
“A-apa yang sebenarnya terjadi?” pelayan yang kaget merasa gemetaran dengan pemandangan di depannya.
Eldrey hanya diam, tapi sorot matanya masih tertuju pada Terry yang mengerang kesakitan. Sementara Charlie, pandangannya mulai mengganggu keseimbangannya. Ia berpegangan pada meja agar tidak terjatuh.
“Apa yang terjadi?!” suara lantang yang baru muncul. Orang tersebut tak sendiri, ada beberapa bawahan yang menemani. “Ini,” sahutnya dengan nada mulai berat.
“Reynald, tolong bawa Charlie ke rumah sakit,” perintah Eldrey pada supir ayahnya.
Sementara presdir Betrand, menatap tajam pada putrinya yang bersikap tak bersalah.
Reynald pun membantu Charlie, membawanya untuk segera beranjak dari sana.
“Tuan,” gumam Rondolf tiba-tiba.
“Tinggalkan kami!” perintah presdir Betrand pada semuanya.
Mereka mengangguk dan membiarkan ayah dan anak itu menyelesaikan urusannya. Terry yang terbaring pingsan di dekat kaki presdir Betrand dibiarkan begitu saja.
“Apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?” tekan presdir Betrand.
“Ya, aku sadar,” balas Eldrey tenang.
Wajah presdir Betrand mulai memperlihatkan urat-urat saraf yang menegang, tampaknya ia benar-benar marah. “Kenapa kamu seperti ini?” Eldrey tak menjawab, tapi sorot matanya masih tertuju pada ayahnya. “Apa yang sudah diperbuat mereka sampai kau melakukan ini?”
“Aku hanya tidak menyukainya,” lirih Eldrey.
“Termasuk Charlie?”
“Dia pantas mendapatkannya karena sudah menghalangiku.”
“Eldrey!” bentak presdir Betrand.
“Dia takkan mati, tapi lain ceritanya dengan wanita ini. Jika tidak segera diobati maka dia ...” ia tak melanjutkan ucapannya. “Ayah?” panggil Eldrey tiba-tiba.
Presdir Berand yang tampak marah padanya tiba-tiba memegang kepalanya, merasa ada yang tidak beres dengan dirinya.
Eldrey menatap tenang ayahnya, sampai presdir Betrand melanjutkan ucapannya.
“Ini yang terakhir, terakhir kalinya kamu akan melakukan kekerasan seperti ini. Jika kamu melakukannya lagi, aku tak tahu apa yang akan kulakukan padamu. Mungkin saja aku akan mengirimmu lagi ke rumah sakit jiwa,” jelas presdir Betrand pergi meninggalkannya.
Eldrey hanya diam tak menjawab, dengan tatapan yang masih sama arahnya ke tempat presdir Betrand berdiri tadi.
Di luar kamar Eldrey, “jangan biarkan Eldrey pergi. Dan suruh Arlene untuk menangani Terry, kita akan memakainya di pasar gelap,” perintah presdir Betrand pada Rondolf.
__ADS_1
“Baik tuan,” angguk Rondolf pada tuannya yang sudah berlalu. Ia dan para pelayan yang lain pun memasuki kamar Eldrey. Selesai memberi hormat pada Eldrey, para pelayan pun mengangkat tubuh Terry yang tergeletak itu.
Sementara Rondolf, ia menatap tenang nona muda yang masih belum beranjak dari posisinya, menatap kosong pada mereka yang sedang bertugas.
“Nona,” panggil Rondolf.
“Perintahkan pelayan membersihkan darahnya dan tinggalkan aku sendiri,” pinta Eldrey padanya.
“Baik nona,” angguk Rondolf.
Setelah semuanya kembali seperti semula, Eldrey duduk di lantai balkonnya. Bersandar pada sofa sambil menatap langit-langit. Ekspresinya tak menunjukkan apa pun, hanya saja dirinya seperti orang lelah yang kehilangan arah.
*******
Tanpa supir, tampak presdir Betrand mengendarai mobilnya sendiri menuju rumah sakit di mana anak buahnya dirawat. Entah suatu kebetulan atau tidak, itu adalah rumah sakit yang sama dengan bu Anna dirawat.
Presdir Betrand tak mempedulikan hal itu, begitu mobil sudah sampai di rumah sakit, tampak Reynald yang merupakan supirnya sedang menunggu dirinya di dekat pintu masuk.
Reynald menerima laporan dari Rondolf kalau presdir Betrand sedang menuju ke sana, sehingga dirinya sendiri menyambut bos besar agar dia tak kesusahan mencari kamar anak buahnya.
“Bagaimana Charlie?” tanya bos besar itu.
“Keadaannya tidak apa-apa, hanya saja ...” Reynald tak melanjutkan ucapannya yang membuat presdir Betrand menatapnya sekilas.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Eh, bos? Anda sampai datang kemari? Aku jadi terharu,” celetuk Charlie. Akan tetapi, presdir Betrand hanya menanggapi ocehan bawahannya dengan ekspresi dingin.
“Tenang saja bos, aku baik-baik saja, kepalaku hanya memar dan tak ada cedera atau apa pun,” jelas Charlie sambil meraba keningnya yang di plester.
Presdir Betrand masih diam setelah mendengarnya, sampai akhirnya Charlie mengatakan sesuatu yang tak di duga.
“Nyonya Anna sudah pulang, sepertinya anda sedikit terlambat bos,” lirih Charlie yang mengundang tatapan masam presdir Betrand.
“Sepertinya kau tidak perlu diantar ke rumah sakit jika bisa mengoceh seperti ini.”
“Hhahaha ... Ayolah bos, aku sedang terluka begini, tidak bisakah anda memberiku sedikit perhatian?” Charlie masih mencoba berkelakar tanpa peduli ekspresi majikannya.
“Ah, aku penasaran nona sedang apa sekarang,” lirihnya.
Presdir Betrand yang tak menjawab memilih keluar dari kamar, sambil diiringi Reynald. “Tetaplah bersamanya, aku ingin pergi sendiri,” ujar presdir Betrand pada supirnya tersebut.
“Baik tuan,” angguk Reynald menatap punggung bosnya yang pergi menjauh.
__ADS_1
Presdir Betrand menyusuri rumah sakit tanpa menoleh ke sana kemari. Titik fokus tatapannya tetap ke depan, menuju arah yang akan didatanginya.
Mungkin karena mereka ayah dan anak, perawakan presdir Betrand dan Eldrey terasa sangat mirip. Sama-sama berjalan angkuh tanpa peduli sekelilingnya, bahkan seorang anak yang terjatuh di dekat mereka pun tak diacuhkan.
Seperti itulah ayah dan anak. Saat seorang ayah sibuk melakukan pekerjaannya, seorang anak hanya akan tumbuh dengan melihat punggungnya, entah punggung itu akan terjatuh atau berdiri tegap, sang anak akan tetap mengikutinya.
Eldrey adalah perwujudan nyata presdir Betrand. Hanya saja, setidaknya sang ayah masih memiliki hati untuk sekelilingnya, tidak seperti putrinya yang menutup diri untuk semuanya.
Sekalipun bisa merasakannya, tapi gadis itu lebih memilih membunuh nuraninya sendiri untuk orang-orang sekelilingnya.
Kenapa Eldrey bersikap seperti itu?
Jawabannya, masih tertutup rapat di diri mereka yang benar-benar mengetahuinya.
Sekali lagi presdir Betrand mengendarai mobilnya, kecepatan sedang yang ia gunakan pun mengantarnya ke sebuah tempat yang tak asing di mata.
Sebuah toko roti, di mana toko itu menyimpan kisah tersendiri baginya. Akan tetapi toko itu tutup, kerena pemiliknya sendiri sedang dalam kondisi yang tidak baik. Kondisi di mana hal itu disebabkan oleh putri mereka sendiri. Pria itu turun dari mobilnya, berjalan ke arah depan toko sambil berhenti dengan menatapnya.
“Tuan?” sapa seseorang dengan lembut.
Presdir Betrand pun menoleh padanya, seseorang yang masih muda tampak sebaya putrinya. Menatap bingung namun mengeluarkan senyum padanya.
“Apakah tuan ingin berbelanja di sini? Maaf sekali, tapi toko ini tutup karena pemiliknya sedang sakit,” jelas gadis itu.
Presdir Betrand tak menanggapinya, ia kembali menoleh ke toko tersebut dengan raut wajah tenangnya yang membuat gadis itu terheran-heran.
“Tuan?”
“Siapa kamu? Sampai bisa tahu keadaan pemilik toko ini.”
“Ah, a-aku pegawai di toko ini tuan,” jelas Alice sopan. Ia jadi gugup begitu mendengar pria itu berbicara.
“Begitu,” presdir Betrand menoleh padanya.
Alice sedikit terguncang, pupilnya bergetar dengan tatapan pria yang auranya berbeda dari kebanyakan orang yang pernah ia temui.
“I-iya tuan.” Alice merasa bingung, “siapa orang ini? Dia menatap terus ke arah toko, apa mungkin kenalannya bu Anna?” batin Alice.
Tapi ia tersentak kaget, “tu-tuan? Anda baik-baik saja?” tanya Alice tiba-tiba menyentuh lengannya.
Presdir Betrand tampak memegang kepala dengan ekspresi berat seolah menahan sesuatu, ia pun menepis tangan Alice yang menyentuhnya.
“Aku baik-baik saja,” ucapnya sambil kembali menatap ke arah toko, memandang ke kaca jendela yang memantulkan bayangan dirinya dan Alice.
__ADS_1