FORGIVE ME

FORGIVE ME
Menikahlah denganku


__ADS_3

“Tak ada yang aneh, hanya saja aku tak sabar untuk mencicipinya.”


“Begitu?”


Eldrey pun duduk di samping Kevin, sementara Emily di hadapan. Lirikan mata laki-laki itu menyapu rupa dua gadis di dekatnya, dan sebuah senyum simpul terukir di sana.


Membuat Eldrey yang menyadarinya bertanya tiba-tiba.


“Apa yang lucu?”


“Aku hanya tidak menyangka, kalau kita akan makan bersama sekarang. Seharusnya, pertemuan ini ditemani segelas anggur.”


Eldrey dan Emily saling melirik. Tampak pelayan itu gugup dan meneruskan makan, sedangkan majikannya melanjutkan pembahasan.


“Ya, sayang sekali. Mungkin kita bisa minum itu suatu saat nanti.”


Dan satu jam setelahnya, Eldrey pun melirik sekitar. Tak ada siapa-siapa di ruang tamu, tidak Kevin ataupun Emily. Tanpa keraguan sosoknya mendekat ke kamar laki-laki itu. Mencoba membukanya yang ternyata tak dikunci.


Tampak di depan mata Kevin sedang rebahan di ranjang. Mungkin tertidur setelah selesai makan. Bahkan dengan lancang putri Dempster mendekat, memastikan apakah putra Cesar benar-benar sudah tertidur sekarang.


“Baguslah,” gumamnya walau dahinya agak berkerut menatapnya.


Akan tetapi, kenyataan yang di dapati di kamar sang pelayan tentu lebih mengejutkan dirinya.


“Emily, bangun Emily!” jengkelnya sambil menepuk pelan pipi perempuan itu. “Emily!” Tapi, bawahannya masih saja tak terjaga. “Sial! Apa kau juga minum obatnya?! Dasar bodoh!” umpatnya dan memilih pergi.


Namun dalam langkah hendak menaiki tangga, sorot matanya pun menatap tajam ke arah kamar Kevin. Beragam pertanyaan terlintas di dirinya, sampai akhirnya Eldrey memilih ke lantai atas.


Bersiap mengambil koper, karena bagaimanapun pergi sendiri juga bukan pilihan yang buruk.


“Mau ke mana?”


Tersentak. Tepat di balik pintu kamar ternyata laki-laki berkacamata itu sudah berdiri sambil tersenyum. Memamerkan tampang menyebalkan seperti dahulu kala. Dan itu mulai mencengkeram hati Eldrey, akibat sensasi tertangkap basah yang jelas-jelas mengejutkannya.


“Kenapa diam? Mau ke mana?” Kevin maju dan masuk dengan lancang. Membuat langkah Eldrey terpaksa mundur sekarang. Pintu pun ditutup agak kasar walau sang pemuda tidak menoleh ke belakang. “Apa mungkin mau pergi tanpa kata?”


Sejenak hening menerpa keduanya. Jawaban yang tak kunjung diberikan Eldrey, membuat sang pemuda memilih duduk di pinggiran ranjang. Menghela napas pelan entah apa yang ia pikirkan.


Suasana kamar yang tenang namun dihiasi berisik air terjun melukiskan tempat peristirahatan putri Dempster. Pintu balkonnya terbuka, sehingga sensasi dingin pun menyusup masuk di antara mereka.


“Eldrey?” Kevin memanggilnya.


Perlahan, gadis itu melepaskan pegangan pada koper yang ia bawah. Membalikkan tubuh untuk menatap sempurna laki-laki di depan mata. Mendekatinya, dengan muka angkuh yang menjadi ciri khasnya.


“Kau ingin tahu aku ke mana? Tentu saja menghilang dari pandanganmu.”


Kevin diam, memperhatikan sosok yang berbicara kurang dari satu meter itu. Samar-samar, tercium olehnya aroma mawar dari sang gadis muda. Wangi tak asing yang menjadi tanda pengenalnya.


“Sepertinya tak perlu basa-basi lagi. Melihatmu di sini dan Emily yang tertidur, aku yakin kau tahu rencana kami. Bukankah aku benar?”


Masih sama. Sedikit pun kata tak terlontar dari mulut putra Cesar. Selain sorot matanya memandang lekat ke rupa cantik itu. Perlahan Eldrey memiringkan kepala, dan hal itu semakin mempertegas kesombongan di tampangnya.

__ADS_1


“Jawab aku, putra Cesar. Apa mungkin kau masih menyukaiku?”


Sepertinya, butuh beberapa detik bagi Kevin untuk bisa menanggapinya. “Menurutmu?”


Eldrey pun mengedarkan pandangan sekilas. Disentuhnya wajah sang pemuda dan diusapnya lembut.


“Kalau iya, maka itu berarti kau harus melepaskanku. Bukahkah begitulah seharusnya? Membiarkan orang yang disukai pergi demi kebahagiaannya. Tidakkah kau juga setuju? Kevin.”


Seketika laki-laki itu menyipitkan mata. Disentuhnya tangan Eldrey yang menyentuh wajahnya. Tiba-tiba tawa pelan tersembur dari mulut putra Cesar, membuat lawan bicara mengernyitkan dahi bingung karenanya.


“Tidakkah kamu terlalu arogan? Eldrey,” genggaman di tangan putri Dempster semakin erat sekarang. “Tak hanya menghilang tanpa kata, tapi sekarang juga mengatakan hal gila. Kamu belajar itu dari mana?” ia tertawa pelan.


Dan ekspresinya, membuat gadis itu terkesiap. Sontak saja tubuhnya refleks untuk mundur. Akan tetapi, Kevin dengan sigap menahan pinggangnya, walau sang pemuda masih duduk di tepi ranjang.


“Sepertinya, kamu belum mengenalku dengan benar. Kenapa aku harus melepaskan apa yang kuinginkan? Aku menyukaimu, karena itu aku menginginkan dirimu. Selama kamu belum menikah, itu berarti kesempatanku masih ada. Jangan menguji perasaanku Eldrey. Karena aku agak gila,” ia menyeringai tiba-tiba.


Pekikan spontan terlontar dari gadis itu akibat tubuhnya yang ditarik Kevin. Ia terperangah, saat mendapati dirinya dihempaskan ke ranjang.


Deru napas yang memburu menjadi saksi keterkejutan. Dan tampaknya, hal buruk akan menjadi kisah selanjutnya. Karena sorot mata Kevin tidak menyiratkan kelembutan di sana.


“Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?” Luar biasa. Bisa-bisanya putra Cesar bersikap santai setelah melakukan hal tak terduga. Sekarang posisinya tak ubahnya dengan pria brengsek yang ingin menerkam seorang wanita.


“Jangan gila, Kevin,” tekan Eldrey padanya. Gadis itu tidak bodoh, ia sadar posisinya tidak menguntungkan. Terlebih kedua tangannya yang jelas-jelas dikunci oleh laki-laki di depan mata. “Lepaskan aku selagi aku masih bicara baik-baik.”


Akan tetapi, pemuda itu hanya melepas kacamata. Membuangnya ke bawah tak peduli jika rusak nantinya. Perlahan ia mendekat, menggumamkan sesuatu tepat di dekat telinga.


“Kamu cantik.”


Tiba-tiba Kevin melepaskan cekalan tangannya. Merebahkan tubuh di samping Eldrey dan memeluknya.


Putri Dempster membisu. Sulit baginya untuk menerka tindakan laki-laki itu. Entah apa yang direncanakan Kevin, tapi dia harus tetap waspada.


Lambat laun sosoknya melirik ke sebelah, menangkap rupa yang menutup mata.


“Kevin,” panggil Eldrey. Akan tetapi tak ada tanggapan. Entah sedang pura-pura tidur namun putri Dempster jelas tidak nyaman.


Perlahan tangannya meraih lengan sang pemuda, mencoba melepaskan pelukan.


“Jangan,” lirih Kevin tiba-tiba. “Tetaplah seperti ini, Eldrey.”


Beberapa saat pun berlalu hanya dengan keadaan yang sama. Dengan menatap langit-langit, gadis itu tetap diam di posisinya. Tak tahu kenapa, kantuk enggan datang. Terlebih dingin yang menyusup dari balkon menyelimuti kulit mereka.


Dan sang pemuda tiba-tiba semakin mengeratkan pelukan. Bahkan wajahnya bersembunyi di ceruk leher pujaan hati. Melontarkan embusan napas hangat untuk menyapu kulit putri Dempster.


“Kenapa kamu di sini? Aku, benar-benar tak ingin bertemu denganmu, Kevin.”


Lirihannya berhasil membuka mata putra Cesar. Tampak olehnya, garis-garis indah yang membentuk lekukan wajah Eldrey. Walau tatapan saling tak bertemu, tapi sosok itu tahu, kalau putri Dempster sedang gundah.


Namun dirinya memilih diam saja.


“Apa yang kau sukai dariku? Sekeras apa pun kupikirkan, jawabannya tak kunjung kutemukan. Anak broken home, mantan penghuni rumah sakit jiwa, kriminal yang bersembunyi dalam kekayaan ayahnya. Dan juga, pengidap gangguan mental. Bahkan jika aku mencoba untuk sembuh, itu tidak menolak kenyataan kalau aku memang tidak menginginkan kalian. Tidak dalam hal keluarga ataupun cinta. Aku tak butuh kalian yang hanya akan menghancurkan diriku saja.”

__ADS_1


Kevin membisu. Hatinya berdesir saat mendengar untaian kata itu. Perlahan mulai mencengkeram kesadarannya, juga mengoyak perasaan. Kalau sosoknya seolah-olah benar-benar tidak punya harapan.


“Kenapa dirimu keras kepala begitu? Cukup aku yang berusaha keras untuk melupakan traumaku. Lima tahun sudah berlalu, bahkan aku yakin kalau kamu sudah menjadi seorang pebisnis muda yang dikelilingi banyak wanita. Dan memilihnya pasti bukanlah hal sulit untukmu. Mereka akan menjilatimu, dan sudi melakukan apa pun untukmu. Kau bisa melakukannya jika kau mau. Kenapa masih terpaku pada hal yang sama? Aku tidak menyukaimu.”


Sekarang Eldrey berbalik. Menatap tepat ke arahnya, di mana tubuh mereka saling berhadapan. Dan manik mata keduanya bertabrakan tanpa bisa dielakkan.


Hanya saja, Kevin masih enggan bersuara. Tak tahu apa yang ia pikirkan, Eldrey tak bisa membaca arti ekspresinya. Kecuali rasanya aneh karena pelukan masih belum dilepaskan.


“Kevin. Kenapa kau diam saja? Katakanlah sesuatu.”


Permintaan Eldrey cuma dibalas dengan tatapan tenang. Sekilas sorot matanya bergerak memandangi bibir ranum di hadapan.


“Kevin.”


Putra Cesar menghela napas pelan sambil mengedarkan pandangan. Tampaknya ia mulai frustrasi sekarang. Terlebih pelukan diperlonggar, membuat Eldrey bisa bangkit dari rebahan.


“Apa sesulit itu menjawab pertanyaanku?” tanyanya dalam posisi duduk. Kevin yang masih sama kondisinya, hanya kembali memperhatikan gadis di depan mata. “Kevin.”


“Menikahlah denganku.”


“Kau, sepertinya kau—”


“Tidak perlu menyukaiku. Kamu hanya perlu jadi istriku.”


Tak bisa berkata-kata. Seumur hidup, baru pertama kali Eldrey bertemu dengan lawan jenis yang sangat keras kepala. Dan terlebih parahnya lagi orangnya tetap sama. Kevin, putra Cesar si pengumbar rasa suka.


Otaknya seperti ingin lumpuh jika berhadapan dengannya. Putri Dempster pun tiba-tiba menggelengkan kepala.


“Memang susah berbicara denganmu.”


Terdiam, karena tangannya dipegang. Sontak tindakannya yang hendak beranjak dari tempat tidur terhenti.


“Sampai kapan kamu akan lari? Itu hanya akan membuatku semakin ingin mengganggumu. Hadapi aku, Eldrey. Kamu tahu bagaimana perasaanku.”


Sepertinya, usaha dan kerja keras memang diperlukan gadis itu untuk menendang laki-laki ini dari kehidupannya.


Tiba-tiba ia tersenyum dan menggantungkan satu tangannya yang bebas ke bahu Kevin. Entah apa rencananya tapi putri Dempster begitu lancang untuk duduk di pangkuannya.


“Tidakkah ini menyenangkan? Posisi ini mengingatkanku pada masa lalu,” seringainya.


Kevin terkesiap akan ulahnya. Ia menatap tak percaya, kalau gadis tidak berperasaan di hadapan sangat lancang untuk menggoda.


“Ini bukan kamu.”


Putri Dempster tertawa pelan. Memamerkan tampang meremehkan pada putra Cesar yang tampak tidak nyaman.


“Kalau ini bukan aku, bukankah itu berarti kamu tidak menyukaiku? Kevin,” bisiknya dengan nada manja. 


 


 

__ADS_1


__ADS_2