FORGIVE ME

FORGIVE ME
Bukan milikmu


__ADS_3

Ekspresi Eldrey semakin berubah menatap wajah sedih sang sahabat yang tampak polos di hadapannya.


“Terluka karena menyelamatkanmu?”


“I-iya Rey.”


“Jadi pria itu terluka karena menyelamatkanmu? Jadi kalian sedang bersama-sama?”


“I-iya Rey! Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada paman itu? Aku sangat takut Rey, aku tak ingin terjadi apa-apa padanya!” ucap Alice beruraian air mata. Sepertinya rasa bersalah dan sedih benar-benar membuat Alice lupa kenapa Eldrey bisa berdiri di hadapannya sekarang.


Sementara Ramses hanya terdiam menatap mereka, begitu pula dengan para bawahan presdir Betrand yang tak lagi mengeluarkan suara. Sepertinya mereka sedang menanti detik-detik apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Kenapa dia bersamamu? Apa yang membuatmu istimewa sampai dia menyelamatkanmu?”


“I-itu!” Alice terdiam. Ia merasa ada yang tidak benar dengan ekspresi Eldrey padanya. “I-itu karena,” ia tak melanjutkan. Ekspresi tajam Eldrey yang mengarah ke lehernya membuat Alice terbungkam. “Rey?”


“Kenapa itu ada di lehermu?”


“A-apa maksudmu Rey?”


“Kalung itu bukan milikmu, bagaimana bisa ada di lehermu?” tanya Eldrey dengan nada menekan.


“Ka-kalung? I-ini diberikan paman itu padaku,” jelas Alice gugup. Ia benar-benar merasa ada yang tidak beres sekarang.


“Diberikan? Heh! Apa kau yakin?” sindir Eldrey.


“A-apa maksudmu Rey?”


“Ini bukan milikmu, beraninya kau memakai ini di depanku?” tekan Eldrey.


“Kyaaaa!” jerit Alice.


“Liz!” pekik Ramses.


“Nona!” timpal para bawahan presdir Betrand.


Eldrey, gadis itu menarik kasar kalung yang terpasang di leher Alice. Ia mencengkeram kalung itu dengan sangat erat. Tatapan tajamnya seolah ingin memangsa Alice sampai mati.


“Rey?! Kyaaa!” erang Alice sekali lagi.


“Liz!” Ramses menghampiri Alice dan memegang bahunya sambil menatap Eldrey dengan pandangan tak percaya.


Gadis itu melempar kalung di tangannya dengan kasar ke wajah Alice.


“Nona! Tenangkan diri anda!” tahan Reynald padanya.


Napas Eldrey yang memburu tampak mulai tenang. Sementara Alice menatapnya dengan air mata deras karena kaget pada apa yang baru saja dialaminya.


“Rey! Kenapa kamu begini sama Alice?!” tanya Ramses.


“Diam kau! Ini tak ada urusannya denganmu! Lebih baik kau bawa dia enyah dari sini atau aku sendiri yang akan menyeretnya keluar,” perintah Eldrey.


Para bawahan presdir Betrand yang lain terdiam, entah apa alasannya, hanya Reynald yang mencoba menahan Eldrey. Charlie dan Rondolf lebih memilih memperhatikan dengan sorot mata dingin pada pemandangan di depannya.


“R-Rey, A-aku,” sahut Alice terbata-bata.


“Hanya karena ayahku menyelamatkanmu, apa kau pikir aku akan menerima kehadiranmu di sini? Lebih baik kau pergi sebelum aku membunuhmu.”


“A-aku tak tahu kalau paman itu ayahmu Rey,” lirih Alice mencoba menyentuhnya.

__ADS_1


“Kau tuli? Enyah dari sini!” Eldrey semakin marah.


“Alice, ayo kita pergi,” ajak Ramses padanya.


“Ta-tapi Rams.”


“Pergi!” bentak Eldrey padanya.


Dengan berat hati Alice dan Ramses pun pergi dari sana. Sesekali Alice melirik ke belakang menatap Eldrey yang berdiri dengan ekspresi kesal di wajahnya.


Charlie pun memungut kalung yang berada di lantai itu. “Ini,” ia menyodorkan kalung tersebut pada Eldrey.


Gadis itu menyipitkan matanya, sehingga sorot matanya semakin menajam. Ia pun membalikkan tubuhnya lalu pergi meninggalkan mereka.


“Nona! Anda mau ke mana?” tanya Reynald namun tak diacuhkan.


“Aku akan mengikutinya,” Charlie pun ikut pergi meninggalkan mereka.


Afro, sang supir yang tadi berangkat bersama Eldrey dan Rondolf hanya diam membeku. Seolah ia tak tahu harus bersikap seperti apa setelah menonton kejadian barusan.


Lain halnya dengan Rondolf yang memasang ekspresi sama seperti biasanya sambil menatap ke arah pintu di mana kemungkinan presdir Betrand sedang ditangani dokter.


Di tempat yang berbeda ....


“Nona,” panggil Charlie sambil mendekati Eldrey yang bersandar di mobilnya.


Gadis itu hanya menatapnya, “apakah kau benar-benar marah? Aku merasa kalau kau sama sekali tak bersedih karena itu,” sahut Charlie dengan lancangnya.


“Apakah aku harus menangis?”


“Tidak, rasanya aneh jika melihatmu seperti itu.”


Eldrey menatap lekat padanya, “bagaimana keadaan kepalamu?”


“Heh! Hhahaha hhahaha ...” tawanya terbahak-bahak. “Apa ini? Kau menanyakan keadaanku? Apa kau tak salah?!” ledeknya.


Eldrey hanya menatap masam padanya, “bahkan keadaan ayahmu masih belum diketahui. Bukankah akan lebih baik jika kau mengkhawatirkan dirinya daripada aku?” racau Charlie.


“Sepertinya kau baik-baik saja karena sudah bicara lancang padaku.”


“Apakah itu buruk? Padahal kau hampir membunuhku.”


“Aku hanya memukulmu.”


“Ya, kau memukul kepalaku. Untung saja cuma memar, kalau cedera berat dan aku mati, bagaimana? Aku pasti akan mengutukmu di neraka.”


Eldrey tak menanggapi ucapannya, ia lebih memilih mengajukan topik yang berbeda. “Kenapa kau masih membawa kalung itu?”


Eldrey menatap tangan Charlie.


“Ya ini mahal, sayang kalau dibuang.”


“Kau membuatku semakin ingin memotong lidahmu,” Eldrey mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jaketnya.


“Kau merokok?!” ucap Charlie dengan nada berat. Ia mengambil paksa rokok tersebut lalu membuangnya ke sembarang arah.


“Bawahan sepertimu mengusikku?” Eldrey menatap sinis.


“Hanya karena kau bebas minum-minum bukan berarti kau bisa merokok sembarangan. Ini peringatan terakhir untukmu,” tekan Charlie.

__ADS_1


Eldrey pun mengedarkan pandangannya, “siapa pelakunya?”


“Entahlah, para bawahan sedang menyelidikinya. Bagaimanapun kita sudah dapat informasinya.”


“Mustahil jika incarannya gadis miskin itu,” sorot mata Eldrey beralih ke pintu masuk rumah sakit.


“Ya kau benar.” Mereka sama-sama diam di posisinya masing-masing. “Presdir, dia tertembak di depan toko roti itu,” pungkas Charlie tiba-tiba.


Eldrey yang tadinya diam menggertakkan giginya, lalu berekspresi aneh. “Lelucon apa ini?” hanya itu yang diucapkan bibirnya.


“Jadi apa yang dilakukan pengawal? Bagaimana bisa presdir tertembak begitu? Apa kalian memang kerja dengan benar?” sindir Eldrey.


“Presdir tidak memakai supir, ia juga melarang pengawal mengikutinya jika bukan urusan kerja.”


“Kenapa?”


“Karena dia tak suka jika kegiatan pribadinya jadi tontonan para bawahan. Bukankah kau juga begitu?” Charlie berbalik menyindirnya.


“Hanya karena alasan konyol itu?”


“Kenapa kau tidak bercermin pada dirimu? Kau dan ayahmu sama saja. Apa gunanya pengawal jika tidak dipakai dengan benar?” Charlie balik bertanya.


Eldrey tak menjawabnya. Karena kenyataannya memang benar. Siapa yang akan suka jika ke mana-mana selalu diikuti. Bahkan bila terjadi sesuatu, itu akan menjadi tontonan dan guyonan para bawahan walau mereka tetap bersikap patuh di depan atasan.


Eldrey menatapnya, “tenang saja, presdir pasti akan baik-baik saja, lagi pula ia ditangani dengan cepat sebelum kehilangan banyak darah,” jelas Charlie padanya.


“Bukan itu masalahnya, temukan saja musuhnya dengan cepat. Jika hal itu saja tidak mampu maka tak ada gunanya mempertahankan bawahan bodoh seperti kalian. Aku sudah cukup murah hati dengan insiden penyeranganku, kuharap kalian tidak gagal hanya karena terlalu sibuk dengan uang.”


“Kita pasti akan menemukannya, bersama dengan penyerangmu itu.”


“Ya, kuharap tangan kanan dan kiri Betrand tidak mengecewakan hanya karena kalian ahli dalam berbisnis,”gadis itu tersenyum remeh lalu pergi meninggalkannya entah ke mana.


Setelah itu di dalam rumah sakit ....


“Bagaimana keadaan ayahku?” tanya Eldrey sambil menenteng sebungkus plastik berisi minuman dan makanan.


“Operasinya berhasil, akan tetapi pelurunya


menggores paru-paru dan ususnya, sehingga keadaannya masih sangat mengkhawatirkan.” jelas Reynald.


“Setidaknya operasinya berhasil. Aku yakin jika dia nanti pasti akan baik-baik saja,” tukas Eldrey penuh keyakinan.


“Iya nona,” balas Reynald ragu-ragu.


“Ada apa dengan ekspresi kalian?”


“I-itu,” Reynald tampak gugup menjawabnya.


“Presdir dalam keadaan kritis,” sambung Charlie.


“Kritis?!” ekspresi Eldrey berubah masam menatapnya.


“Dari awal kondisi fisiknya sedang tidak sehat, karena itu ...” Charlie tak melanjutkan ucapannya karena Eldrey mengangkat tangan untuk menghentikannya.


“Aku ingin sendiri,” ucap Eldrey pelan lalu pergi meninggalkan mereka. Tapi tiba-tiba kakinya berhenti melangkah, “aku tak ingin diikuti,” tambahnya.


“Apa kau gila?! Presdir seperti ini dan sekarang kau ingin berkeliaran tanpa penjaga? Jangan memperparah keadaan! Apa yang akan terjadi jika keadaan yang sama juga menimpamu?!” Charlie tampak kesal dengan ucapan Eldrey.


Gadis itu berbalik dan menatap Charlie dengan ekspresi aneh, “kuharap kalian menghormati keputusanku, aku akan baik-baik saja,” lalu Eldrey benar-benar pergi meninggalkannya.

__ADS_1


“Nona!” panggil Charlie namun tak diacuhkan.


“Biarkan saja,” potong Rondolf tiba-tiba. “Lagi pula kita memasang pelacak di ponselnya, akan lebih baik jika kita menurutinya daripada membuatnya melakukan hal yang tidak-tidak.”


__ADS_2