
Kevin terdiam, sekarang ia merasa tertekan. Nama Alice adalah salah satu kelemahannya dan Eldrey sedang memakai itu untuk menekannya.
Sekalipun meyakini kalau gadis itu takkan melakukan sesuatu pada Alice, tapi tindakannya sudah di luar batas wajar. Ia nekat dan tak berpikir dua kali untuk mengasihani nyawa. Kevin benar-benar waspada pada Eldrey beserta Charlie yang mempunyai sikap tak jelas itu.
“Kenapa diam? Apa tak ada yang ingin kau katakan?” tanya Eldrey.
Kevin tak menjawabnya ....
“Sudahlah, sepertinya dia sudah tahu posisinya,” Charlie menimpali.
“Gertakkan memang bukan tipeku,” lirih Eldrey melepaskan pandangannya dari Kevin. Ia pun menoleh ke depan saat menyadari kalau mobil sudah memasuki kediamannya.
Sebuah kursi roda pun diturunkan, dengan bantuan Charlie ia menggendong Eldrey untuk duduk di sana. “Ayo masuk,” ajaknya pada Kevin yang berdiri dekat mereka.
Setiap langkah memasuki rumah Kevin merasa hatinya bergetar seolah-olah tak boleh menurunkan kewaspadaan.
Di dalam rumah mereka disambut oleh tiga orang yang sudah tidak asing lagi di sana, “selamat datang kembali nona,” sejurus kalimat itu diluncurkan sang kepala pelayan Rondolf pada mereka. Gadis itu hanya membalas ucapannya dengan sebuah senyuman.
“Nona! Bagaimana bisa ini terjadi?! Apa nona baik-baik saja?! Ada yang sakit?!” tanya bibi pembantu dengan mata berkaca-kaca. Ia duduk bersimpuh di depan gadis itu.
“Aku baik-baik saja, berdirilah bibi, tak ada yang perlu dicemaskan,” lirihnya memegang tangan wanita itu.
Kevin pun terdiam menyaksikan pemandangan di depannya, ia merasa asing dengan ekspresi tulus yang ditampilkan Eldrey pada wanita itu, begitu pula sebaliknya.
Tapi tatapannya terganggu, menyadari sorot mata aneh tertuju padanya. Rondolf, ia menatap tenang Kevin, tapi rasanya ada yang aneh dari sorot mata orang itu. Kevin merasa ada yang janggal dari kepala pelayan itu, tapi ia tak tahu apa.
“Bibi, bisa siapkan kamar untuk anak ini? Malam ini dia akan menginap di sini,” pinta Charlie.
“Baik tuan,” bibi itu pun mengangguk meninggalkan mereka setelah tersenyum pada Eldrey.
“Anda pasti lelah tuan muda, beristirahatlah, pelayan Misha akan mengantarkanmu ke kamar,” tukas Rondolf pada Kevin.
Kevin pun mengangguk dan mengikuti langkah kaki pelayan yang ditunjuk menuju tempat di mana bibi pembantu sedang menyiapkan kamar untuknya.
Sebuah kamar di lantai tiga rumah utama, itulah tempat yang akan dipakai Kevin malam ini.
Sekarang hanya tersisa Eldrey, Charlie dan Rondolf di ruang tamu. Ketiganya saling melirik satu sama lain.
“Ayo nona, sudah saatnya anda beristirahat,” sahut Rondolf.
“Mmm,” gumam pelan Eldrey.
“Aku akan mengantarmu,” Charlie pun menggendong Eldrey menaiki tangga bersama dengan Rondolf. Mereka mengantar Eldrey menuju kamarnya yang biasa.
__ADS_1
Di kamar lain ....
Kevin memandang setiap sudut sebuah kamar yang ia tempati. Sebuah kamar besar dengan nuansa dinding coklat berukir yang unik. Ada sebuah lukisan abstrak cenderung biru yang terpajang membuat Kevin menatap lekatnya.
“Sepertinya mereka punya selera yang aneh,” lirih pelan Kevin.
“Tok ... Tok ... Tok ....” pintu kamar yang diketuk. Kevin pun menghampiri dan membuka pintu itu.
“Maaf mengganggu tuan, ini ada pakaian ganti,” ucap bibi pembantu itu padanya.
“Terima kasih bi,” balas Kevin diiringi senyum.
“Semoga tuan muda nyaman di sini, kalau begitu bibi tinggal dulu,” lirih bibi itu pamit pergi.
Ia pun menatap jersey di tangannya itu, “siapa di antara mereka yang pakai ini?” gumamnya bingung. Ia menutup pintu dan mandi di kamar mandi yang tersedia, karena tubuhnya benar-benar kotor mengingat kegilaan yang sudah dilakukannya seharian ini.
Langit semakin larut dengan waktu yang melewati tengah malam ....
Kevin terbangun dari tidurnya, matanya benar-benar susah diajak kompromi, mengingat ia berada di sarang asing baginya. Langkah kakinya pun terhenti di balkon memandang keindahan kolam renang raksasa di kediaman itu.
“Mereka benar-benar kaya, berapa banyak uang yang dihabiskan untuk ini?” gumamnya.
Tapi sorot matanya terhenti saat memandang sosok yang tak asing lagi.
Ia pun menyusuri jembatan terowongan di
mana balkon tempat Eldrey berada bisa terlihat dari sana, memasuki gerbang yang terbuka dan melangkah menuju pintu yang diyakini sebagai kamar gadis itu.
“Tok ... Tok ... Tok ....” pintu kamar yang di ketuk.
“Masuk saja,” jawab Eldrey sedikit berteriak.
Tanpa ragu Kevin pun membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Sebuah kamar yang sangat besar dan cukup unik karena ada tanaman merambat yang memenuhi dinding menuju balkon.
“Kamu belum tidur?” tanya Kevin menghampiri.
“Aku tidak mengantuk,” jelas Eldrey tanpa menoleh. “Kamu sendiri?”
“Aku tak bisa tidur,” jelas Kevin duduk di sofa.
Tak hanya kamarnya yang besar tapi balkonnya juga, dekorasinya unik, terlebih lagi lantai rumput yang menghiasinya.
“Kenapa? Tidak nyaman?”
__ADS_1
“Entahlah, aku tak yakin dengan itu.”
“Mungkin karena kamu merasa asing di sini,” jelas Eldrey.
“Mungkin juga begitu.”
Eldrey pun meliriknya lewat sudut matanya, “jangan terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak, itu cuma akan membuatmu lelah.”
Kevin terdiam, ia menatap langit dengan dinginnya malam yang menusuk ke kulit. Cukup lama ia terdiam sampai sebuah hembusan napas bersuara ia hempaskan dari mulutnya.
“Boleh aku bertanya?” Kevin pun bersuara akhirnya.
“Silakan.”
“Bagaimana perasaanmu?”
“Maksudnya?”
“Bagaimana perasaanmu saat membunuh orang?” Kevin pun menatap lekat gadis itu.
Eldrey terdiam, ia pun menoleh dan membalas tatapannya, “sepertinya aku tak merasakan apa-apa.”
“Hah?”
“Aku tak paham perasaan apa yang kamu maksud, tapi jika harus dijelaskan aku merasa harus membunuhnya, hanya itu.”
“Apa-apaan itu? Apa kamu tidak merasa bersalah, menyesal atau sedih karena sudah melenyapkan nyawa seseorang?! Apa kamu tak merasa gemetaran karena sudah membunuhnya?!” tanya Kevin heran.
“Kenapa aku harus merasa seperti itu? Aku hampir dibunuh, bukankah sudah wajar aku bertindak seperti itu?” Eldrey mengatakan itu dengan ekspresi datar. Ekspresi yang tetap sama dari saat Kevin memasuki kamarnya, tak ada satu pun yang berubah dari raut mukanya.
“Kamu, apakah ini bukan pertama kalinya bagimu?”
Eldrey pun mengerinyitkan dahinya, “ada tiga orang yang menyerangku, sekarang aku masih selamat, bukankah kamu sudah tahu jawabannya?”
Kevin pun membulatkan bola matanya kaget mendengar ucapan Eldrey, gadis itu benar-benar tak merasakan apa-apa. Seolah-olah menghabisi mereka itu bukanlah masalah besar baginya.
Kevin pun menundukkan kepalanya, dengan tangan yang saling dikepalkan karena ada beban menghantuinya. “Mungkin saja ada seseorang yang masih menunggu mereka untuk pulang.”
Ekspresi Eldrey berubah masam mendengarnya, “dasar bocah naif,” membuat Kevin berkedip kaget mendengarnya.
“Bahkan walaupun begitu, itu adalah harga yang harus dibayar atas tindakan mereka. Kenapa kau begitu mengasihani mereka? Sikap seperti itu tak ada gunanya. Aku tak menyesal membunuh mereka karena lagi pula bukan aku yang mati. Berhentilah memikirkannya, lagi pula kau takkan jadi kriminal karena aku sendiri yang menghabisi mereka,” jelas Eldrey jengkel.
Ia pun menambahkan, “jika kau masih sayang nyawa maka lupakan itu semua, lagi pula kami pasti membersihkan namamu tanpa siapa pun yang akan tahu. Tapi jika kau berbalik, maka kupastikan bayarannya bukan hanya nyawamu, bocah naif sepertimu tak pantas terlibat dengan kami, walaupun itu cuma sekedar bantuan,” tekan Eldrey.
__ADS_1