
Sekarang, Ramses dan Eldrey sedang makan malam.
“Setelah ini ayo kita langsung pulang.”
Tak ada jawaban. Gadis itu benar-benar suka mengabaikan. Jujur Ramses jengah dengan sikapnya tapi ia coba memakluminya.
“Aku masih belum memberitahu orang tuaku kalau kita di sini. Ponselku mati, keluargamu pasti juga cemas.”
Hanya saja yang diajak bicara benar-benar seperti menganggapnya bayangan.
Setelah selesai Eldrey justru pergi meninggalkannya. Tampaknya putra Tuan Harel memang harus bersabar dengan sikapnya.
Tapi di satu sisi, Kevin benar-benar frustrasi. Dirinya masih tak bisa menemukan Eldrey. Ingin mencoba memastikan pada keluarganya, rasanya canggung juga. Dan pilihan terbaik pun jatuh untuk menghubungi Charlie Stevano demi putri Dempster.
“Ya ampun. Sudah jam segini, bagaimana bisa Ramses masih belum pulang? Apa dia baik-baik saja, Pa?” cemas Nyonya Nera.
Tuan Harel yang jelas-jelas juga mengkhawatirkan putranya dan Eldrey, masih berusaha menghubungi anaknya.
Sampai akhirnya pada jeda tertentu pun panggilan masuk entah dari siapa.
“Halo?”
“Halo Pa?”
“Ramses?” kaget Tuan Harel saat tahu siapa yang menghubunginya. “Kamu ada di mana, Nak? Kenapa panggilan kami tak tersambung?”
“Ah, itu—” Ramses jadi gugup karenanya. “Aku dan Eldrey ada di Hotel, Pa. Dan ponselku mati karena baterainya habis.”
Terdengar jelas suara helaan napas pelan dari pria itu. “Setidaknya kalian baik-baik saja. Jadi kamu ada di Hotel mana? Papa akan menjemputmu.”
“Hotel?” kaget Nyonya Nera menimpalinya.
“Mm, i-itu,” Ramses jadi terbata-bata.
“Ada apa?”
“Eldrey tidak mau pulang, Pa,” jelas laki-laki itu dengan nada ragu.
“Kenapa?”
“Panjang ceritanya. Tapi yang jelas dia tidak mau pulang. Aku bisa saja pergi, tapi aku tak tega membiarkannya sendiri. Mm ... a-aku harus bagaimana, Pa?”
Mendengar kalimat putranya itu, Tuan Harel yakin jika anaknya dilanda kebingungan.
“Ya sudah, kalau begitu kamu temani saja dia. Jangan macam-macam. Kamu seorang laki-laki. Ingat itu. Papa percaya padamu.”
“Baik, Pa. Aku mengerti.”
“Ya sudah kalau begitu. Biar Papa yang menghubungi keluarga Dempster.”
“Baik.”
Dan setelahnya panggilan pun terputus. Ramses yang tadi memakai telepon Hotel sekarang menatap lekat layar ponselnya.
Dirinya menerka-nerka mungkin saja sudah banyak panggikan-panggilan asing mengganggu hidupnya.
__ADS_1
Saat memasuki kamar, sosoknya tersentak karena Eldrey tak ada di dalam sana.
“Rey? Eldrey?!” teriaknya. Walau berusaha mencarinya sampai ke kamar mandi dia masih saja tidak ada. “Sial!” umpatnya.
Sementara sosok yang menghilang sedang berada di pinggiran kolam renang. Beristirahat di tepian menikmati suasana malam.
Tak banyak orang di sana. Bisa dipastikan kurang dari sebelas orang sedang bersantai di tempat itu.
Saling berbagi tawa dan ada yang berenang dengan mesranya.
Hal wajar jika ingin menghabiskan hari penuh keintiman di Hotel tersebut. Walau akan lebih bagus jika ingin berduaan tempatnya adalah kolam renang privasi.
“Hai,” sapa seorang laki-laki. Raganya basah dan mengenakan celana pendek sebatas lutut. Perawakannya manly, diiringi siulan aneh di tempat asalnya. Sepertinya rombongan di ujung sana merupakan rekannya. “Sendiri saja?” tanyanya pada Eldrey.
Bahkan ia tak basa basi untuk duduk di samping gadis itu.
“Namaku Samuel,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
“Eldrey.”
Singkat padat tanpa jabat tangan. Tentunya menimbulkan tawa pelan sosok yang mengajak kenalan.
“Mm, tanganku tidak ada virusnya kok,” ucapnya dengan maksud mencairkan suasana.
Eldrey yang mendengar itu pun memalingkan tubuh agar berhadapan langsung dengan pembicara.
Terkesiap tentu saja. Samuel bagai disentrum saat tatapannya bisa menatap jelas perawakan gadis itu.
Kurus pastinya, tapi menggoda. Terlebih area depan yang jelas membusung dan lumayan besar diiringi leher jenjang sebagai hiasannya.
Setidaknya itulah yang ditangkap Samuel hanya dengan menyaksikannya.
“Kenapa melihatku seperti itu?” tanyanya karena mulai gugup. Terlebih ini pertama kalinya bagi Samuel untuk dipandang lekat seperti itu. Pastinya ia jadi berkeringat dingin dibuatnya.
“Putra keluarga Jackson?”
Samuel pun tersentak mendengarnya. “Kamu, bagaimana bisa ka—”
“Eldrey!” sela seseorang tiba-tiba. Pandangan keduanya langsung teralihkan pada sosok yang datang. “Kamu, bisa tidak beritahu aku dulu kalau mau pergi? Aku mencemaskanmu! Kalau kamu hilang bagaimana? Aku bisa digorok ayahku dan keluargamu!” cecar Ramses dengan napas terengah-engahnya.
Eldrey pun langsung bangkit. Saat hendak pergi ia justru ditahan karena tangannya dicekal Samuel.
“Hei,” kaget Ramses melihatnya.
“Kenapa kamu bisa tahu siapa aku?” tanya Samuel tanpa basa basi.
Eldrey pun melirik cengkeraman di tangannya. “Lepas, karena aku tidak mengenalmu.”
“Lho, tapi barusan kam—” tiba-tiba ucapan laki-laki itu terpotong akibat Ramses memisahkan tangan mereka.
“Ayo, Eldrey,” ajaknya sambil menarik lengan gadis itu.
Tentunya kepergian keduanya ditatap lekat Samuel yang masih diam di posisinya. Sekilas, sorot matanya pun bertemu dengan Ramses. Membuatnya merasa aneh akan arti penglihatan itu.
“Heh, pacarnya?” gumam Samuel dengan ekspresi meremehkan.
__ADS_1
Sesampainya di kamar Ramses langsung menghela napas kasar.
“Eldrey, apa kamu tidak tahu kalau aku sangat mencemaskanmu?”
Tapi tak ada balasan. Kecuali perempuan itu memilih mengambil minuman di kulkas yang ada. Sambil melirik sekilas Ramses, fokusnya kembali terarah pada apa yang ada di tangannya.
“Kamu masih di sini? Belum pulang?”
“Cih!” decih Ramses tiba-tiba namun Eldrey tak peduli.
Tentunya semakin mengundang kesal sosok itu. Langsung dihampirinya dan direbutnya minuman putri Dempster.
Membuat Eldrey memasang muka masam ke arahnya.
“Bisa tidak kalau aku tanya kamu jawab dulu? Jangan mengabaikan kalimatku.”
Eldrey pun memilih buang muka karena malas meladeninya.
“Kalau aku bicara dengar dulu,” jengkelnya sambil memegang dagu putri Dempster. Akhirnya Eldrey pun mengedarkan tatapan jengah karenanya. “Kalau orang bicara dilihat dulu matanya,” tekannya sekarang.
Eldrey pun langsung menepis tangan Ramses.
“Cerewet.”
“Aku cerewet juga demi kamu Eldrey. Kalau seandainya terjadi apa-apa bagaimana? Kamu itu perempuan. Kamu tidak lihat tadi? Ada aku saja laki-laki itu sudah berani mencegatmu. Kalau aku tidak ada bagaimana? Habis kamu di tangannya.”
“Cih! Apa yang kau—”
“Kamu!” potong Ramses tiba-tiba. “Kau itu kasar, panggil aku kamu saja.”
“Sudahlah, aku malas meladenimu.”
Eldrey pun memilih berlalu menuju sofa.
“Seharusnya aku yang bicara begitu. Yang tadi jangan diulangi lagi. Untung ada aku, kalau tidak bagaimana? Jangan terlalu mudah akrab dengan laki-laki, kita tidak tahu apa yang ada di otaknya. Kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana? Tolong diingat Eldrey, kamu itu perempuan. Kamu harus hati-hati.”
Menyebalkan. Benar-benar memuakkan. Eldrey sungguh malas mendengar ocehan yang berulang. Dia pun menoleh pada Ramses dengan tatapan meremehkan.
“Memangnya apa yang akan dilakukannya? Meniduriku? Apa laki-laki isi otaknya hanya nafsu saja?”
Ramses pun terdiam mendengar perkataannya. Rasanya mungkin lebih baik ia berhenti berbicara.
“Daripada dia, menurutku kamu lebih berbahaya. Kita sekamar, apa kamu tidak sadar?”
“Sudahlah Eldrey. Jangan dibahas lagi.”
“Kenapa?”
“Ayolah Eldrey. Aku takkan mungkin macam-macam padamu.”
“Kenapa? Apa karena aku kurang menggoda? Apa aku harus buka baju di depanmu?” Eldrey pun menarik ujung kaosnya ke atas.
“Eldrey!” bentak Ramses tiba-tiba. Tentunya gadis itu tertegun namun mukanya tetap datar. “Ayo hentikan pembahasan ini. Lebih baik kamu tidur sekarang. Aku keluar dulu dan jangan ke mana-mana.”
__ADS_1