
Semua terdiam mendengar ucapan laki-laki itu.
“Bagaimana? Tak ada lagi yang perlu dipertahankan bukan?”
Perlahan, tatapan tajam dihadiahkan Betrand pada sang putra. Di tengah beban pikiran karena kondisi sang putri juga hubungan dengan ibunya, Evan justru menambahkan luka. Dia menginginkan kehancuran untuk keluarga.
“Jaga bicaramu, Evan. Kita akan membahas ini di rumah. Sekarang kembali ke kantormu,” perintahnya.
Anak pertama keluarga Dempster memang tidak menentang perintah itu, tapi sebelum berbalik, raut muka dingin dipamerkan. Seakan menaruh dendam pada sang ayah, nenek, juga kakek yang tak dianggapnya.
Ia memang pergi dari sana, dan tujuannya ada pada sebuah kamar. Di mana sosok cantik sang saudara masih terlihat tak berdaya.
Pesona pucat yang menggelitik perasaan mengundang iba, ia sedih dengan kondisi adiknya.
“Maafkan, kakak. Maafkan kakak karena dulu meninggalkan kamu. Maafkan kakak, Eldrey. Maafkan aku,” ia pun menggenggam satu tangan adiknya, mengelus lembut penuh perhatian.
Dan mungkin dirinya tak sadar kalau seseorang menyaksikan itu dari kejauhan. Sang tangan kiri ayahnya, Charlie Stevano dengan pisau di tangan.
Sosok itu berbalik menjauhi ruangan. Mengarah pada tempat di mana sang pelaku kejahatan berada, Bill yang ruangannya sedang dijaga.
Kevin tumbang.
Kelelahan dan keadaan yang jelas masih belum sembuh membuat kondisi tubuhnya agak memburuk. Pingsan mendera dan dirawat pun menjadi jawabnya.
Walau terkadang sikap keras kepala ingin menemui Eldrey berbicara, nyatanya ia mengalah juga. Memilih istirahat setelah mendengar janji ayahnya.
“Pikirkan tubuhmu, jangan jadi beban Kevin kalau kau memang menginginkan gadis itu. Aku sendiri yang akan mendatangi keluarganya dan melakukan apa pun untuk kebahagiaanmu.”
Seakan menutup mata, pada apa yang sudah dilakukan Eldrey pada putranya. Berbeda dengan Julia yang tak banyak bicara, Kendal sepertinya setuju. Pada pilihan sang anak kedua yang sangat menginginkan Eldrey menjadi miliknya.
Di satu sisi menjelang malam, jam kunjungan telah habis. Hanya tersisa waktu para anggota keluarga yang bergantian berjaga dalam ruang rawat Eldrey dan Ramses.
Berbeda dengan Nyonya Nera, dia memang sangat khawatir pada keadaan sang putra, namun mulutnya juga tak berhenti merutuki kebodohan anaknya.
Sikap ceroboh dan refleks buruk Ramses sehingga bisa tertembak seperti sebelumnya.
“Sekarang bagaimana? Itu pasti akan meninggalkan jejak bukan? Kalau tanganmu sulit digunakan bagaimana?” Ramses hanya mengedarkan pandangan malas. “Makanya, Rams. Kalau kamu tidak bisa apa-apa, jangan jadi pahlawan kesiangan. Sekarang jadi begini kan.”
“Ayolah, Ma. Aku sedang sakit, apa tidak bisa ditunda dulu ocehannya?”
“Mana bisa? Lagian mama itu sedang menceramahi kamu. Seharusnya kamu itu bersyukur!”
Akan tetapi sekarang sosok yang sedang tertangkap basah di ruang rawat Bill terdiam. Menatap tajam pada orang asing yang datang.
__ADS_1
Evan, terdiam menyaksikan Charlie dengan jarum suntik di tangan.
“Kau, mau apa?” tanyanya setengah berbisik.
Sang paman, dalam keadaan tak sadar. Proses amputasi serta kecelakaan yang menimpa sebelumnya mengakibatkan geger otak.
Walau tak parah, tapi hantaman di tubuh jelas akan membuat sang putra Gates trauma. Entah apa yang akan ia katakan kalau seandainya dirinya sadar tanpa satu kaki secara sempurna.
Dan sosok Charlie terlihat bersiap menyuntikan sesuatu pada lengan pria itu.
“Jangan gila, Charlie. Apa isi jarum itu? Kau tidak berniat membunuhnya bukan? Ada penjaga di luar!” Evan buru-buru mendekat dan memegang lengannya. Memaksa pria itu mundur satu langkah.
Sorot mata santai tak bersalah tertera di tampang Charlie. Dan jangan lupakan sebatang rokok yang masih menyala, tak goyah di sela-sela bibirnya.
Perlahan diedarkan pandangan sekilas sebelum melirik lewat sudut mata.
“Lalu? Apa yang kau takutkan? Bukankah sekarang kau berhasil di sini? Menerobos penjagaan sepi.”
“Kau–”
Pria itu pun menepis pelan sentuhan Evan. Mendekat ke arah Bill, bersiap melakukan apa yang tadi tertunda.
“Jika terjadi sesuatu, ayahku takkan pernah memaafkanmu.”
Eldrey tersadar.
Kelopak yang menutupi mata indah itu berkedip pelan. Mencoba meresapi pencahayaan yang masuk ke pandangan. Sensasi hangat terasa namun dirinya bingung harus mengatakan apa. Saat dirinya sadar kalau sosok sang saudara lah yang menggenggam tangan.
Waktu menunjukkan pukul 03.19. Langit jelas masih gelap di luar sana. Dan sebuah suara melirihkan kata, milik Charlie yang bersantai di sofa.
“Sudah sadar? Kupikir kau akan mati.” Eldrey tersenyum tipis. “Tak ada yang lucu, bagaimana keadaanmu?”
“Tidak baik.”
Hening bersuara. Detakan jarum jam atau alat di pinggiran sebagai pertanda sang gadis masih bernyawa ikut memenuhi suasana.
Sorotan lewat sudut mata, ataupun lirikan lekat Charlie membuat tatapan mereka saling bertemu dalam waktu yang cukup lama.
“Satu kaki Bill, diamputasi.”
Senyum miring tersungging. Milik sang putri Dempster. Perlahan, ia tarik tangannya dari genggaman, mengelus lembut kepala sang saudara yang sangat lelap dalam tidurnya.
“Apa selanjutnya?”
__ADS_1
Empat hari kemudian, rumah sakit digemparkan oleh fakta tentang seorang kakak Betrand. Histeris yang berkumandang, menandakan dirinya tidak bisa menerima kenyataan. Kalau sosoknya harus kehilangan satu kakinya.
Teriakan yang menggelora menjadi sumber penasaran pihak lalu lalang. Bertanya-tanya kehebohan apa yang telah dilakukannya.
Sementara Ramses yang masih dirawat dikejutkan oleh kedatangan Eldrey. Gadis itu tersenyum padanya walau masih terduduk di kursi roda. Dan jangan lupakan seorang Evan yang setia menemani adiknya.
Anehnya, mereka berdua memiliki ekspresi yang sama. Ramah namun tatapan memendam sesuatu. Putra Turner yang sudah terbiasa berhadapan dengan banyak orang pun sadar akan itu.
“Bagaimana lukamu?”
“Sudah lebih baik.”
Eldrey menggangguk pelan. Perlahan tangannya bergerak menggenggam tangan Ramses. Menimbulkan rasa heran namun hanya disaksikan tenang oleh dirinya.
“Terima kasih untuk semuanya.”
Sekarang putra Turner terdiam. Dia sendirian, pembicaraan dengan Eldrey beberapa saat lalu menjadi beban pikiran.
“Apa yang kamu pikirkan?” Laki-laki itu tersadar. “Sepertinya kamu baik-baik saja. Ini,” Dean menaruh bingkisan di atas nakas. “Sarapan dari Alice. Bahkan setelah menikah denganku dia masih saja perhatian padamu. Apa kamu tidak berniat mencari istri?”
Helaan napas jengah terdengar. Pertanda jengkel dengan topik yang diangkat. Parahnya lagi, aroma bubur dari bingkisan berwarna hitam itu menguarkan aroma mengerikan. Berbisik pada Ramses agar segera dimakan.
“Kalau begitu carikan istri untukku.” Tatapan meledek malah terpatri di wajah putra pertama Kendal. “Apa-apaan tampang sialanmu itu?”
“Kau tampan, kenapa minta dicarikan padaku?”
“Hei! Kau mengakuiku?” dengan tampang tak percaya.
“Sialan! Aku hanya memujimu!”
Tapi, situasi yang berbeda justru ditampilkan para pengunjung di kamar Eldrey. Sepinya ruangan dari sosok yang dirawat mengundang rasa panik. Entah di mana sang gadis berada, tapi satu hal yang pasti mereka telah lengah akan kehilangannya.
Kevin yang datang lebih awal bergetar tubuhnya, ditatap khawatir sang ayah yang tahu seberapa sayang dirinya pada sang gadis muda.
Dan Betrand, tak bisa menghentikan sensasi aneh di dada. Terlebih lagi saat ia mendapat laporan dari sang bawahan kalau Evan itulah sosok terakhir yang bersama putrinya.
Tak diragukan lagi kalau laki-laki itulah yang membawa putri Dempster sekarang.
“Maaf, Presdir. Tuan Bill, juga tak ada di ruangannya.”
__ADS_1