
Selesai mandi, Eldrey merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa mengeringkan rambut terlebih dahulu. Tatapan kosong dari wajahnya membuat gadis itu terlihat tak bersemangat, selain merebahkan tubuh tak berdaya dan membiarkan tidur menguasainya.
Esok harinya, adalah hari di mana kuliah sudah dimulai kembali. Henry tampak telah bersiap-siap dengan dandanannya. Ia pergi menemui Eldrey, hendak pamit padanya.
“Eldrey?” panggilnya.
Gadis itu pun membukakan pintu, tampak dirinya baru selesai mandi dengan rambut yang masih basah.
“I-itu, aku mau pergi kuliah dulu. Kamu di sini saja sampai aku pulang tidak apa-apa?”
“Mmm,” angguk Eldrey pelan.
“Oh ya, biar kamu tidak bosan, ini ponselku. Di dalamnya sudah ada nomorku, jadi kalau ada apa-apa, kamu tinggal hubungi aku saja,” Henry pun menyerahkannya sambil mengelus lembut kepala gadis itu dengan canggungnya.
Eldrey menerimanya tanpa senyum, “terima kasih,” ucapnya singkat.
“Sama-sama, kalau begitu aku pergi dulu ya,” Henry pergi meninggalkannya dengan wajah tersipu.
Gadis itu masih menggenggam ponsel pemberian, lalu melemparnya sembarangan ke atas ranjang tanpa rasa berdosa.
Di perjalanan, Henry tak henti-hentinya mengoceh sendirian. “Apa Eldrey juga kuliah? Tapi aku tak pernah melihatnya di kampusku. Tunggu, apa aku tanya saja pada Kevin? Tidak-tidak! Eldrey bilang jangan beri tahu dia, bagaimana bisa aku lupa? Tunggu! Apa sebenarnya hubungan mereka?! Aah! aku lupa menanyakannya,” ocehnya panjang lebar.
Ia pun akhirnya sampai di kampus dan turun dari mobil di parkiran. Langkahnya yang tampak gagah benar-benar berkebalikan dengan sikapnya yang agak bermasalah.
“Hei Henry!” panggil seseorang dari jauh. Henry pun berpaling dan berjalan mendekat.
“Cih! Kenapa tampangmu begini? Apa ada sesuatu?” tanya temannya.
“Apa maksudmu? Memangnya tampangku bagaimana?”
“Seperti orang bodoh! Bukankah begitu Kevin?” ucap Steven membuat Henry kaget, karena sosok Kevin muncul tiba-tiba di belakangnya.
“Ada apa? Kenapa tampangmu begitu?”
“T-tidak ada apa-apa!”
“Benarkah?” tanya Kevin menatap lekatnya.
“Jangan lihat aku seperti itu!” gerutu Henry tak suka.
“Kenapa dengan bocah ini?” Steven menatapnya dengan wajah berkerut.
“Kak Alice?” panggil Kevin saat melihat wanita itu lewat di sampingnya.
“Kevin.”
“Kakak kenapa? Wajahmu tampak tidak bersemangat,” sela pemuda itu.
“Ah tidak, tidak ada apa-apa.”
“Kakak ada masalah sama kak Dean?” tanya Kevin tiba-tiba.
Alice tersentak, lalu mengalihkan perhatiannya. “Kak?”
“Aku mau masuk kelas dulu,” ucap Alice pergi meninggalkannya terburu-buru.
Sementara Kevin hanya menatap bingung, ia yakin jika ada yang terjadi di antara mereka berdua.
“Woah, Alice itu benar-benar cantik ya. Dia tidak punya pacar kan?” tanya Steven sambil merangkul Kevin.
“Entahlah.”
“Kamu kan dekat dengannya, apa kamu tidak bisa membantuku berkenalan dengannya?”
Kevin menoleh pada Steven. “Jika aku bisa, maka itu bukan padamu,” ia lalu pergi meninggalkan Steven.
“Kenapa bocah itu?” gumam Steven.
Sementara Henry, ia sibuk memainkan ponselnya. Tampangnya sangat aneh karena memandang ponsel sambil tersenyum-senyum sendiri.
“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?”
“Huh! Bukan urusanmu!” ketus Henry pergi meninggalkannya.
Steven pun menghela napas kasar karena ia ditinggal sendiri tanpa ada yang menemani.
Karena hari pertama kuliah, kelas tidak seaktif yang terlihat. Para dosen hanya bercerita kisah liburan atau berkeluyuran entah ke mana, begitu pula dengan murid-muridnya.
Alice yang merupakan mahasiswa jurusan pariwisata, memilih berkeliaran mencari sosok Evan yang notabene senior sekaligus mahasiswa jurusan sastra.
Perjalanan beda gedung namun satu universitas pun ia tempuh demi menemui Evan.
“Alice?” panggil sebuah suara sebelum ia sampai di tempat tujuan.
“Erin.”
Tatapan mereka saling bertemu, tapi Erin terlihat lesu. “Apa kita bisa bicara?” tanyanya.
Tubuh Alice bergetar, sejujurnya ia belum siap bertemu dengan Erin. Terlebih lagi dirinya tahu kalau Erin dan Dean sudah putus hubungan.
“Bicara apa?”
“Ini sangat penting. Ayo kita ke kantin,” ajaknya.
Mereka pun akhirnya ke kantin. Alice memesan makanan, sementara Erin tak memesan apa-apa. Dirinya benar-benar gugup karena berduaan dengan Erin di saat yang tidak tepat.
“Apa kamu mendengar sesuatu dari Dean?”
“Dean? Mendengar apa?” tanya Alice berpura-pura tidak tahu.
“Jadi dia tidak mengatakan apa-apa? Padahal kalian bersahabat,” sela Erin dengan nada berat.
“Mengatakan apa? Ada apa?”
Tiba-tiba Erin terisak, air mata mulai mengalir ke pipi membuat Alice panik melihatnya.
“Aku, aku, aku s-sudah putus dari Dean,” lirihnya. Isak tangis Erin mengundang tatapan orang-orang yang ada di sekitar mereka.
“Erin ...” Alice menggenggam tangan Erin untuk menenangkannya. Bibirnya bergetar, ia ingin mengatakan sesuatu tetapi tak bisa, karena rasa bersalah mulai muncul di sudut hatinya.
Tapi semua suasana berubah dengan kedatangan Ramses tiba-tiba. “Erin? Alice? Kalian di sini?” tanyanya.
Tapi Erin yang terlanjur menangis, membuatnya penasaran dan mulai melayangkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga.
“Erin? Ada apa? Kenapa kamu begini?”
Erin tak menjawab kecuali tetap terisak-isak. Ia akhirnya memilih pergi meninggalkan Ramses dan Alice tiba-tiba.
“Apa yang terjadi? Erin!” panggil Ramses. Ia akhirnya berlari mengejar Erin karena penasaran.
Tanpa sempat menyantap makanan, Alice terpaksa ikut mengejarnya.
__ADS_1
Erin terus berlari. Kondisinya yang sekarang, benar-benar mengundang ekspresi heran orang-orang di sekelilingnya. Sampai akhirnya sosoknya pun bertabrakan dengan seorang senior.
“Evan, kamu baik-baik saja?!” tanya teman perempuan senior itu.
Erin mendongak melihat sosok yang ditabraknya. “M-ma-” suaranya tak kunjung keluar.
“Erin!” panggil Ramses berhasil mengejarnya.
Evan terdiam, karena wajah Ramses tidak asing baginya. “Erin!” panggil Alice berhasil sampai di sana.
“Alice?”
“Kak Evan.”
Evan melirik gadis yang menabraknya lalu menyodorkan sapu tangan. “Jangan berlari. Karena menangis sambil berlari bukan hal yang baik untuk gadis sepertimu,” ucap Evan.
Erin yang terisak-isak masih belum mengambil sapu tangan itu, sampai Evan meraih tangannya dan membuat Erin menggenggamnya.
“Ayo Evan,” ajak temannya.
“Kak Evan,” cegat Alice.
Evan tertahan, menatap Alice yang menampilkan wajah tak seperti biasanya. “E-Eldrey,” gumamnya pelan.
Begitu mendengar nama itu, Evan langsung memperlihatkan wajah sedih. Alice terkesiap, sepertinya ia tahu arti dari wajah seniornya itu.
“Maafkan aku.”
“Ini bukan salahmu.”
“Tapi-”
“Ini hanya masalah keluarga kami. Tak ada hubungannya denganmu,” jelas Evan bernada lembut. “Kalau begitu aku pamit dulu,” jelas Evan meninggalkannya.
“Ada apa?” tanya rekan Evan yang samar bisa di dengar oleh Alice saat mereka menjauh.
Sementara Erin, begitu selesai mendengar ucapan Evan, tangisannya perlahan memudar. Sapu tangan dengan aroma bunga itu ia usapkan untuk menyeka sisa air mata.
“Erin,” Ramses menatapnya lekat.
“Maaf, tapi lebih baik aku pulang dulu,” sahutnya menatap Ramses dan Alice. Ia pun meninggalkan mereka tanpa berbicara apa pun lagi.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” lirih Ramses. Ia menoleh pada Alice yang juga tampak seperti memiliki beban pikiran.
“Liz.”
“Liz!” panggil Ramses karena gadis itu tampak melamun. “Ada apa?”
“Tidak, tidak ada apa-apa.”
“Benarkah? Lalu, apa yang kamu bicarakan dengan laki-laki itu?”
“Tidak ada apa-apa.”
“Tidak ada apa-apa? Padahal aku dengar kamu menyebut nama Eldrey padanya.”
Alice terkejut, ja sekilas melirik Ramses sampai akhirnya melempar pandangan ke sembarang arah. “Ada apa? Apakah hubunganmu dengan Eldrey, masih belum baik-baik saja?”
Alice terbungkam, raut wajah sedih mulai tertera, tapi masih belum ia sampaikan maknanya.
“Ada apa Liz?” tanya Ramses, ia menyentuh tangan gadis itu, agar Alice jujur padanya.
“Eldrey? Ada apa dengannya?”
“Eldrey, dia kabur,” terang Alice akhirnya.
“Apa! Kabur? Kenapa?!”
“Aku tidak tahu. Sepertinya ada masalah saat ia bertemu dengan kak Evan. Aku hanya tahu kalau ia kabur dari kak Evan,” jelas Alice. Terlihat jelas raut muka cemas di wajahnya.
“Eldrey kabur?” gumam pelan Kevin. Tak disangka, jika pemuda itu berdiri di tangga dekat mereka dan ikut mendengar pembicaraan.
“Aku ingin mencarinya,” sahut Alice.
“Baiklah, aku akan membantumu,” lanjut Ramses menenangkannya.
“Terima kasih Rams.”
“Mmm! Ayo,” ajak Ramses pada Alice. Mereka pun pergi, tanpa tahu kalau adik kandung Dean sedang curi-curi dengar tanpa sepengetahuan mereka.
“Dia kabur? Bagaimana bisa?” lirih Kevin. Ia kembali mengingat pertemuan terakhirnya saat bertemu lagi di rumah Henry dan mengantarnya pulang.
Di tempat yang berbeda, tampak Henry sedang sibuk bermain ponsel. Ia bahkan tak peduli dengan suara teman yang berjalan di sebelahnya. Siapa lagi kalau bukan ocehan Steven yang dari tadi mengganggunya.
“Kenapa dari tadi main ponsel terus?! Kamu dengar ucapanku tidak?!”
“Dengar bodoh! Jadi berhentilah berteriak di dekat telingaku!” gerutu Henry kesal.
“Lagi pula kenapa kau selalu fokus dengan ponselmu? Memangnya kau sedang berkirim pesan dengan siapa?”
“Bukan urusanmu! Menjauh dariku!” Henry mengangkat tangan memberi jarak agar Steven tak mendekatinya.
Tiba-tiba, beberapa orang wanita menghampiri mereka.
“Hai! Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana jika malam ini kita main?” ucap salah satu wanita pada mereka berdua.
“Bukan ide yang buruk. Bagaimana menurutmu?” tanya Steven pada Henry.
“Maaf, tapi aku sibuk.”
“Hah? Sibuk? Sibuk apa? Memangnya kamu sudah kerja?” tanya salah seorang wanita dengan pandangan tak percaya pada teman seperjuangan Steven.
“Mau aku kerja atau tidak yang jelas aku sibuk. Bye para ladies! Jangan ganggu atau hubungi aku lagi,” ucap Henry dengan sombongnya pada mereka.
“Apa-apaan sih dia! Kenapa dia seperti itu?!”
“A-a-aku tidak tahu! Aku pergi dulu, mainnya lain kali saja!” Steven kabur meninggalkan para wanita yang tadi mengajaknya.
“Cih! Ke mana bocah itu?!” Steven memandang berkeliling dengan tatapan sebal karena punggung Henry tak lagi terlihat olehnya. “Ah! Kevin! Kevin!” panggil Steven saat melihat temannya itu berjalan tak jauh di depannya.
“Apa?” tanya Kevin begitu Steven berhasil menyusulnya.
“Apa kamu lihat bocah itu?”
“Bocah?”
“Henry!”
“Aku tidak melihatnya. Bukankah tadi dia bersamamu?”
“Tadi iya, sekarang tidak lagi. Aku mau meminta pertanggung jawabannya!” gerutu Steven.
__ADS_1
“Pertanggung jawaban apa?”
“Bagaimana bisa dia menolak ajakan para primadona kampus? Memangnya dia pikir dirinya siapa? Dari tadi sibuk main dengan ponselnya, memangnya dia sudah punya kekasih?”
“Entahlah, mungkin saja.”
“Yang benar saja. Kalau dia sudah punya, lalu aku bagaimana? Aku baru saja putus dengan pacarku!” sergah Steven tak terima.
“Katakan itu padanya, bukan aku.”
“Kamu juga harus ikut! Ayo kita ke rumahnya.”
“Tidak, aku sibuk.”
“Ayolah! Kita sudah lama tidak bermain game di rumahnya! Ayo!” ajak Steven dengan gigihnya.
Ia bahkan menarik tangan Kevin yang sudah memasang tampang enggan, tapi bocah itu akhirnya terpaksa juga mengikutinya.
Sementara Eldrey, ia hanya menonton televisi karena tidak tahu harus melakukan apa. Pelayanan yang dilakukan pembantu Henry sangat luar biasa, sampai gadis itu jenuh dengan kebaikannya.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar Eldrey diketuk seseorang.
“Masuk.”
“Eldrey?” panggil suara dari pemuda bertampang bodoh di balik pintu yang sedikit terbuka.
“Henry? Kamu sudah pulang?”
“Iya.” Pemuda itu melangkah masuk ke dalam sambil membawa bingkisan. “I-itu ....”
“Apa?”
“Ah! A-apa kamu betah tinggal di sini?”
“Lumayan.”
“Lumayan?!”
“Ya. Kenapa?” jawab Eldrey seadanya.
“Tidak, tidak ada apa-apa,” senyum Henry sedikit kecut.
“Ada hal lain yang ingin kamu katakan?”
“Hah? Tidak! Tidak ada apa-apa.”
Eldrey masih menatap lekat pemuda yang menatap ke bawah sambil memainkan kakinya sendiri.
“Apa aku boleh tanya sesuatu?”
“Ya? Tanya sesuatu? Boleh-boleh Eldrey. Tanyakan saja,” lirih Henry dengan senangnya.
“Bagaimana kamu bisa tahu ukuranku?”
“Ukuran?”
Eldrey menatap lekatnya. Henry tak paham apa yang ditanyakan Eldrey. Keheningan yang cukup lama itu akhirnya mencapai penantian.
“Ah! Maafkan aku! A-a-aku tidak tahu! Aku hanya, a-a-aku ha-hanya ...” wajah Henry langsung merah padam.
“Maafkan aku!” pekik Henry sambil bersujud di hadapan Eldrey. “Maafkan aku, maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf, tapi aku tidak pernah menyentuh atau melihatnya. Aku hanya mengira-ngira bersama pegawai toko. Aku tak pernah mengintip atau memegangnya. Aku bersumpah aku tidak pernah melakukannya! Aku benar-benar bersumpah!” tegas Henry sambil membenturkan kepalanya.
Eldrey sedikit kaget dengan ucapan panjang lebar Henry dan juga sikapnya. Ia langsung menyentuh lengan pemuda itu untuk membantunya bangkit.
“Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak perlu sampai seperti itu,” sahut Eldrey sambil tertawa pelan.
Henry yang merasa gugup, langsung menoleh pada Eldrey saat gadis itu tertawa. Tanpa sadar dirinya melotot dengan wajah mirip tomat. Jika nyata, mungkin saja Eldrey akan melihat asap bertebaran dari tubuh Henry akibat rasa panas yang dirasakannya.
Pemuda itu langsung memalingkan wajah, ia panik sehingga membuat tangan serta kakinya basah.
“Henry? Wajahmu merah.”
“A-aku ba-” kalimat Henry terputus karena ada pesan masuk. “Ini!”
“Ada apa?”
Keringat turun mulai membasahi tubuh Henry. “E-Eldrey, temanku datang.”
“Begitu?”
“I-iya. Itu, kamu, A-apa kamu tak masalah jika di kamar saja?” tanya Henry khawatir.
“Tidak masalah.”
“Benarkah?”
“Ya, lagi pula akan lebih baik begitu.”
Henry pun tersenyum mendengar jawabannya, “kalau begitu aku keluar dulu ya. Sampai bertemu lagi,” ucapnya.
“Mmm.”
Henry pun keluar dari kamar itu. Tapi baru beberapa langkah, ia kembali lagi.
“Eldrey, aku lupa! Ini bingkisan untukmu!” tukasnya sambil secepat kilat memberikan lalu keluar kamar.
Rupanya, Kevin dan Steven sudah di ruang tamu Henry. Sekarang mereka ke lantai dua di mana kamar pemuda itu berada.
“Semoga saja mereka tidak tahu Eldrey ada di sini,” gumam pelan Henry sambil pura-pura duduk santai di sofa.
“Henry!” teriak Steven membuka pintu kamarnya. “Mmm? Apa ini? Kenapa wajahmu merah dan berkeringat begitu?”
“Hah? Benarkah? Mungkin itu karena aku kepanasan,” jawab Henry sambil mengalihkan pandangan.
Sedangkan Kevin, ia hanya menatap temannya dengan wajah berkerut.
“Lupakan itu! Apa maksud ucapanmu pada primadona kampus kita?! Padahal aku sangat ingin berkencan dengan mereka!” gerutu Steven.
“Ya lakukan saja.”
“Lakukan saja?! Bisa-bisanya kau mengatakan itu setelah menolak mereka?!”
“Memang apa salahnya, aku tak menyukai mereka.”
“Apa! Ya ampun! Apa kamu dengar bocah ini Kevin? Dia bilang dia tak tertarik. Sepertinya adikku ini sudah lupa kenapa kita bisa berhubungan dengan mereka,” celetuk Steven.
“Huh! Terserahlah.”
“Dasar! Padahal salah satu primadona suka padamu! Ayolah! Jangan ketus begitu, jika kau mirip Kevin begini, siapa yang mau dengan kalian?”
“Kenapa bawa-bawa namaku?” Kevin mengernyitkan dahi bingung sambil memainkan game playstation yang ada di kamar Henry.
__ADS_1