
“Maafkan aku.”
Ucapan Dean hanya memperburuk suasana hati Erin, sehingga gadis itu memukul-mukul dada bidang Dean dengan lemahnya.
“Putus? Maaf? Kamu menghilang cuma untuk menyiapkan ini? Hiks ... Hiks! Tega kamu Yan tega!”
“Maafkan aku.”
“Aku gak butuh maaf kamu!”
“Maafkan aku.”
“Kenapa?! Apa salahku?! Karena aku miskin?! Karena aku kurang cantik? Karena aku membosankan?! Katakan Yan katakan! Aku akan memperbaikinya! Aku mohon Yan, jangan tinggalkan aku,” ucap Erin dengan nada yang semakin menurun volumenya di akhir kalimat.
“Kamu tidak salah, aku yang salah Rin, aku,” jelas Dean sambil menyentuh kedua bahu gadis itu.
“Kamu? Memangnya kamu salah apa? Kalau kamu salah aku akan memaafkanmu, tapi tolong jangan begini Yan, aku mohon,” tatapan sendu Erin membuat Dean semakin merasa bersalah. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Dean memang tak mencintainya.
“Maafkan aku, tapi aku memang tak pantas untukmu.”
Detak jantung Erin semakin tak karuan, isak tangis yang memecah kesunyian rumah membuatnya tak tahu lagi harus mengatakan apa.
“Maafkan aku,” Dean mengulanginya sekali lagi.
Tanpa berpikir jernih, Erin langsung mendorong tubuh Dean sehingga laki-laki itu terjatuh ke belakang.
“Erin!” pekik Dean kaget.
Gadis itu membuka bajunya dan hanya memperlihatkan dalaman atas yang menggoda. “Apa aku harus begini agar kamu gak memutuskanku? Kalau iya akan kulakukan Yan, aku akan serahkan apa pun padamu!” teriak Erin mulai tak waras.
“Erin! Apa yang kamu lakukan?!” Dean benar-benar kaget. Ia pun berusaha bangkit, tapi Erin terlebih dahulu menghimpit tubuhnya dengan duduk di atasnya.
“Kamu mau aku begini? Aku akan lakukan Yan! Tapi tolong jangan tinggalkan aku!” Erin menahan tubuh Dean, dan mencoba untuk mencium paksanya walau air matanya tercerai-berai.
“Erin!” bentak Dean. Ia pun mendorong kasar tubuh gadis itu sehingga menabrak meja.
“Brak!” Tubuh yang menabrak meja itu pun langsung merasa kesakitan. Tak hanya luka hati, luka fisiknya juga memperburuk deras air matanya.
“Erin!” Dean segera memegang tubuh gadis itu yang kesakitan. “Maafkan aku Rin! Aku, aku gak sengaja,” sahut Dean panik.
“Hiks ... Hiks ... Hiks ...” tangisan Erin pun mewakilkan semuanya. Ia tak bisa mengatakan apa-apa, semua rasa sakit yang ia rasakan sudah melumpuhkan suaranya untuk keluar.
Ia menangisi semuanya. Dean pun memeluk Erin untuk terakhir kalinya, “maafkan aku, tapi aku tak ingin menyakitimu jika kita tetap melanjutkan hubungan ini. Karena bagiku kamu sangatlah berharga,” ucap Dean tulus. Tapi perkataan yang ia lontarkan itu hanya menambah luka Erin.
Dean pun melepaskan pelukannya, lalu mengambil baju Erin yang tergeletak di lantai. Ia menyodorkan baju itu dan menutupi bagian tubuh Erin yang terbuka.
__ADS_1
“Maafkan aku, kamu bisa membenciku, memukulku atau memakiku. Tapi satu hal yang pasti, bagiku kamu adalah mantan terindah sekaligus sahabat berhargaku,” Dean mengusap lembut kepala Erin yang menangis tersedu-sedu.
Cukup lama Dean terdiam menatap Erin yang seperti itu. Namun hatinya sudah bulat untuk memutuskan Erin. Apalagi yang bisa dipertahankan dari hubungan mereka? Walau Dean tak mengatakan dengan jelas alasannya, tapi perkataan maaf darinya sepertinya sudah mewakilkan alasannya.
Sampai akhirnya Dean pun pamit meninggalkannya yang masih meringkuk dalam tangisan.
*******
“Bagaimana keadaanmu?” tanya presdir Betrand. Setelah sekian lama, inilah pertama kalinya ia menghabiskan malam di rumah dan berada di kamar putrinya untuk berbincang santai.
Eldrey menatap kosong pemandangan dari balkon, tanpa sedikit pun menoleh padanya. Presdir Betrand akhirnya menghela napas pelan dengan sikap tak acuh putrinya.
“Maafkan ayah karena sudah bersikap kasar padamu.”
Masih tak ada jawaban ....
“Apa kamu ingin jalan-jalan? Jika mau besok kita bisa pergi ke mana saja, ayah akan menemanimu,” bujuk presdir Betrand. Tak ada tanggapan, presdir Betrand merasa sedang berbicara dengan patung.
Ia bukanlah orang yang mudah marah, kecuali sesuatu itu benar-benar menyinggungnya. Akan tetapi, dirinya juga punya batas kesabaran menghadapi anak yang bersikap seperti Eldrey.
Walaupun dirinya sadar, kalau itu semua bukan sepenuhnya salah Eldrey. Presdir Betrand akhirnya memilih pergi dari kamar itu begitu saja.
Di ruang makan ....
Gadis itu sudah duduk duluan, ia memakan sarapan di depannya tanpa menoleh pada siapa pun yang baru datang.
Sekretaris Roma hanya menatapnya, sekalipun menyapa tak ada gunanya karena mungkin saja takkan diacuhkan.
“Eldrey, bagaimana keadaanmu? Jika ada yang sakit ayah akan panggilkan dokter Arlene untukmu,” tanya presdir Betrand.
Gadis itu tak menjawab kecuali menatap lurus ke makanannya. Lain halnya dengan Charlie yang melirik sekilas pada bosnya. Tak ada satu pun yang bersuara, atas sikap sang putri pada ayahnya itu.
Presdir Betrand pun mencoba menjaga ekspresinya yang hampir mendingin. Akan lebih baik jika ia berhadapan dengan putrinya yang menggila daripada diam mengabaikannya.
“Raelianna, apa kamu merindukannya?” kalimat itu terlontar dari bibir presdir Betrand yang mengagetkan semuanya. Akan tetapi, hanya Eldrey yang tak terkejut mendengarnya.
Gadis itu pun mengangkat wajahnya, dengan ekspresi dingin yang terlukis jelas disorot matanya. “Apa yang ayah bicarakan? Jangan lagi sebut wanita itu di depanku.”
Eldrey pun berdiri, karena hal itu sudah berhasil menghapus selera makannya. “Aku bosan,” tukasnya meninggalkan mereka.
“Kamu mau ke mana? Lukamu bahkan belum sembuh!” Tapi Eldrey tak mempedulikan perkataan ayahnya dan pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
Suasana ruang makan terasa suram dengan sikap ayah dan anak yang tak saling menyambung itu. “Roma,” tatap presdir Betrand padanya.
“Baik tuan,” tanggap sekretaris Roma. Panggilan itu sudah jelas artinya bagi sekretaris Roma, di mana ia harus memerintahkan bawahannya untuk mengawal Eldrey sekarang.
Hypercar merah menyala itu dikemudikan Eldrey dengan santai. Laju mobil itu mengarah ke jalur yang tak asing lagi baginya. Sampai mobilnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang sebelumnya cukup sering ia kunjungi.
Begitu turun dari mobil, ia mengetuk pintu rumah. Sampai akhirnya sebuah langkah pelan menghampiri dan membukakan pintu untuknya.
“Eldrey?” wanita itu kaget dengan sosok di depannya. “Kamu di sini sayang?” ia pun memeluknya dengan lembut.
“Ayo masuk! Alice masih di kamar,” ajak bu Ann sambil menarik tangan Eldrey.
“Alice! Alice! Ada Eldrey nak!” sahut ibunya dengan sedikit berteriak. Tak berapa lama, sebuah pintu kamar pun terbuka diiringi langkah kaki berisik menuju ruang makan.
“Eldrey!” pekik Alice. Ia langsung berlari menghampiri dan memeluknya.
“Aaagh!” erang Eldrey karena Alice memeluknya dengan keras.
“Rey! Rey! Maaf!” Alice kelabakan, terlebih lagi saat ia melihat Eldrey memegang perutnya setelah Alice melepas pelukannya.
“Alice! Eldrey, kamu tidak apa-apa?” bu Ann tampak khawatir dengan erangan Eldrey yang cukup keras.
“Ya, aku tidak apa-apa, aku hanya kaget,” jelas Eldrey melirik Alice sekilas. Alice baru menyadari kalau Eldrey mungkin kesakitan karena luka tusukan yang dideritanya.
“Bu, kalau begitu aku dan Eldrey ke kamar dulu ya,” ucap Alice menarik tangan sahabatnya.
“Loh, kalian tidak sarapan dulu?”
“Nanti saja bu,” keduanya lalu pergi ke kamar Alice.
“Rey!” panggil Alice tiba-tiba. Ia berbalik pada sahabatnya dan menarik baju gadis itu ke atas. Tapi Eldrey langsung menepis tangannya.
“Apa yang kamu lakukan?”
Alice terdiam, karena Eldrey mengatakan idu dengan nada yang menekan. “Itu, lukamu ....”
“Tentu saja belum sembuh, karena itu jangan menyentuhnya.”
“Maafkan aku.”
Tapi sorot mata Eldrey yang memperlihatkan wajah tak senang itu semakin memperburuk suasana di dalam kamar Alice.
__ADS_1