sulit diturunkan.


Dan pergi pun menjadi keputusan. Bagi seorang Eldrey Brendania Dempster dalam mengobati keadaan. Mungkin dia hanya perlu waktu untuk menenangkan dirinya. Agar tidak semakin gila dan memilih mati sebagai akhir perjalanan.


“Nona, sarapannya sudah siap,” Emily sibuk menata sajian sarapan pagi di atas meja.


Eldrey yang baru selesai mandi pun duduk di salah satu kursi yang tersedia.


Sungguh berbeda. Tak lagi seperti lima tahun yang lalu, penampakannya semakin cantik dengan rambut coklat terang ikal sepinggang. Dihiasi sedikit poni menambah kesan menawan nan elegan.


Sementara sorot mata tenangnya, menatap lekat sajian semangkuk gandum yang dicampur potongan buah juga kacang dan yogurt. Bahkan ada pancake kentang di sana, bersama keju, croissant, serta pain au chocolat.


Untuk mereka berdua, sajian sarapan pagi itu jelas terlalu banyak.


“Nona, anda ingin juice atau susu?” tanya Emily tiba-tiba. 


 “Susu,” jawabnya singkat.


“Baiklah, tunggu sebentar akan saya siapkan.”


Eldrey pun menggigit pelan croissant. Dengan tampang malas tentunya, seolah merasa bosan menjalani hidup. Bertahun-tahun memakai sistem nomaden bersama Emily, akhirnya mengantarkan Eldrey pada salah satu desa yang mirip negeri dongeng ini.


Kawasan destinasi para pelancong, karena dikelilingi beberapa gunung yang sangat memukau jika ingin di jelajahi para pendaki.

__ADS_1


Bahkan pemandangan alam yang tertera di depan mata, membuat putri Dempster tidak menyesal terdampar di sini. Selama tiga bulan terakhir, dengan membeli sebuah rumah di dekat tempat wisata air terjun, akhirnya ia bisa merasakan apa yang namanya tidur dengan tenang.


“Ini, Nona,” Emily menyodorkan segelas susu padanya. “Omong-omong, apa anda ingin kayu bakarnya ditambah?” sorot matanya melirik ke perapian.


“Terserah,” Eldrey lalu berjalan ke arah jendela.


Rumah yang ia beli ini jelas tak sebesar kediaman keluarga Dempster. Hanya ada tiga kamar, dua kamar mandi, satu perapian, ruang tamu tanpa sekat dengan ruang keluarga, dapur sederhana namun rapi dan sangat menenangkan arsitekturnya.


Dan untuk Eldrey, jelas-jelas inilah gambaran kediaman impian untuknya seorang.


“Oh ya, Nona. Ada telepon dari Tuan Charlie,” Emily menyela. Sontak saja raut muka putri Dempster langsung berubah.


“Lalu?”


“Tenang saja. Saya tidak bilang kalau kita di sini. Dia tahunya kita berada di Venesia,” jelasnya.


“Bagus.” Eldrey pun menaruh gelas susu di tangan di atas meja.


“Tapi,” ucapan singkat Emily berhasil menaikkan salah satu alis majikannya. “Tuan dan Nyonya sangat merindukan anda.”


Tak ada jawaban, kecuali Eldrey hanya mengedarkan pandangan. Memilih pergi keluar rumah seperti biasanya. Berjalan-jalan, menikmati wisata pagi dengan sinar mentari yang cukup menyilaukan.


Walau sudah bertahun-tahun berlalu, sosoknya masih enggan berbicara dengan keluarganya. Hanya Charlie yang menjadi juru bicara, menanyakan aktivitas juga keberadaannya. Sering kali Eldrey memakai telepon umum untuk menghubungi agar tidak terlacak.


Lima tahun jelas waktu yang sangat lama. Bahkan dengan kuliah yang tidak terselesaikan, sosoknya pergi tanpa kata. Mengabaikan siapa pun di dalam hidupnya.


Juga orang-orang yang menanggil sosoknya sebagai teman juga pujaan.


“Nona, apa hari ini kamu tidak membeli bunga?” tanya seorang pedagang di pinggir jalan.


Langkah Eldrey terhenti, dan tersenyum padanya. Mendekat sambil menyentuh salah satu kelopak bunga tulip kuning.


“Seperti biasa,” pesannya pada anak remaja di depannya.


Sebuket forget me not pun disiapkan untuknya. Mungkin, dia merupakan pelanggan terajin yang membeli dagangan gadis itu. Padahal Eldrey membelinya tidak untuk dinikmatinya. Tapi kadang diberikan pada siapa saja yang lewat di dekatnya. Sampai-sampai hal itu sempat memicu salah paham.


Dan sekarang di sinilah dirinya. Di area dekat tebing. Menatap ke ujung sana, ke arah puncak pegunungan yang ditutupi salju abadi.


Bunga di tangan pun ditatap lekat olehnya. Diciumi sekilas sebelum diarahkan ke bawah.


“Jangan lupakan aku ya,” lirihnya pelan sambil mengunggingkan senyum tipis. “Menyedihka—”


“Dari pada di buang, bukankah lebih baik untukku? Nona.” Sontak saja putri Dempster menoleh ke belakang. Tersentak, saat mendapati sosok tak asing menatap hangat padanya. “Sudah lama ya, Eldrey.”


“Kamu—” 

__ADS_1


 


 


__ADS_2