
Sekarang, yang tersisa di sana hanya Dome dan sang ajudan, juga Eldrey yang masih memainkan pistol di tangan.
Timmothy sudah pergi bersama Evan, demi membawa Betrand dan Charlie untuk segera mendapatkan perawatan.
Eldrey bangkit dari duduknya, mengabaikan luka di raga yang belum sembuh serta bersikap tuli pada lolongan Bill yang meminta dilepaskan.
Nyatanya, cairan merah dari daun telinga yang hancur jelas memandikan pakaian pasien agar ternoda. Eldrey nenatap remeh ibu dan anak yang ketakutan melihatnya.
“Kalian,” senyumnya terasa mengerikan.
Dan di rumah sakit yang berbeda, histeris milik Raelianna memecah keadaan. Saat mendapati fakta kalau sang suami tidak baik-baik saja. Sosoknya bahkan jatuh pingsan, dan Dean serta Alice yang menyaksikan dibuat tidak tega. Mereka dan keluarganya berinisiatif mengantar wanita itu menuju tempat di mana Betrand berada.
Sekarang, Evan dibuat tak berdaya. Tangis tercerai-berai di wajahnya mengingat sang ayah butuh penanganan darurat. Dan dua peluru yang bersarang di tubuh, salah satu fragmennya melukai hati, sisanya menembus bahunya. Dan pendarahan yang terjadi pastinya mengancam nyawa.
Walau kebutuhan stok darah tersedia, tapi riwayat kondisi Betrand jelas menakuti anaknya.
“Tunggu, seingatku ada empat kali bunyi letusan.”
Evan yang sedang menutup wajah frustrasi dengan kedua tangannya pun terkesiap mendengarnya. Bahkan Roma yang dari tadi sibuk mondar-mandir menghentikan aktivitasnya.
“I-itu—”
“Aku benarkan? Jika aku tidak salah ada empat kali tembakan dari wanita itu.”
Tak dapat dipungkiri, kalau kalimat Timmothy mulai mendinginkan tulang keduanya. Jika satu peluru bersarang di paha kiri Charlie dan duanya tertanam di tubuh Betrand, lalu yang satunya lagi bagaimana?
Lambat laun Roma mengalihkan pandangan pada putra Dempster. Menatap lekat seluruh tubuhnya yang berbalut setelan kusut itu.
“Kita sudah sampai,” Dome bersuara, melirik tenang gadis yang duduk di sampingnya. Tapi keterdiaman Eldrey membuatnya menyipitkan mata. “Nak, apa kau tidak ingin turun? Kupikir kau harus melihat kondisi ayahmu.”
Akan tetapi, penampakan hening sang gadis muda membuatnya penasaran. Ia pegang lengan putri Dempster dan kejadian selanjutnya sungguhlah di luar dugaan.
“Sial!”
Mata itu tiba-tiba terbuka. Perjalanan yang memakan waktu lebih dari setengah jam akhirnya menyadarkan Raelianna dari pingsannya.
Di dalam mobil, bersama Dean, Alice dan juga Julia di sisinya.
“Anna?! Syukurlah! Akhirnya kamu sadar juga. Aku cemas sekali, tapi untunglah kita sudah sampai di rumah sakit!”
Seperti perkataan nyonya rumah Cesar, mereka baru saja tiba di tempat yang tak asing bagi seorang Raelianna.
Seketika ia teringat masa lalu, saat di mana anak gadisnya dirawat di rumah sakit yang sama. Ketika insiden penculikan Eldrey oleh Naomi dan Paul namun sekarang menjadi saksi perawatan suaminya.
Tubuh gemetar dan air mata yang lagi-lagi menetes menjadi pertanda seberapa menyedihkan kondisinya. Bersamaan dengan turunnya mereka, mobil yang membawa Kevin dan ayahnya juga hadir di sana.
Dia tetap memaksa ingin ikut walaupun harus duduk di kursi roda. Sebesar itulah rasa cinta Kevin pada Eldrey bahkan jika Betrand lah yang sebenarnya sedang dirawat.
Akan tetapi, rasa penasaran beserta cemas yang melanda harus tercoreng sekarang. Oleh keanehan di luar dugaan menembus kejam pendengaran.
Di lorong rumah sakit, terlihat Timmothy menundukkan kepala. Ataupun sekretaris Roma yang menutup matanya dengan satu telapak tangannya.
Tak luput pula pekikan diselingi histeris tak terhingga, lolos lepas di mulut putra pertama Dempster. Dia yang mencengkeram kerah baju sang dokter, melontarkan kata-kata perobek perasaan.
Sungguh sosoknya seperti orang kesetanan.
“Cepat obati dia! Kau pikir aku main-main?! Aku akan membunuhmu jika kau tidak menyembuhkannya!”
“Evan!” Raelianna mendekat. Menarik lengan putranya yang mencoba mencekik orang di depan mereka. Bahkan tak hanya dirinya, Dean juga ikut turun tangan.
Sisanya mencoba mencerna keadaan walau rasa gundah menjadi jawaban. Tingkah itu, tak dapat dipungkiri kalau sesuatu yang tak diharapkan lah terpikirkan.
“Lepaskan aku! Kubilang lepaskan aku! Biar kubunuh dokter keparat it—”
Bunyi tamparan berkumandang. Wajah putra Dempster langsung tertoleh ke samping. Banyak yang terkesiap oleh kejadian barusan, karena tak menyangka kalau Anna akan menampar anak kandungnya. Tapi setidaknya itu berhasil menenangkan Evan.
“Sadarkan dirimu! Kenapa kamu seperti ini? Ibu tak pernah mengajarkanmu seperti itu!” Tapi, tetesan kristal bening yang semakin deras ke pipi Evan menyentak dirinya, berbisik ada yang tak biasa sehingga ikut membuat mata Anna berkaca-kaca. “N-Nak?”
Mendung.
Terlebih suasana umum di pemakaman, menjadi saksi kosongnya pandangan beberapa orang. Taburan bunga biru yang kontras itu, sangat mencolok sekarang.
Sebuah bingkai foto yang menggambarkan seseorang dengan senyum tipisnya mengguncang banyak perasaan.
Cetakan digital namun menyiratkan sang tokoh baik-baik saja. Walau kehidupan yang dijalaninya penuh suka dan duka. Dia berada di kastil kaca dan bangunan itu nyatanya telah hancur membunuh dirinya.
Eldrey Brendania Dempster.
Setangguh itulah dirinya, bahkan jika banyak benda keji menyakiti raga, tapi tak mampu menggoyahkan nyawa untuk meninggalkan fisiknya.
Tapi sekarang semua berbeda. Tubuh indah miliknya tak sanggup lagi menahan itu semua. Salah satu dari empat tembakan ternyata bersarang di perutnya.
Pakaian serba hitam yang dikenakan pada saat terakhir nyatanya mampu menipu semua. Dia berhasil mengelabui mereka kalau sosoknya juga tidak baik-baik saja.
Dia berhasil bertahan dengan angkuhnya sebelum menutup mata sepenuhnya di mobil Dome Bosmova.
Trauma, menjadi penyebab utama runtuhnya pertahanan. Dan juga dampak percobaan bunuh diri sebelumnya ikut melumpuhkan.
Dia benar-benar berhasil mengacaukan kehidupan mereka yang menaruh beragam rasa kepadanya.
Dia, sungguh tidak berperasaan karena meninggalkan sebuah surat sebagai kenangan terburuk di ingatan untuk berjaga-jaga. Andai dokter tak menyerahkan pesan itu, mungkin siapa pun takkan tahu harapan terakhirnya.
Maafkan aku.
Maafkan aku.
__ADS_1
Maafkan aku.
Kata-kata itu kutulis walau aku tak tahu apa salahku. Terkadang sakit di dada tak dapat kuucapkan. Bahkan perih di kepala hanya kupendam dalam keheningan.
Terkadang aku bertanya-tanya, kenapa diriku tidak mati saja? Percobaan gagal, ingin mati di jalanan namun sosokku juga berharap menyaksikan, bagaimana ekspresi kalian di detik-detik kutinggalkan.
Aku ingin hidup tenang.
Aku ingin normal seperti kalian.
Aku juga ingin merasakan kasih sayang.
Aku juga ingin seperti anak-anak kebanyakan.
Ini lucu, takdir menertawakan diriku. Rumah itu menemaniku, tapi di satu sisi juga melukaiku. Namun keluargalah yang lebih menyiksaku.
Kalianlah yang lebih menyakitiku.
Dan kurasa, keinginan konyol itu membelenggu. Menyuruh otakku untuk memohon kebahagiaan. Dan bisikan lain memaksaku teguh pada pendirian.
Sungguh, aku ingin melihat ekspresi kalian di saat kutinggalkan.
Aku ingin mati agar kalian merasakan apa itu kehilangan. Seperti yang kudapatkan dahulu. Dan semoga kalian juga berada di posisi itu.
Kuharap pada kesempatan selanjutnya kematian memang sudi memelukku.
Ingatlah aku, seperti bunga biru yang menjadi lambang kesukaanku.
Maafkan aku, karena tak sanggup lagi menjalani semuanya. Aku menyayangi kalian walau hasrat ini membenci itu.
Semoga kalian merindukanku,
Eldrey.
Bunyi pecahan menyeruak dari kamar. Julia tak bisa menghentikan air matanya, memikirkan nasib sang putra. Semenjak kemarin Kevin seperti orang gila. Cenderung marah dan memecahkan benda-benda.
Ruangan miliknya, sudah tak berbentuk normal. Semua berantakan dan terlihat menakutkan, dan pembatas kayu yang tak bisa dilewati karena dikunci menghalangi bantuan.
Apalagi ancaman yang dilontarkan memaksa Kendal tetap diam. Ia sadar luka akibat kehilangan sang putra sukar untuk disembuhkan.
“Buka pintunya, Kevin! Buka pintunya!” Lagi-lagi tak ada jawaban. “Buka pintunya Kevin atau kudobrak sekarang!” Sialnya dia mengabaikan. Dan Dean yang tak tahan pun benar-benar hilang kesabaran.
“Kevin!”
Nyatanya tontonan yang di dapatkan dari balik pintu berhasil membuat Julia jatuh pingsan.
Telah kehilangan cahaya.
Evan terlihat menyedihkan di pemakaman, penampakan sang ibu mengundang iba di depan pintu kamar suaminya, dan seorang Betrand masih tidak sadar. Ia terbaring lemah akibat membayar harga oleh ulah ibu kandungnya.
Di satu sisi, keluarga Gates diambang kehancuran. Lima perusahaan raksasa mengarahkan pisau kepada mereka.
Milik Kendal, atas harga yang sudah ditorehkan karena menyakiti perasaan sang putra.
Dome Bosmova yang merasa sangat bersalah pada tuan putri Dempster.
Tuan Harel dengan simpati pada Dempster dan juga sebagai hukuman karena sudah melukai Ramses Turner.
Sekretaris Roma, yang tak bisa tinggal diam setelah kekejian keluarga bosnya.
Dan terakhir perusahaan yang dijalankan Daniel Bonapart ikut menyerang habis-habisan. Tak hanya berhasil membuat harga saham perusahaan Gates terjun bebas, pihaknya juga memaksa yang lainnya menolak kerjasama.
Dalam satu hari, perusahaan keluarga Betrand sedang menuju gerbang untuk tinggal nama.
Dan kepala keluarga Gates terlihat menonton pemandangan dari balkon ruang keluarga. Tangisan istrinya yang terduduk di lantai tidak mengusiknya.
Banyak wartawan ingin mencari berita, berkumpul di luar gerbang yang ketat penjagaan. Sedangkan putranya terlihat ketakutan. Histeris memikirkan nasib di masa depan.
Tak hanya kehilangan satu kakinya, penampakan di telinga juga cacat sempurna. Dan jangan lupakan berita tentang keluarga mereka yang memenuhi media.
Topik-topik mengerikan yang harusnya terkubur lalu lalang di dunia maya.
Pencucian uang, pembunuhan dalam keluarga, melakukan suap pada para pejabat, pemerkosaan serta penjualan anak di bawah umur, dan juga penggelapan pajak serta persembunyian properti-properti hantu menjadi bukti kejahatan seorang tuan Gates.
Bahkan sang istri tak kalah mengerikan. Aborsi, pembunuhan berencana, dia pernah membantai satu keluarga di mana seorang penggoda suaminya berasal dari sana. Menjual organ mereka seperti ladang bisnis normal lainnya. Penggelapan pajak, suap pada aparat hal yang biasa, luka untuk keluarga Anna ataupun penculikan cucu kandung tanpa iba. Dia bahkan tega menyuruh orang menembak putranya sebagai bentuk hukuman Betrand yang keras kepala.
Dan Bill pun tak ada bedanya. Seperti penjahat kelamin dalam keluarga ternama. Banyak gadis di bawah umur menjadi korban rudapaksa. Ulah dirinya juga teman-temannya yang berasal dari latar belakang dengan tahta. Adik kandung Charlie adalah salah satu contohnya.
Mereka melakukan itu semua sampai tega membuat korban meregang nyawa. Melukai seperti tindakannya hanyalah permainan belaka.
Pencucian uang seperti sang ayah, penjualan organ dan juga obat-obatan, pemegang bisnis prostitusi dengan korban dominan di bawah umur. Bisnis judi bersama aparat juga pejabat, sungguh darah tak dapat dibohongi.
Sistem kehidupan di keluarga membentuk dinasti sendiri. Bahkan hal yang sama juga berlaku untuk Betrand, tapi dia di sisi korban.
Karena pada kenyataannya sosoknya itulah yang berada di jalur pesakitan.
“Sudah tak dapat diselamatkan lagi,” Gates bersuara.
Camila sibuk dengan tangisannya, saat menatap ke depan dia tak lagi melihat siapa-siapa.
“Gates?” Masih tak terlihat. “Gates? Kau di mana?” sosok lemahnya bangkit tiba-tiba. Melirik ke sana kemari menuju balkon, dan hiruk pikuk pun mengalihkan perhatian. Di bawah, para ajudan kelabakan.
Sang suami yang tadinya masih satu ruangan tampak mengenaskan. Darah terlihat nyata, dan kondisi aslinya jauh lebih memilukan.
__ADS_1
Bunuh diri.
Pecahnya kepala dan patah tulang lainnya menjadi akhir bagi pak tua renta. Wartawan di depan gerbang menggila memaksa masuk meliput berita.
Histeris pecah di mulut Camila dan sosoknya lari dari kamar. Antara sedih ataupun ketakutan namun ceroboh menjadi jawaban. Dia terpeleset di tangga dan ikut bernasib serupa.
Pekikan pembantu tak bisa membantu sang nyonya, nyatanya gagal jantung memeluknya. Wanita itu pun meregang nyawa dalam posisi mata terbelalak dan mulut yang menganga.
Akhir yang pantas untuk suami-istri keji tentunya.
Seakan memang sudah ditakdirkan, bahkan Bill pun telah membuat keputusan. Selesai melihat kerumunan yang disebabkan ayahnya lewat jendela kamar, dirinya pun mengambil pistol di balik bantal.
Bunuh diri, menembak mulut sendiri.
Dalam satu hari, empat kematian bernyanyi.
Gates yang merasa tak ada masa depan lagi baginya. Camila dengan kecerobohan dan rasa takut di dada, ataupun Bill yang tak tahu lagi harus bagaimana. Dan satu lainnya benar-benar kematian tidak disangka-sangka.
Kevin, telah menutup mata untuk menyusul gadis pujaannya. Gantung diri disertai keracunan arsenik, ia memilih itu semua sebagai bukti sayangnya pada sosok yang gagal bersama.
Mungkin takkan pernah ada yang mengira, sebesar itulah rasa cintanya pada Eldrey Brendania Dempster. Dan ironis, gadis itu tak begitu memikirkan perasaan mereka yang tertinggal, selain berharap orang-orang di sekitar ditimpa kehilangan.
Dan Betrand, akhirnya tersadar dari tidur pesakitan. Adanya sosok Anna di sampingnya, tak ia ganggu begitu saja. Tapi aliran kristal bening berjatuhan di sudut mata.
Saat sosok Charlie yang menonton dirinya dari sofa seberang melontarkan kalimat tak terduga.
“Akhirnya, kau sadar juga. Apa kau sekarang menyesal? Putrimu yang menginginkan keadilan sudah mati. Berita yang pantas untukmu begitu sadar kembali.”
Selesai mengatakannya, pria itu menghidupkan televisi di sana. Pergi begitu saja tanpa aba-aba. Dari gaya berjalan yang tak seperti biasa, efek tembakan tak begitu berpengaruh untuk membuatnya terus istirahat di brankar.
Anna tersadar dari tidurnya. Karena gerakan tiba-tiba suaminya sambil diiringi rintihan pelan.
“B-Betrand!”
Tapi pria itu terus meronta, apalagi siaran di televisi memutar berita kehancuran keluarga, dan juga kematian putrinya yang begitu dielu-elukan simpatisan.
Darah dagingnya benar-benar telah mati lewat pemberitaan yang menyayat pendengaran. Dan Anna hanya bisa memeluknya, terisak keras karena dirinya juga merasa tersiksa.
Raungan bak lolongan dalam kesedihan memenuhi ruangan. Charlie hanya berdiri diam di balik pintu, menatap miris putra Dempster yang berdiri tepat di depannya.
Seperti laki-laki yang tak ada masa depan di matanya.
“Masuklah. Ayah dan ibumu pasti membutuhkan dirimu.”
Sosoknya pun berlalu, diikuti seorang pengawal. Tak peduli lagi aturan dilarang merokok di rumah sakit, dan gumaman pun diagungkan.
Melukiskan pesan dari perasaan yang terdalam.
“Kau benar-benar menyakitiku, setelah menganggapku seperti ayahmu.”
Dan air mata menetes tanpa beban ke pipinya.
*****
“Maafkan ayahmu, Eldrey.”
Lirihan yang berkumandang setelah berita kematian putrinya. Seminggu sudah berlalu semenjak hari itu, lirikan mata pun jatuh pada gundukan baru. Milik Kevin yang dimakamkan di sebelah Eldrey Brendania Dempster.
Atas pemintaan keluarga Cesar, demi menghormati perasaan Kevin pada sang gadis muda.
Walau tak bisa bersama di dunia nyata, setidaknya biarlah raga di tanah berdampingan di sana. Berharap dan berdoa agar kesempatan kedua tercipta demi kebahagiaan mereka yang masih muda.
“Sekali lagi, maafkan aku, putriku.”
Taburan bunga biru pun dicengkeram. Bersamaan dengan gumpalan tanah di genggaman, Betrand tak henti-hentinya meneteskan air mata.
Diiringi tatapan sang istri dan anak dari kejauhan. Raut yang terlukis sama-sama menyiratkan kekosongan. Tapi Betrand lah yang paling dihantam kenyataan.
Akan kesalahan di masa lalu yang tak dapat ditebus untuk kesenangan putrinya.
“Sekali lagi maafkan ayahmu ini, Eldrey.”
Pria itu pun tersungkur di depan makam. Kegelapan berbicara atas syok yang di derita. Dia benar-benar telah kehilangan segalanya.
Walau uang masih tersisa nyatanya tak bisa membeli nyawa.
Bahkan jika tahta berkuasa jelas tak mampu mengembalikan kehidupan yang terluka.
Semua sudah terlambat, dan begitulah pembelajaran dalam kehidupan. Harga yang pantas untuk mereka yang mencoreng keadaan akan keegoisan.
Dan karma pun berbicara, sehingga kehilangan menjadi jawabnya. Gates dan Dempster adalah wujud nyata seberapa mirisnya nasib keluarga dengan pola pikir serta tindakan mereka.
Akhir yang pantas untuk mereka yang tinggal di kastil kaca namun perlahan-lahan dihancurkan singgasananya.
...-END-...
... ...
... ...
__ADS_1