FORGIVE ME

FORGIVE ME
Rumah itu


__ADS_3

Sementara di dalam kamar mandi, tampak Dean yang sedang berdiri di depan cermin sambil tersenyum sumringah.


“Hah, tak kusangka ini akan berhasil,” gumamnya pelan.


Tiba-tiba ....


“Dean?! Bagaimana keadaanmu sayang?” tanya nyonya Julia dari balik pintu kamar mandi.


Dean pun spontan kaget dan menggosok-gosok kelopak mata sehingga matanya memerah. Ia pun juga mencuci kedua tangannya dengan sabun agar semua tipu dayanya terlihat nyata.


Ia berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan tubuh seolah-olah tak bertenaga, “Iya ma? Perutku masih sakit ma,” gumamnya pelan.


“Bagaimana jika kita ke dokter?” sahut nyonya Julia yang risau dengan kondisi putranya sekarang.


“Tidak perlu ma, aku ingin istirahat di rumah saja, boleh tolong siapkan obat biasa yang bisa kumakan? Aku sangat lelah ma, aku mau ke kamar dulu,” gumam Dean pelan.


“I-iya sayang, kamu istirahatlah dulu, nanti biar mama suruh pelayan menyiapkan makanan untukmu,” tukas nyonya Julia sambil menggosok-gosok punggung Dean.


Dean hanya mengangguk pelan mendengarnya, ia pun pergi menuju kamarnya dengan langkah gontai, sementara Kevin yang menyadari keberadaan Dean pun berjalan mendekatinya.


“Kakak? Kakak baik-baik saja? Kakak kenapa?” tanya Kevin penuh selidik.


“Perutku sakit, sepertinya aku salah makan sehingga aku diare,” gumam Dean dengan tatapan sayu mata merahnya.


“O-oh, kalau begitu kakak istirahatlah,” sahut adiknya sambil menyentuh bahunya.


“Iya,” lalu Dean berjalan menaiki tangga meninggalkan adiknya.

__ADS_1


Kevin yang melihat langkah kaki kakaknya yang menyedihkan itu pun hanya mengerinyitkan dahi, “padahal sebelum pergi dia baik-baik saja, sekarang kenapa begini? Apa dia salah makan? Memangnya dia makan apa?” gumam Kevin dengan ekspresi penuh kebingungan. Kevin pun kembali lagi ke tempat peristirahatannya untuk menonton film.


Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Eldrey menuruni tangga untuk menuju ruang makan karena jam sudah menunjukkan saatnya makan siang.


Sesampainya di ruang makan tampak hanya ada bibi pembantu yang sedang menyiapkan makanan, “nona?” sapa bibi pembantu itu.


“Mmm,” balasnya singkat dengan ekspresi datar yang sudah tidak asing lagi. Ia lalu menggeser kursi dan menatap makanan yang ada. Perlahan ia pun mengambil makanan dan memakannya, tapi tak ada satu pun kata pujian keluar dari mulut gadis itu, kecuali mulutnya yang hanya mengunyah makanan dengan pelan dan berekspresi malas. Seolah-olah rasa masakan itu biasa saja, tak ada yang istimewa.


Tiba-tiba datanglah sosok yang tak terduga ....


“Tuan Charlie? Anda tidak makan?” tanya bibi itu yang melihat Charlie datang dan hanya mengambil minuman di kulkas.


Laki-laki itu lalu menatap ke arah Eldrey yang hanya bersikap acuh tak acuh dengan sekelilingnya, “tidak, aku tak lapar,” sahutnya dan pergi begitu saja meninggalkan mereka.


Namun, baru beberapa langkah ia tiba-tiba berhenti dan berbalik menatap Eldrey, “nona, hampir saja aku lupa, Roma berpesan padaku kalau nanti sore itu jadwal terapimu, Roma akan pulang terlambat sehingga aku yang akan menemanimu nanti,” sahutnya membalikkan tubuh lalu pergi tanpa mendengarkan jawaban Eldrey.


“Iya nona?”


“Bisa siapkan kamar untukku di lantai tiga?” pintanya tiba-tiba.


“Kamar di lantai tiga?” tanya bibi itu terheran-heran.


“Benar, kamar lantai tiga yang paling ujung,” tukasnya sambil berdiri begitu saja tanpa menyelesaikan makannya. “Aku akan tidur di sana,” lalu ia pun langsung pergi begitu mengatakannya.


Bibi itu hanya bingung dengan permintaan Eldrey, karena bagaimanapun juga lantai tiga adalah tempat yang tidak pernah ditinggali oleh siapa pun di rumah itu. Alasannya karena penghuni di rumah itu tidaklah banyak, sehingga lantai tiga di bangunan utama depan dan belakang tidak pernah dihuni tapi masih tetap dibersihkan setiap hari.


Rumah utama bagian depan bergaya mediterania, hanya dihuni presdir Betrand dan Charlie dengan beberapa pembantu yang dikhususkan untuk membersihkannya. Rumah itu memiliki lima kamar besar, kamar sekaligus ruang kerja presdir, tiga kamar pembantu dan delapan kamar mandi, ruang nonton serta ruang gym, ruang billiard dan lima perapian.

__ADS_1


Rumah utama kiri di mana Eldrey tinggal bergaya klasik kolonial namun dalamnya sangatlah berbeda karena memiliki empat kamar besar yang di desain sangat berbeda-beda, dua kamar pembantu dan enam kamar mandi, dengan ruang tamu yang sangat besar langsung menghadap ke halaman, ruang baca berdesain tradisional jepang dengan lantai tatami, taman dalam rumah, serta ruang penyimpanan anggur. Terdapat pula kolam renang dalam rumah yang terhubung ke kolam renang luar dan tiga perapian.


Rumah utama bagian kanan bergaya modern unik, karena setengah bagian ke belakangnya bergaya klasik yang juga memiliki empat kamar tidur besar, dua kamar pembantu, lima kamar mandi serta tiga perapian. Di sini terdapat balkon paling besar disertai kolam renang berlantai kaca di lantai dua. Lantai satu ruang keluarga, terhubung dengan tempat mobil-mobil keluarga ini terparkir dan hanya dibatasi kaca dan taman bergaya mediterania. Bagian depan rumah ini di dominasi kaca dengan pohon besar yang tumbuh di taman dalam rumah, serta menjadi satu-satunya rumah yang tidak dihuni oleh siapa pun. Namun, sekali dua hari pasti ada pelayan yang membersihkannya.


Terakhir adalah bangunan atau rumah utama bagian belakang yang bergaya victorian dan merupakan bangunan terbesar dibanding tiga lainnya. Rumah utama belakang ini memiliki empat kamar tidur besar, dua kamar tidur sedang yang dihuni oleh sekretaris Roma dan kepala pelayan Rondolf, lima kamar pembantu dan sembilan kamar mandi, dilengkapi empat perapian, ruang penyimpanan anggur yang sangat besar serta taman dan kebun kecil di lantai tiga.


Walaupun setiap rumah memiliki dapur, tapi hanya dua dapur yang di gunakan yaitu dapur di rumah utama depan dan belakang untuk para pembantu.


Uniknya, setiap rumah memiliki ruang bawah tanah yang sudah tak pernah lagi di jamah sang pemilik dan tidak jelas apakah ruang bawah tanah ke empat rumah itu saling terhubung atau tidak. Karena yang pasti, saat ini ke empat rumah itu hanya terhubung dengan kolam renang serta terowongan berupa jembatan gantung di lantai dua.


Rumah itu dulunya adalah kediaman dari seorang pengusaha real estate kaya raya yang dibeli oleh presdir Betrand untuk keluarganya karena ia terpukau dengan arsitektur rumah tersebut.


Terlebih lagi, bagian paling belakang di rumah tersebut terdapat danau dengan pemandangan yang indah serta taman labirin dan halaman yang luas di kelilingi pohon-pohon rindang dan pagar yang tinggi.


Eldrey menapaki jalanan ke kamarnya, ia berhenti di terowongan jembatan gantung menuju kamarnya, ia pun memandang ke arah kolam renang di bawahnya. Tak jelas apa yang sedang dilihat atau dipikirkannya, tiba-tiba ia pun melepas sepatunya dan ....


“Byaaarrr!!! Plaassh ... Plaash ....” suara lumayan keras pun muncul dari percikan air akibat hantaman agak keras jatuh ke dalam kolam renang yang kedalamannya tiga meter itu.


Kepala pelayan Rondolf yang sedang berada di lantai satu bangunan utama bersama dengan bibi pembantu, pelayan yang bekerja di tempat terdekat, serta Charlie yang sedang meminum minumannya pun tersentak kaget saat mendengar suara teriakan dari seorang pelayan.


“Nona ...!!” teriak keras pelayan pertama yang mendengar dan melihat hantaman lumayan agak keras di air itu. “Nona! Nona! Tolong! Tolong! Siapa pun tolong! Ya ampun Nona! Tolong!” pekik pelayan itu histeris dan menangis. Mereka yang mendengar teriakan itu langsung berlari ke tempat sumber suara dan bergidik saat mendapati pemandangan tak terduga.


Eldrey, gadis itu benar-benar mendinginkan suasana, mereka mendapati pemandangan mengejutkan di mana gadis itu mengambang terlentang di kolam renang dalam keadaan pakaian yang masih utuh dan mata tertutup.


Tanpa pikir panjang Charlie langsung melompat ke dalam kolam renang untuk menyelamatkan gadis itu. Raut wajah pucat terlihat jelas pada sang kepala pelayan dan bibi pembantu yang menangis histeris.


Tak ada yang bisa menduga atas apa yang telah terjadi, entah kejadian itu dilakukan oleh orang lain karena motif kejahatan, atau memang di sengaja oleh Eldrey yang mencoba bunuh diri, tak ada satu pun yang tahu tentang itu.

__ADS_1


__ADS_2