
Kevin terdiam saat Eldrey hanya melirik sambil tersenyum begitu melewatinya.
“Kevin, kamu—” Dean kaget karena tak menyangka jika adiknya juga berada di balkon itu. Berarti kemungkinan ia mendengar apa yang dibicarakannya dengan putri Dempster.
“Aku hanya datang untuk membereskan ini semua,” lirihnya dan menghampiri beberapa bahan makanan yang belum dibakar.
Dean membantunya tanpa mengatakan apa-apa. Kedua kakak beradik itu mengemas semuanya tanpa ada yang menolongnya lagi.
“Oh ya, mana teman-temanmu?” tanya Dean akhirnya.
“Berkeliaran,” jawab singkat Kevin. Lalu pemuda itu membawa masuk semua bahan-bahan yang tersisa di dalam kotak untuk disimpan di kulkas.
Bagaimanapun, sepertinya acara untuk malam minggu ini telah usai. Dirinya memilih kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya ke sofa.
Masih berpikir akan pembicaraan kakaknya dan Eldrey. Tiba-tiba, dirinya bangkit lalu mengambil sesuatu di lemari.
Sementara putri Dempster, dirinya baru saja selesai mandi. Jejak akibat tumpahan minuman tadi terasa agak lengket dan sangat tidak disukainya.
Dan begitu pintu dibuka, gadis itu menyipitkan mata karena ada sosok Kevin di dalam kamarnya.
“Mau apa kau kemari?” tanya Eldrey tanpa basa-basi. Dirinya mengusap kasar rambutnya dengan handuk dan berjalan menuju jendela.
Diiringi sorot mata Kevin yang masih tak lepas darinya. Perlahan, pemuda itu berdiri dan menyerahkan baju padanya.
“Ganti bajumu dengan ini,” ucapnya. Terlihat Eldrey kembali memakai baju milik Dean itu setelah mandi. Bagaimanapun, ia juga tidak membawa pakaian ganti ke sana.
“Tidak perlu. Aku sudah nyaman dengan ini,” tolak Eldrey dengan menatapnya sekilas. Kevin tidak menjawabnya dan memegang tangan Eldrey untuk menaruh baju yang disodorkan tadi. “Kau tuli?”
“Jangan pakai baju Kak Dean.”
“Kenapa memangnya? Suka-suka aku,” ketus Eldrey sambil melempar baju di tangan ke sembarang arah.
Putra kedua Kendal, cuma menatap tenang pemberiannya yang sudah tergeletak di lantai.
“Aku tidak suka,” ucap Kevin tiba-tiba lalu memungutnya. “Karena itu jangan pakai baju Dean.”
Eldrey mengernyitkan dahinya. “Sepertinya kau sedang ingin bercanda. Cari saja orang lain, Kevin. Aku lelah,” abainya lalu melewatinya. Tapi tiba-tiba lengannya dipegang Kevin sehingga menghentikan langkahnya. “Mau apa lagi kau? Jika tak ada urusan keluar! Aku ingin istirahat.”
“Ganti bajumu atau aku yang menggantinya.”
“Kau gila?” Eldrey tersenyum miring.
__ADS_1
Tapi, tiba-tiba tangan Kevin yang menggenggam lengan Eldrey beralih memegang ujung kaos putri Dempster. Ditariknya, sehingga gadis itu tersentak dan langsung menahannya.
“Mau apa kau?” tekan Eldrey menatapnya tajam. Ujung kaosnya, sudah terangkat dan sedikit memamerkan perutnya.
“Bukankah sudah kubilang? Ganti bajumu atau aku yang menggantinya,” sambil tersenyum tipis.
“Dasar brengsek,” Eldrey pun merebut baju kaos di tangan Kevin lalu mendorong pemuda itu sehingga mundur beberapa langkah.
Tanpa aba-aba, dibukanya bajunya tepat di hadapan sang pemuda. Sontak saja Kevin terbelalak dan membalik tubuhnya.
“Apa ini? Kau seperti bajingan, tapi rupanya cuma tikus polos yang tak berguna,” ledek Eldrey sambil mengganti bajunya.
Kevin tak menjawabnya kecuali memamerkan tampang tak nyaman.
“Ini,” putri Dempster lalu melempar baju Dean tadi ke arah laki-laki di depannya. “Ambil itu dan keluar dari sini. Aku ingin istirahat.”
Seperti perkataan Eldrey, Kevin memungut baju yang terjatuh di dekat kakinya.
“Eldrey.” Gadis itu tak menyahut. “Aku ingin tanya sesuatu.” Hanya tampang meremehkan yang dipamerkan putri Dempster. “Apa arti kami bagimu?”
“Kenapa kau tanyakan itu?”
“Tak ada. Memangnya apalagi artinya?” jawabnya seadanya.
“Teman?”
Satu kata yang dilontarkan Kevin justru dibalas dengan senyum miring di bibir sang gadis muda. “Teman?” ia tertawa pelan. “Kalaupun kita berteman, memang apa keuntungannya bagiku? Ikatan kalian cuma akan menyusahkanku.”
Langkah kakinya pun diarahkan ke ranjang dan duduk di sana.
“Begitu ya.”
“Pergi dari sini,” perintah Eldrey.
“Kamu mengusirku? Ini vila keluargaku lho.”
“Lalu? Kau pikir aku peduli? Cepat keluar dari sini.”
Sungguh Eldrey benar-benar seperti tamu yang tidak tahu sopan santun. Untung saja ia bicara begitu pada Kevin. Jika dengan orang lain, bisa dipastikan putri Dempster mungkin sudah ditampar karena dianggap sangat kurang ajar.
“Tak kusangka aku bisa menyukai orang seperti dirimu,” keluh Kevin dengan ekspresi yang terkesan bercanda.
__ADS_1
“Benarkah? Kalau begitu, selamat datang di neraka, Kevin.”
“Ya, terima kasih sambutannya, Eldrey. Jujur aku sangat menantikan saat di mana diriku bisa mendapatkan hatimu yang sesungguhnya,” lalu ia pun berlalu dari sana sambil tertawa.
Entah kenapa Kevin malah bersikap seperti itu di hadapannya. Tapi yang jelas ekspresi Eldrey tidak baik-baik saja. Terkesan kejam dan dingin setelah kepergiannya.
Kevin benar-benar sosok yang sangat menyebalkan dan ia tak ingin lagi menemuinya.
Sekarang, di tempat yang lumayan jauh dari Vila, sesosok gadis duduk di bawah pohon kelapa di tepi pantai.
Terisak, menangisi semua yang telah terjadi. Rasanya dadanya sesak, terlebih saat ingatan menyakitkan merasuk tenang ke pikiran.
Perlahan, langkah Evan mendatanginya dan duduk di dekatnya. Menyodorkan sapu tangan dengan aroma khas yang pantas disandingkan bersama pemiliknya.
Cukup lama bagi Alice untuk mengambilnya. “Aku memang gadis yang sangat menjijikan,” ucapnya tiba-tiba.
Evan yang dari tadi memang memperhatikannya, sekarang mulai menatapnya intens.
“Bisa-bisanya aku melakukan itu pada temanku sendiri. Aku, sangat-sangat menjijikan,” tampaknya Alice benar-benar menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.
“Tapi aku bisa apa? Diriku juga sangat menyukai Dean. Aku menyukainya, bahkan lebih dulu sebelum Erin jatuh cinta padanya. Aku selalu memendam perasaanku agar dia tidak terluka. Bahkan kubiarkan hatiku tersiksa menonton mereka yang tertawa bersama. Lalu, apa salah jika aku juga berharap ingin bahagia?”
“Ayah Dean, tak pernah menyukaiku bergaul dengan anaknya. Cuma karena aku seorang gadis miskin dan putri dari pedagang ayam goreng pinggir jalan yang tak selevel dengan mereka. Tapi aku tak pernah putus asa, karena aku memang sangat mencintai putranya.”
“Aku selalu berusaha yang terbaik agar tidak tampak mengecewakan. Lagi pula, bukan salahku juga kan terlahir dalam keadaan keluarga yang seperti itu? Jika aku bisa memilih, aku juga tak ingin lahir dari keluarga yang miskin dan tak punya apa-apa. Padahal aku sudah berusaha, dan akhirnya bisa bersama Dean walau caranya seperti ini.”
“Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana bisa Erin menyumpahiku dan Dean agar tidak pernah bahagia? Padahal perjuangan yang kami lakukan untuk bisa bersama itu tidaklah murah.”
“Padahal dia temanku, sosok yang dekat denganku. Bagaimana bisa dia seperti itu? Bagaimana bisa dia melakukan itu padaku yang selalu mendukungnya?”
Evan terdiam. Untaian kata yang dilirihkan Alice dengan nada bersalah dan kecewa, sekarang justru terasa menyalahkan semuanya.
Seolah merutuki keadaan yang menimpa dirinya. Jujur, Evan agak tidak menyangka, karena bagaimanapun ada sesuatu yang ditangkapnya dari lirihan Alice di sebelahnya.
Keegoisan dan juga tidak mensyukuri kehidupan.
Dan karena itu pula sekarang Evan merasa miris serta kecewa. Tak percaya, jika gadis yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri, ternyata sosok sebenarnya seperti ini.
__ADS_1